Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grup Wijaya?
Agus berlari ke arah gerbang dan mengguncangnya dengan kasar, "Buka! Ini rumahku! Ini rumah bapakku!" teriak Agus histeris.
Seorang penjaga keamanan berseragam rapi keluar dari pos kecil di samping rumah, "Maaf, Pak. Ada apa ribut-ribut di sini?" tanya petugas.
"Ini rumah saya! Saya pemiliknya, Agus!" seru Agus dengan mata melotot.
Penjaga itu menatapnya dengan pandangan kasihan namun tegas, "Maaf, Pak Agus. Rumah ini sudah dilelang oleh bank setahun lalu karena sertifikatnya digadaikan dan tidak pernah ditebus. Sebulan yang lalu, Yayasan Wijaya membelinya dan saat ini sedang dalam proses renovasi untuk dijadikan panti asuhan, jika Bapak tidak segera pergi, saya terpaksa memanggil polisi," ucap petugas.
Ibu Ratmi jatuh terduduk di atas tanah berdebu, ia menangis meraung-raung, memukul-mukul dadanya sendiri. "Agus! Kamu bilang kita punya rumah! Kamu bilang kita akan aman! Kenapa kamu menggadaikan rumah satu-satunya milik keluarga?" tanya Ibu Ratmi yang kembali histeris.
Agus tidak bisa menjawab, ia hanya bisa menatap nanar ke arah rumah itu. Agus teringat tahun lalu, saat ia begitu sombong ingin memperluas gudang material demi memuaskan ambisi proyek Mega City, ia secara diam-diam mengambil sertifikat rumah di Solo dari lemari ibunya dan menjadikannya jaminan di bank. Saat itu ia berpikir, jika ini hanya sementara dan begitu proyek ini jalan, ia akan menebusnya sepuluh kali lipat.
Kini, kenyataan menghantam tepat di wajahnya. Agus sudah tidak punya apa-apa lagi, baik itu di Jakarta ataupun di Solo.
###
Satu minggu telah berlalu sejak gerbang rumah di Solo itu tertutup rapat di depan wajah Agus dan Ibu Ratmi, Jakarta yang dulu memuja Agus kini terasa seperti hutan beton yang asing dan kejam.
Tanpa koneksi, tanpa nama besar dan dengan status tahanan kota yang mengharuskannya wajib lapor, Agus benar-benar terjebak dalam pusaran kemiskinan yang lebih dalam daripada saat ia memulai usahanya dua puluh tahun lalu.
Kini, setiap pagi, pemandangan di bawah jembatan layang yang menjadi saksi bisu kejatuhan seorang mantan pengusaha ternama. Ibu Ratmi, wanita yang dulu hanya mau mencuci tangan dengan air botol kemasan mahal, sekarang duduk di atas lembaran kardus lembap.
Tangannya yang dulu penuh emas kini gemetar, memegang sebuah gelas plastik bekas air mineral untuk menampung recehan dari orang yang lewat.
"Ibu lapar, Agus... Ibu ingin makan nasi yang hangat, bukan sisa bungkusan ini," tangis Ibu Ratmi pecah setiap kali melihat sisa nasi bungkus yang didapatkan Agus dari pembagian makanan gratis di pinggir jalan.
Agus hanya bisa tertunduk, pakaiannya yang dulu merupakan setelan jas custom made kini telah berubah menjadi kain kusam yang berbau keringat dan keputusasaan. Rambutnya yang tertata rapi kini kusut dan memutih karena stres yang luar biasa, setiap kali ia melihat bayangan dirinya di kaca spion mobil mewah yang melintas, hatinya terasa seperti diremas.
Agus teringat malam-malam di mana Karina selalu menyiapkan air hangat untuknya pulang kerja, ia ingat bagaimana Karina dengan sabar memijat kakinya yang lelah saat perusahaan mereka baru merintis.
Saat itu, Karina tidak pernah mengeluh meski mereka hanya makan nasi dengan garam. Namun, setelah ia kaya, ia justru menyebut pengabdian itu sebagai sesuatu yang tidak berselera dan ketinggalan zaman.
"Aku benar-benar buta, aku membuang berlian demi mengejar batu kali yang berkilau sebentar," gumam Agus pelan, suaranya parau karena jarang minum.
Di trotoar jalanan yang panas, ia duduk bersandar pada tiang listrik, sementara Ibu Ratmi tertidur kelelahan di samping tumpukan barang bekas mereka. Tiba-tiba, perhatian orang-orang di sekitar sana teralihkan oleh sebuah layar LED raksasa yang terpasang di persimpangan jalan besar, tepat di depan mereka.
Layar itu biasanya menampilkan iklan produk kecantikan atau properti mewah, namun siang ini, saluran berita nasional menyiarkan sebuah konferensi pers luar biasa yang disiarkan secara langsung dari Jakarta.
"Lihat itu... bukankah itu wanita yang fotonya sering masuk majalah bisnis?" bisik seorang pejalan kaki yang berhenti tepat di depan Agus.
Agus mendongak dan melihat berita yang sedang ditayangkan, matanya yang merah dan cekung seketika membelalak. Di layar raksasa itu, seorang wanita muncul dengan keanggunan yang tak tertandingi, ia mengenakan setelan blazer berwarna biru navy yang mewah, rambutnya yang dulu selalu diikat seadanya kini tertata sangat rapi dan elegan.
"Karina?" suara Agus bergetar, hampir tidak keluar.
Di bawah layar tertulis teks berjalan.
Pewaris Tunggal Grup Wijaya Muncul ke Publik, Karina Wijaya Resmi Menjabat Sebagai Komisaris Utama.
Suara Karina terdengar jernih dan berwibawa melalui pengeras suara kota, "Selama dua puluh tahun, saya memilih untuk hidup dalam kesederhanaan dan menyembunyikan identitas saya untuk mendukung seseorang yang saya cintai. Namun, pengkhianatan mengajarkan saya bahwa mahkota ini tidak seharusnya saya letakkan di lantai. Hari ini, saya kembali untuk memimpin perusahaan Ayah saya, Baskoro Wijaya dan memastikan bahwa Grup Wijaya akan terus menjadi pilar bagi mereka yang bekerja keras dengan kejujuran, bukan dengan tipu daya,"
Agus merasa jantungnya seperti dipukul godam besar, seluruh tubuhnya lemas dan keringat dingin mengucur deras.
"Grup... Grup Wijaya? Putri tunggal Baskoro Wijaya?" gumam Agus.
Agus teringat betapa dulu ia sering meremehkan keluarga Karina yang katanya hanya orang desa yang punya sedikit tanah, ia teringat bagaimana ia sering membentak Karina bahwa wanita itu tidak mengerti apa-apa tentang dunia bisnis kelas atas. Ternyata, selama ini ia sedang membentak pemilik dunia yang selama ini ia impikan.
"Agus... itu Karina?" Ibu Ratmi terbangun dan menatap layar dengan mulut ternganga.
"Jadi... menantu yang Ibu hina, yang Ibu suruh-suruh mencuci kaki Ibu... itu adalah pemilik Grup Wijaya," gumam Ibu Ratmi.
Ibu Ratmi seketika pucat pasi,ia mengingat semua makiannya, semua dukungannya pada perselingkuhan Agus dengan Sabrina dan semua perlakuannya yang menganggap Karina hanyalah wanita kampung yang beruntung mendapatkan anaknya.
"Agus, sekarang kita harus kembali ke Jakarta," ucap Ibu Ratmi.
"Kamu harus mendekati Karina, Ibu yakin dia pasti masih sayang sama kamu. Kamu harus minta maaf, kamu bilang kalau kamu melakukan ini demi Ella dan Aisha. Ibu yakin seratus persen kalau Karina akan memaafkan kamu dan menerima kamu lagi," ucap Ibu Ratmi.
"Apa Karina akan memaafkanku. Bu?" tanya Agus ragu.
"Kalian baru bercerai beberapa bulan, pasti perasaan sayang itu masih ada," ucap Ibu Ratmi.
Agus menatap wajah ibunya yang kini terlihat penuh harap, sebuah harapan kosong yang lahir dari rasa haus akan kemewahan yang telah sirna. Perkataan Ibu Ratmi seolah menjadi satu-satunya dahan rapuh tempat mereka berpijak di tengah jurang kehancuran.
"Minta maaf... iya, aku harus minta maaf," bisik Agus dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Karina selalu memaafkanku dulu, saat aku lupa hari ulang tahun pernikahan kami, saat aku pulang larut malam tanpa kabar... dia selalu menyambutku dengan senyum, dia tidak mungkin setega itu padaku," gumam Agus.
.
.
.
Bersambung.....