Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 1.
Arunika berdiri di depan meja makan panjang itu dengan tenang. Gaun rumahnya sederhana, rambut cokelat gelapnya tergerai rapi hingga bahu. Wajahnya tanpa riasan berlebihan, hanya sentuhan tipis yang membuatnya tampak bersih dan profesional.
Namun di ruangan megah itu, ia tetap terlihat seperti seseorang yang tak penting.
Mertuanya, Mirna Wijaya, meletakkan sendok dengan bunyi cukup keras.
“Masakan ini kurang asin,” ucapnya dingin.
Arunika mengangguk pelan.
“Baik, Mah. Nanti saya perbaiki.”
Di ujung meja, suaminya Simon Wijaya, bahkan tak mengangkat wajah dari layar ponselnya. “Ma, nanti malam ada jamuan dengan klien Singapura. Arunika nggak perlu ikut.”
Mirna tersenyum tipis.
“Memang sebaiknya begitu, istri pengusaha besar seharusnya punya wawasan... bukan cuma pintar di dapur.”
Kalimat itu meluncur halus, tetapi mengandung luka. Namun Arunika tetap berdiri tegak, ia menatap suaminya. “Kalau memang tidak diperlukan, aku tidak akan datang.”
Simon akhirnya menoleh pada Arunika, tatapannya datar. “Kamu nggak keberatan?”
“Tidak,” jawab Arunika tenang.
Dan memang benar, ia... tidak keberatan. Karena malam ini, ia sudah memiliki agenda yang jauh lebih penting daripada sekadar menghadiri jamuan makan yang penuh basa-basi.
Satu jam kemudian, Arunika memasuki ruangannya di lantai dua rumah besar itu. Begitu pintu tertutup, ekspresinya berubah.
Tenang, tegas dan terlihat fokus. Ia membuka lemari tersembunyi di balik panel kayu, di dalamnya tersimpan tas kulit hitam dan jas laboratorium putih yang terlipat rapi.
Nama bordir di dada kiri itu tertulis, Dr. Arunika Maheswari, Sp.BTKV—Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular.
Ia mengenakan jas itu dengan gerakan terlatih.
Ponselnya bergetar.
“Ya?” jawabnya singkat.
Suara di seberang terdengar cemas namun penuh hormat. “Dokter, pasien aneurisma sudah tiba. Tekanan darah tidak stabil, kami menunggu Anda.”
“Aku sampai dalam dua puluh menit, siapkan ruang operasi. Jangan mulai tanpa saya!”
Nada suaranya berubah sepenuhnya, tidak lembut dan tidak ada keraguan. Ia mematikan panggilan, meraih tasnya, lalu berjalan keluar melalui pintu samping rumah yang jarang digunakan.
Tak ada yang tahu, karena tak ada yang bertanya. Sebab di rumah itu, keberadaannya memang tak pernah dianggap penting.
Tak berapa lama di sisi lain kota, lampu ruang operasi Rumah Sakit Cakrawala menyala terang. Tim dokter berdiri siap. Begitu Arunika masuk, seluruh ruangan terasa berbeda.
“Laporan singkat,” kata wanita itu sambil mengenakan sarung tangan steril.
“Perempuan, 42 tahun. Aneurisma pecah, pendarahan masif.”
Arunika menatap monitor beberapa detik.
“Clamp di sini,” ujarnya menunjuk cepat. “Kita kontrol aliran dulu, jangan panik.”
Seorang dokter muda menelan ludah. “Dokter… risiko kematian—”
“Fokus pada prosedur, bukan statistik,” potong Arunika tenang.
Pisau bedah berpindah ke tangannya, gerakannya presisi. Tidak tergesa-gesa, bahkan tangannya tidak gemetar. Waktu berjalan hampir tiga jam. Ketika akhirnya Arunika melepas sarung tangan, suara monitor berdetak stabil.
Pasien selamat.
Seluruh tim mengembuskan napas lega.
“Terima kasih, Dokter Arunika,” ucap Kepala Anestesi dengan hormat.
Arunika hanya mengangguk kecil. “Pastikan observasi ketat dua puluh empat jam.”
Ia berjalan keluar tanpa mencari pujian. Baginya, ini bukan kehebatan. Ini... tanggung jawab.
Saat ia kembali ke rumah menjelang tengah malam, ruang tamu masih menyala. Simon duduk di sofa dengan jas yang belum dilepas.
“Kamu dari mana?” tanya pria itu singkat.
“Keluar sebentar.”
“Sebentar sampai hampir tengah malam?”
Arunika menatap suaminya tanpa ekspresi. “Ada urusan.”
Simon menyunggingkan senyum miring yang meremehkan. “Urusan apa memangnya? Kamu bahkan tidak bekerja, kau hanya... ibu rumah tangga biasa.”
Hening.
Arunika bisa saja menjawab, ia bisa saja mengatakan bahwa malam ini ia menyelamatkan satu nyawa. Bahwa tangannya melakukan operasi yang bahkan tak semua dokter berani ambil. Tapi ia memilih diam, karena pengakuan yang dipaksakan tak pernah bernilai.
“Aku lelah, kalau tidak ada yang penting... aku istirahat dulu.” Ucap Arunika pelan.
Simon berdiri. “Kamu tahu? Kadang aku berharap punya istri yang bisa kubanggakan di depan rekan bisnis.”
Langkah Arunika terhenti, namun ia tidak berbalik. “Semoga suatu hari nanti kamu mendapatkannya,” jawabnya lembut.
Ia berjalan naik ke lantai dua tanpa menyadari bahwa kalimat itu akan menjadi kenyataan—dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.
Malam itu... di kamar yang sama tetapi terasa begitu jauh, Arunika berdiri di depan cermin.
Ia menatap bayangannya sendiri, tidak perlu pengakuan untuk mengetahui nilai dirinya. Namun suatu hari nanti… dunia yang meremehkannya akan berdiri dan menyebut namanya dengan hormat.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️