NovelToon NovelToon
A MotoGP Rebirth Story

A MotoGP Rebirth Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / TimeTravel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: meylisa

Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.

Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.

Atau begitulah yang ia kira.

Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARGA SEBUAH “TIDAK”

CHAPTER 19

Ketika semua orang bilang iya,

kata tidak terdengar seperti pengkhianatan.

Julian merasakannya sejak pagi.

Bukan dari satu orang.

Tapi dari atmosfer.

Di paddock, sapaan terasa sedikit lebih formal. Senyum tetap ada, tapi tidak lagi longgar. Orang-orang yang biasanya mengobrol santai kini menunggu jawabannya—bukan sebagai pembalap, tapi sebagai keputusan.

Kontrak itu belum ditandatangani.

Dan ketidakhadiran tanda tangan…

adalah jawaban yang menggantung.

Marco berdiri di sudut garasi, tangan terlipat.

“Kau tahu apa artinya ini, kan?” katanya pelan.

Julian mengangguk. “Aku tahu.”

“Tim itu tidak sering menunggu.”

“Aku juga tidak sering ragu,” jawab Julian jujur.

Marco menghela napas. “Masalahnya bukan kau siap atau tidak. Tapi dunia ini tidak suka orang yang bergerak di luar skenario.”

Julian tersenyum kecil. “Mungkin aku memang bukan pemeran utama yang mereka harapkan.”

Tekanan datang dari dalam tim.

Manajer teknis mulai mempertanyakan pendekatan Julian.

“Kau bisa mendorong lebih keras,” katanya setelah sesi latihan.

“Kau terlalu bersih,” tambah yang lain.

Julian mendengarkan.

Ia tidak membantah.

Tapi di lintasan, ia tetap sama.

Presisi.

Tenang.

Tidak agresif berlebihan.

Ia mencatat waktu yang bagus—bukan terbaik, tapi konsisten.

Dan justru itu yang membuat sebagian orang gelisah.

Media mencium konflik.

Judul mulai berubah nada.

“Ashford Menahan Diri?”

“Ke Mana Arah Juara Moto3 Ini?”

Satu wartawan bertanya langsung, tanpa basa-basi:

“Apakah Anda takut mengambil risiko besar?”

Julian menatap kamera sejenak sebelum menjawab.

“Aku hanya memilih risiko yang ingin kutanggung.”

Jawaban itu menyebar.

Sebagian menyebutnya dewasa.

Sebagian menyebutnya pengecut.

Julian membaca semuanya…

lalu menutup ponsel.

Di luar semua itu, hidup tetap berjalan.

Julian dan Clara tidak pernah mendefinisikan hubungan mereka. Tapi mereka hadir. Konsisten. Tenang.

Malam itu, mereka berjalan di sepanjang sungai.

“Apa kau akan menyesal kalau menolak?” tanya Clara.

Julian berpikir lama.

“Mungkin,” katanya jujur. “Tapi aku lebih takut menyesal karena menerima sesuatu yang membuatku kehilangan diriku sendiri.”

Clara berhenti berjalan.

Ia menatap Julian, lalu tersenyum—bukan senyum ringan, tapi senyum yang mengandung kepercayaan.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “apa pun pilihanmu… aku yakin itu milikmu.”

Julian menunduk sebentar.

Di dua kehidupannya, jarang ada orang yang berkata seperti itu.

Balapan akhir pekan itu datang dengan tensi aneh.

Bukan soal posisi.

Tapi soal makna.

Julian start dari P8.

Ia melaju dengan gaya yang sama—efisien, bersih, minim drama. Ia naik ke P6, lalu bertahan.

Tidak ada overtake nekat.

Tidak ada aksi “headline”.

Tapi tidak ada kesalahan.

Finish di P6.

Hasil solid.

Tidak spektakuler.

Dan itu… cukup untuk membuat tim papan atas akhirnya menghubungi Marco lagi.

“Kami butuh jawaban,” kata mereka.

Malam itu, Julian duduk sendirian.

Kontrak terbuka di meja.

Pulpen ada di tangannya.

Di luar jendela, kota tenang.

Ia memikirkan Michael—versi dirinya yang akan menandatangani tanpa ragu. Yang akan mengorbankan segalanya demi satu kesempatan.

Julian Ashford… menarik napas.

Lalu menutup map itu.

Keesokan paginya, Marco menerima telepon.

“Dia menolak,” kata Marco singkat.

Di seberang sana, hening.

Lalu satu kalimat dingin:

“Sayang sekali. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”

Marco menatap Julian yang berdiri di sampingnya.

Julian hanya berkata, “Kalau memang jalanku, jalannya akan menemuiku lagi.”

Keputusan itu menyebar cepat.

Beberapa orang menghormatinya.

Banyak yang mencibir.

Tapi ada satu hal yang berubah.

Orang-orang mulai mengawasi.

Karena di dunia balap—

pembalap yang berkata tidak pada kekuasaan

adalah pembalap yang sulit dikendalikan.

Dan itu… berbahaya.

Sore itu, Clara mengirim pesan.

Kau bebas malam ini?

Julian membalas.

Iya.

Aku ingin merayakan sesuatu.

Merayakan apa?

Balasan datang cepat.

Keberanian.

Julian tersenyum.

Ia tidak tahu ke mana musim ini akan membawanya.

Ia tidak tahu apakah keputusan ini akan memperlambat atau justru menyelamatkan kariernya.

Tapi satu hal pasti:

Untuk pertama kalinya, Julian Ashford memilih dirinya sendiri,

meski seluruh dunia menyarankan sebaliknya.

Dan di dunia yang dibangun di atas kecepatan…

kadang keberanian terbesar adalah

tidak ikut berlari.

.

.

.

CHAPTER 20

Kadang, kesempatan terbaik datang…

bukan dari arah yang berteriak paling keras.

Julian tahu itu saat ia berdiri di garasi timnya sendiri, menatap motornya yang tenang setelah sesi latihan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Tidak ada janji manis.

Hanya kerja.

Dan anehnya…

ia merasa damai.

Beberapa hari setelah penolakan kontrak itu, paddock terasa berbeda.

Tidak bermusuhan.

Tidak dingin.

Tapi ada jarak yang baru.

Beberapa orang berhenti bertanya.

Beberapa berhenti mengundang.

Julian tidak tersinggung.

Ia sudah hidup cukup lama untuk tahu:

ketika kau berhenti mengikuti arus, sebagian orang akan berhenti menganggapmu relevan.

Dan itu tidak selalu buruk.

Undangan itu datang lewat Marco.

Bukan lewat email mewah.

Bukan lewat agen besar.

Hanya pesan singkat.

Ada tim yang ingin bicara. Bukan tim besar. Tapi serius.

Julian membaca ulang kalimat itu.

“Serius bagaimana?” tanyanya.

Marco tersenyum tipis. “Serius soal balapan. Bukan soal citra.”

Julian terdiam.

Itu… menarik.

Pertemuan dilakukan sederhana.

Tidak di hotel bintang lima.

Tidak ada presentasi bombastis.

Hanya ruang rapat kecil, kopi hangat, dan seorang pria paruh baya dengan wajah lelah tapi mata tajam.

“Kami bukan tim tercepat,” kata pria itu.

“Kami bukan tim terkaya.”

Ia menatap Julian langsung.

“Tapi kami ingin pembalap yang berpikir.”

Julian tidak langsung menjawab.

“Apa yang kalian cari?” tanyanya.

Pria itu tersenyum kecil. “Seseorang yang mau tumbuh bersama. Bukan meloncat sebelum akarnya kuat.”

Julian keluar dari ruangan itu tanpa kontrak.

Tapi dengan perasaan yang berbeda.

Bukan euforia.

Bukan ambisi.

Lebih seperti… pulang.

Malam itu, ia bertemu Clara.

Bukan di kafe.

Bukan di taman.

Di apartemennya.

Mereka memasak bersama—sesuatu yang terdengar sepele, tapi bagi Julian terasa asing. Tidak ada stopwatch. Tidak ada strategi. Hanya potongan bawang yang terlalu besar dan tawa kecil karena saus hampir gosong.

“Kau kelihatan ringan,” kata Clara sambil mencicipi masakan.

Julian bersandar ke meja. “Aku bertemu tim yang tidak mencoba mengubahku.”

Clara menoleh. “Dan itu membuatmu takut?”

“Sedikit,” jawab Julian jujur. “Karena ini terasa… nyata.”

Clara tersenyum pelan. “Hal yang nyata memang jarang datang dengan kembang api.”

Makan malam selesai.

Mereka duduk di sofa, jarak dekat tapi tidak menyentuh.

Sunyi tidak canggung.

Julian menatap layar TV tanpa benar-benar melihat.

“Clara,” katanya pelan.

“Hmm?”

“Aku tidak tahu ke mana balapan akan membawaku.”

Clara menoleh, serius. “Aku juga tidak tahu ke mana hidupku akan membawaku.”

Ia tersenyum kecil. “Tapi aku tahu… aku ingin berjalan, bukan dikejar.”

Julian menghela napas.

Tanpa sadar, tangannya bergerak.

Menyentuh jemari Clara.

Tidak ditarik.

Tidak ditolak.

Hanya… diterima.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada ciuman dramatis.

Tidak ada musik imajiner.

Hanya dua orang yang duduk, sadar bahwa sesuatu telah berubah.

“Aku tidak pandai dengan ini,” kata Julian lirih.

Clara tertawa pelan. “Syukurlah. Aku juga tidak.”

Di lintasan, Julian kembali berlatih.

Gaya balapnya semakin matang.

Ia tidak lagi memikirkan siapa yang melihat.

Ia memikirkan bagaimana motor berbicara padanya.

Tekniknya semakin hemat energi.

Garisnya semakin bersih.

Beberapa engineer dari tim lain mulai memperhatikan—diam-diam.

“Dia tidak mencolok,” kata seseorang.

“Tapi kalau kau perhatikan… dia selalu ada di akhir.”

Dan di Moto2,

yang selalu ada di akhir…

biasanya yang bertahan paling lama.

Julian pulang malam itu dengan perasaan utuh.

Ia tidak tahu apakah tim kecil itu akan menjadi jalannya.

Ia tidak tahu apakah Clara akan selalu ada.

Tapi ia tahu satu hal:

Ia tidak lagi mengejar tempat di dunia ini.

Ia membangun ruang sendiri.

Dan entah kenapa…

kecepatan terasa lebih jujur saat ia tidak sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!