Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.Bercocok tanam
Drttt… drttt… drttt…
Sinta berulang kali menghubungi Donni. Sudah hampir tengah malam, tetapi pria itu tak kunjung pulang sejak berpamitan pergi ke perusahaan siang tadi. Rasa gelisah mulai merayapi dadanya. Sesuatu terasa tidak beres.
Di tempat lain—
Perempuan yang bergerak liar di atas tubuh Donni seketika menghentikan gerakannya saat suara ponsel itu kembali bergetar di atas meja.
“Aahhh, Mas… suara telepon kamu begitu mengganggu sejak tadi,” ucap Delia, kepala keuangan di perusahaan Morrix yang sekaligus menjadi selingkuhan Donni.
Dengan wajah kesal, Delia turun dari tubuh Donni dan membalut dirinya dengan selimut, menyisakan tatapan tak sabar pada pria itu.
Donni berdecak pelan, jelas terganggu. Ia meraih ponselnya dan segera mengangkat telepon tersebut. Seketika suara khawatir Sinta terdengar dari seberang sana.
“Di mana kamu, Mas? Kenapa kamu belum pulang?”
Donni mengembuskan napas panjang, berusaha terdengar tenang meski ekspresinya jengkel.
“Maaf, Sinta. Sepertinya aku akan lembur malam ini. Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan.”
“Tidak bisa, Mas. Kamu harus pulang malam ini juga karena ada yang harus kita diskusikan. Ini menyangkut Devon dan Lora yang sudah sangat semena-mena di rumah ini,” ucap Sinta dengan nada mendesak.
Donni memejamkan mata, rahangnya mengeras.
“Aku sangat pusing dengan pekerjaan sekarang ini, Sinta. Sudahlah, pokoknya aku tidak akan pulang malam ini. Urus saja perempuan itu olehmu. Lagi pula itu juga karena adik kesayanganmu, kan,” ucap Donni, lalu seketika mematikan telepon tanpa memberi kesempatan Sinta membalas.
Ia meletakkan ponsel itu dengan kesal.
“Istri bodohmu itu lagi?” tanya Delia sambil kembali menaiki tubuh Donni, jemarinya mengusap dada pria itu perlahan.
“Benar. Dia begitu bodoh. Karena dia, posisiku di perusahaan terancam sekarang karena Lora menikahi Devon, anak angkat sialan itu,” ucap Donni dengan nada penuh kebencian.
Tangannya mulai mengitari lekuk tubuh Delia yang kini mengecup lehernya lembut, berusaha mengalihkan kekesalannya.
“Dia memang sangat bodoh. Perempuan mandul itu hanya keras kepadamu. Harusnya dia juga keras kepada adik manjanya itu,” ucap Delia dengan nada sinis.
Donni tersenyum miring.
“Benar, Sayang. Untung saja aku memilikimu,” ucapnya sebelum menjatuhkan tubuh Delia ke atas ranjang dan berada di atasnya. “Hanya kamu satu-satunya penenang untukku. Kamu wanita yang paling aku cintai. Setelah harta wanita bodoh itu aku kuasai, aku akan menikahimu.”
“Aaahhhh…” Delia berdecak pelan sembari memegangi kepala Donni. “Aku pasti dengan senang hati membantumu mengurasnya, Sayang,” ucapnya dengan suara berat penuh kepuasan.
______
Kepala pelayan mengetuk pintu kamar Lora pelan, tepat setelah Devon terlelap. Seperti kebiasaan barunya, Devon tertidur sambil memeluk Lora erat, seolah takut ia menghilang jika dilepaskan. Karena itu, Lora dengan hati-hati melepaskan lengan pria itu dari tubuhnya, satu per satu jemarinya ia angkat perlahan agar tidak membangunkannya.
Setelah memastikan napas Devon stabil dan dalam, Lora bangkit dari ranjang dan melangkah menuju pintu. Ia membukanya perlahan.
Di luar, kepala pelayan berdiri dengan wajah serius.
“Mari, Nona ikut denganku. Jika Nona memang ingin bergabung di perusahaan besok, ada hal-hal yang perlu Nona pelajari lebih dulu,” ucap pelayan tersebut.
“Harus semalam ini?” tanya Lora, menatap kepala pelayan itu dengan kening berkerut.
“Tengah malam ini adalah waktu yang pas untuk Nona mempelajarinya agar Nona bisa berkonsentrasi,” jelas kepala pelayan tersebut.
“Memang apa yang harus aku pelajari? Jika hanya sekadar berkas-berkas, aku bisa mempelajarinya dengan cepat besok,” jelas Lora.
“Ini bukan soal berkas, tapi ini untuk keselamatan Nona,” ucap kepala pelayan tersebut tegas, lalu berbalik berjalan lebih dulu. “Mari ikut denganku, Nona. Bergabung ke perusahaan tidak semudah yang kamu pikirkan.”
Nada suaranya membuat Lora tak punya pilihan selain mengikuti.
Langkah mereka berhenti di depan sebuah kamar besar dengan tulisan Martanus Morrix terukir di pintunya. Aura ruangan itu terasa berbeda—hening, berat, seolah menyimpan rahasia.
Dengan gerakan penuh kehati-hatian, kepala pelayan membuka kunci kamar tersebut lalu mempersilakan Lora masuk.
“Silakan, Nona.”
“Kenapa kita ke sini, ke dalam kamar pimpinan?” tanya Lora. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia sadar kepala pelayan itu adalah pria dewasa, dan di rumah penuh intrik ini, ia tidak bisa begitu saja percaya. Bagaimana jika pria ini juga bagian dari permainan kotor mereka?
“Kamu mencurigaiku? Apa kamu tidak mempercayaiku?” tanya kepala pelayan tersebut, menaikkan satu alisnya. “Jika kamu memang tidak percaya, kamu bisa kembali ke kamarmu. Berjuanglah sendiri di perusahaan nanti. Jangan pernah melibatkanku dalam permasalahan ataupun hal buruk yang terjadi kepadamu.”
Ucapan itu seperti tamparan. Lora terdiam.
Di satu sisi, rasa takut dan curiga menggerogotinya. Namun di sisi lain, ia sadar—tanpa bantuan pria ini, ia benar-benar buta. Devon dalam kondisinya sekarang tak bisa diandalkan. Dan orang lain di rumah ini jelas musuh.
Dengan langkah sedikit gemetar, Lora memutuskan masuk ke dalam kamar. Kepala pelayan itu ikut masuk dan menutup pintu di belakang mereka.
Di koridor, Vely yang baru keluar dari kamar Vino melihat sekilas bayangan Lora dan kepala pelayan masuk ke kamar utama tersebut. Keningnya berkerut. Ia mendekat dan mencoba membuka pintu itu.
Namun—
Terkunci rapat.
“Kenapa ini tidak bisa terbuka?” ucap Vely keheranan.
Dari arah kamar, Vino berteriak memanggilnya, “Apa yang kamu lakukan di sana? Pintu itu sudah terkunci rapat sejak kematian papaku.”
Vely menoleh dengan bingung.
“Apa aku salah lihat?” gumamnya pelan, sebelum akhirnya berlari kembali ke arah Vino.
Sementara itu, di dalam kamar—
Lora dan kepala pelayan justru bergerak menuju sebuah lemari besar di sudut ruangan. Kepala pelayan menarik salah satu pena yang terletak di atas meja kerja mendiang pimpinan.
Klik.
Lemari itu bergeser perlahan, memperlihatkan sebuah pintu tersembunyi di baliknya.
Mata Lora membelalak.
“InI ruangan apalagi?” tanya Lora, takjub sekaligus semakin takut.
“Kamu akan tahu setelah kamu masuk ke dalamnya,” ucap kepala pelayan tersebut.
Ia mendorong pintu rahasia itu hingga terbuka sepenuhnya, memperlihatkan lorong gelap seperti terowongan panjang di baliknya. Udara dingin menyembur pelan dari dalam, membawa aroma lembap dan misterius.
Lora menelan ludahnya. Namun tekadnya lebih besar dari rasa takutnya.
Ia melangkah masuk.
Kepala pelayan mengikuti di belakangnya.
Begitu mereka berada di dalam, pintu tersembunyi itu perlahan menutup kembali, menyatu dengan dinding seolah tak pernah ada apa pun di sana.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
kira- kira apa yang akan kepala pelayan itu lakukan Kepada Lora di ruangan rahasia itu ya ,apa mungkin kepala pelayan tersebut berencana mencelakainya ???
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤