Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Kecil, Kekuatan Besar
Malam itu terasa lebih dingin daripada biasanya, seolah-olah suhu udara ikut menyusut bersama keberanian Lauren. Di bawah remang lampu jalan, memar hitam di lengannya masih berdenyut. Pola jemari yang kurus itu tampak seperti tato kutukan yang menolak menghilang. Lauren menyentuh luka itu perlahan, rasa es yang menusuk kembali menjalar ke seluruh sarafnya.
"Jangan ditekan," tegur Herza pelan. Arwah remaja itu melayang di sampingnya, tampak lebih stabil setelah sempat meredup akibat pertarungan di lapangan basket.
"Rasa sakit itu adalah cara mereka tetap terhubung dengamu. Kamu harus memutus talinya."
"Bagaimana caranya?" suara Lauren bergetar.
"Aku bahkan tidak bisa memegang sendok dengan benar tanpa gemetar."
Herza menatap jalanan yang sepi.
"Kita tidak bisa pulang sekarang. Jika kamu membawa energi ini ke rumah, orang tuamu akan terancam. Ikuti aku."
Mereka kembali ke gudang tua di belakang sekolah. Tempat itu berdebu dan sunyi, namun bagi Lauren, gudang ini terasa seperti benteng terakhirnya. Herza memerintahkan Lauren untuk duduk bersila di atas matras olahraga yang robek. Lauren menurut, meski setiap inci tubuhnya meronta ingin tidur dan melupakan segalanya.
"Pejamkan matamu," instruksi Herza.
"Jangan cari hantu. Jangan cari bayangan. Cari dirimu sendiri di dalam sana."
Lauren memejamkan mata. Kegelapan di balik kelopak matanya terasa pekat. Ia mencoba mencari ketenangan, namun yang muncul justru kilasan wajah entitas jubah hitam dan suara tawa parau yang menghantuinya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seperti burung yang terperangkap.
"Fokus, Lauren. Rasakan ulu hatimu. Ada sebuah titik kecil di sana. Hangat, berwarna biru. Itu adalah inti jiwamu," suara Herza terdengar sangat dekat, hampir seperti bisikan di dalam kepala Lauren.
Lauren mencoba. Ia membayangkan sebuah cahaya kecil di tengah kegelapan batinnya. Awalnya hanya setitik redup, hampir padam oleh kabut hitam yang merayap. Ia mulai mengatur napas, menariknya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Peluh dingin mulai membasahi keningnya.
Ada di sana, batin Lauren. Ia melihat percikan biru itu.
"Tarik cahaya itu. Biarkan dia mengalir ke lenganmu yang terluka," bisik Herza lagi.
Lauren mencoba menarik energi tersebut. Rasanya luar biasa berat, seperti mencoba menarik air dari sumur yang sangat dalam dengan tali yang rapuh. Saat energi itu mulai bergerak, lengannya mendadak terasa panas, seolah-olah ada besi membara yang ditempelkan di atas memar hitamnya.
"Argh!" Lauren mengerang, matanya terbuka seketika.
"Sakit, Herza! Rasanya seperti terbakar!"
"Itu karena energimu sedang berperang dengan sisa kekuatan gelap mereka," sahut Herza tegas. Wajahnya tidak menunjukkan rasa kasihan.
"Lagi. Jangan menyerah hanya karena perih sedikit."
Lauren kembali memejamkan mata. Ia menggertakkan gigi, menahan rasa panas yang kini menjalar ke seluruh bahunya. Ia memaksakan cahaya biru itu untuk menyelimuti memar hitam tersebut. Dalam penglihatan batinnya, ia melihat kabut hitam itu mendesis, mencoba melawan sebelum akhirnya memudar perlahan.
Setelah beberapa menit yang melelahkan, Lauren membuka mata. Ia terengah-engah. Di bawah cahaya lampu gudang yang temaram, memar hitam di lengannya belum hilang sepenuhnya, namun warnanya sudah jauh lebih memudar. Denyut es yang menusuk itu berganti menjadi rasa hangat yang nyaman.
"Bagus," puji Herza.
"Itu latihan dasarmu. Mengendalikan aliran energi untuk penyembuhan diri."
"Ini melelahkan sekali," keluh Lauren sambil menyeka keringat di wajahnya.
"Ini baru permulaan, Lauren. Dunia gaib tidak akan memberimu waktu untuk istirahat," kata Herza sambil menunjuk ke arah sudut gudang yang gelap.
Sebuah bayangan kecil, seukuran kucing namun tanpa bentuk yang jelas, merayap di dinding. Itu adalah Larva, entitas kelas rendah yang tercipta dari sisa-sisa energi negatif di tempat itu. Makhluk itu mengeluarkan suara desisan tipis, matanya yang kecil dan putih menatap Lauren dengan lapar.
"Usir dia," perintah Herza.
"Apa? Tapi dia kecil sekali, mungkin tidak berbahaya," sahut Lauren ragu.
"Setiap makhluk besar berawal dari yang kecil. Jika kamu membiarkan yang kecil mendekat, yang besar akan tahu kamu tidak punya pertahanan," jawab Herza tanpa kompromi.
"Gunakan dorongan energi. Bayangkan sebuah gelombang yang keluar dari telapak tanganmu."
Lauren berdiri. Ia mengarahkan telapak tangannya ke arah bayangan itu. Ia mencoba memanggil kembali energi biru dari ulu hatinya. Namun, kali ini energinya terasa liar. Percikan biru muncul di ujung jarinya, lalu padam. Muncul lagi, lalu meledak kecil tanpa arah.
Ayo, keluar! Lauren berteriak di dalam hati.
Bayangan itu justru melompat ke arahnya. Lauren panik. Ia menutup mata dan mendorong tangannya ke depan dengan gerakan asal. Sebuah gelombang energi biru yang tidak stabil meledak dari tangannya.
Bum!
Tumpukan kursi kayu di dekat bayangan itu berantakan, namun makhluk itu berhasil menghindar dan kini merayap di langit-langit. Lauren frustrasi. Nafasnya pendek-pendek.
"Jangan gunakan emosi, Lauren! Gunakan kehendak!" teriak Herza.
Lauren mencoba menenangkan diri lagi. Ia melihat makhluk itu bersiap melompat lagi. Kali ini, ia tidak mendorong dengan panik. Ia memfokuskan pandangannya pada satu titik di tubuh makhluk itu. Ia membayangkan tangannya adalah sebuah meriam cahaya yang terukur.
Saat makhluk itu melompat, Lauren melepaskan energi dengan satu hentakan pendek yang tajam.
Zap!
Cahaya biru menghantam tepat di tengah bayangan itu. Makhluk itu melengking tipis sebelum akhirnya menguap menjadi asap abu-abu. Lauren terdiam, menatap telapak tangannya yang masih bergetar.
"Aku... aku berhasil?" tanya Lauren tidak percaya.
Herza tersenyum tipis, kali ini tampak lebih bangga.
"Pertama kalinya kamu mengusir gangguan dengan sadar. Simpan perasaan itu, Lauren. Itu adalah awal dari kepercayaan dirimu."
Minggu-minggu berikutnya menjadi rutinitas yang berat bagi Lauren. Setiap pulang sekolah, ia akan menghabiskan waktu dua hingga tiga jam bersama Herza di tempat-tempat sepi. Mereka berlatih meditasi, membedakan jenis energi, hingga teknik perlindungan diri yang lebih rumit.
Ayah dan ibunya mulai menyadari perubahan Lauren. Lauren menjadi lebih diam, namun tatapan matanya tidak lagi dipenuhi ketakutan yang rapuh. Ada ketegasan yang mulai tumbuh. Bram, meskipun masih khawatir, memilih untuk memberikan ruang bagi putrinya. Ia memastikan lampu-lampu rumah tetap menyala, namun ia tidak lagi bertanya mengapa Lauren sering pulang terlambat dengan wajah yang kelelahan.
Tiga minggu setelah latihan rutin dimulai, Lauren sudah mampu menciptakan perisai tipis di sekeliling tubuhnya selama beberapa menit. Ia tidak lagi terkejut saat melihat penampakan di koridor sekolah. Ia belajar untuk mengabaikan mereka, atau jika mereka terlalu mengganggu, memberikan "tatapan dingin" yang cukup untuk membuat entitas kelas rendah menepi.
Suatu sore di akhir pekan, Lauren duduk di taman belakang rumahnya. Ia sedang mencoba memanipulasi energi di ujung jarinya, membentuk bola kecil berwarna biru yang berpendar lembut. Herza memperhatikan dari dahan pohon mangga.
"Kamu sudah jauh lebih kuat, Lauren," kata Herza.
"Terima kasih, Herza. Aku merasa... tidak lagi seperti korban," jawab Lauren sambil menatap bola energi itu dengan senyum tipis. Secercah harapan mulai tumbuh di hatinya. Mungkin ia bisa memiliki hidup yang normal jika ia bisa mengendalikan ini semua.
Namun, senyum Lauren perlahan memudar. Suhu di taman itu mendadak jatuh. Bola energi di tangannya berkedip dan padam seketika. Herza melompat turun dari dahan pohon, wajahnya berubah menjadi sangat waspada.
"Lauren, masuk ke dalam rumah. Sekarang!" perintah Herza pelan namun penuh penekanan.
"Ada apa?" Lauren berdiri, matanya menyapu sekeliling taman.
Di luar pagar rumah mereka, di seberang jalan yang tertutup bayang-bayang pohon besar, berdiri sebuah siluet. Sosok itu sangat tinggi, lebih tinggi dari manusia biasa. Ia tidak menggunakan jubah compang-camping seperti entitas sebelumnya. Sosok ini mengenakan pakaian hitam yang rapi, namun wajahnya tertutup oleh kegelapan yang seolah menyedot cahaya di sekitarnya.
Sosok itu tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap lurus ke arah Lauren. Lauren merasakan sebuah tekanan yang sangat besar menghantam batinnya, jauh lebih berat daripada serangan di sekolah dulu. Ini bukan sekadar bawahan. Ini adalah sesuatu yang memiliki otoritas.
Herza merentangkan tangannya, berpendar biru terang untuk melindungi Lauren, namun tangannya tampak sedikit gemetar.
"Siapa itu, Herza?" bisik Lauren, suaranya tercekat.
"Salah satu dari mereka yang mengawasimu sejak lahir," jawab Herza dingin.
"Dia tidak di sini untuk menyerang. Dia di sini untuk menilai."
Sosok itu perlahan mengangkat kepalanya. Lauren merasa seolah-olah jiwanya sedang ditelanjangi oleh tatapan yang tidak terlihat itu. Detik berikutnya, sosok itu menghilang secara instan, meninggalkan hawa busuk dan keheningan yang mencekam.
Lauren jatuh terduduk di rumput. Ia menyadari bahwa semua latihannya selama tiga minggu ini hanyalah persiapan untuk sebuah badai yang jauh lebih besar. Musuh sesungguhnya tidak lagi bersembunyi di balik lemari; mereka kini berdiri terang-terangan di depan matanya, menunggu saat yang tepat untuk menjeratnya dalam jaring takdir yang mematikan.