"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Jejak Zhuo di Kota Shanghai
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 14.00 PM]
[Lokasi: Bandara Internasional Pudong, Shanghai]
Udara Shanghai terasa lebih lembap dan sibuk dibandingkan Shenzhen. Lin Xia melangkah keluar dari gerbang kedatangan dengan tas punggung dan satu koper kecil. Sesuai instruksi Gu Jingshen, seorang pria bersetelan hitam rapi yang memegang papan nama bertuliskan "Sheng-Li Capital" sudah menunggunya.
"Nona Lin Xia? Saya asisten pribadi yang ditugaskan Tuan Gu untuk mendampingi Anda selama di Shanghai," ucap pria itu sambil membungkuk sopan.
"Terima kasih. Kita langsung ke kantor atau ke apartemen?" tanya Lin Xia, mencoba menekan rasa rindu yang mulai merayap meskipun ia baru berpisah beberapa jam dengan Jingshen.
"Tuan Gu meminta saya mengantar Anda ke sebuah kantor firma hukum tua di Distrik Jing'an terlebih dahulu. Ada beberapa dokumen naskah lama dan berkas sejarah perusahaan yang beliau ingin Anda pelajari sebagai bahan riset Project Mnemosyne," jelas asisten tersebut.
Lin Xia mengerutkan kening. Riset di firma hukum? Namun, ia mengikuti saja. Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan Shanghai yang megah, Lin Xia menatap gedung-gedung pencakar langit, menyadari bahwa ia kini berada di garis depan rencana rahasia Jingshen.
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 15.30 PM]
[Lokasi: Firma Hukum 'Old Bridge', Distrik Jing'an, Shanghai]
Firma hukum ini terletak di sebuah bangunan kolonial tua yang sangat terawat. Di dalamnya, aroma kertas tua dan kayu ek menyambut Lin Xia. Ia diantar ke sebuah ruang arsip privat di mana seorang pria tua berkacamata tebal sudah menunggunya.
"Nona Lin, saya adalah pengacara pribadi almarhum Tuan Zhuo Ming, paman kandung dari Gu Jingshen," sapa pria tua itu.
Lin Xia tersentak. "Zhuo Ming? Bukan Gu?"
Pria tua itu tersenyum pahit. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu berdebu dan membukanya di depan Lin Xia. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen pendirian perusahaan tertanggal tiga puluh tahun yang lalu.
"Tuan Jingshen mengirim Anda ke sini karena dia tahu Anda adalah orang paling jujur yang bisa menyusun kembali 'naskah' sejarah yang sebenarnya. Lihatlah ini," ucap pengacara itu sambil menyodorkan sebuah akta notaris.
Mata Lin Xia membelalak saat membaca baris demi baris dokumen tersebut. Di sana tertulis dengan jelas: Zhuo Corp.
"Gu Corp yang sekarang berdiri dengan megah di Shenzhen... awalnya adalah Zhuo Corp," bisik Lin Xia tidak percaya.
"Benar," lanjut sang pengacara. "Ayah kandung Jingshen, Tuan Zhuo Jianjun, adalah pendiri aslinya. Namun, pendanaan awal untuk membangun teknologi mesin inti perusahaan ini tidak datang dari bank, melainkan dari warisan keluarga besar Zhuo Ming, paman kandung Jingshen dari pihak ayah. Mereka adalah keluarga ilmuwan dan investor di Shanghai."
Lin Xia membolak-balik berkas itu dengan tangan gemetar. Ia menemukan bukti aliran dana yang sangat besar dari keluarga Zhuo di Shanghai ke Shenzhen. Namun, di lembar-lembar berikutnya, nama Zhuo perlahan menghilang, digantikan secara paksa oleh nama Gu.
"Tuan Besar Gu—ayah tiri Jingshen yang sekarang—awalnya hanyalah manajer operasional dan sahabat karib Tuan Zhuo Jianjun. Saat kecelakaan kebakaran itu terjadi, Tuan Besar Gu menggunakan kekacauan tersebut untuk memalsukan surat pengalihan saham. Dia mengancam keluarga Zhuo di Shanghai dan menghapus nama 'Zhuo Corp' dari sejarah, mengubahnya menjadi 'Gu Corp'," jelas pengacara itu dengan nada getir.
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 17.00 PM]
[Lokasi: Kantor Sheng-Li Capital, Shanghai]
Lin Xia duduk di ruangan barunya di kantor rahasia Jingshen. Pikirannya kacau. Data yang ia temukan di firma hukum tadi jauh lebih gelap daripada naskah drama mana pun yang pernah ia tulis.
Ternyata, Jingshen bukan hanya sedang memperjuangkan harga dirinya, tapi dia sedang mencoba merebut kembali warisan darah dagingnya yang telah dicuri selama puluhan tahun.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon Jingshen.
"Jingshen... aku sudah melihat dokumennya," ucap Lin Xia pelan saat telepon diangkat.
Di seberang sana, terdengar suara helaan napas berat dari Jingshen. "Sekarang kau tahu kenapa aku harus mengirimmu ke sana, Xia. Aku butuh seseorang yang bisa merangkai bukti-bukti itu menjadi sebuah narasi hukum yang tak terbantahkan. Ayahku... pria itu tidak hanya mencuri ibuku, dia mencuri identitas keluargaku."
"Zhuo Jingshen..." Lin Xia menyebut nama asli Jingshen dengan lembut.
"Nama itu sudah lama mati, Xia. Tapi aku akan menghidupkannya kembali," jawab Jingshen dengan nada yang dingin namun penuh determinasi. "Lin Xia, di sana ada berkas tambahan tentang dana dari Paman Zhuo Ming. Dana itu masih tersimpan di rekening perwalian di Shanghai yang tidak bisa disentuh oleh keluarga Gu. Gunakan dana itu untuk merekrut tim ahli IT terbaik di Shanghai. Kita akan membuat Mnemosyne versi asli, versi Zhuo Corp, yang akan melumpuhkan sistem Gu Corp dari dalam."
Lin Xia merasakan semangat juang Jingshen mengalir melalui telepon. "Aku mengerti. Aku akan mulai bekerja sekarang. Aku akan menyusun 'Naskah Kebenaran' ini agar dunia tahu siapa pemilik asli gedung tinggi di Shenzhen itu."
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 19.00 PM]
[Lokasi: Gedung Gu Corp, Shenzhen]
Sementara Lin Xia mulai bekerja di Shanghai, Jingshen berdiri di kantornya, menatap plakat besar berlogo "Gu Corp" di dinding lobi melalui layar CCTV. Di sampingnya, Ah Cheng masuk dengan laporan terbaru.
"Tuan, Tuan Besar Gu baru saja memanggil dewan direksi untuk mengadakan rapat rahasia besok pagi tanpa mengundang Anda. Sepertinya beliau mulai curiga dengan pergerakan dana kita di Shanghai," lapor Ah Cheng.
Jingshen tersenyum miring—sebuah senyum yang menunjukkan bahwa dia sudah siap untuk berperang. "Biarkan dia mengadakan rapat. Dia pikir dia sedang mengunci pintu, padahal aku sudah membakar fondasi rumahnya."
Jingshen teringat Lin Xia. Mengetahui wanita itu aman di Shanghai dan didampingi oleh sejarah keluarga Zhuo membuatnya merasa lebih kuat.
"Ah Cheng, siapkan mobil. Kita temui Lin Feng di klubnya. Aku butuh dia untuk mulai menyebarkan rumor di pasar saham tentang 'Zhuo Corp' yang bangkit kembali. Kita buat Tuan Besar Gu panik sebelum serangan terakhir dimulai."
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 21.00 PM]
[Lokasi: Apartemen Baru Lin Xia, Shanghai]
Lin Xia berdiri di balkon apartemennya yang menghadap ke Bund, pemandangan sungai Huangpu yang indah dengan lampu-lampu kapal yang melintas. Di tangannya, ia memegang sebuah foto lama yang ia temukan di dasar kotak kayu tadi—foto Jingshen kecil yang digendong oleh seorang pria yang sangat mirip dengannya: Zhuo Jianjun.
"Jadi ini alasanmu menjadi begitu dingin, Jingshen," gumam Lin Xia. "Kau hidup di dalam rumah pencuri selama ini."
Lin Xia kembali ke meja kerjanya. Ia membuka laptop dan mulai mengetik naskah baru. Bukan lagi tentang Marsekal fiksi, melainkan tentang seorang pemuda bernama Zhuo yang merebut kembali cahayanya dari kegelapan.
Di kota Shanghai yang tak pernah tidur, rencana besar untuk meruntuhkan kediktatoran keluarga Gu mulai bergerak secara sistematis. Dan Lin Xia, sang penulis naskah, kini memegang kunci untuk mengakhiri sandiwara panjang yang telah menipu dunia selama tiga dekade.