Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni
Angin pagi berhembus lembut melewati atap-atap kota, membawa serta potongan-potongan doa dan dendang himne yang terserak dari gereja-gereja kecil yang tersembunyi di balik dinding batu.
Embun beku masih membungkus atap jerami dan membentuk kristal-kristal berkilauan di sulur anggur yang melilit dinding rumah-rumah tua, namun jalanan sempit Citywon telah bernapas dengan kehidupan baru. Suara-suara, aroma, dan gerakan telah menggantikan kesunyian fajar yang hanya beberapa jam lalu menyelimuti segalanya.
Keluarga-keluarga, terbalut dalam mantel wol tebal dan syal rajutan kasar, telah memadati alun-alun dan setiap lorong. Mereka bukan hanya penonton pasif, melainkan bagian dari prosesi sukacita yang bergerak perlahan—sebuah ritual kolektif menyambut musim yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Mereka berhenti untuk mengagumi karangan bunga holly beri merah dan daun ivy hijau tua yang tergantung dengan bangga di setiap palang pintu, mengendus aroma hangat jahe dan kayu manis yang menggoda dari kios-kios kue yang berderet, atau sekadar menengadah ke langit biru porselen yang langka muncul di puncak musim dingin.
Kres... Kres... Kres...
Langkah kedua pemuda berjubah itu terdengar semakin terisolasi, terpisah dari gemuruh pasar yang riuh rendah. Mereka membelok masuk ke sebuah gang yang terlupakan, di mana cahaya matahari hanya mampu menyelinap masuk sebagai garis-garis tipis pucat di antara atap-atap yang hampir bersentuhan. Suara keramaian pasar menyusut perlahan menjadi dengung samar yang jauh.
"Itu dia," gumam salah satu dari mereka, suaranya rendah dan hampir tak terdengar di balik topeng kelinci putih.
Di ujung gang buntu, tersembunyi di balik tirai sulur ivy yang membeku dan tumpukan kayu bakar tua yang tertimbun salju tebal, berdiri sebuah bangunan kayu tua.
Wujudnya lebih mirip gundukan kayu gelap yang membeku dan mati daripada sebuah rumah hunian. Kayu oak tuanya telah berubah warna menjadi kelabu kehijauan yang muram, dilapisi oleh lumut dan lumut kerak tebal. Retakan-retakan dalam dan lebar menghiasi seluruh permukaannya.
"Itu?" sahut yang satunya, seorang gadis dengan suara yang pelan. "Tidak kusangka tempat persembunyiannya ada di sini." Matanya yang biru menelusuri setiap sudut gang sempit dengan gelisah.
"Sebelum kita masuk," kata pemuda bertopeng kelinci itu, tiba-tiba berhenti mendadak di tengah langkah. Kakinya yang panjang berbalik, menghadapkan tubuhnya sepenuhnya pada gadis di belakangnya.
"Hm? Ada apa, Steve?" tanya Stella.
"Aku ingin memastikan sekali lagi, Tuan Putri," ucap Otto. "Bisakah kau menahan emosimu apa pun yang terjadi di dalam sana? Dan yang lebih penting, bisakah kau merahasiakan pertemuan ini—siapa pun yang kau temui di dalam, apa pun yang kau dengar dan lihat, dan setelah kita keluar nanti dari tempat ini?"
Pertanyaan berbobot itu menggantung berat di udara dingin yang lembap di antara mereka, membeku bersama embun. Wajah Stella yang tadinya penasaran berubah drastis, semua kepastian dan rasa ingin tahunya memudar seketika, digantikan oleh bayang-bayang keraguan. Dia memalingkan wajahnya, lengan-lengannya secara naluriah melingkar memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.
"Entahlah, Steve," bisiknya akhirnya. "Aku... tidak yakin. Kalau tempat persembunyiannya seperti ini, dan kau tiba-tiba bertanya seperti itu... rasanya aku jadi semakin ragu."
Kreeeak...
Suara itu, keras dan sangat nyaring di keheningan gang yang mencekam, membuat mereka berdua sedikit melompat kaget. Pintu kayu berat bangunan tua itu tiba-tiba terbuka ke dalam dengan sendirinya, seolah-olah digerakkan oleh hembusan angin gaib.
Ruang di balik pintu yang terbuka adalah sebuah mulut kegelapan pekat yang sepertinya siap menelan siapa pun yang berani masuk. Jendela-jendela sempitnya tertutup rapat oleh bidai kayu tebal yang dipaku dengan kasar, menelan setiap helai cahaya matahari.
"Gelap sekali di dalam," desis Stella, tanpa sadar tubuhnya yang tegang bergeser lebih dekat ke Otto, hingga lengannya yang dingin menyentuh lengan Otto. "Siapa sebenarnya orang yang akan kita temui, Steve? Kenapa dia harus memilih tempat persembunyian... seperti ini?"
"Karena itulah pilihannya, dan dia punya alasan sendiri," jawab Otto. Tanpa ragu-ragu lagi, dia melangkah maju dan menyatu dengan kegelapan di balik pintu.
Stella terpaku kaku di ambang pintu, seolah kakinya membeku di tempat. Wajahnya yang pucat memancarkan campuran rasa gugup yang memuncak, ketakutan yang mencekik, dan kebingungan yang mendalam. Matanya yang indah membelalak, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan pekat di depan, mulutnya sedikit terbuka, dan tangannya yang ramping bergetar di samping tubuhnya.
Tempat persembunyian macam apa ini? pikirnya dengan hati berdebar kencang. Apa mungkin Steve selama ini membohongiku dan sekarang membawaku ke dalam jebakan?
Namun, melihat sosok Otto yang perlahan-lahan mulai menghilang ditelan koridor gelap, rasa takut yang lebih besar—rasa takut ditinggalkan sendirian di tempat asing—mengalahkan rasa takutnya akan yang tidak diketahui.
Dengan jantung berdebar kencang, dia memberanikan diri melangkah masuk ke dalam kegelapan. Tangannya yang gemetar meraba-raba di depan, mencari pegangan, dan akhirnya menemukan lipatan jubah kasar Otto. Ia mencengkeramnya erat-erat. Kainnya terasa kasar dan dingin di genggamannya.
Mereka berjalan dalam kegelapan total selama beberapa saat. Hanya suara langkah kaki mereka sendiri yang bergema di lorong sempit, dan aroma basi kayu lapuk, debu tua, serta kelembapan yang memenuhi hidung Stella.
Lalu, di sebelah kiri, sebuah celah cahaya pucat muncul. Bukan cahaya terang, melainkan sinar temaram pucat yang berhasil menyusup dengan susah paya melalui celah-celah bidai kayu yang reyot, cukup untuk menerangi samar sebuah ruangan kecil. Udara di sana terasa lebih dingin dan lebih diam.
"Di sinilah dia berada," bisik Otto. "Orang yang akan membawa perubahan besar bagi negara ini, Tuan Putri."
"A-apa maksudmu?" Stella menggenggam jubah Otto lebih erat, jari-jarinya memutih oleh tekanan. Tubuhnya yang tegang bersembunyi hampir seluruhnya di balik punggung Otto.
Ketika Otto melangkah masuk ke ruangan berpendar itu, Stella, digerakkan oleh rasa penasaran yang akhirnya mengalahkan rasa takut, mengintip dengan hati-hati dari balik bahu Otto.
Di tengah ruangan yang sunyi, duduk sesosok siluet manusia di atas bangku kayu kasar yang sudah usang. Posisinya condong ke depan dengan beban, kedua sikunya bertumpu berat di paha, dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat, buku-buku jarinya memutih.
Seluruh wajahnya tersembunyi oleh bayangan yang dimainkan oleh cahaya lemah. Cahaya pucat dari jendela jatuh menyapu profilnya, hanya cukup untuk memperlihatkan garis rahang dan tatapan mata yang kosong, menatap lantai berdebu tanpa benar-benar melihat.
"Tuan," ucap Otto. "Ini dia, Putri Stella Valemira."
Dengan jantung yang berdebar kencang, Stella memaksakan dirinya untuk bergerak maju. Dia melangkah keluar dari balik punggung Otto, perlahan-lahan. Napasnya berdesis pendek dan cepat di telinganya sendiri.
"Namaku... Stella. Stella Valemira. Putri dari Kerajaan Valemira," ucapnya dengan suara yang terdengar begitu kecil. "Dan... Anda ini siapa? Kenapa harus bertemu di tempat seperti ini?"
Sosok itu tidak segera menjawab. Yang terlihat hanya jari-jari yang saling menggenggam itu mengeras sedikit lebih kuat, otot-otot di lengan bawahnya menegang.
"Kau mengenalku," jawabnya akhirnya dengan suara datar.
"E-Eh?" Stella terkekeh kecil, sebuah tawa gugup yang keluar tanpa sadar. Kebingungannya semakin menjadi. Dia menoleh ke Otto, mencari penjelasan, namun Otto hanya mengangguk pelan sekali.
Dengan hati yang semakin berdebar tak karuan, Stella mendekat selangkah, lalu dua langkah. Sekarang dia bisa melihat lebih jelas. Tatapan mata pria itu memang kosong, menerawang ke lantai.
Wajahnya pucat pasi, rambut hitamnya berantakan dan kusut. Ada sesuatu yang sangat familiar dalam kelelahan yang terpancar dari seluruh tubuhnya, sesuatu yang menggelitik ingatannya namun belum bisa ia rangkai menjadi satu kesatuan.
"K-kau..."
Saat pria itu akhirnya mengangkat kepalanya dengan gerakan lambat, mata hitamnya yang pekat menatap langsung ke Stella tanpa berkedip.
"Ya," ucapnya. "Aku adalah pemuda polos dari desa yang kau temui di pasar waktu itu." Dia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu mengendap dan meresap. "Iago Verbal."
Nama itu seperti pukulan tinju tiba-tiba dan keras di ulu hati Stella. Napasnya tercekat di tenggorokan, dadanya sesak.
"Apa... Apa maksud semua ini...?" desisnya dengan suara tinggi.
"Apa maksudnya?" Iago mengulang pertanyaannya. "Bukankah kau sendiri yang bilang," dia berhenti lagi, membuat jeda, "kalau kau berharap bisa bertemu denganku lagi?"
Ingatan itu menerjang Stella—pasar yang ramai dan hiruk-pikuk, kerumunan manusia yang lalu lalang, tatapan curiganya pada pemuda muda yang tampak biasa namun entah mengapa terasa sangat mengganggu, rasa curiga yang membara di dadanya, dan kemudian, pedangnya yang terhunus dengan cepat, ujungnya yang berkilat dingin di leher pria yang sama yang kini duduk dengan tenang di depannya.
Rasa malu yang membara, amarah yang meluap, dan kebingungan yang mencekik bercampur menjadi satu dalam dadanya.
"Tunggu sebentar..." Stella mundur selangkah, lalu satu langkah lagi. Matanya kini beralih dengan cepat ke Otto. "Steve? Inikah... Tuanmu yang sebenarnya? Yang kau ceritakan?"
"Iya, Tuan Putri," jawab Otto. "Dia adalah Tuanku, Iago Verbal."
"Ke-kenapa justru pria ini?" Stella menatap kembali Iago dengan tatapan tidak percaya, suaranya mulai meninggi. "Aku... aku benar-benar tidak mengerti. Siapa sebenarnya kau ini?!"
"Sudah kukatakan sejak awal," jawab Iago dengan tenang, tidak bergeming sedikit pun dari tempat duduknya. "Kau mengenaliku. Jauh dari sekadar pemuda polos dari desa yang kau curigai. Kau merasakannya sejak pertama kali kita bertemu, kan?"
Stella tak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kaku membeku, pikirannya kacau balau.
"Jika kau benar-benar ingin mengetahui masa lalu kami, Tuan Putri, kau harus mau mendengarkan kami," lanjut Iago.
"Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai kalian?!" teriak Stella. "Jika semua ini dari awal hanyalah sandiwara! Jika kalian memanipulasiku sejak pertama kali kita bertemu?!" Tatapannya beralih ke Otto dengan penuh tuntutan. "Steve! Atau siapa pun namamu yang sebenarnya! Jelaskan sekarang juga! Ini perintah langsung dari Putri Mahkota Kerajaan Valemira!"
Untuk pertama kalinya, Otto terlihat goyah. Dia memalingkan wajahnya, tidak sanggup menatap mata Stella yang penuh tuntutan. Penghindaran kontak mata itu, bahasa tubuh yang menghindar, berbicara lebih keras dan lebih jelas daripada seribu kata pengakuan.
Melihat reaksi Otto, segalanya tiba-tiba menjadi jelas bagi Stella. "Jadi ini... Jadi inilah tujuanmu selama ini mendekatiku, Steve? Aku baru sadar sekarang... kalian berdua pasti dalang di balik semua kekacauan yang terjadi di kota ini. Kalian adalah musuh bebuyutan yang selama ini kucari!"
"Siapa yang sebenarnya memanipulasi siapa, Tuan Putri?" Suara Iago, memotong amarah Stella yang meluap. Stella terpana, matanya membelalak menatapnya. "Kami sama sekali tidak memanipulasimu. Kami hanya ingin mengajakmu bekerja sama. Untuk mencapai tujuan yang sama."
"Bekerja sama?" Stella tertawa pendek dan getir, tanpa humor. "Jelas-jelas kau sudah memanipulasiku dari awal! Kau menyuruh bawahanmu," dia menunjuk ke Otto, "menyamar dengan topeng konyol itu, mendekatiku dengan berpura-pura menjadi pahlawan, mendapatkan kepercayaanku! Kau memancingku ke tempat terkutuk ini dengan seribu kebohongan!"
"Gereja Cahaya," ucap Iago tiba-tiba.
"Huh? Apa maksudmu?"
"Apakah ini adalah Putri Stella yang dulu berhasil memecahkan kasus Pembunuh IV sendirian? Yang selama ini dielu-elukan rakyat sebagai pahlawan jenius?"
"A-apa maksudmu dengan pertanyaan itu?" Stella merasa semakin tersudut, darahnya berdesir panas di telinga.
"Aku tak pernah menyangka," lanjut Iago, "sang pahlawan yang katanya jenius ternyata semudah ini marah tanpa mau mendengar penjelasan."
Hinaan tajam itu seperti tamparan keras di wajah Stella. Amarahnya yang sempat redup meledak kembali dengan dahsyat, membakar habis rasa malu dan sakit hatinya. Tangannya yang bergetar hebat secara refleks meraih ke pinggangnya, mencari pegangan gagang pedang yang biasa menenangkannya di saat-saat seperti ini—dan hanya menemukan kekosongan.
Ingatan akan kesepakatan dengan Otto untuk datang tanpa senjata tiba-tiba menyergapnya, membuatnya merasa semakin telanjang, lemah, dan dikhianati.
"Akulah yang dulu menghancurkan Organisasi IV," ucap Iago, melanjutkan. "Akulah Putri Kerajaan Valemira. Dan akulah satu-satunya yang memecahkan kasus itu. Itulah yang selama ini kau pikirkan, bukan?" Iago diam sejenak, matanya yang hitam mengamati Stella. "Tapi aku yakin, bahwa sebenarnya... bukan kaulah yang benar-benar menyelesaikan kasus itu."
"APA KAU BILANG?!"
"Kau hanya numpang nama, Tuan Putri. Orang lain atau pihak tertentu yang sesungguhnya menyelesaikan kasus itu, dan namamu hanya dijadikan hiasan untuk menutupi kebenaran."
"Dasar pembohong! Akulah yang memecahkan Kasus Pembunuh IV! Sendirian, dengan otakku sendiri!" Stella hampir menjerit histeris.
"Benarkah? Kau yakin?" Iago perlahan berdiri dari bangkunya. Gerakannya lambat, membuat Stella secara naluriah mundur satu langkah. "Kalau begitu," dia berhenti tepat di hadapannya, begitu dekat hingga Stella bisa melihat dengan jelas bayangan hitam di bawah matanya yang cekung. Lalu, dia mengulurkan tangan kanannya, telapaknya terbuka ke atas. "Tolong pinjamkan kami kekuatanmu itu, Putri Stella Valemira."
Stella menatap tangan yang terulur itu, lalu kembali menatap wajah Iago yang pucat dan lelah. Pikirannya, yang tadinya kacau balau antara kemarahan membara, kebanggaan yang terluka parah, dan rasa dikhianati, kini mulai dihinggapi sebuah benih keraguan mengerikan yang mulai bertunas dan merambat.
"A-apa maksudmu?"
"Jika kau benar-benar orang yang berjasa dalam kasus itu," lanjut Iago, "maka Gereja Cahaya yang penuh dengan kebohongan pasti bisa kau hadapi. Bersama kami."
Suasana ruangan yang sempit itu terasa semakin sesak, menekan dada Stella hingga sulit bernapas. Dia menunduk, menatap lantai berdebu yang kotor di antara sepatu bot mereka. Tangannya yang gemetar mengepal erat di samping tubuhnya.
"Kejam sekali," bisiknya akhirnya. "Jadi begitu caranya? Kalian menyuruhku untuk percaya begitu saja? Setelah semua kebohongan, semua tipu daya, semua topeng yang kalian kenakan?"
Iago tidak menjawab. Dia hanya menarik kembali tangannya yang terulur dengan pelan, membiarkannya jatuh lemas ke samping tubuh. Tatapannya yang lelah beralih ke Otto yang berdiri di belakang Stella, sebuah komunikasi diam-diam yang hanya mereka berdua yang bisa mengerti, sebuah perintah tanpa kata.
Otto mengangguk hampir tak terlihat. Kemudian, dengan langkah yang sangat tenang, dia melangkah maju dan berdiri di samping Stella, cukup dekat untuk merasakan getaran tubuhnya.
"Steve?" Stella menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, Tuan Putri," bisik Otto. "Maaf atas semua kebohongan ini. Tapi percayalah... ini semua demi kebaikan kita semua, dan demi masa depan negara ini." Perlahan, dia mengangkat kedua tangannya dan melepaskan tali pengikat topeng kelincinya. Topeng putih porselen itu terlepas dengan bunyi gesekan halus, memperlihatkan wajahnya di hadapan Stella—wajah seorang pemuda berambut perak dengan mata biru. "Mari kita bekerja sama, Tuan Putri. Untuk kebenaran yang selama ini kita cari."
Pandangan Stella terpaku pada wajah Otto yang terbuka, wajah yang selama ini hanya bisa ia bayangkan di balik topeng.
Perlawanan terakhir di dalam dirinya, tembok pertahanan yang selama ini ia bangun, runtuh seketika. Kelelahan mental yang luar biasa, kebingungan yang mencekik, dan sebuah keinginan kecil namun semakin membara untuk benar-benar menjadi pahlawan yang selama ini ia klaim sebagai identitasnya—semuanya bertempur sengit dan akhirnya mencapai titik jenuh.
Dia menatap lantai yang kotor sekali lagi, bahunya yang tegang turun lemas. Sebuah desahan panjang, dalam, dan sangat lelah akhirnya keluar dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah.
"Baiklah," ucapnya dengan suara yang pelan. Dia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, bertemu dengan tatapan Iago. "Sepertinya... aku tak punya pilihan lain sekarang." Dia menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku setuju. Aku akan bekerja sama dengan kalian."
Iago mengulurkan tangannya sekali lagi, telapaknya terbuka lebar ke atas. "Terima kasih, Tuan Putri. Kepercayaanmu tidak akan kami sia-siakan."
Stella tidak segera bergerak. Pandangannya terpaku pada telapak tangan pria itu. Detak jantungnya yang tadinya kencang mulai sedikit mereda. Kemudian, tangannya sendiri mulai bergerak perlahan.
Sentuhan pertama mereka hanya berupa sentuhan ringan. Baru kemudian, dengan tekad yang dipaksakan, jari-jemarinya yang dingin perlahan melingkari dan menggenggam tangan Iago.
"Ya," jawab gadis itu.