Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Adalah Kau
Mereka terus mengejar Iago menyusuri gang gelap yang sempit, langkah kaki mereka menggelegar dan memantul di antara dinding batu tinggi yang basah oleh embun dan lumut.
Iago berbelok tajam ke kanan, masuk ke sebuah bukaan, dan tiba-tiba terjebak dalam lautan manusia yang bergerak.
Lampu minyak berwarna kuning oranye dan obor yang menari-nari menyala di sepanjang jalan ramai yang dipenuhi kios, menerangi wajah-wajah yang sibuk berbelanja, berteriak, dan menawar di bawah langit malam yang mulai berbintang.
Aroma rempah-rempah eksotis, daging panggang yang berminyak, dan minyak goreng yang panas memenuhi udara dengan aroma yang tebal, hangat, dan menjanjikan kekenyangan.
"Sial! Ke mana dia?" geram salah satu pengejar.
Keempat pria itu berhenti, dada mereka naik turun dengan cepat, bayangan mereka panjang dan terdistorsi di bawah cahaya obor. Yang paling besar, berambut cokelat kusam dengan kumis hitam tebal yang melintang, matanya menyapu kerumunan dengan geram dan frustrasi. "Sial," dengusnya, suaranya berat dan serak. “Aku Eldric Malrik. Dan aku bersumpah akan membawa pria itu kembali!”
"Benar, Bos!" sahut yang lain, suaranya serak karena kelelahan. "Anda pasti bisa!"
“Kursi pemimpin yang kosong memang pantas untukmu!”
Beberapa meter di belakang mereka, tersembunyi sebagian oleh tiang kayu penyangga, di teras kedai yang meja-mejanya kasar menghadap jalan, seorang pemuda duduk membelakangi mereka, punggungnya tampak rileks.
"Kopi hitam Anda, Tuan." Seorang pelayan muda dengan celemek kotor meletakkan cangkir tanah liat di atas meja kayu.
"Terima kasih," jawab pemuda itu. Meja-meja lain yang penuh dengan suara tawa meledak dan percakapan yang berseliweran.
"Besok," geram Eldric, suaranya masih terdengar jelas dan keras di tengah keramaian. “Kita kembali ke Kuda Hitam! Dia pasti akan muncul lagi!”
“Siap, Bos!”
Keempat pria itu lalu pergi, menyisakan bau keringat dan ancaman di udara. Eldric berjalan di depan dengan langkah berat dan penuh amarah, anak buahnya mengikuti. Perlahan, sangat perlahan, pemuda di meja kedai menoleh—cahaya lampu minyak dari dalam kedai menyinari profilnya yang tegas, mengukir senyum tipis. Itu Iago.
"Jadi mereka akan kembali ke sana," gumamnya sebelum mengangkat tangan kanannya dengan gerakan halus.
Seorang pelayan lain, yang lebih tua, segera mendekat dengan langkah cepat. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
"Apa menu termurah di sini?" tanya Iago.
Pelayan itu menggaruk dagunya yang berjenggot. “Hmm... Sup Rakyat Jelata, Tuan. Kuahnya kental, isian daging rusa potong kasar, kentang, wortel, dan sedikit barley. Tujuh Ravenn saja.”
Sup Rakyat Jelata? Namanya sangat menusuk, pikirnya.
"Satu porsi," kata Iago.
Tidak lama kemudian, sebuah mangkuk tanah liat berat diletakkan di depannya. Supnya hangat, uapnya mengebul naik membawa aroma rempah sederhana. Rasanya sebenarnya cukup enak—kuahnya gurih dari kaldu tulang, daging rusanya lembut meski berserat, sayurannya empuk. Iago menghabiskannya dengan lambat, metodis, setiap suapan dihargai.
Setelah membayar dengan koin perunggu yang berdentang tumpul, ia berjalan perlahan ke sudut gelap di dekat serangkaian tong sampah yang berbau masam. Tangannya meraih sesuatu dari balik tumpukan kayu bekas yang lembap: mantel abu-abu lusuhnya, yang sengaja ia sembunyikan di sana tadi saat ia melesat masuk ke kerumunan. Sekarang ia membawanya, tidak dipakai, hanya digantungkan dengan santai di lengan.
Perjalanan kembali ke penginapan ia lakukan dengan langkah santai dan tidak tergesa-gesa. Tangga kayu tua penginapannya berderit keras di bawah berat langkahnya.
Begitu pintu kamar tipisnya tertutup dengan bunyi klik yang lemah, ia menghela napas panjang yang bergetar dan duduk di tepi tempat tidur yang berderit.
Fiuh... selamat. Napasnya terasa panas di tenggorokan. Uang sakuku semakin menipis. Tujuan awal datang ke kota besar ini nyaris terlupakan karena kekacauan hari ini. Sial…
Ia mengambil tas kainnya yang tipis dari lantai, mengeluarkan sabun batang kecil yang sudah menipis dan handuk kasar yang tipis, lalu turun kembali ke lantai bawah.
Seorang petugas dengan wajah lelah dan mata sayu mengangguk lesu saat Iago menyerahkan koin tembaga yang dingin. “Air panas masih butuh waktu, Tuan. Tunggu di belakang pedagang kain itu dulu. Mungkin sepuluh menit.”
Setelah menunggu dengan sabar di koridor yang berbau kapur dan lembap, akhirnya ia masuk ke kamar mandi kecil yang uap panasnya menggantung di udara. Air hangat yang mengalir dari pancaran kayu menyelimuti kulitnya, melelehkan ketegangan yang mengeras di pundak dan lehernya. Matanya terpejam, menikmati sensasi bersih yang mulai merambat.
Kenapa mereka mengejarku? Tidak masuk akal.
Sari apel di Kuda Hitam memang enak, manis dan asam yang seimbang. Sayang besok tempat itu akan dijaga.
Ia tenggelam lebih dalam dalam air yang mulai mendingin, mencoba mengusik, meraba-raba bayangan pikiran yang mulai bergerak gelisah di dasar benaknya yang gelap.
...****************...
Setelah mandi, kulitnya masih terasa hangat dan beruap, Iago baru saja hendak naik ke kamarnya ketika sebuah teriakan memecah kesunyian malam dari jalanan luar.
“ARGHHH... PENCURI SIALANN! TOLONG!!”
Suara wanita, tinggi, tajam, dan penuh kepanikan yang murni.
Beberapa penghuni penginapan berhamburan keluar dari kamar-kamar mereka, wajah-wajah penuh tanya, cemas, dan hasrat ingin tahu yang mendadak menyala. Bisikan berdesing, berbaur dengan suara langkah kaki yang tergopoh-gopoh.
“Itu Sang Bayangan lagi?!”
“Pasti!”
“Ayo kita bantu!”
“Di mana? Dari arah mana suaranya?”
Iago, yang sudah satu kaki di anak tangga, hampir terus berjalan naik. Instingnya yang lama berkata untuk menghindari kerumunan, untuk tetap tersembunyi. Tapi kemudian ia teringat pada tatapan biru tajam Putri Stella, pada kilatan pedang yang pernah mengarah ke lehernya, pada kecurigaan yang membara di matanya. Apa dia ada di luar sana sekarang? Sedang mengejar si pencuri legenda?
Rasa penasaran yang aneh, seperti tarikan benang tak terlihat, menariknya turun lagi.
Lobi penginapan yang sempit sudah sepi, diliputi keheningan yang tiba-tiba setelah keributan tadi. Hanya sang pemilik, seorang pria berambut kelabu dengan pipa tanah liat yang sudah menghitam di mulutnya, masih duduk di belakang meja resepsi yang penuh goresan. Asapnya yang tipis membentuk pola lambat dan berliku di udara yang diam.
"Ke mana semua orang?" tanya Iago, suaranya memecah kesunyian.
"Manusia dan rasa penasarannya," jawab pria tua itu, suaranya serak dan dalam. “Mereka seperti anak kucing yang mendengar suara gelas pecah. Semua lari mencari sumber teriakan. Kau ingin ikut, Nak?”
“Oh, nggak juga. Hanya butuh udara segar.”
Pemilik itu mengamatinya sejenak, mata sipitnya yang keriput berkedip perlahan. “Entah kau jujur atau tidak. Tapi... hati-hati di luar. Kabarnya pencuri itu, Sang Bayangan, bukan cuma mengambil barang. Pernah menumpahkan darah juga. Meski tidak sering.”
“Benarkah? Belum pernah dengar itu.”
“Kau tenang sekali. Tidak takut?”
Iago mengangkat bahu dengan gerakan santai. “Penasaran saja. Lagipula, siapa tahu teriakan tadi cuma orang yang sedang mimpi buruk.”
Pria tua itu terkekeh. “Kau menarik, Nak. Tidak seperti pendatang baru kebanyakan.”
Iago membalas dengan senyuman kecil yang tidak berarti sebelum melangkah keluar, menyelam ke dalam kegelapan malam yang lebih pekat.
Jalanan di depan penginapan sudah kosong; kerumunan tadi telah tersedot ke suatu titik di kejauhan, meninggalkan kesepian. Tidak ada tanda-tanda Stella atau rombongan penjaganya yang berseragam. Yang ada hanya kesunyian yang tiba-tiba terasa berat, dihantui gema teriakan yang sudah sirna.
Lalu, di tanah yang basah oleh embun, matanya yang terbiasa gelap menangkap sesuatu: noda hitam pekat yang mengkilat lemah di bawah cahaya bulan purnama yang pucat. Ia membungkuk, ujung jarinya yang dingin menyentuh cairan itu—masih lengket, masih memancarkan kehangatan samar, dan baunya tajam, metalik, tak salah lagi. Darah.
Jejak tetesan itu, merah tua di atas batu kelabu, mengular tak teratur, masuk ke sebuah gang sempit yang lebih gelap dan lebih sunyi daripada yang tadi ia lewati.
Cih... gang sempit lagi, batinnya.
Dengan hati-hati, ia mengikuti tetesan itu, yang semakin banyak, semakin pekat, membentuk pola yang semakin jelas di tanah, sampai akhirnya membawanya ke ujung jalan buntu yang dingin. Dan di sana, di tempat yang terasa seperti mulut kuburan, nafasnya tersangkut di tenggorokan.
Sosok berjubah cokelat berdiri membelakangi, kakinya berpijak di atas tumpukan tubuh yang tak bergerak, pucat, dan diam. Wajah-wajah itu ia kenal—beberapa dari penghuni penginapan tadi, yang wajahnya penuh semangat ingin menangkap pencuri. Cahaya bulan yang dingin menyorot ujung jubah yang basah oleh kegelapan yang lebih dari sekadar malam.
Sosok itu berbalik perlahan. Suara yang keluar dari balik tudung adalah suara wanita, halus dan bergema di ruang sempit yang mematikan suara itu. “Senang akhirnya bertemu Anda, Tuan. Sudah terlalu lama.”
"Apa..." kata Iago, suaranya lebih berupa hembusan nafas yang tertahan.
Wanita misterius itu melangkah mendekat, langkahnya ringan dan senyap. Tangannya yang pucat dan ramping menarik tudungnya ke belakang. Rambut hitam pekatnya yang lurus tergerai, mata merah delimanya yang menyala memantulkan cahaya bulan dengan kilatan tajam. Senyum tipisnya terukir di bibirnya yang pucat. “Apa Anda masih ingat saya, Tuan?”
Iago tak menjawab. Tangannya naik secara refleks, mencengkeram sisi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit. Sebuah tekanan dahsyat, tiba-tiba dan brutal, mendorong dari dalam tengkoraknya, seperti lapisan es tebal yang retak dari dalam dengan suara yang hanya ia dengar.
Napasnya menjadi pendek, tersendat. Penglihatannya berbayang—wajah wanita itu terpecah, berganda, bercampur dengan kilasan-kilasan bentuk lain yang lebih tua: dinding batu yang berbeda dengan ukiran aneh, cahaya obor yang goyah menari di angin, bau dupa yang menusuk dan tanah basah serta logam.
“Tuan? Ada apa denganmu?”
Suaranya sendiri seperti berasal dari jauh, dari ujung terowongan yang panjang. Telinganya mendengar bukan hanya suara gadis itu yang jelas, tetapi juga jeritan-jeritan yang teredam dan terdistorsi, tawa cekikikan yang mengiris dari segala arah, dan bisikan-bisikan tanpa sumber yang bergumam dalam bahasa yang terlupakan, berputar-putar di kepalanya.
“Tuan?”
“ARGGHHHH...!!”
Dunia di sekelilingnya runtuh menjadi pecahan cahaya dan suara yang tak terbaca. Ia berdiri bukan di gang sempit yang kotor, tapi di sebuah ruang besar dengan langit-langit tinggi, lantai marmer hitamnya yang licin oleh cairan merah yang menggenang. Sekelilingnya, bayangan-bayangan manusia bergerak cepat dan samar, berteriak dengan mulut terbuka lebar namun tak bersuara, memohon dengan tangan terulur. Bau logam besi dan daging busuk yang manis memenuhi setiap tarikan nafasnya yang tersengal.
Lalu muncul mata-mata. Puluhan, ratusan pasang, mengambang di kegelapan di sekeliling ruangan, menatapnya tanpa berkedip, tanpa emosi, hanya pengamatan murni. Dari genangan merah di lantai, wajahnya sendiri muncul dan tersenyum.
Akulah kamu... dan kamulah aku. Bisikan itu mendesing di dalam kepalanya, bukan dari luar.
"Berhenti! Apa maksudmu?!" teriak Iago dalam pikirannya sendiri, berdebat, berkelahi dengan bayangannya sendiri yang muncul dari genangan.
Akulah kau... selalu.
“KENAPA WAJAHKU BISA SEPERTI ITU?!”
Gadis berambut hitam itu bergegas mendekat, wajahnya kini menunjukkan kepanikan. Tangannya yang dingin menyentuh lengan Iago. “Tuan!”
Sentuhannya dingin, tapi justru dingin itulah yang menyetrum Iago, menariknya kembali ke realitas yang keras. Kakinya terasa lunglai. Ia jatuh berlutut di atas batu basah yang dingin, terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya di bawah pakaian, membuatnya menggigil. Jantungnya berdebar kencang dan tak beraturan.
"Tuan! Apa ini efek pemulihan ingatan?" tanya gadis itu, suaranya bergetar halus.
Iago mengangkat wajahnya yang pucat, matanya berkaca-kaca, melihat dengan pandangan yang baru fokus. “S-siapa kau?”
“Saya Eliana. Tangan Kiri Anda di Organisasi IV.”
Tangan Kiri? Organisasi IV?
Kata-kata itu seperti kunci master yang masuk ke dalam lubang yang tepat. Sebuah klik yang keras terdengar di dalam kepalanya, dan kemudian pintu air terbuka. Kilasan-kilasan membanjiri pikirannya, gambar-gambar bergerak cepat dan berisik:
Tahun 1497. Jalur gunung yang curam dan berangin, batu-batu besar berserakan, angin berbisik dingin dan menusuk tulang. Seorang pria tua berjubah lusuh warna bumi duduk bersandar pada sebuah batu besar, tongkat kayu bengkoknya tergeletak di sampingnya. Rambut dan janggutnya yang panjang seputih salju yang belum pernah benar-benar ia lihat.
"Ada apa, Nak? Jalur ini berbahaya di malam hari," suara penyihir itu parau, tetapi tenang.
“Saya punya permintaan. Sebuah permintaan besar.”
Di samping Iago yang lebih muda, seorang gadis berambut hitam menggenggam lengannya dengan kuat, matanya lebar dan cemas. “Anda yakin, Tuan? Apakah hanya ini langkah terakhir?.”
Iago menoleh padanya, wajahnya yang muda namun sudah lelah memberikan senyuman kecil yang meyakinkan. "Ya. Jangan khawatir, Eliana." Lalu ia menghadap si tua lagi, tatapannya tegas. “Saya ingin Anda... menghapus ingatan saya.”
"Menghapus ingatan?" Mata penyihir tua itu menyipit, sinar biru samar melintas di dalamnya. “Kau tahu konsekuensi dari memutus benang pikiran sendiri?”
“Ceritakan.”
“Rasanya seperti tengkorakmu retak dari dalam, diisi dengan serpihan kaca. Saat mantra itu pertama kali bekerja, dan kelak saat ingatan itu berusaha kembali—sakitnya akan sama, bahkan mungkin lebih dalam.”
Gambar itu kemudian memudar, terhisap kembali ke dalam kegelapan, meninggalkan Iago kembali di gang yang berbau darah segar. Iago menatap wanita di hadapannya, benar-benar melihatnya untuk pertama kali—bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai sebuah potongan dari masa lalu yang hilang.
“Jadi... kau Eliana.”
"Ya, Tuan." Suaranya lega. “Tangan Kiri Anda. Yang selalu di sisi Anda.”
Ia terdiam lama, terlalu lama.
Eliana menunggu dengan napas tertahan, tubuhnya sedikit condong ke depan.
Lalu, perlahan-lahan, sebuah perubahan yang halus namun dahsyat terjadi pada wajah Iago. Ketegangan yang mengeras di sekitar matanya mengendur, digantikan oleh kejelasan yang dingin. Bahunya yang tadi gemetar kini stabil, tegak.
Sebuah senyum merekah di bibirnya, mengubah seluruh kesan wajahnya, meski terasa dipaksakan.
“Kerja bagus, Eliana. Menemukanku.”
Perubahannya begitu tiba-tiba, begitu total, hingga Eliana hampir tersentak mundur selangkah. Tapi ia cepat menguasai diri, meluruskan punggung dan membungkuk sedikit. “Senang Anda telah kembali, Tuan. Dunia terasa tidak seimbang tanpa Anda.”
"Kita tak bisa berlama-lama di sini," kata Iago, bangkit dengan gerakan lancar dan penuh keyakinan.
“Saya punya tempat persembunyian. Aman dan tersembunyi. Izinkan saya memandu Anda.”
“... Tidak.”
Eliana berhenti, bingung. “Tuan?”
“Aku akan kembali ke penginapan.”
“Tapi... kenapa? Bukankah lebih baik kita segera menyatukan kembali anggota lama? Mereka menunggu kabar.”
"Anggota?" Iago mengulang.
“Ya, Tuan. Anda sendiri yang pernah mengatakan, saat sebelum pergi menemui penyihir itu, bahwa kita akan berkumpul kembali. Bahwa ini hanya jeda.”
Tapi ingatan Iago berhenti di gunung, pada wajah penyihir tua dan keputusannya. Tidak ada yang lain setelah itu. Tidak ada janji pertemuan, tidak ada instruksi lanjutan. Hanya kekosongan.
"Ada... urusan lain yang harus diselesaikan terlebih dahulu," ucapnya. “Sebuah... audit. Pergilah duluan, Eliana. Aku akan menemui kalian saat waktunya tepat.”
Eliana ragu sejenak, matanya yang merah memandang dalam-dalam, mencari kepastian di wajah tuannya. Lalu, ia mengangguk patuh. “Seperti yang Anda perintahkan. Sampai jumpa, Tuan. Hati-hati.”
Dengan gerakan yang lincah dan senyap, ia melesat masuk ke kegelapan di ujung jalan buntu, menyusuri celah sempit yang tak terlihat, meninggalkan Iago sendirian di antara mayat-mayat yang mulai kaku dan keheningan yang sekarang terasa berbeda.
Iago berjalan keluar dari gang, tidak lagi terhuyung-huyung. Tangannya yang kiri masuk ke saku celananya yang dalam, menggenggam pistol dan sekumpulan koin logam yang diambilnya tadi dengan cepat dari tubuh tak bernyawa—sekitar tiga Flor, cukup untuk bertahan beberapa hari lagi tanpa harus mencari pekerjaan rendahan.
Jadi... aku adalah pendiri Organisasi IV. Otak di baliknya. Dan aku, memilih untuk melupakan semuanya… Mengapa?
Pertanyaan itu menggelayuti pikirannya, berputar-putar seperti burung nasar, sepanjang jalan kembali yang sunyi. Penginapan sudah tampak di depan, bangunannya yang tua dan reyot, jendela-jendelanya gelap dan buta kecuali satu titik cahaya kuning samar dari lobi.
Pemiliknya masih di sana, duduk di kursinya yang sama, pipanya masih mengepulkan asap tipis yang sekarang terasa menggantung berat. Wajahnya yang keriput menegang saat Iago masuk, matanya membesar sedikit.
"Jadi... bagaimana, Nak? Menemukan sesuatu?" Suaranya berusaha ringan, tetapi ada ketegangan di baliknya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Iago. “Hanya angin malam yang berisik. Mereka sudah kembali?”
Pria tua itu mengerutkan keningnya yang sudah berkerut, matanya menyipit. “Kau tidak melihat mereka? Di jalan? Mereka seharusnya bertemu denganmu di jalan.”
Iago menggeleng dengan tenang, wajahnya polos, ekspresi seorang pemuda yang lelah. “Tidak. Kukira mereka sudah pulang lewat jalan lain.”
Butiran keringat kecil, dingin, muncul di pelipis pemilik penginapan yang berkerut. Tangannya yang memegang pipa gemetar halus, hampir tak kasat mata. “Aku... aku rasa aku akan keluar sebentar. Perlu memastikan. Sebaiknya kau tidur, Nak. Sudah larut, dan malam ini terasa... tidak sehat.”
Dia berdiri, langkahnya kaku dan tidak wajar. Saat melewati Iago menuju pintu, matanya yang sipit menyapu cepat ke arah sepatu bot Iago yang bersih dari lumpur, mencari noda, mencari percikan merah, mencari kebenaran yang kini ia takuti untuk diketahui.
Dan di belakangnya, sambil berpura-pura mengatur mantelnya, Iago mengangkat sebuah benda kecil dan berat dari balik lipatan mantelnya—pistol berlaras pendek dengan gagang kayu yang dirawat, dingin dan padat di genggamannya. Senyumnya, yang tadi menghilang, kini kembali merekah. Dingin, presisi, tanpa kegembiraan.
"Bagus," bisiknya, begitu lembut hingga hampir tenggelam dalam desisan angin malam dari celah pintu. “Untungnya ini penginapan yang sepi. Dan juga... untungnya aku menemukan ini.”
Jari telunjuknya yang ramping membelit pelatuk besi yang dingin, menyesuaikan posisi.
“N-nak?”
“Tidurlah, Pak Tua.”
DOR