Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~23
Melihat Rio melangkah mendekatinya Marni tetap berpura-pura sibuk mencuci tumpukan piring dihadapannya itu, padahal sebelumnya ia melihat orang bekerja di rumah ini tapi tiba-tiba sepi mungkin mereka juga sedang melaksanakan sholat maghrib seperti yang lain.
"Kamu bisa membohongi yang lain tapi kamu tak bisa membohongi aku, Maria." tukas Rio setelah berada di dekat wanita itu.
"Maaf mas aku tidak mengerti maksudmu," sahut Marni sembari membilas piring di tangannya tersebut namun pria itu tiba-tiba menarik sebelah tangannya dengan sedikit kasar hingga membuat wanita itu langsung meringis kesakitan lantas mencoba untuk melepaskannya.
"Kamu Maria kan? apa hanya karena demi mendekati Firman kamu melupakan siapa dirimu di kota?" tegas pria itu menatapnya dengan tak sabar.
"Ma-maaf mas, aku benar-benar tak mengerti maksudmu." Marni mencoba untuk terus berkilah karena bisa gawat jika semua orang tahu siapa ia yang sebenarnya karena pasti tidak hanya Firman yang kecewa tapi bisa-bisa ia akan diusir dari kampung ini atau bahkan di arak keliling kampung dengan pakaian compang camping oleh warga seperti dalam mimpinya.
Membayangkan hal itu pun membuat Marni hampir kehilangan kesadaran, ia tidak mau di usir dari kampung ini karena disini satu-satunya keluarganya tinggal dan ia juga tidak ingin mengecewakan mereka terlebih sang ayah yang menaruh harapan besar kepadanya sebagai seorang putri yang mampu menjaga kehormatan keluarga.
Tiba-tiba Rio semakin menariknya hingga kini hampir tak ada jarak diantara mereka lalu pria itu mengangkat tangan wanita itu yang berada dalam cekalannya.
"Tahi lalat ini aku sangat mengenalnya, apa kau masih mau berkilah Maria sayang?" ucapnya dengan senyuman sinis menatap wanita itu.
Marni nampak semakin ketakutan. "Kamu salah orang mas, tolong lepaskan aku." mohonnya namun itu justru membuat Rio semakin menginginkan wanita itu, sejak dahulu ia memang selalu hilang akal setiap kali dekat dengannya namun wanita itu selalu saja mempunyai berbagai alasan untuk menolaknya.
Pria itu pun hendak mencium tangannya namun tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang mendekat hingga membuat Marni langsung mendorong pria itu menjauh.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Firman nampak mengernyit menatap keduanya dengan pandangan curiga, sepanjang sholat berjamaah ia juga tak melihat Rio ada di sana.
Rio pun langsung tersenyum melihatnya sembari pura-pura mencuci tangannya. "Cuci tangan Fir, tadi perutku tiba-tiba mules jadi tidak ikut sholat bareng kalian." sahut pria itu beralasan sembari melangkah ke arahnya.
Firman pun mengangguk kecil, lalu setelah pria itu pergi ia segera mendekati Marni yang nampak sibuk mencuci piring di wastafel.
"Apa yang kamu lakukan disini?" ucapnya menatap wanita itu.
Marni pun terseyum tipis. "Mencuci piring mas." sahutnya seraya menunjukkan tangannya yang penuh busa tersebut, wanita itu mencoba bersikap biasa saja seakan tak terjadi sesuatu padanya dan Rio sebelumnya.
"Berhenti, kamu tidak seharusnya disini." Firman pun langsung mematikan kran lalu menarik tangan wanita itu menjauh dari sana.
"Tapi mas, itu belum selesai semua." Marni menatap tumpukan piring yang masih kotor mengingat tadi ia hanya sedikit mencucinya karena diganggu oleh Rio.
"Kamu tamu kami disini bukan pembantu jadi jangan pernah melakukannya lagi tanpa seizinku!" tegas Firman menatapnya dingin dan itu membuat Marni tiba-tiba merasa takut, apa pria itu sedang marah padanya? padahal hanya perkara cuci piring toh ia juga tak keberatan.
Firman pun segera mengajak Marni untuk pulang dan tidak ikut kembali berkumpul karena pria itu kurang suka dengan Rio yang sepertinya sedikit tertarik dengan wanita itu, Pernikahan Rio dan istrinya memang dijodohkan tapi jika pria itu tak menyukainya sang istri tidak mungkin sampai memiliki anak bahkan wanita itu juga sedang hamil lagi saat ini.
Ia hanya tidak ingin Marni yang polos menjadi korban kebrengsekan pria itu selanjutnya dan sebagai orang yang menyukainya tentu saja ia akan selalu melindunginya.
"Maafkan keluarganya mas ya, mas tidak tahu jika ummi juga mengundang keluarga Kania." ucap pria itu setelah sekian lama mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Marni pun mengangguk kecil meskipun ia tak tahu pria yang sedang fokus dengan kemudinya itu melihatnya atau tidak. "Jadi apa dia wanita yang akan di jodohkan dengan mu mas?" ucapnya ingin tahu.
"Hm, tapi aku kurang menyukainya dia terlalu manja dan tidak cocok denganku." sahut Firman menanggapi dengan santai.
"Tapi selain penghafal qur'an dia juga seorang sarjana dan juga pebisnis jadi bukankah kalian lebih cocok?" tukas Marni mencoba tersenyum menatap pria itu berharap sikap cemburunya tak disadari olehnya namun tiba-tiba pria itu menepikan mobilnya.
"Jadi kamu mau aku sama dia?" ucap pria itu dengan rahang mulai mengeras menatapnya.
"Jawab Marni!" imbuh pria itu lagi ketika wanita disampingnya itu diam membisu.
Marni pun langsung menggeleng. "Tapi Kania jauh lebih pantas bersanding denganmu daripada aku mas," sahutnya kemudian.
Firman nampak membuang napasnya pelan, sudah ia tebak setelah pertemuan ini wanita itu pasti akan merasa rendah diri karena tadi sepanjang mereka berbuka bersama kedua orang tua Kania tak berhenti membanggakan putrinya tersebut.
Jika dipikir dengan logika mungkin wanita seperti Kania sosok wanita idaman bagi kebanyakan pria, tapi apa semua wanita idaman itu mampu bertahan dalam rumah tangganya? tentu saja belum tentu, idaman atau bukan itu hanya perspektif semata karena nyatanya sebuah pernikahan itu harus di jalani oleh orang yang benar-benar kita inginkan dari dasar hati paling dalam karena jika suatu saat nanti merasa lelah dengan ujian maka logika kembali mengingatkan jika pasangan inilah pilihan kita hingga itu tanpa di sadari oleh alam bawah sadar sebagai sebuah peringatan ketika tujuan mulai oleng.
"Aku tahu kamu merasa rendah diri dihadapan Kania, tapi bagiku kamu juga punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh wanita itu." tukas Firman kemudian.
"Apa?" Marni pun menatapnya dengan wajah penasaran, memang apa kelebihannya yang tidak dimiliki Kania ia rasa tak ada.
"Kelebihanmu adalah aku menyukaimu tanpa alasan apapun dan itu tak dimiliki oleh Kania jadi ku rasa kamu tetap pemenangnya," terang Firman sembari tertawa jahil menatap wanita itu.
Marni pun langsung tersenyum, dasar wanita dirayu sedikit saja sudah luluh gumamnya dalam hati namun ia takkan bertanya kenapa pria itu menyukainya karena ia pun juga tidak tahu kenapa menyukai pria itu. Perasaannya mengalir begitu saja tanpa bisa ia cegah dan ia tahu pria itu juga pasti mengalami hal yang sama sepertinya.
"Ngomong-ngomong, apa tadi Rio berbicara sesuatu saat di dapur?" ucap Firman tiba-tiba hingga membuat Marni langsung menyurutkan senyumnya, kenapa harus membahas pria brengsek itu bikin moodnya memburuk saja.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu