Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Hanya Gertakan
Tiga hari sejak Mbah Karto hilang.
Pesanggrahan berubah menjadi benteng kecil. Cakrawirya menempatkan dua prajurit bayangannya di luar pagar. Jatmiko masih bertahan, meski tak ada lagi alasan untuk "berburu".
Sawitri duduk di pendopo, mengamati sobekan kain merah di tangannya.
Jaringan serat. Tekstur. Cara sobeknya.
"Ini ditarik paksa," gumamnya. "Bukan digunting."
Cakrawirya mendekat. "Kau bisa identifikasi asalnya?"
"Sutra dengan tenunan halus. Hanya bangsawan atau prajurit kelas tinggi yang memakainya." Sawitri menoleh. "Sama seperti benang yang kita temukan di TKP Wartinah."
Jatmiko yang duduk di kursi kayu bersiul pelan. "Sukmawati ceroboh. Meninggalkan bukti dua kali."
"Dia tidak ceroboh." Sawitri melipat kain itu. "Dia percaya diri. Terlalu percaya diri."
Dari kejauhan, derap kuda terdengar cepat mendekat.
Ki Lurah Wirapati turun dengan wajah pucat. Napasnya memburu.
"Ndara Tabib! Raden-Raden! Ada kabar buruk!"
Cakrawirya langsung siaga. "Ada apa?"
"Utusan dari Demak baru saja tiba di Kadipaten." Wirapati menelan ludah. "Raden Mas Dhaniswara... beliau pulih. Dan beliau mengirim surat ancaman untuk Mataram."
Sawitri tidak bergerak. Wajahnya tetap datar.
"Surat ancaman? Isinya?."
Wirapati membuka gulungan lontar. Tangannya gemetar.
"Kepada Kanjeng Tumenggung Danurejo dan segenap pembesar Mataram. Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum, calon istri sahku, telah melarikan diri setelah menyiksaku dengan racun licik. Ini penghinaan yang tak termaafkan."
Wirapati berhenti, menatap Sawitri.
"Lanjutkan," perintah Sawitri dingin.
"Jika Sawitri tidak diserahkan dalam waktu tujuh hari, Kadipaten Demak akan memutus semua jalur perdagangan dengan Mataram. Tidak ada rempah. Tidak ada beras. Tidak ada sutra. Demak akan membuka blokade laut hanya untuk musuh-musuh Mataram."
Keheningan menyergap pendopo.
Jatmiko bersiul lagi. Kali lebih panjang. "Dia main kasar."
Cakrawirya diam. Tapi rahangnya mengeras.
Wirapati melanjutkan, "Tumenggung Danurejo panik, Ndara. Beliau memanggil Ndara segera ke kediaman. Sekarang."
Kediaman Danurejo terasa lebih mencekam dari biasanya.
Para abdi dalem berjalan dengan kepala tertunduk. Suara bisik-bisik terdengar di setiap sudut.
Sawitri melangkah masuk ke pendopo utama. Di belakangnya, Cakrawirya dan Jatmiko mengikuti seperti bayangan.
Tumenggung Danurejo duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya merah padam. Di sampingnya, Nyai Selir Sukmawati duduk dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Ratih dan Wandira berdiri di sudut, diam-diam mengamati.
"Sawitri!" bentak Danurejo begitu melihatnya. "Kau lihat apa yang kau perbuat? Kau hampir menghancurkan Mataram!"
Sawitri berhenti tepat di tengah pendopo. Matanya menatap ayahnya datar.
"Kulo mendengar. Dhaniswara mengancam."
"Mengancam? Dia akan memutus perdagangan! Tanpa Demak, Mataram akan kelaparan!" Danurejo bangkit dari kursinya.
"Kau harus kembali ke Demak. Sekarang juga."
"Kulo tidak akan ke mana-mana."
"Sawitri!" Danurejo melangkah mendekat, tangannya terangkat.
Cakrawirya bergerak. Dalam satu langkah, ia sudah berdiri di antara Sawitri dan ayahnya.
"Kanjeng Tumenggung." Suaranya rendah, tapi menggetarkan. "Kulo sarankan jenangan menurunkan tangan."
Danurejo terbelalak. "R-Raden Cakrawirya? Apa urusanmu dengan ini?"
"Dia urusan kulo."
Jatmiko menyeringai dari belakang. "Urusan kami berdua, Kakang? Atau kau egois?"
Cakrawirya tidak menoleh. "Diam, Jatmiko."
Sukmawati angkat bicara. Suaranya lembut tapi penuh bisa. "Kanjeng Tumenggung, mungkin kita bisa berdiskusi dengan baik. Raden Mas Dhaniswara hanya ingin istrinya kembali. Ini masalah rumah tangga, bukan politik."
Sawitri menatap Sukmawati. "Rumah tangga?"
Ia melangkah maju, melewati Cakrawirya. Berhenti tepat di depan selir itu.
"Nyai, kulo hanya ingin bertanya." Suaranya pelan. Sangat pelan. Tapi semua orang di pendopo bisa mendengarnya.
"Apakah nyai tahu bagaimana rasanya disiram racun kecubung di mata?"
Sukmawati tersentak. Wajahnya memucat.
"Apa maksudmu?"
"Hanya bertanya." Sawitri tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata. "Karena Dhaniswara mengalaminya. Dan kulo yakin... dia tidak akan melupakannya."
Ia berbalik, kembali menghadap Danurejo.
"Romo, kulo akan bicara dengan Adipati Sasongko. Dhaniswara mengancam perdagangan? Baik. Kulo akan tunjukkan bahwa Demak lebih butuh Mataram daripada sebaliknya."
Danurejo mengerutkan kening. "Kau? Apa yang kau tahu tentang perdagangan?"
"Kulo tahu banyak hal, Romo. Lebih dari yang Romo kira."
Sawitri melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.
Cakrawirya dan Jatmiko mengikuti.
Di pendopo, Sukmawati mengepalkan tangannya. Matanya menyipit menatap kepergian Sawitri.
"Anak kurang ajar," desisnya pelan.
Di pelataran, Sawitri berhenti.
Cakrawirya mendekat. "Kau yakin bisa meyakinkan Adipati?"
"Data tidak pernah berbohong." Sawitri menatapnya.
"Kau punya catatan perdagangan Demak-Mataram, kan?"
Cakrawirya tersenyum. "Aku selalu punya."
Jatmiko mengangkat tangan. "Aku juga bisa bantu. Aku punya koneksi di istana pusat. Kalau perlu, aku bisa bicara langsung dengan Sultan."
Sawitri menatapnya. "Kenapa kau membantu?"
Jatmiko tersenyum lebar. "Karena aku suka tantangan. Lagipula..." Ia melirik Cakrawirya. "...pasti seru melihat Kakangku bekerja keras untuk sesuatu."
Cakrawirya mendengus. "Dasar."
Sawitri menghela napas. "Ayo ke Kadipaten. Kita punya tujuh hari."
Di Kadipaten, Adipati Sasongko menerima mereka dengan wajah tegang.
"Ndara Tabib, situasinya genting." Ia meletakkan gulungan lontar di meja. "Para saudagar sudah mulai panik. Harga beras naik dua kali lipat dalam semalam."
Sawitri duduk. Cakrawirya di sampingnya. Jatmiko bersandar di pilar.
"Adipati, kulo butuh data. Berapa persen kebutuhan Mataram yang bergantung pada impor Demak?"
Adipati mengerutkan kening. "Mungkin... enam puluh persen. Mungkin lebih."
"Dan berapa persen ekspor Demak ke Mataram?"
"Semua. Mereka menjual semuanya ke kita. Tidak ada pasar sebesar Mataram di wilayah timur."
Sawitri mengangguk. "Artinya, jika Demak memutus perdagangan, mereka juga kehilangan pasar. Mereka tidak bisa menjual rempah dan beras ke mana pun."
Cakrawirya menambahkan, "Ditambah lagi, Demak sedang dalam masa panen raya. Lumbung mereka penuh. Jika tidak dijual, beras akan busuk."
Adipati Sasongko terdiam. "Jadi... ancaman mereka hanya gertakan?"
"Bukan gertakan." Sawitri menggeleng. "Tapi mereka akan lebih menderita daripada Mataram jika benar-benar memutus hubungan."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita tunggu." Sawitri bersandar. "Biarkan mereka yang panik. Tujuh hari adalah waktu yang lama. Dhaniswara impulsif. Dalam tujuh hari, dia bisa melakukan kesalahan."
Adipati menghela napas lega. "Ndara Tabib... kau sungguh luar biasa."
"Kulo hanya membaca data, Adipati."
Malam harinya, Sawitri kembali ke pesanggrahan.
Cakrawirya masih di sampingnya. Jatmiko ikut, tentu saja.
Di pendopo, Ndari sudah menyiapkan makan malam sederhana.
"Ndara, ada surat." Ndari menyerahkan selembar lontar kecil. "Tadi ada anak kecil yang menitipkan. Katanya dari seseorang di Demak."
Sawitri membuka lontar itu.
Hanya satu paragraf.
"Aku tidak pernah lupa. Aku tidak pernah memaafkan. Kau akan melihat apa yang akan kulakukan pada Mataram. Dan itu semua karena dirimu."
Tidak ada tanda tangan. Tapi Sawitri tahu.
Dhaniswara.
Cakrawirya membaca dari samping. "Ancaman pribadi."
"Dia ingin membuatku takut." Sawitri melipat lontar itu. "Kesalahan pertama."
Jatmiko mengambil lontar itu, membacanya, lalu tersenyum sinis.
"Pria ini benar-benar sakit jiwa. Aku mulai penasaran ingin bertemu."
"Cepat atau lambat, kau akan bertemu." Sawitri menatapnya. "Tapi mungkin bukan dengan cara yang kau inginkan."
Cakrawirya diam. Tapi tangannya meraba gagang keris.
Sawitri melihatnya.
"Kau khawatir?" tanyanya.
Cakrawirya menoleh. "Kulo selalu khawatir jika menyangkut dirimu."
Jatmiko terkekeh. "Wah, wah. Kakang mau mencuri start rupanya."
Cakrawirya meliriknya tajam. "Tutup mulut, Jatmiko."
Sawitri mengabaikan mereka. Pikirannya pada Dhaniswara.
Pria itu tidak akan berhenti.
Tapi dia juga tidak akan menang.
"Besok," gumam Sawitri. "Kita mulai menyusun strategi."