NovelToon NovelToon
Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Genius / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.

Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.

Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.

Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 1.

Arunika berdiri di depan meja makan panjang itu dengan tenang. Gaun rumahnya sederhana, rambut cokelat gelapnya tergerai rapi hingga bahu. Wajahnya tanpa riasan berlebihan, hanya sentuhan tipis yang membuatnya tampak bersih dan profesional.

Namun di ruangan megah itu, ia tetap terlihat seperti seseorang yang tak penting.

Mertuanya, Mirna Wijaya, meletakkan sendok dengan bunyi cukup keras.

“Masakan ini kurang asin,” ucapnya dingin.

Arunika mengangguk pelan.

“Baik, Mah. Nanti saya perbaiki.”

Di ujung meja, suaminya Simon Wijaya, bahkan tak mengangkat wajah dari layar ponselnya. “Ma, nanti malam ada jamuan dengan klien Singapura. Arunika nggak perlu ikut.”

Mirna tersenyum tipis.

“Memang sebaiknya begitu, istri pengusaha besar seharusnya punya wawasan... bukan cuma pintar di dapur.”

Kalimat itu meluncur halus, tetapi mengandung luka. Namun Arunika tetap berdiri tegak, ia menatap suaminya. “Kalau memang tidak diperlukan, aku tidak akan datang.”

Simon akhirnya menoleh pada Arunika, tatapannya datar. “Kamu nggak keberatan?”

“Tidak,” jawab Arunika tenang.

Dan memang benar, ia... tidak keberatan. Karena malam ini, ia sudah memiliki agenda yang jauh lebih penting daripada sekadar menghadiri jamuan makan yang penuh basa-basi.

Satu jam kemudian, Arunika memasuki ruangannya di lantai dua rumah besar itu. Begitu pintu tertutup, ekspresinya berubah.

Tenang, tegas dan terlihat fokus. Ia membuka lemari tersembunyi di balik panel kayu, di dalamnya tersimpan tas kulit hitam dan jas laboratorium putih yang terlipat rapi.

Nama bordir di dada kiri itu tertulis, Dr. Arunika Maheswari, Sp.BTKV—Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular.

Ia mengenakan jas itu dengan gerakan terlatih.

Ponselnya bergetar.

“Ya?” jawabnya singkat.

Suara di seberang terdengar cemas namun penuh hormat. “Dokter, pasien aneurisma sudah tiba. Tekanan darah tidak stabil, kami menunggu Anda.”

“Aku sampai dalam dua puluh menit, siapkan ruang operasi. Jangan mulai tanpa saya!”

Nada suaranya berubah sepenuhnya, tidak lembut dan tidak ada keraguan. Ia mematikan panggilan, meraih tasnya, lalu berjalan keluar melalui pintu samping rumah yang jarang digunakan.

Tak ada yang tahu, karena tak ada yang bertanya. Sebab di rumah itu, keberadaannya memang tak pernah dianggap penting.

Tak berapa lama di sisi lain kota, lampu ruang operasi Rumah Sakit Cakrawala menyala terang. Tim dokter berdiri siap. Begitu Arunika masuk, seluruh ruangan terasa berbeda.

“Laporan singkat,” kata wanita itu sambil mengenakan sarung tangan steril.

“Perempuan, 42 tahun. Aneurisma pecah, pendarahan masif.”

Arunika menatap monitor beberapa detik.

“Clamp di sini,” ujarnya menunjuk cepat. “Kita kontrol aliran dulu, jangan panik.”

Seorang dokter muda menelan ludah. “Dokter… risiko kematian—”

“Fokus pada prosedur, bukan statistik,” potong Arunika tenang.

Pisau bedah berpindah ke tangannya, gerakannya presisi. Tidak tergesa-gesa, bahkan tangannya tidak gemetar. Waktu berjalan hampir tiga jam. Ketika akhirnya Arunika melepas sarung tangan, suara monitor berdetak stabil.

Pasien selamat.

Seluruh tim mengembuskan napas lega.

“Terima kasih, Dokter Arunika,” ucap Kepala Anestesi dengan hormat.

Arunika hanya mengangguk kecil. “Pastikan observasi ketat dua puluh empat jam.”

Ia berjalan keluar tanpa mencari pujian. Baginya, ini bukan kehebatan. Ini... tanggung jawab.

Saat ia kembali ke rumah menjelang tengah malam, ruang tamu masih menyala. Simon duduk di sofa dengan jas yang belum dilepas.

“Kamu dari mana?” tanya pria itu singkat.

“Keluar sebentar.”

“Sebentar sampai hampir tengah malam?”

Arunika menatap suaminya tanpa ekspresi. “Ada urusan.”

Simon menyunggingkan senyum miring yang meremehkan. “Urusan apa memangnya? Kamu bahkan tidak bekerja, kau hanya... ibu rumah tangga biasa.”

Hening.

Arunika bisa saja menjawab, ia bisa saja mengatakan bahwa malam ini ia menyelamatkan satu nyawa. Bahwa tangannya melakukan operasi yang bahkan tak semua dokter berani ambil. Tapi ia memilih diam, karena pengakuan yang dipaksakan tak pernah bernilai.

“Aku lelah, kalau tidak ada yang penting... aku istirahat dulu.” Ucap Arunika pelan.

Simon berdiri. “Kamu tahu? Kadang aku berharap punya istri yang bisa kubanggakan di depan rekan bisnis.”

Langkah Arunika terhenti, namun ia tidak berbalik. “Semoga suatu hari nanti kamu mendapatkannya,” jawabnya lembut.

Ia berjalan naik ke lantai dua tanpa menyadari bahwa kalimat itu akan menjadi kenyataan—dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.

Malam itu... di kamar yang sama tetapi terasa begitu jauh, Arunika berdiri di depan cermin.

Ia menatap bayangannya sendiri, tidak perlu pengakuan untuk mengetahui nilai dirinya. Namun suatu hari nanti… dunia yang meremehkannya akan berdiri dan menyebut namanya dengan hormat.

1
Mundri Astuti
masa ga bisa bedain si arunika, mana yg tulus dan mana yg modus, kan kamu pernah sama Simon yg modus itu
Aditya hp/ bunda Lia: bener ...
total 1 replies
Tiara Bella
wow ternyata Kenzo jg menyadar klu selama ini angkasa memburu dia
merry
knp gk ksh tau knp gk mau rujuk sm Simon selain di anggp tek berguna blg ajj Simon selingkh dgn doktr riana 🤣🤣🤣🤣
Titien Prawiro
Diperlakukan Arunika.
Titien Prawiro
Malunya diseluruh dunia diperlukan Arunika, dulu dihina gk punya pekerjaan
Aditya hp/ bunda Lia
si Mirna dasar gak tau malu ...
Aditya hp/ bunda Lia
jangan terlalu pede Arunika ntar kalo ternyata cinta itu datang gimana?
Tiara Bella
bagus Arunika Simon sm ibunya mending di gituin biar kapok....
Rere💫: Wkwkwk yesss 🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak yakin kali ini kau yang menang Arunika yang selalu waspada ,dan jangan lengah terus selidiki,pasti bisa.Kejahatan akan kalah oleh kebaikan
sunaryati jarum
Nanti kau akan berakhir ditangan orang,- orang yang orang tua atau kerabatnya kau bunuh Kenzo,jangan jumawa
Muft Smoker
Masih byk Teka teki siih ,,
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tandang aling aling langsung usir
vj'z tri
lah dia dalang nya Mpok /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Tiara Bella
ternyata angkasa udh tw tentang Kenzo ini ya plot twist bngt...Vero sadar dong km cm sodara angkat....
Tiara Bella
oh ternyata begono ....
merry
pdhll orgtua vero msh hdp cm di twnn sm Kenzo
Muft Smoker
duuh udh tbc aj niih kak ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️
Rere💫: okeoke
total 1 replies
sunaryati jarum
Kenzo mungkin akan hancur oleh obat buatannya sendiri,dan Angkasa jika kau berjanji akan melindungi Arunika,itu benar.Untuk jangan menyalahkan Arunika,itu salah kamu sendiri yang abai padanya selama ini
Rere💫: Simon kak yg abai, Angkasa itu bukan suaminya yg abai🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Secara tidak langsung ibu Angkasa yang diracun sebagai uji coba obat penawar racun berbahaya buatan Arunika sendiri.Membuatmu makin dikenal.Kau saja bisa lepas dari niat jahat pemberi racun dan kecelakaan ,semoga selanjutnya selalu selamat
sunaryati jarum
Semoga semua teka- teki yang menghantui Arunika segera terkuak dan Arunika selalu selamat dari semua tindak kejahatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!