NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

BAB 24

 DINDING KACA YANG MEMBEKU

​Kebenaran sering kali menyerupai badai; ia datang tanpa peringatan, menghancurkan fondasi yang rapuh, dan menyisakan reruntuhan yang dingin. Bagi Aisha Humaira, badai itu datang dalam bentuk sebuah amplop cokelat tua yang diletakkan secara anonim di atas meja kerjanya saat fajar baru saja menyingsing di Jakarta.

​Di dalamnya bukan berisi laporan teknis atau revisi maket, melainkan salinan dokumen akuisisi aset tahun 1998. Ada tanda tangan ayahnya yang gemetar di atas meterai, dan di sampingnya, tanda tangan yang sangat ia kenali: Bramantyo Aratama. Ayah dari pria yang selama beberapa bulan ini telah mencuri perhatian dan doa-doanya.

​Dunia Aisha seolah runtuh dalam keheningan ruang kantornya.

​Saat Adrian masuk ke area kerja tim arsitek pagi itu, ia merasakan perubahan atmosfer yang drastis. Tidak ada sapaan hangat yang tertahan, tidak ada diskusi kecil tentang sirkulasi udara. Yang ada hanyalah Aisha yang berdiri kaku di balik mejanya, menatap jendela dengan punggung yang seolah-olah terbuat dari besi.

​"Aisha?" panggil Adrian lembut. Ia baru saja hendak menceritakan rencana penebusan anonimnya, namun langkahnya terhenti saat melihat amplop cokelat itu di atas meja.

​Aisha berbalik. Matanya, yang biasanya memancarkan kedamaian dan kecerdasan, kini tampak seperti dua keping es yang tajam. Tidak ada air mata. Hanya ada kekecewaan yang begitu dalam hingga Adrian merasa udara di ruangan itu mendadak hilang.

​"Apa ini, Pak Adrian?" suara Aisha datar, tanpa emosi, namun getarannya mematikan.

​Adrian melirik dokumen itu. Jantungnya berdegup kencang. "Aku... aku baru saja akan menjelaskannya padamu."

​"Menjelaskan apa? Bahwa gedung mewah tempat saya berdiri sekarang dibangun di atas tangisan Ayah saya?" Aisha melangkah maju, tangannya menunjuk ke arah dokumen itu. "Bahwa selama ini saya bekerja untuk putra dari pria yang menghancurkan kesehatan dan masa depan keluarga saya?"

​"Aku baru tahu dua hari lalu, Aisha! Aku sedang menyiapkan skema untuk mengembalikan segalanya—"

​"Dengan uang?" Aisha tertawa getir, sebuah suara yang menyakitkan bagi telinga Adrian. "Anda pikir stroke yang diderita Ayah saya bisa disembuhkan dengan transfer bank? Anda pikir tahun-tahun kemiskinan dan penghinaan yang kami lalui bisa dihapus dengan hibah anonim?"

​Adrian mencoba mendekat, namun Aisha mundur dengan gerakan yang begitu tegas, seolah-olah Adrian adalah wabah yang mematikan. "Jangan mendekat, Pak Adrian. Jarak dua meter yang selama ini kita jaga... mulai detik ini, jarak itu adalah jurang yang tidak akan pernah bisa Anda seberangi."

​Hari-hari berikutnya menjadi neraka fungsional bagi Adrian. Aisha tidak berhenti bekerja—karena ia terlalu profesional untuk meninggalkan tanggung jawabnya pada proyek Green Oasis yang sudah berjalan setengah jalan—namun ia benar-benar "menghilang" dari jangkauan Adrian.

​Komunikasi mereka kini hanya melalui Sarah atau memo tertulis. Jika mereka harus berada dalam satu ruang rapat, Aisha akan duduk di ujung terjauh, hanya bicara saat ditanya soal data teknis, dan segera pergi sebelum Adrian sempat menutup rapat.

​Aisha telah membangun dinding kaca yang tebal. Adrian bisa melihatnya, tapi ia tidak bisa lagi menyentuh jiwanya.

​"Pak, ini revisi material fasad dari Nona Aisha," kata Sarah dengan nada cemas. Ia bisa melihat bosnya yang biasanya perkasa kini tampak layu, dengan lingkaran hitam di bawah mata.

​"Apakah dia menitipkan pesan?" tanya Adrian penuh harap.

​"Hanya pesan bahwa semua sudah sesuai spesifikasi, Pak."

​Adrian menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia merasa dikhianati oleh masa lalu yang tidak pernah ia pilih. Ia merasa dihukum atas dosa yang bukan miliknya, namun ia sadar bahwa ia tetaplah pewaris dari dosa tersebut.

​Sementara itu, di rumahnya, Aisha menghadapi badai yang berbeda. Zulkifli, ayahnya, mulai curiga melihat perubahan sikap putrinya yang sering melamun.

​"Aisha, kau masih bekerja di Aratama itu?" tanya Zulkifli suatu sore saat mereka duduk di teras.

​Aisha memaksakan senyum. "Hanya sebentar lagi, Yah. Proyeknya akan segera masuk tahap akhir."

​"Jangan lama-lama di sana. Nama Aratama itu... setiap kali aku mendengarnya, dadaku terasa sesak. Mereka adalah serigala berbaju domba," gumam Zulkifli dengan napas pendek.

​Aisha memegang tangan ayahnya yang lemah. Ia merasa bersalah karena sempat menaruh hati pada pria dari keluarga itu. Ia merasa seolah-olah ia telah mengkhianati penderitaan ayahnya setiap kali ia terpesona oleh kecerdasan atau perhatian Adrian.

​Malam itu, Aisha melakukan sholat istikharah. Ia meminta petunjuk untuk mematikan perasaan yang mulai tumbuh. Ia ingin membenci Adrian, namun hatinya tahu bahwa Adrian bukan ayahnya. Tapi, setiap kali ia melihat wajah Adrian, ia melihat bayangan pria yang menandatangani kehancuran keluarganya.

​Puncak dari jarak yang sangat jauh itu terjadi saat peninjauan lapangan di sektor fondasi terdalam. Kondisi cuaca sedang buruk, hujan deras mengguyur lokasi proyek.

​Adrian melihat Aisha berdiri di dekat tepian galian, mengenakan jas hujan kuning yang kontras dengan langit mendung. Ia tampak sedang memeriksa kekuatan penahan tanah. Adrian berjalan mendekat, ingin memastikan keselamatannya di tengah cuaca ekstrem itu.

​"Aisha, menyingkirlah dari tepi. Tanah ini licin," teriak Adrian di tengah deru hujan.

​Aisha menoleh, namun ia tidak bergemerik. Ia menatap Adrian dengan tatapan yang sama: dingin dan jauh. "Saya tahu apa yang saya lakukan, Pak Adrian. Fokuslah pada investasi Anda, jangan pada keselamatan saya."

​"Ini bukan soal investasi! Ini soal kau!" Adrian berteriak frustrasi.

​"Tidak ada 'saya' bagi Anda, Pak. Hanya ada arsitek dan majikan," sahut Aisha tajam.

​Tiba-tiba, petir menyambar di dekat lokasi, diikuti oleh getaran kecil pada tanah di bawah mereka. Refleks pelindung Adrian bangkit lagi. Ia melompat maju, hendak menarik lengan Aisha agar menjauh dari tepi galian yang mulai terkikis air hujan.

​"Jangan sentuh saya!" Aisha berteriak begitu keras hingga suaranya menembus deru hujan. Ia mengangkat tangannya, menghalau tangan Adrian dengan penuh kebencian yang baru kali ini ia tunjukkan.

​Adrian membeku. Tangannya menggantung di udara, basah oleh hujan. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter, namun Adrian merasa Aisha berada di benua lain.

​"Aku hanya ingin melindungimu," bisik Adrian, suaranya parau karena air hujan dan rasa sakit.

​"Anda tidak bisa melindungi saya dari nama belakang Anda sendiri, Pak Adrian," ucap Aisha dengan napas memburu. "Setiap kali Anda mencoba mendekat, saya teringat Ayah saya yang kehilangan segalanya. Jika Anda benar-benar peduli, pergilah. Jauhi hidup saya setelah proyek ini selesai."

​Aisha berbalik dan berjalan menembus hujan, meninggalkan Adrian berdiri sendirian di tengah lumpur.

​Malam itu, Adrian kembali ke kantornya yang mewah. Ia menatap ke luar jendela, ke arah cahaya kota yang buram karena air mata yang ia tahan. Ia menyadari satu hal: cinta tidak selalu bisa mengalahkan sejarah. Ada luka yang terlalu dalam untuk dijahit oleh sekadar permohonan maaf.

​Ia mengambil dokumen penebusan yang sudah ia siapkan. Ia menandatanganinya. Sebuah pengalihan aset secara rahasia yang akan membuat keluarga Aisha kembali menjadi jutawan dalam semalam. Namun, ia tahu, bahkan jika ia memberikan seluruh kerajaannya, ia tidak akan bisa mendapatkan kembali binar di mata Aisha saat menatapnya.

​"Aku akan memberimu keadilan, Aisha," bisik Adrian pada kesunyian ruangan. "Meskipun harganya adalah kehilanganmu selamanya. Karena mencintaimu berarti membiarkanmu membenciku, jika itu yang membuat hatimu merasa tenang."

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!