NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. The Final Stand: Truth Behind the Curtain

Atmosfer di New York berubah menjadi mencekam. Gedung agensi pusat yang dulunya merupakan simbol kemegahan karier Julian, kini dikepung oleh garis kuning FBI dan puluhan mobil polisi dengan lampu yang berputar-putar. Di lantai paling atas, di dalam kantor CEO yang kedap suara, Sean Miller berdiri di tepi jendela kaca besar, mencengkeram lengan Ellena yang lemas.

​Julian berdiri di koridor utama, hanya dipisahkan oleh pintu baja yang dijaga ketat. Di sampingnya, Samuel Vane sedang bernegosiasi dengan tim SWAT, sementara Alice Vane menolak untuk menjauh dari sisi suaminya, meski bahayanya sangat nyata.

​"Sean! Buka pintunya!" teriak Julian. Suaranya tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh otoritas yang tenang. "Semuanya sudah berakhir. Syndicate sudah jatuh. FBI sudah memegang semua data transaksi gelapmu. Jangan buat ini lebih buruk dengan menyakiti Ellena!"

​Pintu terbuka perlahan melalui sistem elektronik. Julian melangkah masuk sendirian, sesuai permintaan Sean. Alice mencoba menahan lengan Julian, namun Julian mengecup dahi istrinya dengan lembut. "Tuhan bersamaku, Al. Tunggu di sini bersama Papa."

​Di dalam ruangan, Sean tampak seperti pria yang sudah kehilangan akal sehat. Rambutnya berantakan, dan matanya merah. Ia menodongkan sebuah alat pemicu kecil di tangannya.

​"Satu langkah lagi, Reed, dan aku akan meledakkan server utama gedung ini. Semua bukti tentang kejahatan agensi akan musnah, dan kau... kau akan mati sebagai pahlawan yang gagal," desis Sean sinis.

​Julian berhenti tepat tiga meter di depan Sean. Ia menatap Ellena yang menangis tersedu-sedu. "El, lihat aku. Kau aman sekarang. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu lagi."

​"Dia tidak aman selama kau masih bernapas, Julian!" teriak Sean. "Kau menghancurkan segalanya! Kau menghancurkan karierku, rencanaku, dan sekarang kau ingin menjadi orang suci? Kau itu sampah industri, sama sepertiku!"

​Julian menggeleng pelan. "Aku memang sampah, Sean. Aku penuh noda. Tapi aku sudah dibasuh. Itulah bedanya aku dan kau. Aku menerima pengampunan, sementara kau memilih untuk terus memeluk dendammu."

​"Halah! Jangan khotbah di depanku!" Sean menarik Ellena lebih keras. "Katakan pada mereka untuk mencabut tuntutan Samuel Vane! Katakan pada FBI untuk melepaskan aset-asetku, atau Ellena akan jatuh dari lantai ini!"

​"Sean, dengarkan aku," Julian merendahkan suaranya, mencoba melakukan pendekatan psikologis yang diajarkan Samuel. "Kau pikir The Shadow Syndicate peduli padamu? Mereka sudah membuangmu. Kau hanya pion yang mereka korbankan untuk menutupi jejak mereka. Jika kau menyerah sekarang, Samuel bisa membantumu mendapatkan keringanan hukuman. Jangan jadi tumbal untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu nama belakangmu."

​Sean tertegun sejenak. Keraguan mulai melintas di matanya. Ellena menggunakan kesempatan itu untuk berbisik, "Sean... tolong. Berhenti. Ayahku... aku tidak ingin dia melihatku seperti ini."

​Namun, obsesi Sean terlalu dalam. "Tidak! Jika aku hancur, semua harus hancur!"

​Tiba-tiba, pintu belakang ruangan itu dijebol oleh tim FBI. Di saat yang kritis, Julian tidak berlari menjauh. Ia justru menerjang maju untuk menarik Ellena dari cengkeraman Sean. Sean mencoba menekan pemicu ledakan, namun sebuah tembakan peringatan dari penembak jitu mengenai bahu Sean, membuatnya terjatuh.

​Julian mendekap Ellena yang histeris di lantai, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Tim medis dan FBI segera merangsek masuk, mengamankan Sean yang terus berteriak penuh kutukan.

​Beberapa saat kemudian, di lobi gedung, suasana haru pecah. Alice langsung berlari memeluk Julian begitu pria itu keluar dari lift membawa Ellena yang sudah tenang.

​"Julian! Kau terluka?" Alice memeriksa wajah dan tangan suaminya dengan cemas.

​"Aku tidak apa-apa, Al. Aku tidak apa-apa," Julian memeluk Alice erat, seperti permen karet yang menyatu kembali. "Semuanya sudah benar-benar selesai. Sean sudah ditahan. El akan mendapatkan perawatan yang dia butuhkan."

​Samuel Vane menghampiri mereka, wajahnya tampak sangat lega. "FBI telah mengamankan server tersebut sebelum Sean sempat menghancurkannya. Seluruh daftar elit Shadow Syndicate ada di tangan kita. Ini adalah kemenangan terbesar untuk keadilan di industri ini, Julian."

​Samuel kemudian menoleh ke arah kerumunan wartawan yang tertahan di luar garis polisi. "Kalian siap untuk memberikan pernyataan terakhir hari ini?"

​Julian menatap Alice, meminta persetujuan. Alice mengangguk mantap. Mereka berjalan menuju kerumunan wartawan, namun kali ini bukan sebagai buruan, melainkan sebagai pemenang.

​"Hari ini," buka Julian di depan ribuan mikrofon, "bukan tentang kemenangan pribadiku. Ini adalah tentang setiap anak muda yang pernah merasa terjebak dalam kegelapan industri ini. Aku mengumumkan bahwa aku akan mendirikan yayasan rehabilitasi untuk para korban eksploitasi agensi, yang akan dibimbing langsung oleh Papa Samuel."

​Julian menggenggam tangan Alice dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Dan untuk mereka yang masih menghujat istriku... lihatlah wanita ini. Tanpa dia, pria yang berdiri di depan kalian hari ini tidak akan pernah ada. Dia bukan perusak, dia adalah penyelamatku."

​Para wartawan terdiam. Bahkan beberapa di antaranya menurunkan kamera mereka untuk bertepuk tangan. Di tengah kerumunan itu, terlihat beberapa fans yang membawa poster bertuliskan: "Thank you for being brave, Julian & Alice!"

​Malam itu, mereka kembali ke rumah keluarga Vane. Di meja makan, Elizabeth sudah menyiapkan jamuan besar. Julian duduk di antara Samuel dan Elizabeth, dengan Alice di sampingnya. Untuk pertama kalinya, tidak ada rasa takut. Tidak ada rahasia.

​"Mari kita berdoa," ajak Samuel.

​Julian memejamkan mata, menggenggam tangan Alice sangat erat. Di dalam hatinya, ia berbisik: "Terima kasih Tuhan, Engkau telah membawaku pulang."

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!