NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Toko ditutup paksa

Pagi itu, udara Kota Sagara terasa lebih berat dari biasanya. Langit menggantung rendah, awan kelabu menutup matahari, seolah menahan cahaya agar tak menyentuh bumi. Di depan Toko Manisan Wijaya, beberapa mobil dinas berhenti beriringan. Pintu-pintu terbuka hampir bersamaan, dan sejumlah petugas berseragam turun dengan langkah tegas.

Bima yang tengah menyapu halaman depan tertegun. Sapu terlepas dari genggamannya.

Seorang pria berjas rapi mendekat, diikuti dua petugas. Wajahnya datar, matanya tajam. “Kami dari dinas terkait. Berdasarkan laporan dan rekomendasi sementara, toko ini harus ditutup sampai proses penyelidikan selesai.”

Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong.

“Ditutup?” suara Bima tercekat. “Atas dasar apa? Kami sudah menyerahkan semua dokumen dan hasil uji laboratorium!”

Pria itu menyerahkan selembar surat. “Perintah resmi. Silakan dibaca.”

Tangan Bima gemetar saat menerima kertas itu. Cap basah dan tanda tangan pejabat tinggi terpampang jelas. Tak ada ruang untuk berdebat.

Ibu Bima keluar dari dalam toko, wajahnya pucat. “Ada apa?”

Bima tak sanggup menjawab. Ia hanya menyerahkan surat itu. Ibunya membacanya sekilas, lalu menutup mulut, menahan tangis.

Beberapa pelanggan yang baru datang terhenti langkahnya. Bisik-bisik mulai terdengar. Ponsel-ponsel terangkat, merekam setiap detik. Dalam hitungan menit, kabar penutupan itu menyebar.

Petugas memasang garis pembatas di pintu. Sebuah segel besar ditempelkan di kaca etalase. Bunyi kertas yang direkatkan terdengar nyaring di telinga Bima, seolah menjadi penanda runtuhnya dunia kecil mereka.

“Mohon kerja samanya,” kata petugas itu singkat. “Ini demi kepentingan umum.”

Kepentingan umum. Dua kata yang terdengar begitu ironis.

Ketika mobil-mobil dinas itu pergi, keheningan mencekam menyelimuti toko. Bima berdiri terpaku di depan pintu yang kini tak lagi bisa dibuka. Di balik kaca, rak-rak manisan tampak seperti harta karun yang terkurung.

Ibunya terduduk di bangku, bahunya bergetar. Bima memeluknya erat, menahan gejolak di dadanya.

Siang itu, telepon Bima tak berhenti berdering. Wartawan, pelanggan, rekan UMKM, bahkan orang-orang yang hanya ingin tahu, semua mencari jawaban. Ia menjawab sebisanya, berusaha tetap tenang, meski di dalam dirinya badai sedang mengamuk.

Nara datang tergesa-gesa. Wajahnya tegang. “Ini balasan mereka,” katanya. “Langkah putus asa untuk menekan kita.”

“Ini bukan sekadar tekanan,” balas Bima lirih. “Ini pemusnahan.”

Nara mengangguk. “Aku sudah menghubungi tim hukum. Kita akan ajukan gugatan. Tapi prosesnya bisa lama.”

Lama. Kata itu terasa kejam. Tanpa toko, tanpa pemasukan, dan dengan ayah yang masih terbaring di rumah sakit, waktu adalah musuh terbesar mereka.

Sore harinya, Bima mengunjungi ayahnya. Ia tak ingin menyampaikan kabar itu, tapi ayahnya sudah mendengar dari berita daring.

“Jadi… mereka menutup toko kita,” kata ayah pelan.

Bima mengangguk, tak sanggup menatap mata itu.

Ayahnya menarik napas panjang. “Aku sudah menduganya.”

“Maafkan aku, Yah,” suara Bima pecah. “Aku gagal melindungi semua yang Ayah bangun.”

Ayahnya tersenyum tipis, meski wajahnya pucat. “Tidak ada yang gagal di sini. Yang ada, kita sedang diuji. Dan ujian ini belum selesai.”

Kata-kata itu sedikit menenangkan, namun luka tetap menganga.

Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di gurun. Toko yang tertutup menjadi simbol kekalahan sementara. Utang tetap berjalan, tagihan medis terus datang, dan tekanan mental semakin berat.

Namun di tengah keputusasaan itu, solidaritas tumbuh. Komunitas UMKM menggalang dana. Pelanggan setia mengirim paket makanan. Bahkan beberapa sekolah yang dulu menjadi mitra menulis surat dukungan.

Bima terharu membaca satu per satu pesan itu. Ia menyadari, meski pintu toko tertutup, pintu hati banyak orang justru terbuka.

Suatu malam, saat duduk di depan toko yang gelap, Bima memandangi segel merah di kaca. Angin malam membawa dingin yang menusuk tulang.

“Kalau ini permainan mereka,” gumamnya, “aku tidak akan menyerah.”

Di benaknya, tekad lama kembali menyala, lebih kuat dari sebelumnya. Ia tahu, penutupan ini bukan akhir, melainkan babak baru yang lebih keras.

Dan di balik pintu yang terkunci rapat, Bima berjanji pada dirinya sendiri: suatu hari, segel itu akan dilepas, dan toko ini akan dibuka kembali, bukan hanya sebagai tempat menjual manisan, tetapi sebagai simbol kemenangan kebenaran atas kekuasaan yang culas.

Janji itu bergema di dadanya seperti genderang perang.

Malam semakin larut, namun Bima masih berdiri di depan toko, menatap kaca etalase yang kini dipenuhi segel dan pita pembatas. Bayangan dirinya terpantul samar, terlihat asing, lebih kurus, lebih keras, namun juga lebih dewasa. Ia mengepalkan tangan, merasakan denyut tekad yang tak lagi bisa dipadamkan.

Keesokan harinya, Bima memulai langkah pertama dari perlawanan yang sesungguhnya.

Ia mendatangi kantor bantuan hukum bersama Nara. Di ruangan sempit yang dipenuhi tumpukan berkas, mereka bertemu dengan seorang pengacara senior bernama Pak Arya. Rambutnya sudah memutih, namun sorot matanya tajam dan penuh pengalaman.

“Kasus kalian berat,” ujar Pak Arya setelah mendengarkan kronologi lengkap. “Tapi bukan berarti mustahil dimenangkan. Kita hanya perlu bukti kuat dan kesabaran.”

“Kami punya bukti transaksi, rekaman, dan saksi,” jawab Nara.

Pak Arya mengangguk. “Bagus. Tapi bersiaplah. Pihak lawan punya jaringan luas. Mereka akan berusaha memutarbalikkan fakta.”

Bima menarik napas panjang. “Kami siap.”

Sejak hari itu, hidup Bima berubah menjadi rangkaian pertemuan hukum, pengumpulan bukti, dan wawancara lanjutan. Setiap langkah terasa berat, namun ia tahu, inilah satu-satunya jalan.

Di rumah, ibunya berusaha tetap tegar. Ia mulai membuat manisan skala kecil di dapur, menjualnya lewat pesanan daring dan titip jual di warung-warung kecil. Hasilnya tak seberapa, tapi cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan sedikit membantu biaya rumah sakit.

Ayah Bima, yang kondisinya mulai membaik, merasa gelisah karena tak bisa banyak berbuat. “Maafkan Ayah,” katanya suatu sore. “Seharusnya Ayah yang berdiri di depan, bukan kamu.”

Bima menggenggam tangan ayahnya. “Sekarang giliranku, Yah. Aku hanya meneruskan apa yang Ayah ajarkan.”

Di luar dugaan, dukungan publik terus mengalir. Sebuah petisi daring menuntut pembukaan kembali toko dan penyelidikan transparan berhasil mengumpulkan puluhan ribu tanda tangan. Beberapa influencer lokal ikut menyuarakan kasus mereka. Tagar tentang Toko Manisan Wijaya sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Namun, di balik gelombang dukungan itu, ancaman semakin nyata.

Suatu malam, Bima menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal: Berhenti melawan, atau keluargamu akan menyesal.

Tangannya gemetar. Seketika bayangan ibunya yang pulang larut dan ayahnya yang masih lemah memenuhi pikirannya. Ketakutan mencengkeram, namun hanya sesaat.

Ia menunjukkan pesan itu pada Nara dan Pak Arya. “Ini bukti intimidasi,” kata Pak Arya tegas. “Kita laporkan. Jangan pernah tunduk.”

Hari demi hari berlalu, proses hukum berjalan lambat namun pasti. Satu per satu saksi mulai berani bicara. Beberapa mantan karyawan toko saingan mengungkap tekanan dan iming-iming uang untuk menyebarkan gosip. Mantan karyawan ayah Bima yang menjadi perantara mulai terpojok oleh bukti.

Sidang perdana pun digelar.

Ruang sidang penuh sesak. Wartawan memenuhi bangku belakang, kamera berderet di sudut-sudut ruangan. Bima duduk di samping Nara dan tim hukum, jantungnya berdegup kencang. Di seberang, ia melihat wajah-wajah yang selama ini berada di balik layar, dingin, percaya diri, dan penuh kuasa.

Ketika namanya dipanggil sebagai saksi, Bima melangkah maju. Di hadapan hakim, ia menceritakan segalanya: dari kebahagiaan sederhana di toko, fitnah yang datang bertubi-tubi, hingga kehancuran finansial dan jatuh sakitnya sang ayah.

Suasana ruang sidang hening. Beberapa hadirin tampak terharu. Bima berbicara dengan suara mantap, meski hatinya bergetar.

“Apa tujuan Anda membawa perkara ini sejauh ini?” tanya hakim.

Bima menatap lurus ke depan. “Saya tidak mencari balas dendam. Saya hanya ingin keadilan. Agar tidak ada lagi keluarga yang hancur karena kebohongan dan keserakahan.”

Sidang demi sidang berjalan. Setiap hari terasa panjang, setiap putusan sela membuat jantung berdebar. Namun perlahan, arah angin berubah. Bukti yang semakin kuat membuat posisi pihak lawan goyah. Media mulai memberitakan perkembangan positif.

Suatu sore, setelah keluar dari ruang sidang, Bima berdiri di depan toko yang masih tersegel. Ia menempelkan telapak tangan ke kaca, merasakan dinginnya permukaan itu.

“Bersabarlah,” bisiknya. “Aku akan membukamu kembali.”

Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah dan debu kota. Untuk pertama kalinya sejak penutupan, Bima merasakan ketenangan kecil di hatinya. Bukan karena masalah telah selesai, melainkan karena ia tahu, ia telah memilih jalan yang benar.

Di tengah perjuangan panjang, ia belajar bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang membuka kembali pintu toko, tetapi tentang mempertahankan nilai, melindungi keluarga, dan berdiri tegak di hadapan ketidakadilan.

Dan di balik segel yang masih menempel erat, sebuah harapan tumbuh diam-diam sembari menunggu hari ketika kebenaran akhirnya berdiri di puncak, membawa cahaya bagi semua yang pernah terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!