Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam itu, Arga kembali ke habitat lamanya. Ia duduk di sudut kafe yang remang, tempat di mana ia selalu menghabiskan malam-malam panjangnya dalam keheningan. Di atas meja kayu itu, tersaji dua cangkir kopi yang sudah mendingin. Satu cangkir di hadapannya, dan satu lagi di depan kursi kosong yang entah kapan akan terisi kembali.
Selama tiga tahun, ritual ini adalah cara Arga menjaga "kehadiran" Yura. Ia mencintai bayang-bayang itu lebih dari ia mencintai kenyataan.
Namun, malam ini ada yang salah. Suasana hatinya tidak lagi sama.
Biasanya, saat menatap kursi kosong itu, Arga akan tenggelam dalam kenangan manis bersama Yura,suara tawanya, aroma parfumnya, janji-janji yang mereka tukar. Namun kini, bayangan itu perlahan mengabur, tertutup oleh sepasang mata bulat yang menatapnya dengan luka di sebuah rumah berwarna pastel tadi siang.
Setiap kali Arga mencoba memanggil nama Yura dalam hatinya, telinganya justru berdengung oleh suara cempreng Ayu yang mengomelinya "manekin mahal yang baterainya habis."
Ia menyesap kopinya yang sudah terasa pahit dan dingin. Rasa pahit itu mengingatkannya pada ekspresi Ayu saat ia mengatakan tidak ingin mengkhianati cintanya pada Yura. Kenapa wajah gadis itu harus terlihat sesakit itu? Dan kenapa rasa bersalah ini justru lebih menyesakkan daripada rasa kehilangan yang selama ini ia pelihara?
Arga menyandarkan punggungnya, menatap nanar ke arah kursi kosong di depannya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, kursi itu benar-benar terasa... kosong. Seolah-olah pemilik aslinya memang sudah tidak akan pernah kembali, dan Arga hanyalah orang bodoh yang menjaga makam tanpa raga.
"Kenapa kau harus muncul dan merusak segalanya, Ayu?" bisik Arga lirih, suaranya ditelan oleh musik jaz yang mengalun rendah di kafe itu.
Ia meraih ponselnya, jarinya berhenti di atas nomor Ayu. Ia ingin mengetik sesuatu, menanyakan apakah gadis itu sudah makan atau masih menangis, namun logikanya segera menepis itu semua. Ia tidak boleh memberikan harapan, sementara hatinya masih menjadi budak bagi masa lalu.
Lampu-lampu kota di balik jendela kafe tampak kabur, seperti lukisan cat air yang luntur oleh hujan. Arga masih bergeming, namun tangannya yang memar akibat tinju ke dinding tadi pagi mulai berdenyut nyeri. Perih di kulitnya seolah menjadi pengingat fisik bahwa dunianya yang rapi kini sedang berantakan.
Tiba-tiba, denting lonceng pintu kafe berbunyi. Arga tidak menoleh, ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun, indra penciumannya menangkap sesuatu yang familier. Bukan aroma mawar kesukaan Yura, melainkan aroma jeruk yang beberapa hari ini selalu memenuhi indera penciumannya.
"Satu Iced Caramel Macchiato dan satu kotak donat isi cokelat, ya. Tolong banyakin topping-nya!" suara cempreng itu terdengar di area kasir.
Tubuh Arga menegang. Itu Ayu.
Arga segera membenahi posisi duduknya, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik buku menu yang bahkan tidak ia baca. Lewat sudut matanya, ia melihat Ayu,gadis itu memakai hoodie kebesaran dengan rambut yang dikuncir asal-asalan. Matanya terlihat sedikit sembab, namun mulutnya masih tetap tidak bisa berhenti mengoceh pada pelayan kasir.
Ayu berbalik setelah mendapatkan pesanannya, mencari tempat duduk. Kafe sangat penuh malam itu, dan satu-satunya kursi yang tersisa adalah...
Kursi kosong di depan Arga.
Ayu melangkah mendekat, awalnya tidak menyadari siapa pria yang duduk di sana karena Arga menunduk dalam.
"Permisi, apa kursi ini kosong? Saya hanya ingin duduk sebentar sampai..." kalimat Ayu terhenti.
Ia mengenali jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan pria itu. Arga perlahan mendongak, mempertemukan tatapan mata mereka.
"Pak Arga?" Ayu terkesiap. Langkahnya spontan mundur satu tindak. "Maaf, saya tidak tahu ini Bapak. Saya cari tempat lain saja."
"Duduklah," ucap Arga pelan, suaranya terdengar lebih seperti permohonan daripada perintah. "Kafe ini penuh. Kau tidak akan menemukan tempat lain."
Ayu ragu sejenak. Ia melihat dua cangkir kopi dingin di atas meja. Ia tahu persis apa arti kursi kosong itu bagi Arga. Kursi itu adalah wilayah suci untuk "dia" yang tak kunjung kembali.
"Saya tidak mau mengganggu ritual Bapak," balas Ayu dingin, berusaha terdengar kuat meski hatinya masih terasa perih akibat penolakan siang tadi.
"Aku yang memintamu duduk, Ayu. Silakan," tegas Arga lagi.
Akhirnya, dengan gerakan kaku, Ayu duduk di kursi yang selama tiga tahun ini tidak pernah ditempati siapapun. Saat bokongnya menyentuh kursi itu, Arga merasa ada sesuatu yang bergeser dalam hidupnya. Ruang kosong yang ia jaga untuk Yura, kini secara fisik diisi oleh wanita lain.
"Tangan Bapak... kenapa?" tanya Ayu tiba-tiba, matanya tertuju pada perban asal-asalan di buku jari Arga yang mulai merembes darah.
Arga menarik tangannya ke bawah meja. "Bukan urusanmu."
Ayu mendengus, rasa kesalnya kembali muncul. "Tentu saja jadi urusan saya kalau Bapak pingsan karena infeksi di depan saya. Sini." Tanpa izin, Ayu menarik tangan Arga di atas meja. Ia mengeluarkan tisu basah dan plester dari tas kecilnya,perlengkapan wajib seorang fotografer lapangan.
Arga tertegun. Ia membiarkan tangan Ayu yang hangat menyentuh kulitnya yang dingin. Gadis ini, yang baru saja ia sakiti hatinya, justru orang pertama yang menyadari lukanya.
"Kenapa Bapak selalu menyakiti diri sendiri demi sesuatu yang sudah tidak ada?" bisik Ayu tanpa mendongak, fokus membersihkan luka Arga.
Arga menatap puncak kepala Ayu. Di bawah lampu kafe yang kekuningan, ia menyadari satu hal: kopi di depannya memang sudah dingin, tapi kehadiran Ayu di kursi itu memberikan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Apakah setelah ini Arga akan mulai membuka hati untuk Ayu?kita tunggu bab berikutnya ya...
Bersambung...
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it