NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Ruang yang Ditinggalkan

Telepon genggam di nakas bergetar untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.

Kalara Asmara membenamkan wajahnya lebih dalam ke bantal, berharap getaran itu hanya mimpi. Tapi bantalnya ternyata bukan peredam suara yang baik, dan notifikasi demi notifikasi terus berdatangan seperti hujan deras di musim kemarau—tak terduga dan mengganggu.

Dengan berat hati, ia menjulurkan tangan meraba-raba nakas. Jari-jarinya menyentuh segelas air yang sudah hangat sejak semalam, buku catatan dengan sudut halaman terlipat, dan akhirnya—benda pipih persegi yang menjadi sumber teror pagi itu.

Satu mata terbuka. Layar ponsel menyilaukan.

17 pesan baru dari: Mama

3 panggilan tidak terjawab dari: Mama

8 pesan baru dari: Grup Keluarga

Kalara mengerang. Ia tahu isi pesan-pesan itu tanpa perlu membacanya. Polanya selalu sama: "Kapan pulang?", "Acara keluarga lho minggu depan", "Semua sepupu sudah pada menikah", "Kamu masih sendiri aja?", "Mama cuma mau kamu bahagia, Nak"—kalimat terakhir itu yang paling manipulatif, karena selalu diucapkan dengan nada paling tulus, membuat Kalara merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi ekspektasi sederhana itu: bahagia dengan cara yang benar menurut Mama.

Ia menenggelamkan wajah ke bantal lagi. Lima menit. Hanya lima menit lagi sebelum harus bangun dan menghadapi dunia.

Lima belas tahun yang lalu.

Kalara kecil berlari mengejar bayangan ayah yang berjalan cepat menuju gerbang kompleks. Kop besar hitam menggantung di tangan kanan, tas selempang cokelat di bahu kiri. Ia tidak pernah melihat ayahnya berjalan secepat itu, seperti ada setan yang mengejar dari belakang.

"Pa! Pa, tunggu!"

Ayahnya berhenti. Tidak berbalik.

Kalara meraih ujung kemeja batik yang dikenakan ayahnya, menariknya lembut. "Pa, nanti pulang jam berapa? Mama bilang mau masak sop iga kesukaan Papa."

Diam.

Lalu ayahnya berbalut, berlutut sehingga wajahnya sejajar dengan Kalara. Matanya merah, tapi bukan karena menangis—setidaknya, itulah yang dipikir Kalara saat itu. Mungkin karena debu, atau karena kurang tidur.

"Kara," suaranya parau. "Papa sayang kamu. Ingat itu, ya? Papa sayang banget sama kamu."

"Iya, Pa. Kara juga sayang Papa." Kalara tersenyum lebar, memperlihatkan gigi seri yang baru tanggal dua minggu lalu. "Nanti Papa lihat, Kara dapat rangking lagi. Papa beliin sepeda baru, ya?"

Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya memeluk Kalara erat, terlalu erat, sampai Kalara hampir kehabisan napas. Lalu dilepaskannya, dan tanpa sepatah kata lagi, ia bangkit dan melanjutkan langkah menuju gerbang.

Kalara melambaikan tangan. "Pa, jangan lupa sop iga!"

Ayahnya mengangkat tangan, melambai sebentar tanpa menoleh.

Itu adalah lambaian terakhir yang Kalara lihat.

Ayahnya tidak pernah pulang untuk makan sop iga malam itu. Tidak juga keesokan harinya, atau lusanya. Sebulan kemudian, Mama menerima amplop cokelat dari pengacara. Surat cerai. Dan sebuah kalimat yang diucapkan pengacara dengan nada datar seperti membacakan daftar belanja: "Klien saya menyerahkan hak asuh anak sepenuhnya pada Ibu, dan akan mengirimkan tunjangan setiap bulan."

Tunjangan itu datang rutin selama lima tahun, lalu berhenti tanpa kabar. Seperti ayahnya. Seperti semua laki-laki pada akhirnya, kata Mama.

Kalara tidak menangis saat ayahnya pergi. Ia terlalu kecil untuk mengerti bahwa perpisahan bisa permanen. Ia hanya ingat duduk di teras rumah, menunggu, sampai lampu-lampu kompleks menyala satu per satu, sampai bintang-bintang muncul malu-malu di langit, sampai Mama menariknya masuk dan berkata dengan suara yang bergetar: "Ayah tidak akan pulang, Nak."

Malam itu, Kalara belajar bahwa cinta bisa pergi begitu saja, tanpa pemberitahuan, tanpa alasan, tanpa kesempatan untuk protes.

Ponsel bergetar lagi.

Kalara menyerah. Ia duduk, mengusap wajah, dan meraih ponsel. Bukan untuk membaca pesan Mama—itu akan ia lakukan nanti, setelah sarapan dan kopi, saat ia sudah cukup kuat secara mental. Tapi ada notifikasi lain yang menarik perhatiannya.

Email baru: Proyek Renovasi Rumah Tua Menteng

Ia membuka email itu sambil mengucek mata.

Kepada Ibu Kalara Asmara,

Dengan ini kami mengundang Ibu untuk mengikuti proses seleksi desain interior untuk proyek renovasi rumah cagar budaya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Proyek ini merupakan kerja sama dengan arsitek utama, Bapak Arsya Wiraguna dari Wiraguna & Associates...

Kalara berhenti membaca.

Arsya Wiraguna.

Nama itu tidak asing. Siapa pun di dunia arsitektur dan desain interior pasti tahu Arsya Wiraguna. Arsitek muda yang proyeknya selalu masuk majalah desain. Tampan dengan gaya dingin yang membuat banyak desainer wanita (dan mungkin beberapa pria) salah tingkah. Juga dikenal sebagai sosok yang sulit diajak kerja sama—perfeksionis, keras kepala, dan tidak pernah kompromi dengan visinya.

Mengerjakan proyek bersama Arsya Wiraguna bagaikan berenang di lautan lava. Spektakuler jika berhasil, tapi kemungkinan besar hangus terbakar.

Kalara hampir menekan tombol hapus.

Tapi jarinya berhenti di atas layar. Ada satu kalimat di akhir email itu yang membuatnya ragu.

...rumah ini memiliki nilai sejarah yang tinggi, termasuk koleksi benda-benda peninggalan era kolonial yang akan didokumentasikan sebagai bagian dari galeri. Kami percaya kepekaan Ibu terhadap detail dan narasi ruang akan sangat cocok untuk proyek ini.

Narasi ruang.

Itu adalah jargon yang sering Kalara gunakan dalam proposalnya. Filosofi desainnya sederhana: setiap ruang punya cerita, dan tugas desainer adalah memastikan cerita itu tidak hilang saat ruang itu berubah fungsi.

Kalara menatap langit-langit kamar kontrakannya yang retak di beberapa bagian. Rumah tua Menteng. Proyek besar. Nama besar. Dan kesempatan untuk benar-benar melakukan sesuatu yang berarti, bukan sekadar mendesain kafe instagramable yang akan berganti tren enam bulan lagi.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk.

Mama

Kalara menarik napas panjang. Menekan tombol hijau.

"Ma, pagi."

"Kara! Kok susah sekali dihubungi? Mama dari subuh nelpon terus!"

"Maaf, Ma. Tadi lagi..."

"Sudah, sudah. Mama telepon cuma mau ngingetin, acara keluarga Minggu depan. Semua pada datang. Tante Yuni bawa anaknya yang baru lulus S2 dari luar negeri. Laki-laki, lho. Belum menikah. Mama sudah minta fotonya, ganteng, kerja di bank."

Kalara menutup mata. "Ma..."

"Iya, Mama tahu kamu sibuk. Tapi sekali-sekali, dong, datang. Kasihan Mama kalau ditanya orang, 'Anak Ibu mana? Kok nggak pernah kelihatan?'"

"Ma, Kara ada proyek baru. Mungkin minggu depan masih..."

Proyek baru. Tiba-tiba Kalara teringat email yang masih terbuka di ponselnya.

"...Sebentar, Ma. Kara lihat dulu."

Ia membaca ulang email itu. Arsya Wiraguna. Rumah tua. Proyek besar. Dan di akhir email, ada satu baris yang sebelumnya terlewat:

Mohon konfirmasi kehadiran Ibu paling lambat besok pukul 12.00 untuk pertemuan awal dengan klien dan tim arsitek di lokasi proyek.

Lokasi proyek. Rumah tua Menteng.

"Kara? Kara, kamu denger, nggak?"

Kalara membuka aplikasi peta. Mencari alamat yang tertera di email. Jalan di Menteng, nomor tertentu. Ia perbesar peta, melihat ikon bangunan dengan atap khas Eropa tropis. Halamannya luas, dengan satu pohon besar di sisi samping.

Sesuatu dalam dirinya berdesir. Sensasi aneh yang tidak bisa dijelaskan. Seperti ada benang tipis yang menghubungkan dirinya dengan rumah itu, meski ia belum pernah menginjakkan kaki di sana.

"Minggu depan, Ma," katanya tiba-tiba. "Kara usahakan datang Minggu depan."

"Betul, nih? Jangan ingkar janji ya!"

"Iya, Ma. Janji."

"Syukurlah. Mama sudah masakin kesukaan kamu. Nanti Mama kabarin Tante Yuni juga..."

Kalara mendengarkan celoteh Mama dengan setengah telinga. Matanya masih tertuju pada peta di layar, pada ikon rumah tua itu.

Ada apa dengan rumah itu?

"Ma," potongnya tiba-tiba.

"Ya, Nak?"

"Dulu... Papa dari mana asalnya?"

Diam di ujung sambungan. Beberapa detik berlalu.

"Kok tanya-tanya begitu?"

"Nggak, cuma penasaran. Kara kan nggak pernah tahu keluarga Papa. Waktu kecil nggak kepikiran, tapi sekarang..."

"Jawa," jawab Mama cepat. Terlalu cepat. "Dari Jawa Tengah. Sudah, jangan bahas itu. Yang penting kamu ingat janji ya, Minggu depan pulang."

"Ma—"

"Udah, Mama tutup dulu. Assalamu'alaikum."

Sambungan terputus.

Kalara menatap ponselnya. Jawa Tengah. Itu jawaban yang aman. Jawaban yang selalu Mama berikan setiap kali ia bertanya tentang ayahnya. Tapi Kalara bukan anak kecil lagi yang bisa dipuaskan dengan jawaban sederhana. Ia tahu ada lebih banyak cerita di balik kepergian ayahnya. Ada rahasia yang Mama simpan rapat-rapat selama lima belas tahun terakhir.

Ia menghela napas, lalu membuka email itu lagi. Jarinya menari di layar, mengetik balasan singkat.

Kepada Yth. Panitia Seleksi,

Dengan ini saya menyatakan kesediaan untuk hadir dalam pertemuan awal besok. Terima kasih atas kepercayaannya.

Hormat saya,

Kalara Asmara

Tombol kirim ditekan.

Untuk beberapa saat, Kalara hanya duduk di tepi tempat tidur, memandangi ponsel yang mulai meredup layarnya. Di luar, Jakarta mulai ramai—klakson, suara mesin, teriakan pedagang asongan. Dunia bergerak seperti biasa, tanpa peduli pada perempuan yang baru saja mengambil keputusan yang mungkin akan mengubah segalanya.

Atau mungkin tidak.

Mungkin ini hanya proyek biasa, dengan klien biasa, dan arsitek dingin yang akan membuatnya stres selama beberapa bulan. Mungkin tidak ada yang istimewa dari rumah tua itu selain debu dan rayap dan sejarah yang membosankan.

Tapi jauh di lubuk hati, di ruang yang paling jarang ia kunjungi, Kalara merasa ada sesuatu yang menanti.

Sesuatu yang berhubungan dengan luka lama yang belum sembuh.

Pukul sembilan pagi, Kalara sudah duduk di kafe langganannya. Pesanan sama setiap hari: Americano, extra shot, tanpa gula. Barista di sana—Raka, laki-laki dengan rambut ikal dan telinga penuh tindik—sudah hafal.

"Proyek baru, Ra?" tanya Raka sambil menuang kopi.

"Semoga. Masih seleksi."

"Lo pasti bisa. Desain lo selalu keren."

Kalara tersenyum tipis. Raka baik, terlalu baik bahkan. Beberapa bulan lalu, sempat ada yang aneh di antara mereka—malam-malam panjang setelah kafe tutup, obrolan yang melebihi topik kopi dan desain, sentuhan yang sedikit terlalu lama saat Raka menyerahkan cangkir. Tapi Kalara menghentikannya sebelum mulai. Ia tahu pola itu terlalu baik. Tertarik, dekat, lalu pergi. Laki-laki selalu pergi.

Raka tidak pernah memaksa. Itu yang membuatnya tetap bisa berteman dengan Kalara.

"Lo mau aku doain?" tanya Raka.

"Boleh."

"Semoga dapet proyeknya. Dan semoga arsiteknya nggak menyebalkan."

Kalara tertawa kecil. "Aamiin."

Ia membuka laptop di meja kafe, mencari informasi tentang Arsya Wiraguna. Google menampilkan deretan artikel dan foto. Arsya di acara penghargaan arsitektur, jas hitam, wajah datar seperti patung. Arsya di samping gedung karyanya, tanpa senyum. Arsya dalam wawancara singkat, jawabannya pendek-pendek, tidak memberi ruang untuk basa-basi.

Tidak ada foto masa kecil, tidak ada wawancara tentang kehidupan pribadi. Hanya karya, karya, dan karya. Seperti ia tidak punya kehidupan di luar arsitektur.

Kalara membaca salah satu artikel lebih teliti.

"Ruang adalah cerminan jiwa," kata Arsya dalam wawancara itu. "Jika Anda tidak bisa membaca jiwa ruang, Anda tidak akan pernah bisa mendesainnya dengan benar."

Kalara mengernyit. Kalimat itu mirip dengan filosofinya sendiri. Narasi ruang, jiwa ruang—mungkin mereka punya lebih banyak kesamaan daripada yang ia kira.

Atau mungkin itu hanya omong kosong yang diucapkan semua arsitek dan desainer agar terlihat dalam.

Ponselnya bergetar. Email baru.

Kepada Ibu Kalara Asmara,

Terima kasih atas konfirmasinya. Pertemuan akan dilaksanakan besok pukul 10.00 WIB di lokasi proyek. Bapak Arsya Wiraguna dan tim akan hadir. Mohon datang tepat waktu.

Terima kasih.

Tepat waktu. Kalara hampir mendengar nada dingin di balik kalimat itu. Mungkin asisten Arsya yang mengetik, atau mungkin Arsya sendiri yang memang terkenal disiplin sampai ke tingkat yang menjengkelkan.

"Ia menutup laptop, menyeruput kopinya yang mulai dingin. Di luar kafe, seseorang membuka pintu mobil dan lagu lawas terdengar sekilas—"I'll never fall in love again"—sebelum pintu itu tertutup lagi.

Kalara tersenyum getir.

I'll never fall in love again.

Lagu yang tepat untuk hari ini. Untuk hidupnya. Untuk semua keputusan yang ia ambil setelah ayahnya pergi, setelah hubungan terakhirnya berakhir dengan cara yang sama—laki-laki itu pergi tanpa penjelasan, hanya pesan singkat "maaf, aku belum siap serius".

Kalara sudah lelah jatuh cinta.

Tapi mungkin, besok, ia akan jatuh pada sesuatu yang lain: sebuah rumah tua dengan seribu cerita, dan seorang arsitek dingin yang percaya bahwa ruang adalah cerminan jiwa.

Malam itu, Kalara bermimpi tentang ayahnya.

Dalam mimpi itu, ia masih kecil, berlari mengejar bayangan yang terus menjauh. Tapi kali ini, ayahnya berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar besi hitam. Rumah itu tua, dengan pohon beringin raksasa di halaman samping. Ayahnya menoleh, tersenyum—pertama kalinya dalam mimpi-mimpi sebelumnya—lalu menunjuk ke arah jendela lantai dua.

Kalara mendongak. Di balik jendela itu, seseorang sedang menatapnya. Seorang wanita dengan kebaya gelap dan rambut disanggul sederhana. Wajahnya teduh, matanya sayu. Ia melambai pelan.

Kara...

Suara itu terdengar samar, seperti terbawa angin.

Temui aku...

Kalara tersentak bangun.

Jam menunjukkan pukul 03.00. Detak jantungnya berdebar kencang, keringat membasahi leher. Ia duduk di tempat tidur, mencoba mengingat detail mimpi itu, tapi bayangan mulai memudar seperti kabur tertiup pagi.

Hanya satu yang tersisa: rumah tua dengan pohon beringin itu.

Rumah yang sama yang akan ia datangi besok pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!