Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar di ruang makan seolah memberikan panggung bagi pemandangan yang paling tidak masuk akal dalam sejarah hidup seorang Gerry.
Xavier turun dari lantai atas. Kali ini, ia tidak membawa kucing putih di pundaknya.
Sebagai gantinya, ia berjalan berdampingan dengan seorang gadis cantik yang mengenakan gaun berwarna merah muda.
Gadis itu berjalan dengan langkah yang sedikit kikuk, sesekali matanya berbinar menatap kristal-kristal yang tergantung di langit-langit.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona Muda," sapa Gerry, membungkuk hormat meski otaknya sedang bekerja keras memproses kenyataan di hadapannya.
"Hmm." Xavier berdehem pendek tanpa sedikit pun menoleh ke arah asisten setianya itu.
Fokusnya hanya satu, memastikan gadis di sampingnya tidak menabrak kaki meja.
Gerry menelan ludah. Pagi-pagi ia sudah disuguhi sikap sedingin es dari bosnya. Namun, tatapan Gerry kemudian beralih pada Luna.
Gadis itu tampak sangat mempesona.
Gaun merah muda itu sangat serasi dengan kulit putihnya, dan mata biru sapphire-nya terlihat jauh lebih jernih di bawah cahaya pagi.
"Pagi, Ger!" sapa Luna sambil melambaikan tangan.
"Kondisikan matamu kalau kau tidak mau aku mengeluarkannya dari tempatnya!" sahut Xavier tiba-tiba dengan nada yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Gerry tersentak, hampir saja menjatuhkan tablet di tangannya.
"Ya ampun, Tuan... lagipula saya hanya menatapnya sebentar sebagai bentuk kekaguman pada ciptaan Tuhan."
"Oh, sekarang kau sudah berani menjawabku rupanya?" Xavier menyipitkan mata, memberikan tatapan maut yang membuat bulu kuduk Gerry meremang.
Ini salah, itu salah, mau Tuan apa sih sebenarnya! batin Gerry kesal setengah mati.
"Woah! Banyak sekali makanan? Luna mau semua! Semuanya!" seru Luna tiba-tiba. Ia langsung berlari menuju meja makan dan melompat ke atas kursi.
Xavier menghela napas panjang melihat tingkah Luna. "Apa kau bisa duduk dengan benar? Kau tidak sedang berada di hutan, Luna."
"Luna sudah duduk kok! Lihat, Luna sudah nyaman!" ucap Luna polos.
Ia duduk dengan kedua kakinya yang naik ke atas kursi, berjongkok persis seperti saat ia masih dalam wujud kucing.
Xavier tidak membentak. Ia justru mendekat ke arah Luna, lalu secara mengejutkan ia berlutut di samping kursi gadis itu.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menurunkan kaki Luna satu per satu dan merapikan letak gaunnya.
Ia memperlakukan Luna seolah gadis itu adalah benda antik mahal yang bisa pecah kapan saja.
Melihat pemandangan itu, Gerry mengucek matanya berulang kali. Ia mencubit pipinya sendiri dengan keras.
"Aku benar-benar tidak sedang bermimpi? Tuan Xavier yang kejam dan anti-sentuh itu... benar-benar berubah jadi pelayan cinta?" gumam Gerry tak percaya.
Dari belakang, sebuah tangan menepuk pundak Gerry dengan keras hingga ia hampir terjungkal.
Xander muncul dengan seringai tipis yang sulit diartikan.
"Apa yang sedang kau lihat? Kau terlihat seperti orang bodoh yang baru melihat alien," tanya Xander penasaran.
"Itu... anda lihat sendiri saja," sahut Gerry sembari menunjuk ke arah meja makan.
Xander menoleh, dan seketika ekspresinya mengeras. Ia meremas jari-jarinya hingga terdengar bunyi gemeretak.
Pemandangan Xavier yang sedang menyeka sudut bibir Luna dengan tisu membuat hatinya panas.
Di meja makan, Xavier sama sekali tidak mempedulikan dua pasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Katakan, mau makan yang mana dulu?" tanya Xavier rendah.
"Semua! Yang merah itu, yang cokelat itu, dan yang ada dagingnya!" jawab Luna dengan penuh semangat, jarinya menunjuk ke sana kemari.
Xavier mengambilkan semua yang Luna inginkan ke piring gadis itu.
"Pakai garpu dan pisaunya untuk memotong daging. Jangan menunjukkan pada orang lain kalau kau adalah kucing itu. Kau harus bisa hidup seperti manusia yang beradab," bisik Xavier tepat di samping telinga Luna.
Luna mencoba memegang pisau dan garpu itu, tapi benda-benda logam itu terasa licin di tangannya.
"Tapi Luna tidak bisa menggunakan benda besi ini, Sapir! Susah! Luna mau pakai tangan saja, lebih cepat!" rengeknya.
"Dasar gadis bodoh," gumam Xavier, namun nada bicaranya sama sekali tidak terdengar marah.
"Luna tidak bodoh!" balas Luna tak terima, pipinya menggembung lucu.
"Diamlah. Aku akan mengajarimu dengan perlahan." Xavier bangkit dan berdiri tepat di belakang kursi Luna. Ia sedikit membungkuk, melingkarkan lengannya di bahu Luna untuk memegang kedua tangan gadis itu.
Posisi mereka kini sangat intim, seakan-akan Xavier sedang memeluk Luna dari belakang.
Luna terdiam, jantungnya kembali berdebar jedag-jedug seperti yang ia rasakan kemarin. Ia bisa merasakan hembusan napas Xavier yang hangat menerpa pipinya saat pria itu mulai menggerakkan tangan Luna untuk memotong daging dengan irisan kecil.
"Bagaimana? Sudah bisa sekarang?" tanya Xavier lembut setelah satu potongan daging berhasil dilepaskan.
Luna menoleh dengan cepat ke arah Xavier. Jarak wajah mereka hanya satu inci. Dan dalam kepolosannya, Luna melakukan hal yang biasa ia lakukan saat merasa berterima kasih.
Cup!
Satu kecupan basah dan hangat mendarat tepat di pipi Xavier.
Xavier mematung di tempat. Garpu di tangannya hampir terlepas. Matanya membelalak, menatap Luna yang kini tersenyum manis tanpa dosa.
"Terima kasih, Sapir! Kau guru yang hebat!" seru Luna kegirangan lalu langsung melahap daging itu.
Sekarang, gantian jantung Xavier yang berdebar tak karuan. Ia segera berdehem keras, berusaha menutupi rona merah yang menjalar hingga ke telinganya, lalu kembali duduk di kursinya dengan kikuk.
"M-makan saja yang banyak. Jangan bicara terus. Kau bisa tersedak!"
Gerry dan Xander yang melihat adegan ciuman pagi itu hanya bisa terdiam membeku di tempat mereka berdiri.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂