Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 DARAH YANG MENGINGAT
Usia tujuh tahun adalah usia ketika anak-anak mulai melupakan rasa takut.
Namun bagi Chen Long, justru sebaliknya rasa takut itu belajar bersembunyi, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Pagi itu, angin utara bertiup lebih dingin dari biasanya.
Halaman dalam Benteng Utara masih basah oleh embun. Batu-batu hitam berlapis besi dingin terasa menusuk telapak kaki kecil Chen Long yang berdiri tanpa alas, tubuhnya hanya dibalut pakaian latihan abu-abu tipis. Nafasnya teratur, ditahan, lalu dilepas perlahan ritme yang sudah dia kenal bahkan sebelum dia tahu apa itu kultivasi.
“Jangan bergerak.”
Suara Chen Hao terdengar rendah, tegas, tanpa amarah namun juga tanpa kelembutan. Raja Utara berdiri tiga langkah di depan putranya, mengenakan baju zirah ringan. Sorot matanya tajam, seolah sedang menatap prajurit, bukan anak berusia tujuh tahun.
“Rasakan tubuhmu. Bukan ototmu. Bukan tulangmu,” lanjutnya.
“Rasakan bagian dalam yang berdenyut saat kau takut.”
Chen Long mengangguk pelan.
Ia memejamkan mata.
Dan seperti biasa ingatan itu datang.
Bau darah yang hangat.
Teriakan prajurit yang terpotong di tengah suara.
Cakar hitam yang menyentuh tanah batu, meninggalkan bekas hangus.
Jantungnya berdenyut lebih cepat.
Di bawah tulang dadanya, sesuatu terasa… berat.
Bukan sakit.
Bukan panas.
Lebih seperti ada denyut asing yang ikut berdetak bersama jantungnya keras, lambat, namun penuh tekanan.
“Bagus,” kata Chen Hao tanpa membuka mulut lebih lebar.
“Kau mengingatnya.”
Chen Long membuka mata. Tatapannya kosong sesaat, lalu fokus kembali.
Sejak insiden iblis dua tahun lalu, tubuhnya tidak pernah benar-benar sama. Luka di punggung bekas goresan yang nyaris merenggut nyawanya sudah sembuh. Namun setiap kali udara menjadi dingin, bekas itu akan terasa perih, seolah kulitnya mengingat sesuatu yang pikirannya ingin lupakan.
Tabib istana menyebutnya trauma.
Namun Permaisuri Zhia Xining tahu lebih baik.
Malam-malam tertentu, ia melihat sisik halus berkilau samar di sekitar luka itu sebelum menghilang kembali ke kulit manusia. Ia tidak pernah berkata apa-apa. Rahasia darah naga bukan sesuatu yang boleh diucapkan sembarangan, bahkan di dalam istana sendiri.
“Sekarang,” ujar Chen Hao.
“Tarik napas. Bukan ke paru-paru mu. Tarik ke bawah pusar.”
Chen Long menurut.
Tarikan napas itu terasa berat—seolah udara menabrak dinding tak terlihat di dalam tubuhnya. Ia mengerang pelan. Peluh dingin mengalir di pelipis.
Itulah pertama kalinya ia menyentuh ambang Pembuka Nadi, meski ia belum tahu namanya.
Di dalam tubuhnya, jalur-jalur yang belum terbentuk bergetar. Seperti sungai kering yang tiba-tiba dialiri air terlalu deras.
“Cukup,” kata Chen Hao tiba-tiba.
Ia melangkah maju dan menekan dua jari ke titik di bawah tulang rusuk Chen Long. Getaran itu langsung berhenti.
Anak itu terhuyung dan hampir jatuh—namun tetap berdiri.
“Kau belum siap,” ujar sang Raja datar.
“Tapi tubuhmu… mengingat jalannya.”
Chen Long menatap ayahnya, napasnya tersengal.
“Ayah… kenapa rasanya seperti… sakit tapi hidup?”
Chen Hao terdiam sejenak.
Lalu ia menjawab dengan kalimat yang kelak akan diingat Chen Long seumur hidupnya.
“Karena jalan kekuatan sejati selalu melewati rasa sakit yang tidak membunuhmu.”
Malam itu, Chen Long terbangun dari tidurnya dengan teriakan tertahan.
Ia duduk, tangan mencengkeram dadanya. Keringat membasahi punggungnya. Di benaknya, bayangan makhluk iblis itu kembali mata merahnya bukan menatap tubuh kecil Chen Long, melainkan sesuatu di dalam dirinya.
Di sudut ruangan, sebuah lentera menyala redup.
Zhia Xining sudah duduk di sana.
“Long’er,” panggilnya lembut.
Chen Long tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri.
“Ibu… kenapa mereka datang?”
“Kenapa iblis itu… tersenyum waktu melihatku?”
Pertanyaan itu menusuk lebih tajam dari pedang.
Zhia Xining mendekat, memeluk putranya. Saat dadanya menyentuh punggung Chen Long, denyut Yin yang dingin dan lembut meredam gejolak panas dalam tubuh anak itu.
“Karena dunia ini kejam pada hal-hal yang berbeda,” bisiknya.
“Dan karena kau… lahir membawa sesuatu yang dunia tak ingin biarkan tumbuh.”
Chen Long menggigit bibir.
“Apakah aku monster?”
Zhia Xining memejamkan mata.
“Tidak,” jawabnya tegas, namun penuh kesedihan.
“Kau adalah jawaban. Dan itu jauh lebih berbahaya.”
Di luar benteng, jauh di tanah terlarang, seekor makhluk iblis tingkat rendah tiba-tiba mengangkat kepalanya. Ia mencium udara, lalu mundur ketakutan.
“Anomali…” desisnya.
“Darah itu… masih hidup.”
Langit Utara tetap sunyi.
Namun sesuatu di dalam Chen Long di antara darah naga, darah Yang, dan trauma yang membekas perlahan mulai terjaga.
Kegagalan tidak selalu datang sebagai ledakan.
Kadang, ia datang sebagai kesunyian saat sesuatu yang seharusnya bergerak justru menolak hidup.
Tiga hari setelah latihan pagi itu, Chen Long kembali berdiri di ruang batu bawah tanah Benteng Utara. Ruangan ini tidak dipakai untuk upacara atau jamuan, melainkan untuk satu hal: membentuk prajurit yang hidup di ambang kematian.
Dindingnya dipenuhi bekas tebasan lama.
Lantainya retak-retak oleh Qi yang pernah dilepaskan terlalu keras.
Di tengah ruangan, sebuah lingkaran formasi sederhana terukir di batu. Tidak bercahaya. Tidak megah. Namun setiap garisnya dibuat untuk menekan tubuh, bukan menguatkannya.
“Ini bukan kultivasi,” kata Chen Hao.
“Ini ujian apakah tubuhmu layak untuk menyentuh jalan itu.”
Chen Long mengangguk pelan. Usianya belum genap sembilan tahun, namun matanya sudah kehilangan kebingungan khas anak-anak. Yang tersisa hanyalah fokus dan rasa takut yang terlatih.
Ia duduk bersila di tengah formasi.
Permaisuri Zhia Xining tidak hadir.
Ini adalah wilayah keputusan Raja Utara.
“Tarik napas seperti yang ku ajarkan,” perintah Chen Hao.
“Biarkan darahmu mengalir. Jangan paksa Qi. Jika kau memaksanya, tubuhmu akan memberontak.”
Chen Long menutup mata.
Napas pertama… aman.
Napas kedua… berat.
Napas ketiga...
DUM.
Sesuatu menghantam dari dalam.
Rasa sakit itu tidak tajam, melainkan padat, seolah ada palu besar menghantam jalur yang belum pernah dilewati apa pun. Chen Long terbatuk, darah tipis menetes dari sudut bibirnya.
Namun ia bertahan.
“Lanjutkan,” kata Chen Hao dingin.
Chen Long menurut.
Di dalam tubuhnya, jalur nadi pertama—yang seharusnya terbuka perlahan—justru menyempit. Darah Yang di tubuhnya melonjak, panas dan liar, sementara sisa resonansi Yin yang diwarisi dari ibunya mencoba menekan dari sisi berlawanan.
Keduanya bertabrakan.
Tubuh kecil itu bergetar hebat.
Formasi di lantai berderak. Retakan menyebar.
“Ayah...!” suara Chen Long terputus oleh erangan.
Dan kemudian...
BRUK.
Ia ambruk.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada terobosan.
Hanya keheningan yang menyakitkan.
Chen Hao sudah berada di sisinya sebelum tubuh itu benar-benar jatuh ke lantai. Dua jarinya menekan titik vital di punggung Chen Long, memaksa darah yang memberontak kembali ke jalurnya.
“Kau gagal,” katanya tanpa emosi.
“Dan itu sudah kuduga.”
Chen Long terengah, pandangannya kabur.
“Aku… tidak bisa membukanya…”
“Bukan tidak bisa,” jawab Chen Hao.
“Tubuhmu menolak.”
Kalimat itu lebih kejam dari hukuman apa pun.
Chen Long terbaring selama dua hari penuh.
Efek sampingnya tidak langsung hilang.
Setiap kali ia mencoba menarik napas dalam, dadanya terasa sesak. Malam hari, tubuhnya terkadang memanas lalu tiba-tiba membeku. Tabib istana kebingungan,denyut nadinya tidak stabil, namun tidak rusak.
“Seolah ada dua sumber kekuatan yang saling menahan,” gumam salah satu tabib.
Zhia Xining duduk di sisi ranjang, wajahnya pucat namun tenang. Tangannya menggenggam tangan putranya, menyalurkan Yin murni secara halus—bukan untuk menyembuhkan, melainkan menenangkan.
Chen Hao berdiri di balik tirai.
Ia mendengar semuanya.
Dan ia mengambil keputusan.
...****************...
Di tanah terlarang, jauh di utara.
Seekor iblis bertubuh kurus berlutut di hadapan altar tulang. Api hitam menyala tanpa panas. Udara berbau busuk dan tua.
“Aku merasakannya,” desis makhluk itu.
“Darah anomali… berdenyut lagi.”
Bayangan besar bergerak di balik api.
“Masih hidup?” suara itu bergema.
“Ya,” jawab iblis itu gemetar.
“Dan… gagal membuka jalannya.”
Tawa rendah terdengar.
“Bagus,” ujar suara itu.
“Kegagalan adalah pupuk terbaik bagi anomali.”
Api bergetar.
“Biarkan dia tumbuh,” lanjut suara itu dingin.
“Ketika darah Yin dan Yang nya bertabrakan… kita akan tahu kapan waktunya memanen.”
Iblis itu menunduk lebih dalam.
Di kejauhan, langit Utara berkilat samar—seperti ada sesuatu yang menahan petir di balik awan.
...BERSAMBUNG...
...****************...