Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Hiburan Sang Predator
Pagi itu, Damian Nicholas melangkah masuk ke lobi gedung Nicholas Group dengan aura yang sanggup membekukan aliran udara di sekitarnya. Setelan jas hitam three-piece yang ia kenakan tampak sangat tajam, sewarna dengan tatapan matanya yang dingin dan tak tersentuh. Setelah malam yang penuh siksaan rindu pada Selene, ia kembali ke "setelan awal": robot penguasa bisnis yang tanpa ampun.
Para karyawan menepi, menunduk dalam-dalam hingga dahi mereka hampir menyentuh dada. Mereka tahu, satu kesalahan kecil hari ini bisa berarti akhir dari karier mereka.
Namun, langkah tegas Damian terhenti di tengah lobi. Kerumunan kecil di dekat area resepsionis menarik perhatiannya. Biasanya, ia akan langsung memerintahkan petugas keamanan untuk membubarkan keributan apa pun, tapi kali ini, sesuatu yang "menghibur" tertangkap oleh indranya.
Seorang wanita dengan rambut acak-acakan dan napas terengah-engah sedang mencengkeram kerah kemeja salah satu karyawan divisi keuangan—pria muda yang dikenal sebagai "playboy" di kantor itu.
"Kau pikir kau bisa mencampakanku setelah semua yang kuberikan?!" teriak wanita itu, suaranya melengking memenuhi lobi yang biasanya sunyi. "Aku punya semua bukti perselingkuhanmu! Jika kau tidak keluar dari gedung ini sekarang dan bicara padaku, aku akan mengirimkan video ini ke seluruh divisi!"
Karyawan pria itu pucat pasi, matanya melirik ke sana kemari dengan ketakutan. "Tenanglah... kita bicarakan ini di luar, jangan di sini!"
Damian berdiri beberapa meter dari sana, menyilangkan tangan di depan dadanya. Sebuah senyum tipis—hampir tidak terlihat, namun sangat menyeramkan—terukir di sudut bibirnya. Baginya, melihat kehancuran hidup seseorang karena urusan asmara yang remeh adalah hiburan yang cukup lumayan untuk mengalihkan pikirannya sejenak dari Selene.
"Keamanan," panggil Damian dengan suara rendah namun berat, seketika membuat komandan sekuriti berlari menghampirinya.
"Ya, Tuan Nicholas? Mohon maaf atas keributan ini, kami akan segera—"
"Jangan dulu," potong Damian, matanya tetap terpaku pada drama di depannya. "Biarkan wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Aku ingin tahu sejauh mana seorang pria bisa terlihat menyedihkan saat rahasianya terbongkar."
Damian memperhatikan bagaimana karyawan itu memohon-mohon, sangat kontras dengan harga dirinya yang biasanya tinggi saat menggoda rekan kerja wanita. Pemandangan itu mengingatkannya pada Clarissa; betapa muaknya ia pada wanita yang menggunakan ancaman untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Namun, di sisi lain, ia juga merasa puas melihat pengkhianatan dibayar kontan.
"Pecat pria itu setelah wanita ini selesai mempermalukannya," ucap Damian dingin kepada asistennya yang berdiri di belakang.
"Tapi Tuan, kinerjanya cukup baik di divisi—"
"Aku tidak butuh pecundang yang tidak bisa membereskan urusan ranjangnya sendiri di kantorku," sela Damian tajam. Ia kemudian berbalik, melanjutkan langkahnya menuju lift pribadi.
Damian menghentikan langkah lebarnya tepat di depan pintu lift pribadi yang hampir terbuka. Suara lengkingan wanita itu kembali bergema, kali ini dengan nada yang jauh lebih mengancam. "Sepuluh detik! Jika kau tidak mengaku di depan semua orang bahwa kau hanya memanfaatkanku untuk uangku, seluruh kantor ini akan menerima kiriman video menjijikkanmu dengan wanita simpananmu itu!"
Sebuah kilatan minat yang jarang terjadi muncul di mata gelap Damian. Ia memutar tubuhnya perlahan, kembali melangkah menuju kerumunan staf yang tadinya langsung bubar karena takut, namun kini justru membeku di tempat saat melihat bos besar mereka malah ikut mendekat.
"Tuan Nicholas..." gumam asisten pribadinya, tampak bingung melihat perubahan rencana mendadak sang CEO. Namun, melihat gestur tangan Damian, asisten itu dengan sigap menarik sebuah kursi tunggu minimalis yang elegan dan menempatkannya tepat di barisan belakang kerumunan.
Damian duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya yang panjang dengan anggun. Tangannya bertumpu pada dagu, menatap drama di depannya seolah sedang menonton pertunjukan opera kelas atas di Paris.
"Lanjutkan," ucap Damian dengan suara berat yang tenang namun otoriter, membuat suasana lobi yang tadi bising seketika hening mencekam. "Aku ingin melihat bagaimana sepuluh detik itu berakhir."
Karyawan pria yang malang itu, seorang manajer muda bernama Rendy, kini gemetar hebat. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia menatap Damian dengan tatapan memohon, namun yang ia temukan hanyalah wajah dingin tanpa belas kasihan. Damian justru tampak sangat terhibur melihat seseorang berada di titik nadir kehancurannya.
"Lima... empat..." wanita itu mulai menghitung mundur sambil mengacungkan ponselnya.
"Tunggu! Aku mohon!" teriak Rendy, nyaris berlutut di lantai marmer.
"Tiga... dua..."
Damian menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. Di kepalanya, ia membandingkan drama murahan ini dengan intrik yang dilakukan Clarissa. Setidaknya, wanita di depannya ini jujur dengan kemarahannya, tidak seperti Clarissa yang selalu bersembunyi di balik air mata palsu.
"Satu!"
Ting!
Suara notifikasi serentak terdengar dari puluhan ponsel karyawan yang berada di lobi. Suasana menjadi sangat kacau dalam sekejap. Bisikan-bisikan kaget mulai terdengar saat mereka membuka pesan berantai yang masuk ke grup internal kantor.
Damian hanya duduk diam, tidak perlu melihat ponselnya untuk tahu bahwa karier pria di depannya sudah tamat. Ia bangkit dari duduknya, merapikan jasnya yang tanpa noda sedikit pun.