Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 PEMBICARAAN SEBELUM TIDUR.
Lampu tidur menyala temaram, menyisakan cahaya kuning lembut yang membuat kamar terasa hangat dan sunyi. Di luar, suara kendaraan ibu kota sudah mulai mereda, berganti dengan keheningan malam yang menenangkan.
Khay berbaring miring, punggungnya menghadap Revan. Selimut menutupi tubuhnya hingga ke dada. Matanya terpejam, tapi pikirannya justru terjaga penuh. Terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya sejak hari itu dimulai pernikahan, perpisahan dengan orang tua, perjalanan panjang, hingga kini… satu kamar, satu ranjang, dengan laki-laki yang sah menjadi suaminya.
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Mas Revan.”
Suara itu pelan, hampir ragu.
“Iya,” jawab Revan dari sisi lain tempat tidur. Suaranya tenang, datar, seperti biasa.
Khay menggigit bibirnya sebentar sebelum melanjutkan. “Apa Mas yakin tidak akan mempermasalahkan kalau aku tidur di asrama?”
Revan tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa detik, cukup lama hingga Khay sempat berpikir ia seharusnya tidak bertanya sejauh itu.
“Aku sudah memikirkannya,” kata Revan akhirnya. “Kalau boleh jujur… aku sangat keberatan.”
Dada Khay menegang.
“Tapi,” lanjut Revan tanpa meninggikan suara, “aku juga tidak ingin mengingkari janjiku kepadamu sebelum kita menikah.”
Khay menelan ludah. “Janji…?”
“Iya,” jawab Revan. “Kita sepakat untuk tidak memaksakan apa pun. Termasuk tempat tinggalmu.”
Khay terdiam. Ia memutar tubuhnya perlahan, kini menghadap Revan. Dalam cahaya temaram, wajah Revan tampak lebih lembut garis wajah tegasnya tidak setajam di siang hari.
“Eum…” Khay mengeluarkan suara kecil, bingung harus menanggapi apa.
Revan menghela napas pelan. “Sebagai suami, wajar kalau aku ingin kamu di rumah.”
Khay mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Tapi sebagai orang yang menghargaimu,” lanjut Revan, “aku tidak ingin kamu merasa terkurung atau kehilangan duniamu.”
Khay menatap langit-langit. “Asrama itu… bukan karena aku ingin jauh dari Mas.”
Revan meliriknya. “Lalu?”
“Itu satu-satunya tempat di mana aku masih merasa… menjadi Khay yang lama,” jawabnya jujur. “Mahasiswi. Anak kampung yang merantau. Bukan istri orang kaya di rumah besar.”
Revan terdiam. Kata-kata itu tampak ia cerna perlahan. “Aku mengerti,” ucapnya akhirnya.
Khay tersenyum kecil, tapi matanya terasa panas. “Terima kasih.”
Hening kembali turun, tapi tidak terasa kaku. Justru terasa… dalam. Beberapa saat berlalu sebelum Revan kembali bersuara.
“Khay.”
“Iya, Mas.”
Nada suara Revan kali ini berbeda. Lebih rendah. Lebih hati-hati. “Aku tahu kamu tidak menyukaiku.”
Jantung Khay berdetak lebih cepat. “Dan itu tidak masalah,” lanjut Revan sebelum Khay sempat menyangkal. “Aku tidak berharap kamu langsung jatuh cinta.”
Khay menggenggam ujung selimutnya. “Mas Revan…”
“Tapi,” Revan menoleh menatapnya. “Apa boleh aku mengejarmu?”
Kalimat itu jatuh begitu saja tenang, tanpa tekanan, tanpa nada memohon. Tapi justru karena itu, dada Khay terasa sesak.
Detak jantungnya tidak karuan. Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Otaknya seperti berhenti bekerja.
Revan tidak mendesak. Ia menunggu.
“Aku…” suara Khay bergetar sedikit. “Kenapa Mas mau sejauh itu?”
“Karena kamu istriku,” jawab Revan sederhana. “Dan karena aku ingin mengenalmu. Bukan sekadar memiliki status sebagai suami.”
Khay menelan ludah. “Mas Revan tahu… aku ini orangnya ribet.”
Revan mengangguk kecil. “Aku juga bukan orang yang mudah.”
Khay terkekeh pelan. “Iya. Dingin. Irit bicara. Kayak kulkas dua pintu.”
Revan mendengus kecil. Hampir tersenyum. “Kalau kulkas, setidaknya berguna.”
Khay tersenyum, lalu kembali serius. “Aku tidak benci Mas.”
Revan menatapnya penuh perhatian. “Aku hanya… belum tahu harus menaruh perasaanku di mana,” lanjut Khay jujur. “Semuanya terjadi terlalu cepat.”
“Aku tidak akan memaksamu cepat,” kata Revan mantap.
Ia menggeser sedikit tubuhnya, tapi tetap menjaga jarak. “Aku ingin kita memulainya dari awal. Kita saling kenal, saling terbuka, saling menghormati.”
Khay mendengarkan, jantungnya masih berdetak cepat.
“Mungkin pasangan lain pacaran dulu, baru menikah,” lanjut Revan pelan. “Dan kita… menikah dulu, baru pacaran.”
Khay membelalakkan mata. “Pacaran…?”
“Iya,” jawab Revan. “Versi kita.”
Khay terdiam lama. Bayangan tentang pacaran dengan Revan terasa asing laki-laki ini terlalu tenang, terlalu dewasa, terlalu berbeda dengan dunia Khay yang penuh canda dan spontanitas.
“Tapi kalau aku nanti mengecewakan Mas?” tanyanya lirih.
“Aku tidak mengejarmu untuk menjadikanmu sempurna,” jawab Revan. “Aku mengejarmu untuk berjalan bersamamu.”
Khay terdiam. Kata-kata itu menembus pertahanannya pelan-pelan, tanpa memaksa. Ia menarik napas dalam-dalam. “Kalau Mas mengejarku… caranya bagaimana?”
Revan mengangkat alis. “Kamu mau tahu?”
“Iya.”
“Dengan sabar,” jawab Revan. “Dengan hadir. Dan dengan memberi kamu ruang.”
Khay tersenyum kecil. “Mas Revan aneh.”
“Mungkin,” jawab Revan jujur.
Khay menatap wajah suaminya lama. Laki-laki yang awalnya terasa asing, dingin, dan terlalu dewasa kini tampak berbeda. Tidak berubah drastis, tapi… lebih dekat.
“Aku tidak bisa janji apa-apa,” ucap Khay akhirnya.
Revan mengangguk. “Aku tidak meminta janji.”
“Tapi,” Khay menambahkan, “aku tidak keberatan kalau Mas… mencoba.”
Sudut mata Revan sedikit melembut. “Itu sudah lebih dari cukup.”
Khay tersenyum. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum yang benar-benar tenang. “Kita mulai dari mana?” tanyanya polos.
Revan berpikir sejenak. “Dari hal sederhana.”
“Seperti?”
“Besok,” kata Revan, “aku antar kamu ke kampus.”
Khay terkekeh. “Itu bukan pacaran. Itu supir.”
“Kalau begitu,” Revan menimpali, “nanti aku jemput.”
Khay tertawa kecil. “Mas Revan belajar menggoda, ya?”
Revan menggeleng. “Tidak. Aku hanya jujur.”
Hening kembali hadir, kali ini terasa hangat. Tidak ada lagi canggung yang menekan. Hanya dua orang yang mencoba memahami posisi masing-masing.
Khay menarik selimut lebih rapat, tubuhnya mulai terasa lelah. “Mas Revan…”
“Ya?”
“Kalau suatu hari aku jatuh cinta,” ucap Khay pelan, “aku ingin itu karena aku mau. Bukan karena status.”
Revan menatap langit-langit. “Aku ingin hal yang sama.”
Mata Khay perlahan terpejam. Rasa kantuk akhirnya menang.
Sebelum benar-benar terlelap, ia sempat berbisik, “Terima kasih… sudah memilih cara yang lembut.”
Revan tidak langsung menjawab. Ia menoleh, memastikan Khay sudah tertidur. “Terima kasih,” balasnya lirih, “sudah memberi aku kesempatan.”
Malam itu, tidak ada sentuhan. Tidak ada janji besar. Tidak ada paksaan. Hanya sebuah awal pelan, jujur, dan penuh kemungkinan.