"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Api di Dalam Nadi
BAB 10: Api di Dalam Nadi
Dunia terasa berputar bagi Anindya. Saat ia mencoba membuka matanya di subuh yang buta itu, langit-langit kamarnya seolah bergoyang ke kanan dan ke kiri. Kepalanya terasa sangat berat, seperti ada sebongkah batu besar yang diletakkan di atas ubun-ubunnya. Kerongkongannya kering dan panas, setiap kali ia menelan ludah, rasanya seperti menelan pecahan kaca.
"Panas sekali..." bisiknya lirih, suaranya nyaris hilang.
Ia meraba keningnya sendiri dengan tangan yang gemetar. Panas. Tubuhnya membara akibat hukuman hujan-hujanan kemarin. Namun, suara langkah kaki Nyonya Lastri di lorong atas sudah terdengar. Itu adalah lonceng peringatan. Di rumah ini, sakit adalah sebuah kesalahan. Sakit berarti tidak bekerja, dan tidak bekerja berarti tidak berguna.
Anindya tahu benar apa yang terjadi pada barang yang tidak berguna di rumah ini: dibuang.
"Nin... harus bangun," ia menyemangati dirinya sendiri.
Dengan susah payah, ia bangkit dari kasur tipisnya. Kakinya terasa seperti jeli, lemas dan tidak bertenaga. Ia harus berpegangan pada dinding kayu yang lembap agar tidak jatuh tersungkur. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia merapikan tempat tidurnya, menyembunyikan buku biru dan pulpen pemberian Pak Guru jauh di dalam lubang dinding. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun menemukan rahasianya saat ia sedang lemah begini.
Saat ia sampai di dapur, Mbok Sum langsung terpekik kecil melihat wajah Anindya yang sepucat kertas.
"Gusti Allah, Nak! Pipimu merah sekali, matamu sayu. Kamu masih demam tinggi!" Mbok Sum mendekat dan menyentuh dahi Anindya. "Nduk, kamu istirahat saja. Biar Mbok yang bilang ke Nyonya kalau kamu sakit."
Anindya menggeleng lemah sambil memaksakan senyum yang terlihat sangat menyedihkan. "Jangan, Mbok. Nanti Nyonya marah sama Mbok juga. Nin masih kuat... Nin cuma butuh minum air hangat."
"Tapi kamu bisa pingsan, Nak!" Mbok Sum memegang pundak kecil Anindya yang menggigil.
"Nin tidak boleh pingsan, Mbok. Kalau Nin diusir, Ayah harus bayar hutang lagi. Nin... Nin tidak mau Ayah susah," jawab Anindya dengan suara parau yang menahan tangis.
Sepanjang pagi itu, Anindya bekerja seperti bayangan. Ia menyiapkan sarapan dengan gerakan lambat, tangannya gemetar saat membawa piring-piring porselen yang berat. Pandangannya sesekali mengabur, namun ia menggigit bibir dalamnya kuat-kuat agar rasa sakit itu membuatnya tetap terjaga.
Di meja makan, Nyonya Lastri sedang sibuk memoles kuku-kukunya sambil menunggu Satria turun. Saat Anindya meletakkan segelas susu di depan Satria, tangannya tak sengaja menyentuh pinggiran gelas terlalu keras hingga menimbulkan bunyi denting yang nyaring.
"Hati-hati, Anindya! Kau mau memecahkan gelas mahal itu?" Bentak Nyonya Lastri tanpa melihat.
Satria yang baru duduk menatap Anindya. Dari jarak sedekat itu, ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh gadis itu. Ia melihat bulir-bulir keringat dingin mengucur di pelipis Anindya.
"Ibu, dia sepertinya sakit," ucap Satria tiba-tiba.
Nyonya Lastri mendongak, menatap Anindya dengan mata yang menyipit curiga. "Sakit? Itu hanya akal-akalannya saja karena malas bekerja. Kemarin hanya hujan sebentar, jangan manja. Anindya, kerjakan tugasmu! Setelah ini bersihkan gudang atas, banyak debu di sana!"
Anindya hanya bisa mengangguk pelan. "Baik, Bu."
Langkah kaki Anindya terasa semakin berat saat ia menaiki tangga menuju gudang atas. Setiap anak tangga terasa seperti gunung yang harus ia daki. Sesampainya di gudang, udara pengap dan debu tebal langsung menyerang pernapasannya. Ia mulai mengelap rak-rak tua berisi barang pecah belah dan tumpukan majalah lama.
Di tengah rasa sakitnya, mata Anindya tertuju pada seonggok kertas yang tergeletak di pojok ruangan. Itu adalah tumpukan koran bekas dan majalah pendidikan yang sudah tidak dibaca lagi oleh keluarga Wijaya. Rasa haus akan ilmu sejenak mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Ia merangkak mendekati tumpukan itu.
Ia menemukan sebuah majalah sains anak yang sampulnya sudah robek. Ia membacanya dengan saksama. Mengapa tubuh manusia bisa panas saat sakit? Di sana dijelaskan bahwa demam adalah cara tubuh melawan kuman.
"Jadi... tubuhku sedang berperang," bisik Anindya. Ia merasa sedikit terhibur. Ia tidak sedang lemah, tubuhnya sedang berjuang. Sama seperti jiwanya yang sedang berjuang melawan ketidakadilan di rumah ini.
Namun, penglihatannya semakin menggelap. Ruangan gudang yang sempit itu seolah berputar lebih kencang. Ia mencoba berdiri, namun kepalanya terasa dihantam gada besi. Piring di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.
Prang!
Suara itu menggema di seluruh rumah. Anindya jatuh terduduk di antara pecahan piring, tangannya tergores hingga mengeluarkan darah merah segar. Namun, ia tidak merasa sakit. Ia merasa dingin yang luar biasa.
"Anindya! Apa yang kau lakukan!" Suara Nyonya Lastri terdengar menaiki tangga dengan cepat.
Anindya mencoba bangkit, namun tubuhnya menolak. Ia jatuh pingsan tepat saat Nyonya Lastri membuka pintu gudang. Di tangannya, ia masih menggenggam sobekan majalah sains tadi—sebuah bukti bahwa bahkan di saat nyawanya terancam, ia masih mencoba meraih ilmu.
Nyonya Lastri mematung di ambang pintu, melihat Anindya yang tergeletak tak berdaya. Mbok Sum berlari menyusul dari belakang dan langsung menjerit melihat kondisi Anindya.
"Nyonya! Lihat! Dia sudah tidak sadar!" Mbok Sum langsung memangku kepala Anindya. "Tangannya berdarah, Nyonya! Dia sakit parah!"
Nyonya Lastri tampak sedikit panik, bukan karena kasihan, tapi karena takut jika sesuatu terjadi pada Anindya, suaminya akan marah karena kehilangan "jaminan hutang" yang berharga. "Cepat bawa dia ke bawah! Sum, panggilkan mantri desa!"
Satria berdiri di bawah tangga, melihat pemandangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ia melihat darah yang mengucur dari tangan Anindya, dan ia melihat sobekan majalah yang masih tergenggam erat di tangan gadis itu. Untuk pertama kalinya, Satria merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—rasa bersalah yang mendalam. Ia teringat bagaimana kemarin ia hanya menonton Anindya kehujanan tanpa melakukan apa pun kecuali memberinya roti sisa.
Malam itu, Anindya terbaring di kamarnya. Mantri desa sudah memberikan obat dan membalut lukanya. Rahardian, ayahnya di desa, sama sekali tidak diberitahu. Mereka takut Rahardian akan mengambil Anindya kembali.
Dalam tidurnya yang gelisah, Anindya bermimpi tentang buku-buku yang terbang. Ia bermimpi tentang angka-angka yang membentuk jembatan menuju ayahnya. Di bawah pengaruh obat, ia terus bergumam kecil.
"Tujuh... kali delapan... lima puluh enam..." bisiknya dalam igauan.
Mbok Sum yang menunggui di sampingnya hanya bisa menangis sesenggukan. "Bahkan saat pingsan pun kamu masih belajar, Nak. Apa yang sebenarnya kamu kejar?"
Anindya tidak menjawab. Ia sedang berada di dunianya sendiri. Sebuah dunia di mana ia bukan lagi budak hutang, melainkan seorang penguasa angka. Api di dalam nadinya tidak hanya membakar tubuhnya dengan demam, tapi juga membakar semangatnya untuk tidak pernah menyerah.
Bab ini menjadi titik balik bagi Anindya. Ia menyadari bahwa tubuhnya memiliki batas, namun mimpinya tidak. Dan bagi Satria, ini adalah awal dari perubahan sudut pandangnya terhadap "menantu pelayan" itu.
Sebuah benih baru mulai tertanam di rumah keluarga Wijaya—benih yang suatu saat akan tumbuh menjadi pohon besar yang mengguncang fondasi kemiskinan dan tradisi yang selama ini membelenggu Anindya.