Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 KEMARAHAN SANG PAHLAWAN
Keheningan mencekam menyelimuti medan pertempuran.
Garp berdiri dengan satu tangan menggenggam pedang Bluejam—mencegahnya turun ke arahku. Tidak ada Haki. Tidak ada kekuatan khusus. Hanya kekuatan fisik murni.
Dan pedang Bluejam bahkan tidak bisa bergerak seinci pun.
"Kau..." suara Garp rendah, dingin, berbahaya. "Kau berani mengangkat senjata ke cucuku?"
Bluejam berkeringat dingin. Dia mencoba menarik pedangnya tapi tidak bergerak sama sekali—seperti terkunci di tangan Garp.
"L-lepaskan!" Bluejam berteriak panik.
"Lepas? Baiklah."
Garp melepaskan pedang. Bluejam tersenyum lega sebentar—lalu wajahnya berubah menjadi horor saat menyadari tangan Garp yang lain sudah terkepal dan bergerak.
WHAM!
Satu pukulan.
Hanya satu pukulan ke perut.
Bluejam terlempar seperti boneka—menembus tiga pohon besar sebelum akhirnya berhenti dengan tubuh tertanam di tanah. Tidak bergerak. Pingsan total atau mati, aku tidak tahu.
Semua bajak laut Bluejam yang masih berdiri langsung pucat pasi.
"La-lari!" salah satu berteriak.
Mereka semua kabur—meninggalkan rekan yang terluka, meninggalkan senjata, meninggalkan segalanya. Yang penting menjauh dari monster bernama Monkey D. Garp.
Dalam hitungan detik, medan pertempuran jadi kosong. Hanya tersisa pasukan kami dan korban luka-luka dari kedua belah pihak.
Garp berbalik menatapku. Wajahnya masih marah tapi ada kekhawatiran tersembunyi di matanya.
"Ace. Kau baik-baik saja?"
Aku mencoba berdiri tapi kaki tidak kuat. Langsung roboh lagi.
"Energi... habis..." aku terengah-engah.
"Dasar bodoh! Kenapa kau memaksa tubuh sekecil itu mengeluarkan serangan sebesar tadi?!" dia mengangkatku dengan hati-hati—sangat kontras dengan pukulan brutal tadi.
"Karena... harus melindungi... keluarga..."
Garp terdiam. Menatapku dengan tatapan rumit.
"Dasar bocah keras kepala. Persis ayahmu."
Ayah. Gol D. Roger. Pria yang bahkan Garp hormati meski musuh.
"Istirahat. Kakek akan urus sisanya."
Kesadaranku mulai kabur. Terlalu lelah. Terlalu banyak energi terpakai.
Hal terakhir yang kudengar sebelum pingsan adalah suara Garp berteriak pada Dadan—dan suara Dadan berteriak balik dengan tidak sopan.
Bahkan dalam situasi genting, mereka tetap ribut seperti biasa.
Aku tersenyum kecil sebelum semuanya jadi gelap.
Saat terbangun, sudah malam.
Aku berbaring di kasur dengan perban di beberapa bagian tubuh. Bau obat menyengat hidung. Tubuh terasa remuk semua—seperti habis ditabrak truk.
"Akhirnya bangun juga."
Aku menoleh. Garp duduk di samping kasur dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya serius—tidak ada tawa keras atau senyum lebar seperti biasanya.
"Jii-chan... kenapa kau ada disini?" suaraku serak.
"Aku dapat laporan dari anak buahku yang kebetulan lewat daerah ini seminggu lalu. Mereka bilang ada keributan dengan bajak laut Bluejam. Jadi aku datang untuk cek situasi." Dia menatapku tajam. "Ternyata cucuku yang tiga tahun sudah berkelahi dengan bajak laut sungguhan. Bahkan punya Devil Fruit!"
Uh oh. Dia tahu soal Mera Mera no Mi.
"Kapan kau makan Devil Fruit itu?!"
"Umur satu setengah tahun..." aku menjawab jujur—tidak ada gunanya bohong sekarang.
"SATU SETENGAH TAHUN?!" Garp berteriak shock. "Kau makan Devil Fruit umur sesitu?! Siapa yang kasih?!"
"Tidak ada yang kasih. Aku... temukan sendiri di hutan. Tidak tahu itu Devil Fruit jadi kumakan."
Setengah bohong. Aku tahu itu Devil Fruit. Tapi Garp tidak perlu tahu itu.
Garp mengusap wajahnya dengan frustasi. "Dasar bocah... kau tahu betapa langkanya dan berbahayanya Devil Fruit?! Apalagi Logia type! Sekarang kau jadi target besar untuk pemburu bounty dan Marine korup!"
"Aku tahu. Makanya aku latihan keras untuk jadi kuat."
"Latihan?! Kau baru tiga tahun!"
"Umur tidak penting. Yang penting kekuatan untuk melindungi orang yang kusayang."
Garp terdiam lagi. Ekspresinya berubah—dari marah jadi... sedih?
"Kau terlalu cepat dewasa, Ace. Kau seharusnya main-main seperti anak normal. Bukan berkelahi dengan bajak laut."
"Dunia tidak kasih pilihan, jii-chan. Kalau aku tidak kuat, kami semua akan mati atau dijual ke pasar budak hari ini."
Aku mencoba duduk—meski tubuh protes keras. Menatap Garp langsung ke mata.
"Aku tahu kau khawatir. Aku tahu kau mau aku jadi Marine dan hidup aman. Tapi itu bukan jalan yang kupilih. Aku akan jadi bajak laut. Bajak laut yang bebas. Dan tidak ada yang bisa hentikan aku."
Deklarasi berani dari bocah tiga tahun.
Garp menatapku lama. Sangat lama. Lalu tiba-tiba—
Dia tertawa. Tawa keras khasnya.
"GWAHAHAHA! Kau benar-benar mirip orang itu! Keras kepala! Idealis! Dan bodoh!" dia menepuk kepalaku—agak keras tapi penuh kasih sayang. "Baiklah! Kalau kau mau jadi bajak laut, jadilah! Tapi jangan jadi bajak laut lemah! Jadi yang terkuat! Buat kakekmu ini bangga bahkan sambil menangkapmu nanti!"
Kontradiksi total. Tapi itu khas Garp.
"Tapi—" nadanya berubah serius lagi. "Kau harus lebih kuat lagi. Jauh lebih kuat. Serangan tadi—yang kau sebut Hiken itu—bagus. Tapi kau pingsan setelahnya. Itu kelemahan fatal. Musuh kuat bisa bunuh kau saat kau tidak sadarkan diri."
Dia benar. Itu kelemahanku sekarang—serangan kuat tapi menguras energi total.
"Mulai besok, kakek akan latih kau. Hanya tiga hari—karena kakek harus kembali ke markas Marine. Tapi tiga hari itu akan jadi neraka terburuk dalam hidupmu."
Aku menelan ludah. Latihan dari Yamamoto sudah brutal. Latihan dari Garp pasti lebih mengerikan lagi.
Tapi ini kesempatan langka. Dilatih langsung oleh pahlawan Marine yang pernah hadapi Raja Bajak Laut.
"Aku siap."
"Bagus! Sekarang tidur! Besok pagi kita mulai jam tiga pagi!"
"JAM TIGA?!"
"Ya! Semakin cepat semakin bagus! GWAHAHA!" dia berdiri dan berjalan keluar. "Oh ya, Sabo juga akan kulatih. Bocah itu punya bakat bagus."
Pintu tertutup. Aku kembali berbaring dengan perasaan campur aduk—excited, takut, dan sedikit menyesal sudah bilang siap terlalu cepat.
Tapi tidak ada jalan mundur sekarang.
Jam tiga pagi berikutnya, Garp membangunkan kami dengan cara paling brutal—menuang air es ke kepala.
"BANGUN! LATIHAN DIMULAI!"
Aku dan Sabo melompat dari kasur dengan teriak kesetanan—dingin sekali!
"Ganti baju dan keluar dalam dua menit! Kalau terlambat, tidak ada makan seharian!"
Kami ganti baju dengan kecepatan rekor dunia.
Di luar, Garp sudah berdiri dengan senyum lebar dan... sarung tinju besi raksasa?!
"Latihan pertama sederhana. Kalian harus hindari pukulanku selama satu jam. Kalau kena—yah, semoga tulang kalian kuat."
"SATU JAM?!" Sabo berteriak horor.
"Ya. Mulai sekarang—SERANG!"
Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada aba-aba. Langsung serang!
Tinjunya datang seperti peluru meriam. Aku dan Sabo melompat ke arah berlawanan—tanah tempat kami berdiri meledak jadi kawah kecil.
"Bagus reflex! Tapi terlalu lambat! LAGI!"
BOOM! BOOM! BOOM!
Setiap pukulannya menghancurkan tanah. Setiap kick-nya menumbangkan pohon. Ini bukan latihan—ini percobaan pembunuhan!
"Gunakan Observation Haki kalian! Prediksi gerakan! Jangan cuma react!"
Aku fokus. Observation Haki aktif maksimal. Rasakan—ada presence bergerak dari kiri!
Aku dodge ke kanan—tinju Garp melewati dengan jarak sejengkal.
"Lebih baik! Tapi masih kurang!"
Dia mempercepat serangan. Sekarang bukan lagi pukulan—tapi hujan pukulan!
Aku dan Sabo bergerak seperti kesetanan—dodge, roll, lompat, apapun untuk hindari terkena. Setiap gerakan adalah pilihan antara hidup dan mati—oke mungkin tidak mati tapi pasti patah tulang beberapa.
Lima belas menit pertama masih bisa bertahan. Tapi setelah itu—
WHAM!
Aku terlambat dodge. Tinju Garp mengenai bahu kiri. Meski dia sudah kurangi kekuatan, tetap saja aku terlempar lima meter dan berguling di tanah.
"ACE!" Sabo terdistraksi sebentar—
WHAM!
Dia juga kena—terlempar ke arah berlawanan.
"JANGAN TERDISTRAKSI! Di pertempuran sungguhan, terdistraksi sebentar artinya mati!"
Kami berdiri lagi—tubuh sakit semua tapi tidak boleh menyerah.
Latihan brutal berlanjut. Setiap kena pukulan, kami belajar. Setiap hampir kena, kami jadi lebih cepat.
Satu jam kemudian—yang terasa seperti sepuluh jam—Garp akhirnya berhenti.
Kami kolaps total. Tidak bisa bergerak sama sekali.
"Lumayan. Kalian kena pukulan total dua puluh lima kali. Besok target maksimal sepuluh kali. Lusa maksimal lima kali."
Dua puluh lima pukulan dari Garp—dan kami masih hidup. Itu pencapaian tersendiri.
"Istirahat sepuluh menit. Lalu latihan berikutnya."
"Masih ada lagi?!" kami berteriak bersamaan.
"Tentu! Ini baru pemanasan! Gwahaha!"
Ya Tuhan. Kami akan mati dalam tiga hari ini.
Tapi kalau bertahan... kami akan jadi jauh lebih kuat.
Dan itu yang penting.
Latihan kedua adalah latihan kekuatan—angkat batu raksasa, push up dengan Garp berdiri di punggung kami, dan berbagai siksaan lain yang menantang hukum fisika dan kesehatan anak-anak.
Latihan ketiga adalah Haki intensif—Garp mengajarkan cara mempercepat recovery energi spiritual dan cara menggunakan Haki lebih efisien.
"Haki bukan soal jumlah energi. Haki soal kontrol. Kau bisa punya energi segudang tapi kalau kontrol jelek, tetap tidak berguna. Sebaliknya, energi sedikit tapi kontrol sempurna bisa kalahkan musuh jauh lebih kuat."
Pelajaran berharga.
Latihan keempat adalah bertarung melawan Yamamoto dan Dadan sekaligus—dengan Garp sebagai wasit yang kadang ikut serang kalau kami terlalu santai.
Hari pertama berakhir dengan tubuh hancur total. Aku dan Sabo tidak bisa bergerak—harus digendong ke gubuk dan disuapi makan karena tangan tidak bisa angkat sendok.
Memalukan. Tapi itulah realita.
"Besok lebih berat lagi! Jadi istirahat yang cukup!" Garp berkata sambil tertawa—senang melihat kami menderita.
Sadis.
Tapi efektif.
Karena bahkan setelah satu hari saja, aku bisa merasakan perbedaan—tubuh lebih kuat, Haki lebih stabil, kontrol energi lebih baik.
Dua hari lagi.
Kalau bertahan, aku akan jadi jauh lebih kuat.
Kalau tidak bertahan... yah, setidaknya aku mati karena latihan, bukan karena musuh.
Itu hiburan kecil.
Api takdir berkobar lebih terang.
Ditempa oleh pahlawan Marine sendiri.
Ini ironi tersendiri.
Tapi aku tidak peduli.
Kekuatan adalah kekuatan.
Tidak peduli darimana datangnya.
BERSAMBUNG