NovelToon NovelToon
My Shaneen

My Shaneen

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.

Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.

Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Sang Jenderal dan Kepulangan Marquess

Suasana di Elysium Estate pagi itu terasa sangat berbeda. Jika biasanya hanya ada suara kicauan burung di Garden of Whispers, hari ini deru mesin mobil mewah dan kesibukan para pelayan memenuhi halaman. Marquess von Asturia—sang penguasa bisnis yang punya sejarah kelam di dunia bawah—dan istrinya yang cantik keturunan Korea, baru saja menginjakkan kaki di rumah.

"Ninin-ah! Putri kesayangan Eomma!"

Ibu Shaneen, dengan keanggunan wanita Seoul yang awet muda, langsung menghambur memeluk Shaneen. "Lihat, Eomma bawakan banyak skincare dan teh tradisional dari Korea untukmu. Kau pasti lelah belajar terus di Oxford, kan? Pipimu sampai sedikit tirus begini!"

Shaneen tertawa kecil, membalas pelukan ibunya dengan manja. "Eomma, aku sehat. Hanya saja... belakangan ini ada sedikit 'gangguan' di rumah."

"Gangguan?" Sang Ayah, Marquess Asturia, melangkah masuk dengan jubah panjangnya. Wajahnya yang tegas dan sorot mata yang mengintimidasi langsung tertuju pada Stellan dan Samuel yang berdiri kaku di belakang Shaneen. "Apa yang dimaksud adikmu dengan 'gangguan', Stellan?"

Stellan berdehem, melirik Samuel. "Itu... Yah, ada seorang Jenderal yang sepertinya lupa jalan pulang ke markasnya."

Tepat saat itu, seorang pelayan masuk dengan nampan perak, namun bukan membawa teh. Dia membawa sepucuk surat dengan segel lilin berwarna emas gelap—stempel resmi keluarga Falkenhayn.

"Tuan Besar, ini baru saja diantarkan oleh ajudan Duke Matthias von Falkenhayn," lapor pelayan itu dengan suara gemetar.

Alis Marquess Asturia bertaut. Dia membuka surat itu, membacanya dalam diam. Sesaat kemudian, dia menatap Shaneen dengan tatapan menyelidik yang dalam.

"Ninin," suara ayahnya berat. "Kenapa Jenderal Tertinggi kerajaan menulis surat secara pribadi padaku, mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan 'lampu hijau' darimu untuk membicarakan penyatuan dua keluarga?"

Shaneen yang baru saja ingin menyesap tehnya langsung tersedak. "UHUK! Lampu hijau?! Lampu merah, Ayah! Lampu mati! Tuan Falken itu benar-benar tukang bohong!"

"Ninin-ah, kau punya kekasih jenderal?" Ibunya menutup mulut dengan tangan, matanya berbinar antusias. "Omo! Jenderal Matthias yang tampan itu? Yang sering ada di berita?"

"Bukan kekasih, Eomma! Dia itu... dia itu pengganggu!" Shaneen berdiri, wajahnya merah padam karena frustrasi. "Dia baru mengenalku dua hari dan tiba-tiba bilang mau melamar di depan Kak Stellan dan Kak Samuel. Aku sudah bilang Big No! Tapi dia malah berbohong pada Ayah!"

Marquess Asturia kembali menatap surat itu. "Dia bilang dalam surat ini, kau bahkan sudah memberinya 'perawatan khusus' dan menyuapinya dengan tanganmu sendiri di paviliun pribadi."

Mata Stellan dan Samuel langsung membelalak. "SUAPAN?!" Teriak mereka bersamaan.

"Itu cuma cokelat! Dan tangan itu... ah! Itu karena tangannya kasar seperti amplas!" Shaneen meremas rambutnya sendiri. Sisi perfeksionis Virgo-nya meledak. Dia benci saat ada sesuatu yang di luar kendalinya, apalagi dimanipulasi seperti ini. "Ayah, jangan percaya sepatah kata pun darinya! Dia itu kaku, kolot, dan... dan sangat menyebalkan!"

"Tapi dia sangat tampan, Ninin," goda ibunya sambil mencubit pipi Shaneen. "Dan dia punya jabatan tinggi. Sangat langka ada pria yang berani melamar putri seorang 'Singa Asturia' secara terang-terangan begini."

"Aku tidak peduli! Aku mau bekerja, aku mau jadi Nin, aku tidak mau jadi istri Jenderal!"

Shaneen menghentakkan kakinya, berjalan cepat menuju paviliunnya dengan perasaan kesal yang luar biasa. Sepanjang jalan, dia mengumpat dalam hati. Matthias von Falkenhayn, kau pikir kau bisa memenangkan perang ini dengan berbohong pada orang tuaku? Kau salah lawan, Tuan Falken!

...***...

Matthias duduk di kursi kerjanya yang besar, menatap layar ponselnya yang menunjukkan pesan singkat dari informannya di Elysium.

“Target tampak sangat marah, Yang Mulia. Dia menyebut Anda 'Tukang Bohong' sebanyak empat puluh dua kali hari ini.”

Matthias menyandarkan punggungnya, sebuah senyum tipis—senyum yang sangat langka dan sangat tampan—muncul di wajahnya. Dia membayangkan wajah "Ninin" (dia baru tahu panggilan itu dari laporan intelijennya dan kakak Shaneen kemarin) yang memerah saat sedang marah.

"Marah jauh lebih baik daripada diabaikan, bukan begitu Hans?" Tanya Matthias pada ajudannya.

"Tentu, Yang Mulia. Tapi... apakah tidak berbahaya membohongi Marquess Asturia? Beliau punya koneksi dunia bawah yang bisa membuat markas ini meledak dalam semalam."

Matthias menyesap kopi stroberi yang (diam-diam) dia beli tadi sore. "Aku tidak berbohong. Aku hanya memberikan 'interpretasi' atas tindakannya. Dia menyuapiku, artinya dia peduli pada asupanku. Dia memberiku krim, artinya dia peduli pada kesehatanku. Itu adalah lampu hijau dalam bahasaku."

Matthias berdiri, menatap peta kerajaan di dindingnya. "Besok, siapkan setelan jas terbaikku. Kita tidak akan ke markas. Kita akan melakukan negosiasi paling sulit dalam sejarah karirku: Menghadapi Ayahnya, dan menjinakkan putrinya yang galak itu."

Di kejauhan, di paviliunnya, Shaneen bersin keras. Dia merasa ada seseorang yang sedang merencanakan sesuatu yang buruk padanya.

"Ninin tidak akan menyerah secepat itu, Tuan Falken kaku!" Gumamnya sambil mulai menulis lirik lagu baru yang penuh dengan nada amarah.

1
Vivi
👍😍
Hana Nisa Nisa
sampai tahan.nafas bacanya
Mamanya Raja
Thor cerita mu keren loh
Bae •: terimakasih ya^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!