NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14~Enam bulan tanpa langit yang sama

Waktu berjalan lebih lambat tanpa Raka.

Sudah dua minggu sejak kereta itu berangkat, tapi aku masih sering menatap bangku kosong di taman, seolah dia bisa muncul kapan saja dengan senyum khasnya dan secangkir cokelat hangat di tangan.

Semua terasa sama tapi berbeda.

Langit Jakarta tetap cerah, pohon di taman tetap hijau, tapi tanpa dia, semuanya seperti kehilangan sedikit warna.

Hari-hari awal, kami masih sering saling menelepon.

Pagi-pagi dia selalu kirim pesan:

Raka: “Pagi, Ly. Udah sarapan belum?”

Alya: “Udah. Kamu?”

Raka: “Belum. Kangen sarapan bareng kamu di taman 😅.”

Aku tertawa membaca pesannya.

Sederhana, tapi cukup untuk memulai hari dengan semangat.

Namun seiring berjalannya waktu, kesibukan mulai datang.

Proyek taman nasional yang dia tangani ternyata lebih padat dari perkiraan.

Telepon jadi jarang, pesan kadang baru dibalas malam-malam.

Aku mengerti, tapi tidak bisa membohongi diri — rindu mulai menumpuk seperti hujan yang tertahan di awan.

Suatu malam aku sedang belajar di meja, ketika ponselku bergetar.

Raka: “Maaf baru kabar, Ly. Hari ini capek banget.”

Aku menatap layar lama, lalu mengetik:

Alya: “Gak apa-apa. Aku ngerti.”

Tapi setelah kukirim, aku menatap pesanku sendiri dengan senyum hambar.

Aku sadar, “aku ngerti” sering kali cuma cara lain dari “aku kangen, tapi nggak mau ganggu.”

Seminggu kemudian, aku melihat unggahan dari akun proyek tempat Raka magang.

Ada foto timnya di lokasi taman, semuanya tertawa lepas di bawah langit Surabaya.

Raka berdiri di tengah, tersenyum cerah, dan di sebelahnya seorang perempuan memegang blueprint besar.

Aku tidak tahu siapa dia, tapi hatiku terasa aneh.

Bukan marah, bukan cemburu — hanya… takut.

Takut jadi kenangan yang perlahan memudar di antara kesibukannya.

Aku mengetik pesan:

Alya: “Kamu sibuk banget, ya?”

Balasannya muncul beberapa menit kemudian.

Raka: “Iya, Ly. Tapi setiap kali capek, aku selalu inget kamu. Kamu masih rumahku, kok.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menenangkan badai kecil di hatiku.

Minggu demi minggu berlalu.

Kami mulai menemukan ritme baru — bukan yang sering bertemu, tapi yang saling percaya.

Aku mulai sibuk juga dengan penelitian dan persiapan magangku sendiri.

Setiap kali aku lelah, aku pergi ke Taman Alya.

Di sana, aku duduk di bangku yang pernah kami duduki, menatap bunga-bunga yang kini semakin tinggi.

Terkadang aku berbicara pelan, seolah dia bisa mendengarnya.

“Rak, kamu tahu nggak, taman ini sekarang sering jadi tempat orang foto prewedding. Lucu, ya?”

Angin berembus lembut, dan aku tersenyum sendiri.

Mungkin begini rasanya tumbuh dewasa — belajar mencintai dengan tenang, tanpa harus selalu memiliki.

Tiga bulan berlalu, lalu empat.

Suatu hari, aku menerima paket kecil dengan tulisan tangannya.

Isinya: selembar foto taman proyeknya di Surabaya, bersama sepucuk surat.

“Ly, lihat kan? Taman ini akhirnya jadi juga. Aku kasih nama ‘Taman Cahaya’.

Di tengahnya, aku tanam bunga matahari — simbol yang katanya nggak pernah berhenti menghadap ke arah cahaya.

Buatku, cahaya itu kamu.

Kadang aku kangen banget, tapi kalau liat bunga-bunga ini tumbuh, aku inget: cinta juga kayak mereka. Dia tetap cari arah, walau mataharinya jauh.”

Mataku berkaca-kaca saat membaca baris terakhir.

Aku menatap langit sore dan berbisik, “Aku juga masih tumbuh, Rak. Ke arah yang sama.”

Bulan kelima datang.

Hujan pertama musim itu turun, membasahi jalanan Jakarta.

Aku duduk di depan jendela kos, menatap derasnya air yang jatuh.

Ponselku berdering — panggilan video dari Raka.

“Akhirnya, kamu sempat juga!” seruku begitu wajahnya muncul di layar.

Dia tertawa kecil, rambutnya sedikit basah. “Aku baru pulang dari lokasi. Hujan di sini juga, Ly. Lucu ya, kita kehujanan di kota yang beda, tapi langitnya sama.”

Aku tersenyum. “Kayak hujan yang nyambungin jarak.”

Kami berbicara lama malam itu. Tentang proyeknya, tentang tanamanku yang makin besar, bahkan tentang makanan yang sama-sama kami rindukan.

Sebelum menutup panggilan, dia berkata pelan,

“Ly, aku janji, begitu proyek ini selesai, orang pertama yang aku temui itu kamu.”

Dan aku percaya, seperti dulu.

Akhirnya, enam bulan pun berlalu.

Hari itu, aku menerima pesan pendek di pagi hari:

Raka: “Aku di kereta. Pulang.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Semua rindu yang kutahan tiba-tiba pecah seperti air hujan yang jatuh bersamaan.

Aku menulis balasan dengan tangan gemetar:

Alya: “Aku tunggu di taman, ya.”

Sore itu, langit cerah — tidak ada hujan, tidak ada mendung.

Aku duduk di bangku taman, menggenggam gelang hijau di tanganku, seperti dulu.

Angin berembus lembut, dan tiba-tiba, aku mendengar suara langkah mendekat.

Langkah yang sudah terlalu kukenal.

“Ly,” suara itu memanggil.

Aku berdiri, berbalik, dan di sanalah dia — Raka, dengan senyum lelah tapi bahagia, mata yang masih sama, dan aura yang rasanya seperti pulang.

Dia berdiri di hadapanku, menatapku lama.

“Enam bulan tanpa langit yang sama,” katanya pelan. “Tapi aku selalu tahu, arahku tetap ke kamu.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum, menahan air mata yang hampir jatuh.

“Kamu pulang,” bisikku.

Dia mengangguk. “Dan aku nggak mau pergi jauh lagi.”

Kami tidak berpelukan, tidak ada kata besar — hanya dua tangan yang akhirnya saling menggenggam lagi setelah waktu yang panjang.

Dan di antara bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin, aku tahu:

Semua yang pernah kami jaga, tumbuh menjadi sesuatu yang indah.

Karena cinta yang dirawat dengan sabar, tak akan mati hanya karena langit yang berbeda.

✨ Bersambung ke Bab 15

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!