Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Terbelah
Jakarta tak pernah kehabisan warna untuk sepasang kekasih baru. Dan Arman, dalam balutan kemeja pemberian Nadia, merasakan sensasi yang sudah lama mati di dalam dirinya: sensasi dipuja, diperhatikan, dan menjadi pusat perhatian seorang perempuan.
Ini seperti memutar ulang film masa pacaran dulu dengan Rani, tapi dengan versi yang lebih dewasa, lebih mapan, dan tanpa tekanan tagihan listrik yang membayangi.
Hubungan mereka berkembang cepat setelah malam di kafe Kemang. Nadia tak lagi sungkan menyebutnya "Arman" tanpa embel-embel.
Ia juga mulai mengirim pesan-pesan pendek di pagi hari: "Selamat pagi, semoga harimu menyenangkan." Atau di malam hari: "Jangan lupa makan, kamu kurusan kalau kecapean."
Arman membalas setiap pesan itu dengan hangat, menyimpan setiap emoji dan stiker lucu yang dikirim Nadia, seolah-olah itu adalah bukti cinta yang tak terbantahkan.
Hari-hari kerja menjadi panggung bagi kemesraan rahasia mereka. Setelah urusan bisnis selesai, Nadia kerap mengajukan "agenda tambahan".
"Nonton yuk, Arman. Ada film bagus di XXI," ajaknya suatu sore, dengan nada manja yang tak pernah ia perlihatkan di depan klien.
Mereka menonton film drama romantis, duduk di kursi bioskop yang nyaman. Nadia memesan popcorn besar dan satu minuman dengan dua sedotan. Di tengah film, saat adegan cengeng, kepalanya bersandar pelan di pundak Arman.
Arman membiarkannya. Tangannya, yang awalnya memegang sandaran tangan, perlahan merayap dan bertemu dengan jemari Nadia yang hangat. Mereka berpegangan tangan sampai film usai. Tidak ada kata-kata. Hanya denyut jantung yang berpacu.
Di lain hari, Nadia mengajaknya ke Ancol. Bukan untuk urusan bisnis, tapi untuk menikmati senja di tepi pantai buatan. "Aku kangen laut," katanya.
"Dulu, sebelum cerai, aku dan mantan suami sering ke sini. Setelah pisah, aku nggak pernah lagi. Rasanya… sedih kalau sendiri."
Arman hanya mendengarkan, lalu berkata, "Sekarang nggak sendiri. Ada aku."
Nadia tersenyum, dan senyum itu seperti matahari yang menerangi wajahnya yang sendu. Mereka berjalan menyusuri pantai, sesekali berhenti untuk melihat anak-anak bermain pasir.
Nadia memotret Arman dengan ponselnya, lalu memamerkan hasil jepretan. "Ganteng," komentarnya, dan Arman tersipu seperti remaja.
Kadang, di akhir pekan, mereka pergi ke kafe-kafe aesthetic di kawasan Kemang atau Menteng. Nadia selalu memesan latte, Arman kopi hitam.
Mereka berbicara tentang apa saja—tentang rencana ekspansi bisnis thrift shop Nadia, tentang koleksi pakaian vintage yang baru tiba, tentang buku yang Nadia baca, tentang lagu-lagu lama yang mereka sama-sama suka. Di sela percakapan, tangan mereka sering bertaut di atas meja. Tidak ada yang merasa perlu menjelaskan.
Dunia ini begitu sempurna, begitu ringan, begitu jauh dari dunia lainnya. Dunia di mana Arman adalah Arman yang diinginkan, bukan Arman yang gagal.
---
Dunia lainnya adalah sebuah rumah tipe 36 di pinggiran Bekasi, dengan warung kecil di depan dan dapur yang selalu beraroma bawang goreng.
Di dunia ini, Arman adalah suami yang pulang larut, ayah yang sesekali mengajak anaknya jalan-jalan, dan sumber pendapatan kedua yang tak lagi diperdebatkan.
Rani, perlahan tapi pasti, mulai berubah. Bukan karena ia tahu segalanya. Justru karena ia memilih untuk tidak tahu. Kelelahan fisik dan mental selama berbulan-bulan—dari perang dingin pasca isu poligami, dari usaha katering yang gagal dan bangkit kembali dalam skala kecil, dari kesibukan melayani warung dan memenuhi pesanan kue—telah mengubah kecurigaannya menjadi semacam apatis yang membungkam.
Tapi mata seorang istri tetaplah mata yang paling tajam.
"Bapak sekarang makin ganteng ya," celetuk Aldi suatu pagi, polos, saat Arman bersiap berangkat. "Badannya nggak kurus kayak dulu."
Arman tersentak. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya memang lebih bersih. Jerawat kecil di dagu yang dulu sering muncul karena stres dan kurang tidur, kini hilang. Lingkar hitam di bawah mata memudar.
Badannya, meski tidak kekar, terlihat lebih berisi. Kemeja navy yang ia kenakan hari itu—yang baru, membuatnya terlihat rapi, hampir seperti pegawai kantoran.
Rani yang sedang menyiapkan sarapan, berhenti menuang susu. Ia melirik Arman dari balik bahu, lalu kembali ke aktivitasnya tanpa komentar.
Tidak ada "Loh, beli baju baru?" atau "Kok rapi amat?". Hanya diam. Diam yang terlalu sengaja. Diam yang seperti menelan ludah pahit.
Arman memanfaatkan diam itu. Ia mencium kening Aldi, berpamitan pada Rani dengan anggukan singkat, lalu melesat keluar. Di balik pintu, Rani tetap diam, tapi tangannya yang menuang susu sedikit bergetar.
---
Di tengah euforia hubungan barunya, satu hal yang tak pernah pudar dari Arman adalah cintanya pada Aldi. Mungkin karena Aldi adalah satu-satunya jangkar yang masih menghubungkannya dengan realitas yang tak ingin ia tinggalkan sepenuhnya.
Mungkin karena di mata Aldi, ia masih "Bapak" tanpa predikat apa pun—bukan suami yang gagal, bukan driver yang lelah, bukan kekasih rahasia. Hanya Bapak.
Setiap akhir pekan, jika tidak ada agenda dengan Nadia, Arman akan mengajak Aldi jalan-jalan. Kadang hanya berdua. "Bapak anter Aldi ke taman ya, beli es krim." Aldi selalu bersorak gembira.
Di hari libur itu, Arman adalah Arman versi asli—jaket ojol, helm, motor tua. Mereka berkeliling tanpa tujuan, kadang berhenti di pom bensin untuk membeli cokelat, kadang singgah di masjid untuk salat.
Aldi duduk di depan, di antara stang dan dada Arman, sesekali bertanya tentang pesawat yang melintas atau tentang mengapa langit berwarna jingga saat senja. Arman menjawab dengan sabar, dan untuk sesaat, semua beban luntur.
"Bapak sayang Aldi, ya?" tanya Aldi suatu sore.
"Pasti, Nak. Bapak sayang banget sama Aldi," jawab Arman, mencium rambut anaknya yang wangi sampo murah.
"Sayang juga sama Mama?"
Pertanyaan itu menusuk. Arman terdiam beberapa detik. "Iya. Sayang."
"Kenapa Bapak jarang ngajak Mama jalan?"
"Karena Mama sibuk jaga warung."
"Kalau gitu, ajak Mama sekali-sekali dong. Aldi mau foto bertiga."
Janji itu diingat Arman. Pekan berikutnya, ia mengajak Rani ikut. Mereka pergi ke mall sederhana di dekat rumah. Rani mengenakan tunik polos dan hijab satin, tanpa emas yang dulu selalu ia pamerkan.
Wajahnya sedikit canggung, seperti tidak terbiasa keluar rumah untuk bersenang-senang. Mereka makan di restoran cepat saji favorit Aldi, berfoto dengan kamera murah, lalu pulang sebelum maghrib.
Di motor yang sama yang setiap hari ia gunakan—Rani duduk di belakang, memeluk Aldi yang mulai mengantuk. Tidak ada obrolan berarti. Hanya sunyi yang akrab namun asing. Arman melihat Rani di spion. Istrinya itu menatap ke samping, entah apa yang dilihatnya.
Sesampainya di rumah, Rani langsung membawa Aldi masuk, memandikannya, menyiapkan susu. Arman duduk di teras, merokok—kebiasaan yang belakangan kembali ia hidupkan.
Ia memikirkan dua dunia yang ia jalani. Di satu dunia, ada Nadia yang memberinya kopi di kafe dan senyum manis. Di dunia lain, ada Rani yang memberinya nasi hangat dan diam yang penuh arti.
Ia ingin percaya bahwa ia bisa menjalani keduanya. Bahwa cintanya pada Aldi dan perhatiannya pada Rani di akhir pekan akan menebus semua kebohongan di hari kerja. Tapi jauh di lubuk hati, ia tahu. Ini bukan tentang memilih. Ini tentang kehilangan, sedikit demi sedikit, tanpa suara.
---
Suatu malam, saat Arman pulang lebih awal karena Nadia ada acara keluarga, ia menemukan Rani sedang menatap album foto lama. Foto pernikahan mereka. Wajah Rani di foto itu bulat dan cerah, tersenyum lebar dengan gigi yang rapi. Arman di sampingnya—kurus, berkumis tipis, tampak gugup namun bahagia.
"Lagi lihat foto?" tanya Arman, duduk di ujung sofa.
"Iya. Aldi nanya, dulu Bapak gimana pas nikah," jawab Rani, tanpa menoleh. "Kata dia, Bapak dulu lebih kurus."
Arman tersenyum pahit. "Iya. Masih kerja di toko elektronik. Gaji pas-pasan."
"Tapi kita seneng," sahut Rani. Suaranya pelan, seperti angin malam. "Lo inget nggak, Man? Pas nikah, kita cuma bisa sewa kontrakan petak. Kamar mandinya di luar, kalau malam mau pipis harus pakai senter. Tiap pagi, lo anter aku ke halte naik motor butut pinjeman. Tapi kita seneng."
Arman tidak menjawab. Ia hanya menatap foto itu.
"Sekarang rumah punya sendiri. Motor punya sendiri. Aldi sekolah." Rani menutup album. "Tapi kok aku ngerasa, kita malah… jauh ya?"
Pertanyaan itu menggantung. Arman ingin menjawab, "Aku di sini, Ran." Tapi kata-kata itu tercekat. Karena di saat yang sama, ponselnya bergetar di saku.
Notifikasi dari Nadia. Sebuah foto selfie dengan latar belakang langit malam, disertai pesan: "Capek acara keluarga, pengennya cepet-cepet balik Jakarta. Kangen."
Arman tidak membuka pesan itu. Tapi Rani, dengan insting perempuan yang sudah menikah tujuh tahun, bisa merasakan getaran yang bukan sekadar dering biasa. Ia bangkit, menyimpan album di lemari, lalu berkata tanpa menatap Arman:
"Aku tidur dulu. Besok pagi-pagi ada pesanan risoles 70 biji."
Ia masuk ke kamar, menutup pintu pelan. Arman duduk sendiri di ruang tamu, di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, di antara cinta yang tersisa dan cinta yang baru tumbuh, di antara kejujuran yang terus ia tunda dan kebohongan yang semakin dalam.
Dan di kamarnya, Rani memeluk Aldi erat-erat, mencium rambutnya yang wangi, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia menangis tanpa suara. Bukan karena marah, bukan karena cemburu.
Tapi karena ia tahu, perubahan yang ia lihat pada suaminya bukan sekadar berat badan bertambah atau wajah yang lebih bersih. Itu adalah cahaya yang pernah ia lihat di masa lalu—cahaya jatuh cinta—yang kini bersinar untuk orang lain.
Namun, seperti biasa, ia memilih diam. Karena ia terlalu lelah untuk bertengkar, dan terlalu takut untuk mengetahui kebenaran yang sudah ia curigai.
Malam itu, rumah yang sama menaungi dua hati yang saling menjauh dalam diam, dengan seorang anak yang tidur nyenyak di antara mereka, tak tahu bahwa keluarganya sedang retak di pinggir-pinggirnya, seperti piring tua yang dipakai setiap hari.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.