NovelToon NovelToon
Hotnews: I Love You

Hotnews: I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.

Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.

Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Siang Para Pejabat

Alena sudah akan menyalakan mesin mobilnya ketika kaca jendela di samping kursi penumpang diketuk.

"Ngapain lo?" tanya Alena setelah membuka kaca jendela mobilnya.

"Pake mobil lo," kata Andrean datar. Alena membuka kunci mobil dari pintu di samping kemudi dan membiarkan Andrean masuk.

Alena menyalakan mesin mobilnya saat Andrean memasang sabuk pengamannya. Mobil Alena melaju perlahan meninggalkan area parkir kantor redaksi Hotnews.com.

"Gue kira, warung Cak Imin itu warung nasgor pinggir jalan. Ternyata sekelas resto dan dapet bintang lima di reviewnya," kata Andrean membuka pembicaraan sambil memainkan ponselnya.

"Warung pinggir jalan mana yang punya informasi rahasia tentang pemerintahan?" kata Alena. Andrean tersenyum tipis.

Hening.

Menurut aplikasi maps, mereka akan tiba di tujuan dalam lima belas menit. Lima belas menit yang terasa seperti lima belas jam bagi Andrean. Kini dia paham maksud Roni tentang atmosfer yang lebih berat seratus kali lipat. Menyesakkan!

"Soal omongan gue kemarin..." kata Andrean ragu-ragu.

"Sorry," lanjut Andrean. Alena tetap diam, fokus melihat jalanan.

Hening.

Ini pertama kalinya Andrean merasa begitu tak nyaman berada di samping Alena. Ada rasa berat dan sesak dalam dirinya.

"Lo harusnya lebih paham dari siapapun, bahwa kata-kata lebih ampuh daripada senjata," kata Alena.

"Bahkan untuk menyakiti sekalipun," lanjut Alena. Andrean terdiam.

Ya. Seharusnya Andrean tahu, bahwa kata-kata lebih ampuh menyembuhkan daripada obat, lebih efektif membuka peluang daripada senjata, dan lebih menyakitkan daripada pedang.

Sepanjang sisa perjalanan itu, baik Andrean maupun Alena hanya terdiam. Tak ada diskusi strategi wawancara. Tak ada debat strategi penyamaran. Hanya diam.

'Harusnya gue tau itu,'

***

Lima belas menit kemudian

Resto Cak Imin berada di jalan protokol, kawasan yang ramai pertokoan dan juga kuliner. Restonya bergaya tradisional dengan bangunan joglo di tengah sebagai tempat makan lesehan. Di belakang joglo terdapat ruang VIP dengan kaca es sebagai penyamar keadaan di dalam ruang. Gazebo-gazebo kecil terletak di sisi kanan joglo agak ke belakang, tempat yang cozy untuk tongkrongan anak muda.

"Gue bakal pura-pura jadi food blogger. Lo terserah mau nanya apa dan gimana," kata Alena saat Andrean dan Alena hendak turun dari mobil.

"Gue udah buat susunan pertanyaannya," kata Andrean. Alena mengangguk kaku kemudian keluar dari mobilnya.

"Misi, Mas. Saya Alena yang tadi telepon," kata Alena pada seorang pramusaji di resto Cak Imin.

"Oh! Yang food blogger tadi? Mari, Mbak, sudah disiapkan tempatnya," kata mas pramusaji dengan ramah sambil memandu Alena dan Andrean menuju tempat yang disiapkan.

"Hari ini rame juga ya, Mas, restonya?" tanya Andrean.

"Iya, Mas. Alhamdulillah. Ada beberapa pejabat pemerintahan mampir dari sidak lapangan," kata pramusaji.

"Wah! Sampe pejabat pemerintahan juga mampir sini? Pantesan direkomendasiin sama atasan saya," kata Andrean memuji.

"Sering ada tamu pejabat, Mas?" tanya Alena.

"Lumayan sering sih, Mbak. Kadang ngadain rapat disini juga," kata pramusaji dengan bangga.

"Bisa buat dimasukin reviewnya nanti," kata Alena.

"Boleh, Mbak,"

"Rapat bukannya di kantor ya, Mas, kalo pejabat-pejabat gitu?" tanya Andrean.

"Itu kan kalo rapat resmi, Mas," kata pramusaji malu-malu.

"Disini, Mbak, Mas. Maaf kami tempatkan di gazebo, agak kebelakang, di depan lagi rame soalnya, takutnya ganggu Mbak sama Masnya kerja," kata pramusaji.

"Oh, nggak apa-apa, Mas. Kebetulan banget malah dikasih tempat belakang," kata Alena.

"Sebentar ya, Mbak. Menunya baru disiapin," kata pramusaji lalu pergi meninggalkan Andrean dan Alena.

"Keknya kita dateng di waktu yang tepat," kata Alena sambil menyetting kameranya. Andrean mengangguk.

"Rencana selanjutnya? Tempat kita terlalu jauh buat nguping apa yang pembesar-pembesar itu bicarakan," kata Andrean.

"Hari ini kita liat dulu aja siapa yang lagi rapat di dalem ruang VIP itu," kata Alena.

"Artinya kita harus nunggu sampe mereka selesai?" tanya Andrean memastikan.

"Kita bisa ulur waktu. Kita juga kudu makan menu yang gue pesen. Jadi, gue rasa aman kalo kita nunggu mereka," kata Alena masih sambil menyetting kamera. Andrean manggut-manggut.

"Kalo dari sini sih keliatan jelas yang keluar dari VIP. Pintu ruang VIPnya pas banget di sisi kanan," kata Andrean.

"Gue udah siapin angle kamera yang ngadep kesana," kata Alena. Andrean mengangguk.

Tak lama dua orang pramusaji mengantar pesanan Alena. Satu porsi nasi goreng spesial, satu porsi capjay kuah, satu porsi bakmi godhog kuah dan dua gelas es teh.

"Mas, minta piring kosong dua ya," pinta Alena sambil siap memotret menu di atas meja.

Andrean duduk sambil menatap Alena yang serius memainkan perannya sebagi food blogger. Menurut Andrean, Alena lebih cocok jadi influencer daripada jadi jurnalis. Selain parasnya yang menarik, kemampuan public speaking Alena sudah pasti tak diragukan lagi.

Saat Alena sedang sibuk memotret makanan, pintu ruang VIP terbuka. Seseorang terlihat akan keluar dari sana. Andrean dengan cepat menghampiri Alena yang tampaknya tak menyadari hal itu.

"Ada yang keluar," bisik Andrean. Alena menoleh ke arah pintu ruang VIP.

"Gue udah pasang kamera. Lo tenang aja," bisik Alena. Andrean mengangguk lalu kembali duduk.

"Benar-benar orang pemerintahan," bisik Andrean saat melihat Sekda (Sekretaris Daerah) keluar dari ruang VIP diikuti ajudannya. Alena sibuk memotret nasi goreng spesial.

"Kira-kira mereka bahas apa di dalem?" tanya Andrean lebih pada diri sendiri.

"Yang jelas mereka ngerencanain hal kotor disana," kata Alena sambil memotret capjay kuah dari berbagai angle.

"Ini piringnya, Mbak. Maaf agak lama," kata pramusaji.

"Oh, makasih, Mas," kata Alena sambil menerima dua piring yang dimintanya.

"Mas, yang di dalem ada siapa aja?" tanya Andrean pada pramusaji.

"Banyak, Mas. Orang-orang besar semua," kata pramusaji.

"Mmm..."

"Mas nggak kenal siapa aja?" tanya Alena sambil sibuk memotret bakmi godhog.

"Waaah siapa yang nggak kenal mereka. Lha wong terkenal semua. Ada Pak Sekda, Kadin (Kepala Dinas) Perdagangan, Kepala Biro Komunikasi Pemda, sama satu lagi saya nggak kenal, tapi penampilannya cukup keliatan kalo dia orang kaya. Pengusaha mungkin?" kata pramusaji.

"Orang top semua ya," kata Andrean dengan nada takjub.

"Mereka sering makan siang disini, Mas," kata pramusaji.

"Mmm... Cuma makan siang aja ya?" tanya Andrean hati-hati.

"Yaaa mungkin sambil bahas proyek-proyek, Mas. Kurang tau juga sih. Tapi tadi pria yang saya nggak kenal itu terus mantau grafik di ponselnya. Saya tau karena ponselnya ditaru di atas meja gitu aja," kata pramusaji.

"Grafik? Mas nggak tau grafik apa?" tanya Andrean penasaran. Pramusaji menggeleng pelan. Andrean menatap Alena yang ternyata juga menatapnya.

"Ya udah ya, Mbak, Mas, saya permisi dulu," kata pramusaji.

"Oh, iya, Mas. Makasih," kata Andrean.

"Makan dulu, abis itu kita coba ke depan," kata Alena sambil meletakkan kamera, lalu mengambil satu piring kosong dan mengisinya dengan bakmi godhog.

Andrean melakukan yang sama. Andrean dan Alena makan dalam diam. Tak ada pembicaraan apapun. Hening. Suasana gazebo yang sepi, membuat atmosfer diantara keduanya terasa sangat berat.

"Saya akan pantau terus perkembangannya dan memastika kalau penyelidikan penyidik jangan sampai ke tempat kita," suara terdengar dari pintu ruang VIP.

Alena yang duduk membelakangi pintu ruang VIP seketika menegakkan posisi duduknya, tegang, mendengar suara yang dia kenal. Perlahan Alena memutar kepalanya untuk dapat mencuri pandang sedikit —untuk memastikan— sosok pemilik suara tersebut. Mata Alena membulat.

'Perwakilan dari PDX?!'

***

1
Nanaiko
Aaaa bersambung😅
Nanaiko
Bisa tidak yaa sehari updatenya 5 bab sekalian, Thor? hehehe
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤
Purnamanisa: kapasitas author sehari nulis cuma 3 bab kak 😅😅😅 2 bab disini, 1 bab di I Love You, Miss!!!🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!