Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTAR LUNA PULANG
"Om... Tante. Terima kasih atas makan malamnya." Kata Luna meletakkan sendok dan gapunya rapi di atas piring. "Masakan Tante enak banget!"
Ia tersenyum sopan, senyum yang tenang, seolah tak ada beban di tengah suasana yang masih menyisakan ketegangan halus sejauh makan malam bersama keluarga Surya malam ini.
"Kamu bisa saja. Ini masakan Bik Minah juga, kok." Tanggap Maudi.
"Vhirel... kamu yang antar Luna pulang, ya?" ucap Surya dengan nada santai, seolah permintaannya itu bukanlah hal besar.
Uhuk! Uhuk!
Dea seketika tersedak. Gelas yang baru saja menyentuh bibirnya bergetar hebat. Ia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah, berusaha mencari oksigen sekaligus mencerna kalimat ayahnya yang barusan terdengar seperti petir.
"De..." Mau di mengernyitkan dahi. "Kamu kenapa?"
Dea tertunduk. "Eng-Enggak, Ma. De-Dea..."
Kalimat Dea menggantung di udara. Matanya sekilas melirik ke arah Vhirel yang sedari tadi sembunyi memperhatikan dirinya.
“Om… Tante, aku bisa pulang sendiri naik taksi, kok,” kata Luna lagi, suaranya berusaha terdengar ringan meski jemarinya saling meremas di pangkuan.
“Enggak, enggak.” Surya menggeleng tegas. Tatapannya segera beralih pada Vhirel, nyaris tanpa memberi ruang untuk menolak. “Rel, antar Luna pulang sekarang juga.”
Vhirel terdiam sepersekian detik. Kata sekarang itu seperti palu yang menghantam dadanya. Ia melirik Luna—sekilas saja—lalu menoleh ke arah Dea, sesaat sebelum akhirnya ia bangkit dari kursi makannya.
“Iya, Pa,” jawabnya singkat.
Dea yang sejak tadi menunduk, refleks mengangkat wajah. Pandangannya mengikut pada punggung Vhirel yang sudah melangkah ke arah pintu, lalu beralih pada Luna yang ikut berdiri. Ada sesuatu yang tertinggal di udara—sunyi yang berat, seolah makan malam itu berakhir bukan karena waktu, melainkan karena perasaan yang tak sempat diselesaikan.
****
"Kamu... kayaknya deket banget sama adik kamu."
Pernyataan itu berhasil memecah keheningan di dalam kabin, namun justru Vhirel hanya menjawabnya dengan segurat senyuman. Dan, senyum itu tidak sampai ke mata. Vhirel tidak menoleh, jemarinya tetap melingkar tenang pada kemudi, seolah pertanyaan itu hanyalah angin yang mengetuk kaca jendela tanpa izin.
Setengah jam berlalu dalam keheningan yang merayap, hingga akhirnya Luna wanita yang sedari tadi duduk di kursi penumpang itu bicara. Namun hingga detik itu, Vhirel tetap memilih diam. Tidak ada balasan, tidak pula lirikan. Hanya deru mesin dan lampu jalan yang sesekali memantul di kaca mobil.
Sampai mobil itupun melambat, lalu menepi.
Di hadapan mereka berdiri rumah Luna.
Sebuah hunian megah di kawasan pemukiman elit yang nyaris sunyi, seolah dunia luar sengaja menjauh darinya. Pagarnya tinggi berwarna gading, membentang kokoh, dihiasi pilar-pilar klasik dengan ukiran tegas namun anggun. Dindingnya bersih, simetris, memancarkan kesan dingin yang terawat—seperti disiplin yang diwariskan turun-temurun. Sementara, ditengah pagar, sebuah relief dedaunan terukir rapi, memberi sentuhan alami yang kontras dengan kesan aristokrat rumah itu—indah, tapi terasa jauh.
Luna menatap lurus ke depan, menelan napas dengan cukup sabar. Di sanalah ia harus pulang. Ke tempat yang tidak ingin buru-buru. Bukan karena rumahnya yang tak nyaman, namun perpisahannya dengan Vhirel malam ini terasa terlalu cepat—pertanyaan itu belum menemukan jawabnya, dan terpaksa dibiarkan menggantung.
Sementara Vhirel tetap diam, tangannya masih di setir, pandangannya tertahan entah pada bangunan megah itu—atau pada sesuatu yang jauh lebih berat di dalam dadanya.
Dea.
Ia masih ingat bagaimana tadi reaksi gadis itu ketika Surya meminta dirinya mengantar Luna pulang. Senyum yang dipaksakan, anggukan kecil yang terlalu cepat, dan tatapan yang berusaha tampak biasa—padahal menyimpan sesuatu yang tak bisa diucapkan. Ada rasa yang tertinggal di sana, rasa yang tak bernama namun cukup tajam untuk menggores kesadarannya.
"Ya udah..." sambung Luna melepaskan seat belt nya dan melirik Vhirel dari tampak samping. "... makasih ya, Mas. Kamu udah—"
"Pulanglah." Timpal Vhirel segera. "Ayahmu pasti mengkhawatirkan kamu di dalam. Gadis mana yang pulang larut malam seperti ini."
Luna tertawa kecil seolah mencairkan kabin yang sedari tadi jelas pekat dan sunyi. "Mas... aku kan perginya sama kamu. Jelas, Papa gak akan khawatir. Makanya... sebelum kamu pulang, masuk dulu yuk? Biar Papa percaya dan—"
"Ini udah malam dan aku ingin segera beristirahat." Sela Vhirel lagi. "Pulanglah, aku besok harus berangkat ke kantor pagi."
Turunlah, cepat! Beraninya menduduki persinggahan kekasihku, kalau bukan karena Papa, sial! Batin Vhirel.
"Baik, Mas." Angguk Luna. "Kalau gitu... aku pulang dulu, ya."
Vhirel menghela napas perlahan, seolah udara di dadanya sejak tadi tertahan dan baru kini diberi ruang. Tangannya terlepas dari setir, jemarinya mengendur sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk singkat—tanpa menoleh, tanpa tambahan kata.
“Hmm.”
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,