NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Tujuan Sebenarnya

Nyi Inggit dan Ndari mematung menatap kalajengking hitam yang meronta di dalam wadah gerabah itu, darah di wajah mereka seolah terhisap habis.

"Ndara Ayu... siapa yang sekejam itu menginginkan kematian jenengan?" bisik Ndari gemetar, lututnya lemas seketika.

Sawitri tak menjawab. Otak analitisnya berputar cepat, merangkai setiap informasi yang ia dapatkan sejak kemarin sore.

Ratih Kumala datang membuat keributan di depan, mencuri harta dan perhatian.

Namun, Ratih terlalu ceroboh untuk menyadari bahwa kedatangannya menjadi pengalih perhatian bagi seseorang yang jauh lebih profesional untuk menyusup masuk lewat tembok belakang.

"Seseorang yang sangat memahami letak kamarku, tahu kebiasaan tidurku, dan memiliki akses terhadap kalajengking hutan yang mematikan," batin Sawitri.

Matanya beralih menatap Nyi Inggit. "Nyi, kulo butuh kejujuranmu."

Nyi Inggit tersentak, wajah tuanya memucat. "Gusti, Ndara! Kulo mboten mungkin—"

"Bukan kau," potong Sawitri cepat, suaranya melembut sedikit untuk meredakan kepanikan pengasuhnya itu.

"Tapi kau tahu siapa yang memelihara kalajengking di kediaman Danurejo, bukan?"

Nyi Inggit menelan ludah dengan susah payah. Matanya berkaca-kaca menatap Sawitri.

"Leres, Ndara," bisiknya parau.

"Nyai Selir Sukmawati... ibunda dari Ndara Ratih. Beliau terkenal sering meracik jamu dari bisa serangga untuk mengobati penyakit kulit..."

Sawitri tersenyum sinis. Potongan teka-teki itu terpasang dengan sempurna.

Nyai Selir Sukmawati, wanita ambisius yang telah menyingkirkan ibu kandung Sawitri, kini merasa posisinya terancam dengan kabar perjodohan Sawitri dan Raden Mas Dhaniswara dari Kadipaten Demak.

"Dia mboten ingin putri buangannya mendapatkan gelar kebangsawanan dari Demak," gumam Sawitri, menganalisis motif pelaku. "Atau mungkin... dia ingin mencuri posisi itu untuk putrinya sendiri."

"Tapi Ndara, kalau Raden Mas Dhaniswara terkenal kejam, kenapa Nyai Selir Sukmawati menginginkan perjodohan itu untuk Ratih?" tanya Ndari bingung.

"Kekuasaan mboten pernah peduli pada kekejaman, Ndari," sahut Sawitri dingin.

"Bagi orang serakah, gelar istri Adipati Demak jauh lebih berharga daripada nyawa anak perempuannya sendiri."

Ketegangan di pesanggrahan reot itu belum sepenuhnya reda saat terdengar derap langkah kaki kuda dan suara roda pedati yang mendekat dari arah jalan desa.

"Gusti! Siapa lagi yang datang?" keluh Nyi Inggit panik, segera bangkit dan merapikan jariknya.

Sawitri melangkah keluar dari kamar, auranya kembali tenang namun mematikan.

Di depan gerbang pesanggrahan, berhentilah sebuah pedati mewah yang ditarik oleh dua ekor kuda jantan gagah.

Seorang pria paruh baya dengan pakaian khas abdi dalem tingkat tinggi turun dari pedati itu. Ia melangkah angkuh memasuki pelataran pesanggrahan.

"Kulo Ki Karta, utusan resmi dari Kanjeng Tumenggung Danurejo," serunya dengan suara lantang, sengaja dibuat-buat agar terdengar berwibawa.

"Di mana Raden Ajeng Sawitri?"

Sawitri melangkah keluar ke teras pendopo, berdiri tegak dengan postur paripurna, menatap Ki Karta dengan sorot mata sedingin malaikat maut.

"Kulo di sini. Dan di pesanggrahan ini, kulo mboten mengizinkan tamu berteriak layaknya pedagang pasar," ucap Sawitri tajam, memotong aura keangkuhan pria tua itu seketika.

Ki Karta tersentak, nyalinya menciut melihat tatapan putri yang selama ini ia anggap tak lebih dari sampah buangan.

"N-ngapunten, Ndara," Ki Karta menunduk hormat, mengembalikan tata krama keratonnya.

"Kulo diutus Romo Ndara, Kanjeng Tumenggung Danurejo, untuk menjemput jenengan kembali ke kediaman utama."

"Menjemput kulo?" Sawitri menaikkan sebelah alisnya, nada suaranya menyiratkan kebosanan yang mutlak.

"Setelah sepuluh tahun membiarkan kulo membusuk di sini, tiba-tiba Tumenggung ingat bahwa dia masih punya putri sulung?"

"Kanjeng Tumenggung mboten membuang Ndara," bela Ki Karta terbata-bata.

"Beliau... beliau hanya menempatkan Ndara di sini demi kesehatan Ndara."

"Berhentilah membuang waktu kulo dengan narasi palsu," potong Sawitri dingin.

"Apa tujuan sebenarnya Tumenggung menjemput kulo hari ini?"

Ki Karta menelan ludah, menatap sekeliling dengan cemas sebelum menjawab dengan suara lebih pelan.

"Ndara... Ndara telah dijodohkan dengan Raden Mas Dhaniswara dari Kadipaten Demak. Pernikahan akan dilangsungkan bulan depan. Kanjeng Tumenggung memerintahkan agar Ndara segera dipersiapkan."

Nyi Inggit dan Ndari yang berdiri di ambang pintu saling berpandangan dengan wajah pucat pasi.

Sawitri tidak bergeming.

Ia sudah menduga hal ini sejak Cakrawirya membisikkan informasi itu di pasar.

"Pernikahan, ya?" Sawitri tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.

"Baik. Kulo akan ikut denganmu."

"N-Ndara Ayu! Jenengan mboten boleh pergi!" sergah Ndari panik, melupakan tata krama.

"Mereka akan membunuh Ndara!"

Sawitri mengangkat tangannya, menghentikan histeria abdi dalemnya itu.

"Jika kulo mboten pergi, mereka akan terus mengirimkan kalajengking dan racun ke pesanggrahan ini hingga kalian berdua ikut mati bersamaku," ucap Sawitri rasional, menatap lurus ke arah Ndari.

"Dan kulo lebih suka menghadapi parasit itu secara langsung daripada membiarkan mereka bersembunyi di balik kegelapan."

Sawitri menoleh ke arah Ki Karta yang tampak lega.

"Tapi kulo punya syarat."

"S-syarat nopo, Ndara?" tanya Ki Karta hati-hati.

"Kulo akan membawa pengasuh dan batur kulo. Jika mboten, sampaikan pada Tumenggung bahwa kulo lebih baik mati gantung diri di pohon beringin ini daripada harus dipersiapkan untuk pernikahan."

Ki Karta menimbang-nimbang sesaat, lalu mengangguk patuh.

"B-baik, Ndara. Kulo akan menyampaikannya pada Kanjeng Tumenggung."

"Bagus. Beri kami waktu setengah jam untuk berkemas."

Sawitri membalikkan badannya, melangkah kembali ke dalam pesanggrahan dengan langkah mantap.

Setengah jam kemudian, Sawitri, Nyi Inggit, dan Ndari telah siap.

Barang bawaan mereka tak banyak, hanya beberapa potong pakaian dan tentu saja, kotak peralatan bedah Sawitri yang tak pernah lepas dari jangkauannya.

Saat mereka melangkah keluar dari gerbang, sebuah kereta kuda tertutup tiba-tiba muncul dari arah tikungan, menghalangi jalan pedati milik Ki Karta.

Jendela kereta itu terbuka, menampilkan wajah tampan Raden Cakrawirya yang tersenyum penuh arti.

"Mau ke mana, Ndara Tabib? Mboten mengundang kulo ke pesta perpisahan?" sapa Cakrawirya santai, menopang dagunya di bingkai jendela.

Sawitri menatap pemuda itu dengan ekspresi datar yang tak tergoyahkan.

"Kulo akan kembali ke kediaman utama Tumenggung Danurejo. Pesta pernikahan kulo akan segera digelar," jawab Sawitri dingin.

Cakrawirya terdiam sejenak, senyum di bibirnya memudar perlahan.

Matanya mengunci pandangan Sawitri, mencari keraguan atau ketakutan di sana, namun hanya menemukan tekad yang membeku.

"Pernikahan dengan pangeran gila dari Demak itu?" Cakrawirya bertanya dengan nada jauh lebih serius dari biasanya.

"Leres."

Mata Cakrawirya menyala dengan intensitas yang membingungkan. Ada rasa kagum, geli, dan entah mengapa... sedikit rasa tak rela yang melintas di dadanya.

"Kulo akan menagih janji jenengan untuk membedah otak kulo nanti, Ndara Tabib," ucap Cakrawirya dengan suara bariton yang dalam.

"Jangan mati sebelum kulo sempat menyerahkan kepala kulo pada jenengan."

"Tutup mulutmu dan minggir dari jalan kulo, Raden," desis Sawitri kesal.

Cakrawirya tertawa pelan, lalu memerintahkan kusirnya untuk memundurkan kereta kudanya.

"Sampai jumpa di istana keraton, Raden Ajeng Sawitri," bisik Cakrawirya saat pedati Sawitri melintas di sampingnya.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!