NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Pangeran yang Tak Bisa Diam

Cairan cuka beras menetes dari ujung pipet bambu. Jatuh tepat di atas ukiran perak cincin zamrud yang tergeletak di atas cawan tembikar.

Sawitri mencondongkan tubuh. Matanya mengawasi reaksi kimiawi yang terjadi di bawah cahaya temaram lampu minyak. Residu kecokelatan di sela-sela ukiran itu mulai melunak, melepaskan bau khas besi berkarat yang sudah lama terperangkap.

Langkah kaki terdengar dari beranda pesanggrahan. Ketukannya pelan namun konstan.

Ujung pisau bedah di tangan Sawitri berhenti bergerak. Ia bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang mengganggu ruang kerjanya malam ini.

"Pintu itu kulo tutup untuk alasan privasi, Raden."

Cakrawirya masuk tanpa sungkan. Ia menarik kursi kayu di seberang meja, duduk santai sambil melonggarkan kerah luriknya. Aroma kayu cendana bercampur debu jalanan langsung memenuhi udara yang tadinya didominasi bau cuka.

"Kulo hanya memastikan objek penelitian kulo mboten kabur ke Mataram sendirian," balas Cakrawirya santai. "Lagi pula, sampeyan menaruh pengawal di luar yang tertidur sambil berdiri. Kulo bisa saja pembunuh bayaran."

Sawitri akhirnya meletakkan pisau bedahnya. Ia menatap lurus ke arah pria di hadapannya.

Otak analitisnya langsung bekerja. Frekuensi kedatangan: setiap dua hari sekali. Waktu: selalu lewat tengah malam. Postur tubuhnya rileks, pupil normal, tidak ada tanda-tanda kelelahan ekstrem. Pangeran ini datang bukan karena darurat, melainkan karena kebiasaan.

"Objek penelitian?" ulang Sawitri.

"Sampeyan dan lencana pasukan bayangan itu." Cakrawirya menunjuk lencana tembaga yang tergeletak agak jauh dari cawan cincin. "Itu barang bukti primer. Kulo harus mengawasinya secara langsung."

"Sampeyan nopo mboten punya keraton untuk diurus? Bukankah Mataram butuh pangerannya?"

"Mataram sedang sibuk menghitung upeti." Cakrawirya menuang teh dingin dari teko tanah liat ke dalam cangkirnya sendiri. "Dan kulo lebih suka menghitung peluang kita bertahan hidup minggu ini."

Sawitri mengambil pinset. Ia mulai memisahkan partikel kotoran dari sampel darah kering ibunya.

"Kalau sampeyan datang hanya untuk minum teh bekas kulo, lebih baik sampeyan pulang. Kulo butuh fokus mengisolasi sampel ini sebelum rusak."

"Tumenggung Danurejo bangkrut."

Satu kalimat itu berhasil membuat gerakan tangan Sawitri terhenti di udara.

Ia mengangkat wajah. Menatap Cakrawirya yang sedang memutar cangkir tehnya perlahan. Pria itu tidak sedang bergurau. Gurat di wajahnya menunjukkan keseriusan penuh.

"Maksud sampeyan?"

"Romo sampeyan punya utang yang mboten bisa dibayar ke Kadipaten Demak," jelas Cakrawirya. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke meja. "Upeti pajak dari wilayah selatan digelapkan selama tiga tahun terakhir. Demak mengirim utusan rahasia dua hari lalu untuk menagih."

Sawitri menyandarkan punggungnya ke kursi. Potongan-potongan informasi yang tadinya berserakan mulai menemukan tempatnya.

"Itu sebabnya dia tiba-tiba nekat menikahkan Wandira dengan adipati tua dari Demak."

"Leres." Cakrawirya mengangguk. "Itu bukan pernikahan politik biasa. Itu pembayaran utang. Wandira ditumbalkan sebagai jaminan agar Demak mboten melaporkan penggelapan pajak itu ke ayah kulo, Raja Mataram."

"Lalu di mana posisi Sukmawati dalam transaksi ini?"

"Nyai Selir sampeyan itu cerdik." Cakrawirya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dia yang memegang kendali keuangan kadipaten sejak ibumu meninggal. Kulo curiga dia yang menggelapkan uangnya, menyimpannya di tempat lain, lalu membiarkan Tumenggung Danurejo menanggung akibatnya."

Sawitri memutar cincin zamrud di atas meja menggunakan ujung pinset. Logika mulai merajut motif-motif pembunuhan yang selama ini buram.

"Motif ekonomi," gumam Sawitri.

"Sepuluh tahun lalu, Raden Ayu Kinanti, ibu kulo, mengendalikan seluruh jalur perdagangan kain sutra dan tambang garam di utara. Dia perempuan mandiri secara finansial. Jika ada yang ingin mengambil alih kas kadipaten, ibuku harus disingkirkan lebih dulu."

"Dan mereka membuatnya terlihat seperti kecelakaan kecil yang tragis."

Sawitri menatap cincin itu lekat-lekat. Matanya menelusuri bekas sabetan kecil pada perak pelindung batu zamrud.

"Mboten ada pembunuhan yang sempurna, Raden. Pelakunya menggunakan senjata dengan bilah melengkung. Luka di leher korban tempo hari, dan darah di cincin ini... korelasi senjatanya identik."

"Sabetan merak," sahut Cakrawirya pelan.

"Leres. Teknik sayatan yang presisi. Memotong tepat di arteri tanpa ragu. Pelakunya mengincar kematian cepat tanpa perlawanan."

Cakrawirya terdiam sejenak. Ia memperhatikan cara Sawitri menganalisis kematian ibunya sendiri. Tidak ada air mata. Tidak ada histeria. Hanya sepasang mata tajam yang membedah fakta layaknya seonggok daging mati.

"Sampeyan mboten marah?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Cakrawirya.

Sawitri menata alat-alat kecilnya ke dalam gulungan kain kulit. "Marah mboten akan membuat darah ini bicara, Raden. Logika yang bisa. Emosi hanya mengaburkan penilaian."

Cakrawirya menatap perempuan itu lekat. "Sampeyan terlalu rasional untuk ukuran manusia yang kehilangan."

"Karena kulo tahu persis apa yang terjadi pada tubuh setelah mati. Jaringan membusuk, organ mencair, dan ingatan orang hidup memudar. Satu-satunya yang bertahan adalah bukti fisik."

Sawitri berdiri dari kursinya. Ia membawa cawan tembikar itu mendekat ke arah lampu minyak utama.

"Sekarang, mari kita bahas lencana tembaga Romo panjenengan."

Cakrawirya ikut berdiri. Ia merogoh sabuknya dan meletakkan lencana bergambar teratai kembar itu di atas meja. Bunyi logam beradu dengan kayu terdengar nyaring.

"Romo kulo mboten mungkin mengirim pasukan bayangan ke pasar gelap hanya untuk membunuh satu bandar rendahan," ucap Cakrawirya. "Lencana ini palsu, atau ada pengkhianat di tingkat atas yang menyalahgunakan komando."

"Palsu?" Sawitri mengambil lencana itu. Ujung jarinya meraba tekstur ukiran di atas tembaga.

"Coba panjenengan perhatikan bagian tepinya."

Cakrawirya melangkah ke sisi Sawitri. Jarak mereka kini hanya terpaut satu jengkal. Hawa panas dari tubuh pangeran itu terasa kontras dengan suhu malam yang dingin.

"Ada bekas kikisan," tunjuk Sawitri. "Tembaga ini mboten dicetak asli dari tungku pandai besi keraton. Ini hasil cetakan lilin dari lencana asli, lalu dicor ulang. Titik leburnya kasar. Terdapat gelembung udara mikroskopis di sela ukiran teratai."

Cakrawirya menyipitkan mata, berusaha melihat detail yang ditunjukkan Sawitri.

"Sampeyan tahu banyak soal pengecoran logam."

"Kulo tahu banyak soal material yang menempel pada mayat." Sawitri menyerahkan kembali lencana itu ke telapak tangan Cakrawirya.

Kulit mereka bersentuhan sedetik. Cakrawirya tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan jemari dingin Sawitri melepaskan lencana itu perlahan.

"Ada faksi ketiga," simpul Sawitri telak.

"Demak menginginkan Wandira dan uang. Sukmawati menginginkan kekuasaan absolut di kadipaten. Lalu ada kelompok ini... yang memalsukan lencana pasukan raja Mataram untuk membunuh saksi di pasar gelap."

"Dan kelompok ketiga ini yang mencuri cincin ibumu," tambah Cakrawirya. "Mereka sengaja memancing kita. Tapi untuk apa?"

"Untuk melihat reaksi kita," jawab Sawitri. Ia merapikan jubahnya. "Mereka ingin tahu apakah kulo, anak yang dibuang ini, masih peduli pada harta warisan ibunya. Atau apakah pangeran kedua Mataram akan ikut campur dalam urusan sepele."

Cakrawirya memutar lencana itu di sela-sela jarinya. Otaknya menyusun siasat militer, sementara otak Sawitri menyusun fakta forensik. Mereka berdiri bersebelahan, menatap meja yang sama, dengan jalan pikiran yang saling mengisi.

"Kita harus kembali ke kediaman Danurejo," putus Cakrawirya akhirnya.

Sawitri menoleh tajam. "Mboten. Kulo sudah dibuang. Kembali ke sana sama saja menyerahkan leher kulo sendiri."

"Sampeyan mboten akan masuk lewat pintu depan," sela Cakrawirya. Ia menyarungkan kembali keris kelokan tujuhnya. "Pernikahan Wandira akan digelar lusa. Seluruh penjagaan akan terpusat di pendopo utama dan gerbang depan."

"Lalu?"

"Keputren barat akan kosong. Tempat Sukmawati menyimpan semua catatan pajaknya. Dan mungkin... petunjuk siapa algojo sabetan merak itu."

Napas Sawitri tertahan sesaat. Tawaran itu terlalu berisiko. Menyusup ke kadipaten saat perayaan besar adalah tindakan bunuh diri jika tertangkap. Namun, instingnya mengatakan bahwa kunci misteri ini ada di dalam kamar selir tersebut.

"Ndara Ayu!"

Pintu pesanggrahan tiba-tiba didorong kasar dari luar.

Ndari muncul di ambang pintu. Rambut pelayan muda itu berantakan, kakinya telanjang penuh lumpur. Napasnya tersengal parah seolah baru saja berlari melintasi separuh hutan perbatasan.

Sawitri langsung melangkah mendekat. Ia menahan bahu Ndari yang nyaris ambruk ke lantai bambu.

"Atur napasmu. Bicaralah pelan."

Ndari menggeleng kuat-kuat. Tangannya yang gemetar meraih ujung lengan kebayanya. Ia menyerahkan sebuah gulungan lontar kecil yang berlumuran cairan merah gelap.

Bau anyir darah segar langsung menyergap hidung Sawitri.

"Saking... saking kadipaten, Ndara," ucap Ndari terbata-bata. "Gusti Wandira... mboten ada di kamarnya. Pakaian pengantinnya robek. Batur yang berjaga di depan pintunya ditemukan mati di sumur belakang."

Cakrawirya merebut gulungan lontar itu dari tangan Ndari. Ia membukanya dengan satu sentakan cepat.

Mata pangeran itu menelusuri tulisan kasar yang ditulis menggunakan darah di atas permukaan lontar.

"Apa isinya?" tanya Sawitri datar, meski tangannya sudah refleks menggapai tas medis kulitnya.

Cakrawirya menatap Sawitri. Ekspresi pria itu menggelap seolah badai baru saja turun.

"Mereka mboten menginginkan Wandira," ucap Cakrawirya dengan nada rendah dan dingin. "Surat ini ditujukan untuk sampeyan."

Sawitri mengambil lontar itu. Tulisan darah itu singkat. Hanya dua kalimat yang cukup untuk membakar habis semua logika.

Anak haram Danurejo kami ambil. Datang ke Hutan Jatiwangi bawa cincin ibumu, atau kepalanya kami kirim untuk perjamuan lusa.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!