Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Di hukum!
"Kakak bicara sesuatu?" tanya Aldaren tiba-tiba. Sejak tadi, ia sebenarnya tidak bisa menahan tawa memperhatikan gerak-gerik mulut Aira yang komat-kamit mengumpat tak jelas.
Aira menoleh ke samping, menatap wajah tampan murid baru itu yang terlihat terlampau santai. Saking santainya, Daren bahkan berdiri dengan kedua kaki menapak sempurna di lantai, curang sekali!
"Berdiri yang benar! Angkat satu kakinya!!" ketus Aira. Ia tidak terima melihat Daren begitu rileks, sementara dirinya sendiri harus bersusah payah menahan tumpuan tubuhnya yang mulai goyah.
"Iya, iya... Ini sudah benar," jawab Daren sambil tersenyum tenang, lalu mengangkat satu kakinya sesuai perintah kakak kelas-nya itu.
"Kak Aira kenapa bisa terlambat? Sempat singgah di suatu tempat dulu atau gimana?" tanyanya lagi, seolah tak mau membiarkan suasana menjadi hening.
Aira tidak langsung menjawab. Ia justru menyipitkan mata, menatap Daren dengan penuh selidik. "Kenapa kamu tahu nama aku?"
Daren tidak gugup sama sekali. Ia hanya mengalihkan pandangannya sebentar, lalu menunjuk ke arah dada Aira dengan dagunya. "Tuh, papan namanya," jawab Daren santai, memperlihatkan nametag yang tersemat di seragam Aira.
"Aku juga tahu hobi Kakak, loh," ujar Daren tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.
Aira menoleh dengan tatapan ketus, meski rasa penasarannya tetap tak bisa dibendung. "Apa?" tanyanya singkat, berusaha menjaga jarak agar tidak terlihat terlalu tertarik dengan pembicaraan murid baru ini.
Daren terdiam sejenak, menatap lekat ke arah Aira dengan binar mata yang sulit dibaca. "Dilihat-lihat... hobi Kakak itu mencuri dan memelet orang, ya?"
Jantung Aira seakan berhenti berdetak sesaat. Wajahnya menegang. 'Apa dia tahu?!' teriak batinnya panik. Namun, belum sempat ia melayangkan protes atau pembelaan diri, Daren melanjutkan kalimatnya dengan nada yang terlampau manis.
"Buktinya, hanya dengan melihat wajah cantikmu saja, aku merasa seperti tersihir, dan pertemuan pertama kita, kau sudah berhasil mencuri hatiku," ujar Daren santai, menutup kalimatnya dengan senyum miring yang sanggup meluluhkan siapa pun yang melihatnya.
.
.
.
Aira hanya menyunggingkan senyum kecut, jenis senyum malas yang ditujukan khusus untuk menanggapi gangguan tak penting. Andai yang bicara tadi adalah Leonel, Aira pasti sudah berteriak histeris kegirangan, meskipun ia tahu itu hanya gombalan murahan.
"Aduh... aduhhh..." Rintihan tiba-tiba dari samping memecah lamunan Aira. Daren mendadak memegangi dadanya dengan wajah meringis kesakitan.
"Kamu kenapa?!" Aira panik seketika. Ia refleks menurunkan kakinya dan mendekati Daren dengan raut cemas yang tulus.
"Kakak... jangan senyum deh. Nanti aku pingsan... uh, nggak kuat," ujar Daren dengan suara melemah, aktingnya begitu meyakinkan seolah-olah ia benar-benar nyaris kehilangan kesadaran karena pesona Aira.
"Sialan!" umpat Aira ketus. Ia langsung berbalik badan, merasa bodoh karena sudah tertipu oleh perhatian palsu murid baru itu.
Namun, semua interaksi panas-dingin di tengah lapangan itu sama sekali tidak luput dari sepasang mata tajam yang mengawasi dari rooftop gedung sekolah. Sosok itu berdiri tegak dengan wajah datar yang memancarkan aura dingin yang menusuk. Ia mendengus pelan, seolah muak melihat pemandangan di bawah sana.
Sebuah botol air mineral dingin yang tadinya digenggam erat di tangannya, mungkin tadinya berniat dilemparkan atau diberikan kepada seseorang di bawah sana, kini ia buang dengan kasar ke tempat sampah. Tanpa sepatah kata pun, sosok itu berbalik dan meninggalkan rooftop dengan langkah lebar yang menyimpan amarah terpendam.
Langkah lebar Leonel membelah lapangan, mendekat ke arah mereka berdua dengan aura yang mendadak terasa mencekam. Wajahnya datar, namun sorot matanya menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Hukumannya selesai!" ujarnya singkat dan dingin.
Daren yang sedang asyik dengan posisinya, mengernyitkan dahi. Ia melirik jam tangan dengan santai. "Loh, belum satu jam ini," protes Daren cepat, mencoba menantang otoritas di depannya.
Namun, protes itu hanya dibalas dengan tatapan tajam dan menusuk dari Leonel. Suasana di bawah tiang bendera mendadak terasa lebih panas daripada sengatan matahari tadi.
"Masuk ke kelas!" perintah Leonel, suaranya naik satu oktav, menekan setiap kata. "Kau murid baru yang tidak disiplin. Bisa-bisanya hari pertama sudah telat!"
Leonel tidak memberikan ruang untuk bantahan lagi. Tatapannya seolah mengusir Daren dari sisi Aira saat itu juga.
"Kamu juga, masuk ke kelas!" ujar Leonel datar pada Aira yang kini memandangnya dengan wajah memelas.
"Gelang murahannya dibuang, sebelum ada razia aksesori!" peringatannya tegas.
Tanpa menunggu jawaban, Leonel berbalik, meninggalkan Aira yang masih terpaku memegangi pergelangan tangannya.
"Tapi aku haus, El..." gumam Aira pelan, menghentikan langkah Leonel.
Pria itu terdiam sejenak. Tanpa kata, ia berbalik dan menarik pergelangan tangan Aira, membawanya ke kantin. Setibanya di sana, Leonel memesan satu botol air mineral, membukakan tutupnya, lalu meletakkannya tepat di depan Aira yang sudah duduk.
"Minum!" perintahnya singkat.
Aira tersenyum kecil, lalu segera meneguk air itu hingga tersisa setengah. Namun, baru saja ia hendak meletakkan kembali botol itu ke meja, sebuah tangan menyambarnya.
"Aku minta setengahnya, Kak."
Daren, yang tiba-tiba sudah berdiri di sana, langsung menenggak habis sisa air di botol tersebut tanpa ragu. Aira melotot tak percaya, sementara Leonel menatap dengan rahang mengeras.
"Kamu, bukannya saya suruh masuk kelas?" tanya Leonel tajam.
Daren menurunkan botol kosong itu, lalu menjawab dengan santai, "Aku bingung di mana kelasnya, Kak. Bisa antar? Atau antar ke ruang kepala sekolah saja?"
Leonel bergegas pergi mengantarkan Aldaren ke ruang kepala sekolah, meninggalkan Aira sendirian di meja kantin. Gadis itu terdiam sejenak, Menghela nafas kasar sembari memijat satu kakinya yang masih terasa kaku. Dia juga sempat melirik gelang yang Leonel sebut murahan itu. "Ah uang lima jutaku hangus dalam sekejap," gumam Aira sebelum akhirnya bangkit dan berlalu menuju kelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...