Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
“Apa!?”
Suara Tama meledak tanpa sempat ia tahan. Nada terkejutnya membuat udara di koridor terasa menegang.
Bu Diana yang duduk di kursi rodanya hanya menoleh santai. Bahkan ada senyum kecil di sudut bibirnya, seolah sudah menunggu reaksi itu.
“Kenapa kamu kaget begitu?” tanyanya ringan.
Tama menatap ibunya tidak percaya.
“Ma… Mama serius menyuruh Dita makan siang dengan Dokter Eros?”
“Iya.”
“Tanpa bilang apa-apa ke aku?”
“Memangnya harus izin kamu dulu?” balas Bu Diana cepat.
Tama terdiam beberapa detik. Pikirannya membuat alasan yang logis. "Maksud ku... Dita kan aku bayar buat kerja jagain Mama." Aneh. Dadanya terasa aneh.
Sementara di ruang tamu, Dokter Eros berdiri dengan sikap canggung. Ia berdehem pelan.
“Sebenarnya… tadi Bu Diana menelpon, Mas Tama. Kebetulan saya juga lagi off. Dan bu Diana seperti nya sedang ingin membiarkan perawat nya libur juga.”
Tama mengangguk singkat, tapi matanya masih tertuju pada ibunya.
Belum sempat ia berkata lagi, pintu kamar di ujung koridor terbuka perlahan. Langkah ringan terdengar. Dita muncul dari sana. Namun bukan dengan seragam perawat seperti biasanya.
Hari ini ia mengenakan blouse putih sederhana dipadukan dengan celana bahan krem. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini dibiarkan tergerai lembut di bahu.
Penampilannya sederhana.
Tapi justru itu yang membuatnya terlihat… berbeda. Tama tanpa sadar menahan napas sejenak.
Dita terlihat sedikit gugup ketika melihat semua orang menatapnya.
“Bu… saya sudah siap,” katanya pelan.
Namun ketika ia mendekat, ia langsung membungkuk sedikit ke arah Bu Diana dan berbisik.
“Bu… benar harus pergi?”
“Ya haruslah,” jawab Bu Diana cepat.
“Tapi… bagaimana kalau Bu Diana butuh sesuatu?”
“Ada Tama.”
Dita menoleh sekilas ke arah Tama, wajahnya makin canggung. “Tapi saya tidak enak meninggalkan Ibu…”
Bu Diana menghela napas dramatis.
“Dita, kamu ini manusia juga. Masa kerja terus?”
“Tapi...”
“Tidak ada tapi.”
Bu Diana menunjuk pintu depan.
“Kamu keluar. Makan siang. Nikmati liburmu.”
Tama yang sejak tadi diam akhirnya bicara. “Ma, kalau Dita pergi… Mama nanti bagaimana?”
Bu Diana langsung menoleh tajam.
“Ya ada kamu.”
“Aku?”
“Iya kamu.”
Tama mengerutkan kening.
“Sekali-sekali kamu yang urus Mama.”
Dokter Eros tertawa kecil mendengar itu.
“Terdengar adil, Mas Tama.”
Tama mendesah pelan. “Masalahnya bukan itu…”
Bu Diana memotong. “Sudahlah. Dita perlu libur.”
Ia menatap Dita lembut. “Kamu kerja dari pagi sampai malam di rumah ini. Sesekali keluar, makan enak, ngobrol santai. Biar bahagia. Biar fresh.”
Dita terlihat ragu. “Tapi Bu...”
“Sudah. Berangkat saja.”
Tama tiba-tiba berkata, “Makan siang di mana?”
Semua menoleh padanya. Dokter Eros mengangkat bahu. “Saya belum menentukan tempat.”
Tama berpikir sebentar. “Kalau begitu… makan saja di rumah.”
Bu Diana langsung mendengus. “Ah, kamu ini, Tam.”
“Apa lagi, Ma?”
“Kalau makan di rumah terus, kapan mereka merasakan makanan restoran?”
Tama membuka mulut, tapi Bu Diana sudah melanjutkan. “Pokoknya harus keluar. Udah cantik gini masa mau makan di rumah. Ada-ada saja si Tama ini.”
Ia menatap Dita lagi. “Pergi sekarang.”
Dita menelan ludah kecil. “Baik, Bu…”
Ia lalu berbalik ke arah Tama. “Tuan… saya pamit sebentar. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menelpon, saya akan cepat datang.”
Tama menatapnya beberapa detik.
Entah kenapa, kata “sebentar” itu terasa aneh di telinganya. Dita mau pergi, tapi ada sedikit rasa tak rela. "Ah, tidak. Ini pasti karena aku merasa sudah membayarnya penuh," begitu kata batinya.
Sebelum Dita benar-benar melangkah, Tama tiba-tiba berkata, “Sebentar.”
Langkah Dita berhenti.
Tama berdiri dari tempatnya. “Kalau begitu… sekalian saja makan bersama.”
Semua orang memandangnya.
“Bersama?” ulang Bu Diana.
Tama mengangguk. “Aku tahu tempat makan enak yang sedang viral sekarang.”
Dokter Eros terlihat tertarik. “Oh?”
“Pemiliknya teman lamaku. Katanya menunya bagus.”
Tama menatap Dita. “Kita bisa coba bersama, Mama ikut. Aku rasa mama juga udah lama banget enggak makan di luar.”
Bu Diana terdiam beberapa detik. tapi matanya menatap sang anak.
Dokter Eros tersenyum santai.
“Saya tidak keberatan. Kamu gimana, Dit?”
Dita langsung mengangguk mantap. Jika Bu Diana ikut… ia memang akan merasa lebih tenang. Ia tersenyum kecil.“Iya, saya sangat setuju.”
"Bagus! Berarti semuanya setuju!" seru Tama dengan senyum lebar.
Bu Diana memandang Tama dengan tatapan penuh curiga.
***
Restoran itu memang sedang viral.
Antrian panjang terlihat di depan pintu kaca besar. Aroma makanan hangat langsung menyambut ketika mereka masuk.
Lampu gantung bergaya industrial menggantung rendah, menciptakan suasana hangat.
Mereka duduk di meja bundar dekat jendela.
Dita membantu mendorong kursi roda Bu Diana ke posisi nyaman.
“Bu Diana duduk di sini saja.”
“Terima kasih, Dit.”
Tama duduk di seberang mereka, sementara Dokter Eros di samping Dita.
Pelayan datang membawa menu.
Namun percakapan sudah mengalir lebih dulu.
“Tempatnya ramai sekali,” kata Dita kagum.
Bu Diana tertawa kecil. “Kalau viral pasti begitu.”
Dokter Eros menambahkan, “Saya juga sering lihat tempat ini di media sosial.”
Tama mengangguk.
“Makanya kita coba.”
Beberapa saat kemudian makanan datang.
Anehnya, percakapan justru lebih sering terjadi antara Dita dan Bu Diana.
“Dit, kamu coba yang ini,” kata Bu Diana sambil menunjuk hidangan.
“Iya Bu.”
“Enak?”
“Enak sekali.”
Tama sesekali ikut menimpali.
Sementara Dokter Eros lebih sering mendengarkan sambil tersenyum.
“Dita memang suka makanan seperti ini?” tanya Tama.
“Jarang, Tuan. Biasanya makan di rumah saja.”
“Harus sering-sering keluar Dit,” kata Bu Diana.
“Iya, Bu,” jawab Dita sambil tertawa kecil.
"Dok, besok ajak Dita kemari lagi," kata Bu Diana.
Ada yang mengganjal. Tama menoleh pada mamanya. "Kenapa mama getol sekali sih?" gumamnya dalam hati.
****
Beberapa saat kemudian, Dita berdiri.
“Permisi sebentar… saya ke toilet.”
“Silakan,” kata Bu Diana.
Dita pergi meninggalkan meja.
Tak lama setelah itu, ponsel Dokter Eros berdering.
Ia melihat layar.
“Maaf… saya harus menerima ini. Pasien.”
Ia berdiri.
“Saya cari tempat yang lebih sepi sebentar.”
“Silakan, Dokter,” kata Tama.
Dokter Eros berjalan menjauh ke sudut restoran.
Kini hanya tinggal Tama dan Bu Diana di meja.
Beberapa detik hening.
Lalu…
“Tam.”
Nada suara Bu Diana berubah.
Tama menatap ibunya. “Ada apa, Ma?”
Bu Diana menyipitkan mata.
“Kenapa kamu tadi menawarkan makan bersama?”
Tama mengerutkan kening.“Kenapa memangnya?”
“Karena mereka seharusnya kencan.”
Tama terdiam.
Bu Diana melipat tangan. “Sekarang lihat. Ini bukan kencan lagi.”
Tama menghela napas. “Mama nggak lihat kalau mereka juga menikmati?”
"Tapi, harusnya mereka berkencan, Tama! Kamu ini ikut campur banget nawarin ke restoran viral."
Tama menggeleng pelan. “Aku hanya mengajak makan.”
Bu Diana menatapnya tajam.
“Kenapa?”
Tama tidak langsung menjawab.
Bu Diana mendekatkan wajahnya sedikit.
“Jangan-jangan…”
Tama menghela napas pendek.
“Ma…”
“Jawab Mama.”
Tatapan Bu Diana semakin tajam.
“Apa kamu tidak rela Dita jalan dengan pria lain?”