NovelToon NovelToon
Gus, I'Am In Love

Gus, I'Am In Love

Status: tamat
Genre:Obsesi / Beda Usia / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doa Abigail

Malam itu, masjid pesantren terasa begitu sunyi dan dingin. Hanya ada suara jangkrik dan gesekan dedaunan pohon tanjung di luar. Abigail, yang hatinya hancur berkeping-keping setelah insiden penggeledahan tadi, tidak bisa tidur.

Ia menyelinap keluar asrama, mencari satu-satunya tempat di mana ia merasa tidak akan dihakimi oleh manusia, Rumah Tuhan.

Di balik tirai pembatas saf laki-laki dan perempuan, Gus Zayn sedang merebahkan punggungnya di atas karpet hijau. Ia sangat lelah, lelah menghadapi kemarahan kakaknya, lelah menahan rindu yang tak logis, dan lelah menjaga image sempurna. Ia baru saja akan memejamkan mata saat mendengar suara isak tangis tertahan dari balik tirai.

Itu suara Abigail.

Masjid itu gelap, hanya menyisakan satu lampu kecil di sudut yang memantulkan bayangan Abigail di atas lantai marmer dingin. Abigail bersimpuh, bahunya bergetar hebat.

"God... Allah..." suara Abigail terdengar parau, bercampur dengan bahasa Inggris yang jujur dari lubuk hatinya. "Aku tahu aku bukan Najwa. Aku nggak hafal ribuan hadist, aku nggak pakai cadar, aku bahkan nggak tahu cara sujud yang benar sampai bulan lalu."

Zayn membeku. Ia menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang.

"Tapi salah ya, kalau aku jatuh cinta sama dia?" Abigail terisak lagi. "Gus Zayn itu pangeran es yang menyebalkan, tapi dia yang bikin aku pengen jadi orang baik. Dia satu-satunya orang yang ngeliat aku bukan sebagai si pemberontak dari Amerika, tapi sebagai perempuan yang punya harapan.

Aku tahu Najwa lebih pintar, aku tahu Ustadzah Aisyah benci padaku. Tapi Ya Allah, aku janji... aku akan belajar dengan giat. Aku akan hafalkan ayat-ayat pendek itu satu per satu sampai lidahku terbiasa. Aku akan berusaha jadi gadis yang baik, muslimah yang benar-benar Engkau cintai..."

Suara isakan Abigail semakin dalam, memenuhi keheningan malam. "Aku mau berubah bukan cuma karena aku cinta dia, tapi karena dia yang bikin aku sadar kalau aku punya tujuan hidup. Aku ingin jadi baik untuk dia, agar aku tidak diremehkan lagi, agar aku layak jadi adik ipar Ustadzah Aisyah nanti..."

Abigail bersujud, suaranya teredam karpet. "Allah, kalau memang dia bukan jodohku, tolong hapus rasa ini. Tapi kalau boleh egois... tolong, jodohin aku sama Gus Zain. Bukan karena dia Gus, tapi karena aku pengen dia yang jadi imamku, yang ngebimbing aku pulang ke rumah Kamu. Aku mau memperbaiki diri, tapi aku mau bareng dia..."

Zayn memejamkan mata rapat-rapat. Air mata tanpa sadar mengalir di sudut matanya. Ia mendengar setiap kata, setiap ketulusan yang keluar dari mulut gadis yang dianggap debu oleh keluarganya itu. Doa itu terasa lebih kuat daripada ribuan baris doa puitis yang pernah ia dengar sebelumnya.

Abigail menelungkupkan wajahnya di atas sajadah, menangis sejadi-jadinya, seolah menumpahkan seluruh beban yang selama ini ia tanggung sejak dikirim ayahnya ke tempat asing ini.

"Dan tolong... kuatkan dia," bisik Abigail lagi. "Jangan biarkan dia rusak lagi karena aku. Aku rela dijauhin, asal dia tetap jadi kebanggaan Abinya. I love him so much, it hurts."

Zayn memejamkan mata rapat-rapat. Setiap kata Abigail terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya. Kepedihan gadis itu adalah kepedihannya juga.

Abigail mengakhiri doanya dengan amin yang panjang.

"Abigail..." bisik Zayn pada kesunyian masjid. "Kamu nggak perlu minta dijodohkan. Karena di setiap sujudku, namamu sudah lebih dulu kupaksa masuk ke dalam takdirku."

Zayn kemudian mengambil wudhu kembali. Ia berdiri di mihrab, melakukan shalat sunnah dengan kekhusyukan yang belum pernah ia rasakan. Ia sudah memutuskan, Ia tidak akan lagi bersembunyi di balik tembok esnya.

Jika Abigail berani menantang badai, maka ia akan menjadi pelabuhan tempat gadis itu bersandar.

"Kamu tidak buruk, Abigail," bisik Zayn dalam hati, suaranya tercekat di tenggorokan. "Kamu lebih mulia dari mereka yang merasa sudah sampai di puncak, padahal kamu baru saja memulai langkahmu dengan jujur."

Zayn menengadahkan tangannya ke langit. "Ya Allah, Engkau telah mendengar doanya. Maka dengarlah doaku juga. Jangan biarkan dia berubah hanya untukku, tapi ubahlah kami berdua agar bisa berjalan menuju-Mu bersama-sama."

Malam itu, di bawah kubah masjid yang sakral, dua hati yang berbeda dunia itu akhirnya bertemu dalam satu frekuensi doa yang sama.

Abigail baru saja hendak melipat sajadahnya ketika matanya menangkap sesuatu yang asing. Di bawah celah tirai pembatas, tepat di tempat ia bersujud tadi, terselip selembar kertas putih yang dilipat rapi. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan masjid benar-benar sepi, lalu dengan tangan gemetar ia mengambil kertas itu.

Di sana, tertulis tulisan tangan yang sangat rapi, tegas, dan maskulin. Hanya beberapa baris kalimat, namun sanggup membuat dunia Abigail seolah berhenti berputar sejenak.

"Jangan lagi katakan kamu buruk. Di mata-Nya, ketulusanmu jauh lebih benderang daripada mereka yang sekadar memamerkan hafalan. Jika kamu berjanji untuk belajar, maka saya berjanji untuk tetap menunggumu di garis akhir."

"Namun, ada satu hal yang saya minta... Mulai detik ini, tolong jaga pandanganmu dan jaga hatimu. Jangan biarkan ada orang lain yang masuk ke sana, karena saya sedang mengusahakan nama kita di atas sajadah yang sama."

— Z

Abigail menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan pekikan kegembiraan yang hampir saja lolos dari bibirnya. Air mata yang tadinya merupakan tetesan kesedihan, kini berubah menjadi air mata haru yang tak terbendung.

"Dia denger... Dia denger semuanya!" bisik Abigail dengan wajah memerah sempurna.

Perasaan sedih dan rendah diri yang tadi menghimpit dadanya menguap begitu saja. Kalimat "jaga hatimu" berputar-putar di kepalanya seperti melodi paling indah. Bagi Abigail yang biasa mendapatkan pernyataan cinta secara vulgar di New York, pesan singkat dan penuh wibawa dari Zayn ini terasa jauh lebih romantis dan mematikan.

Ia memeluk kertas itu di dadanya, lalu melonjak-lonjak kecil di atas sajadah. "Yes! Oh my God, yes!"

Abigail segera merapikan mukenanya dan berlari kecil kembali menuju asrama. Langkahnya terasa ringan, seolah ia tidak lagi menginjak bumi. Rasa kantuknya hilang total, digantikan oleh semangat yang membara.

Sesampainya di kamar, Abigail langsung duduk di meja belajarnya. Ia membuka kembali buku Iqra-nya dengan mata yang berbinar-binar.

"Sarah! Bangun, Sar!" Abigail mengguncang bahu temannya yang masih terlelap.

"Hm... Apa sih, Abby? Masih jam tiga pagi..." gumam Sarah malas.

"Ayo ajari aku surat-surat pendek lagi! Sekarang! Aku mau hafal semuanya sebelum subuh!" seru Abigail dengan penuh energi.

Sarah mengucek matanya, bingung melihat perubahan drastis Abigail yang tadi malam masuk ke masjid dengan wajah kuyu tapi sekarang tampak seperti habis memenangkan lotre. "Kamu kerasukan jin masjid ya, Abby?"

"Bukan jin, Sar! Tapi malaikat tanpa sayap yang punya bekas tindik di telinganya!" jawab Abigail sambil tertawa riang, membuat Sarah semakin melongo.

Abigail membuka lembaran bukunya dengan tekad baru. Jika Zayn memintanya menjaga hati, maka ia akan memberikan hati yang paling berkualitas, hati yang penuh dengan ilmu agama dan ketaatan.

Keesokan paginya saat pengajian subuh, Abigail sengaja duduk di barisan depan yang paling dekat dengan tirai pembatas. Saat Zayn membacakan kitab di depan, Abigail secara tidak sengaja menatap ke arah Zayn.

Tiba-tiba, Zayn berhenti membaca sejenak. Ia berdeham, lalu tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat dalam melalui pengeras suara: "Adab seorang penuntut ilmu adalah menundukkan pandangannya saat menyimak, agar hatinya tetap terjaga."

Seluruh santriwati bingung, tapi Abigail langsung menunduk dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Ia tahu pesan itu hanya untuknya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

happy reading😍

1
ros 🍂
😍😍
kalea rizuky
suka deh endingnya
kalea rizuky
hot ya gus/Curse/
kalea rizuky
bagus deh q baru baca novel mu yg andrian ke anak cucunya skg nemu ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!