NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Candu yang Tertinggal

Damian menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang king size yang empuk, namun kenyamanan itu sama sekali tidak bisa mendinginkan kepalanya. Rasa jengkel, marah, dan muak terhadap drama Clarissa tadi bercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang menyesakkan dada.

"Sialan kau, Clarissa," geramnya pelan ke arah langit-langit kamar.

Setiap kali ia memejamkan mata, wajah licik Clarissa yang sedang berakting menangis terbayang, dan itu membuatnya ingin menghancurkan sesuatu. Namun, kemarahan itu perlahan tergeser oleh sensasi lain yang jauh lebih menyiksa. Rasa panas.

Sejak semalam, saat matanya terpaku pada celah lubang dinding itu, tubuh Damian seolah tidak pernah benar-benar mendingin. Bayangan kulit mulus Selene di bawah cahaya jingga terus menghantuinya, membuat darahnya berdesir kencang setiap kali ia mengingat bagaimana garis tubuh gadis itu meliuk dengan anggun.

Dalam kesunyian kamarnya, sebuah senyum nakal dan licik perlahan terukir di sudut bibir Damian. Ia bangkit sedikit, lalu meraih jaket yang ia lemparkan tadi. Dari saku dalamnya, ia mengeluarkan selembar kain tipis yang terasa sangat halus di jemarinya.

Gaun tidur sutra milik Selene.

Pria itu telah melakukan hal yang sangat nekat sebelum meninggalkan panti tadi. Ia menyelinap ke kamar Selene dan mengambil salah satu pakaian tidur gadis itu. Sebuah tindakan impulsif, posesif, dan sedikit gila, namun Damian tidak peduli.

Ia mendekatkan kain itu ke wajahnya, menghirup aroma yang tertinggal di sana. Bau cokelat yang khas bercampur dengan aroma sabun mandi yang lembut. Seketika, ketegangan di bahunya mereda, berganti dengan gairah yang semakin memuncak.

"Kau baru pergi beberapa jam, tapi kau sudah membuatku seperti pecandu, Selene," bisik Damian dengan suara berat yang serak.

Baginya, kain ini adalah penawar sekaligus racun. Membayangkan bagaimana gaun tipis ini pernah membalut tubuh yang ia intip semalam membuat imajinasinya kembali liar. Damian meremas kain sutra itu dalam genggamannya, membayangkan bahwa yang ia sentuh bukanlah sekadar kain, melainkan kulit lembut sang pemilik.

Gairah yang tadi sempat terganggu oleh kedatangan Clarissa kini kembali meledak. Damian tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan dirinya tenggelam dalam obsesi ini.

Damian memejamkan matanya rapat-rapat, menenggelamkan wajahnya ke dalam kain sutra yang lembut itu. Aroma cokelat yang manis dan sisa panas tubuh Selene seolah merasuk ke dalam otaknya, memicu memori visual yang sangat tajam tentang kejadian semalam.

Di balik kelopak matanya, ia kembali melihat siluet Selene di bawah lampu jingga. Ia bisa membayangkan bagaimana tangan gadis itu bergerak menyisir rambut basahnya, dan bagaimana tetesan air jatuh di atas kulit bahunya yang polos.

"Sial, Selene... Kau benar-benar merusakku," geramnya dengan suara yang sudah sangat serak.

Rasa sesak di bagian bawah tubuhnya sudah tidak tertahankan lagi. Dengan napas yang mulai memburu dan tidak teratur, Damian meraih resleting celananya. Suara tarikan logam itu terdengar nyaring di tengah keheningan kamar yang mewah namun dingin.

Ia perlahan membuka resletingnya, membebaskan ketegangan yang sejak tadi menghimpitnya. Tangan Damian yang bergetar karena gairah yang memuncak kini meremas gaun tidur itu lebih kuat, membayangkan kain tipis ini adalah kulit lembut Selene yang ia dambakan.

Setiap embusan napasnya kini memanggil nama gadis itu. Ia membayangkan jika Selene ada di sini, di bawahnya, di atas ranjang empuk ini—bukan di ranjang keras panti asuhan. Ia membayangkan reaksi Selene; apakah gadis itu akan marah, ataukah ia akan menyerah pada sentuhan Damian seperti yang ada dalam imajinasinya?

Damian mengerang rendah, menyandarkan kepalanya ke tumpukan bantal sambil terus menghirup aroma cokelat dari gaun sutra itu. Di bawah sana, tangannya mulai bergerak dengan ritme yang semakin cepat dan mantap pada batangnya, memberikan tekanan yang sudah sangat ia butuhkan sejak semalam.

Setiap gesekan tangannya membuat imajinasinya melambung tinggi. Dalam benaknya yang gelap oleh gairah, ia tidak lagi berada sendirian di kamar mewah ini.

"Sial... Selene..." bisiknya dengan suara yang pecah.

Ia memejamkan mata dan mulai menciptakan sebuah skenario di kepalanya. Ia membayangkan Selene ada di atasnya, duduk di pangkuannya dengan rambut panjang yang tergerai menutupi sebagian dadanya yang polos. Ia membayangkan bagaimana berat tubuh gadis itu menekan miliknya, dan bagaimana Selene mulai bergerak naik-turun, mengendarainya dengan perlahan namun pasti.

Di dalam fantasi Damian, Selene tidak menatapnya dengan pandangan marah, melainkan dengan mata yang sayu dan penuh damba.

"Damian..." suara Selene yang lembut terngiang di telinganya, memanggil namanya dengan nada yang belum pernah ia dengar sebelumnya. "Ah... Damian, ini... terlalu dalam..."

Damian menggeretakkan giginya, gerakannya semakin liar. "Lagi, Selene. Panggil namaku lagi," geramnya seolah gadis itu benar-benar ada di sana.

Dalam kepalanya, Selene membungkuk, membisikkan kata-kata yang memicu adrenalinnya ke titik tertinggi. "Tuan Nicholas yang sombong... ternyata kau sangat menginginkanku, ya?"

"Ya, aku menginginkanmu sampai hampir gila!" balas Damian dengan napas yang semakin pendek dan menderu.

Imajinasi itu berlanjut dengan suara desahan Selene yang memenuhi ruangan. Damian bisa membayangkan bagaimana suara ranjang empuknya beradu dengan ritme gerakan mereka. Suara napas Selene yang memburu, jari-jari kecil gadis itu yang mencengkeram bahu kokohnya, dan puncaknya, saat Selene meneriakkan namanya dengan sisa napas yang ada.

"Damian! Ah... Damian..."

"Sedikit lagi, selene... sedikit lagi," bisik Damian serak.

Keringat kini membasahi seluruh tubuhnya. Ketegangan di tubuhnya mencapai batas maksimal. Dengan satu remasan kuat pada kain sutra di satu tangan dan gerakan tangan lainnya yang mencapai puncaknya, Damian akhirnya melepaskan segalanya. Ia mengerang keras, menyebut nama Selene untuk terakhir kalinya sebelum tubuhnya lemas dan jatuh ke kasur dengan napas yang terengah-engah.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!