Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: SURAT DARI MASA DEPAN YANG TERTUNDA
Pagi itu, Oakhaven tampak seperti lukisan cat air yang belum kering. Kabut tipis menyelimuti jendela-jendela rumah sakit, memberikan kesan bahwa dunia luar hanyalah sebuah abstraksi. Kai sedang duduk di kantin kecil rumah sakit, menyesap kopi pahitnya yang sudah dingin, ketika seorang resepsionis mendatanginya dengan sebuah amplop putih kaku di tangannya.
"Pak Kai? Ini baru saja tiba dengan kurir kilat. Ada stempel hukumnya," ucap petugas itu dengan nada sedikit khawatir.
Kai menerima amplop itu. Jantungnya berdenyut kencang. Ia mengenali logo di sudut kiri atas: *Kantor Kejaksaan Agung Ibu Kota*. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merobek segelnya.
Isinya bukan hanya satu lembar, melainkan beberapa dokumen teknis dan sebuah surat panggilan resmi. Mata Kai memindai baris demi baris.
*“...Sehubungan dengan pengungkapan kasus Lumina Corp, pengadilan meminta kehadiran Saudara Kai Malik sebagai saksi kunci sekaligus ahli waris sah untuk proses likuidasi dan restrukturisasi aset... Saudara juga diwajibkan memberikan pernyataan resmi terkait keterlibatan mendiang Malik dalam sistem keamanan data yang kini menjadi aset negara.”*
Kai menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. Ia menghela napas panjang. Ternyata, meskipun Yudha sudah di balik jeruji besi, bayang-bayang Lumina Corp tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Mereka menginginkannya kembali—bukan sebagai tahanan, tapi sebagai pemilik sah dari kekacauan yang ditinggalkan ayahnya.
"Apa itu buruk?" suara Elara memecah keheningan. Ia baru saja datang dari kamar ibu Kai, wajahnya tampak segar meskipun ada sedikit kecemasan di matanya saat melihat surat di tangan Kai.
Kai menyerahkan dokumen itu kepada Elara. "Mereka menginginkanku kembali ke ibu kota. Bukan untuk dipenjara, tapi untuk mengambil alih apa yang tersisa dari Lumina. Mereka menyebutnya 'restrukturisasi'. Secara teknis, aku adalah pemilik mayoritas saham yang sah sekarang."
Elara membaca surat itu dengan cepat, lalu menatap Kai. "Bukankah itu hal yang bagus? Kau bisa membangun kembali apa yang dihancurkan Yudha. Kau bisa mewujudkan impian ayahmu tanpa ada orang yang memerasmu."
"Tapi itu berarti aku harus meninggalkan Oakhaven lagi, Elara," kata Kai, suaranya mengandung nada keputusasaan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku baru saja menemukan ketenangan di sini. Aku baru saja menemukanmu kembali. Jika aku kembali ke gedung kaca itu, aku takut aku akan kehilangan warna-warna yang baru saja mulai muncul ini."
Elara duduk di samping Kai, menggenggam tangannya. "Kai, dengarkan aku. Oakhaven bukan sekadar tempat. Oakhaven adalah perasaan yang kau bawa di dalam dirimu. Kau tidak akan kehilangan warna itu karena kau bukan lagi pelukis yang sama seperti tiga tahun lalu."
Ia berhenti sejenak, menatap mata Kai dengan intensitas yang dalam. "Lagipula, kau tidak perlu melakukannya sendirian."
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah memutuskan," ucap Elara dengan senyum yang kali ini terlihat lebih berani. "Aku tidak bisa menyanyi di panggung opera yang sama lagi, tapi suaraku... suaraku butuh ruang yang lebih besar daripada sekadar teater tua yang runtuh. Jika kau harus kembali untuk menyelesaikan urusan ayahmu, aku akan ikut bersamamu. Kita akan menghadapi ibu kota bersama."
Kai tertegun. Ia menatap Elara seolah-olah baru pertama kali melihatnya. "Kau mau meninggalkan Oakhaven? Tempat perlindunganmu?"
"Tempat ini bukan lagi perlindunganku sejak kau datang mengetuk pintu hidupku, Kai. Kau adalah perlindunganku. Dan sekarang, giliranku untuk menjadi pendukungmu di dunia yang penuh dengan lampu neon itu."
Keberanian Elara memberikan kekuatan baru bagi Kai. Ia menyadari bahwa melarikan diri selamanya ke Oakhaven bukanlah jawaban. Untuk benar-benar sembuh, ia harus kembali ke pusat luka itu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang indah.
Namun, dokumen itu juga menyimpan sebuah rahasia kecil di lampiran terakhir. Sebuah catatan kaki tentang sebuah gudang penyimpanan pribadi milik ayahnya yang tidak pernah diketahui Yudha. Sebuah tempat yang hanya bisa dibuka dengan kunci biometrik—atau dalam hal ini, sebuah pola gambar yang hanya diketahui oleh Kai.
"Ayahku meninggalkan sesuatu yang lain," bisik Kai. "Sesuatu yang lebih dari sekadar desain gedung."
"Apa itu?"
"Aku tidak tahu. Tapi di dokumen ini disebutkan tentang 'Proyek Spektrum'. Ayahku selalu bilang bahwa suatu hari nanti, dia ingin menciptakan sebuah ruang di mana orang yang kehilangan segalanya bisa menemukan diri mereka kembali lewat cahaya."
Kai berdiri, semangatnya kini berkobar. Ia tidak lagi melihat surat panggilan itu sebagai beban, melainkan sebagai undangan untuk babak terakhir dari karya agung ayahnya.
"Ayo kita lakukan, Elara. Kita ke ibu kota. Kita selesaikan urusan Lumina, kita sembuhkan Ibu di sana dengan fasilitas terbaik yang benar-benar milik kita, dan kita buka Proyek Spektrum itu."
Mereka menghabiskan sore itu dengan mempersiapkan kepulangan. Kai mengunjungi ibunya, menjelaskan rencana mereka. Ibunya hanya tersenyum dan mengangguk, seolah ia sudah tahu bahwa putra-putranya ditakdirkan untuk hal-hal besar di luar batas kota kecil itu.
Saat matahari mulai terbenam, memberikan gradasi warna oranye dan merah muda di langit Oakhaven—warna yang kini bisa dilihat Kai dengan jelas—ia berdiri di balkon apartemennya untuk terakhir kalinya.
Ia mengambil sebatang arang, lalu mematahkannya menjadi dua. Ia membuangnya ke salju di bawah.
"Tidak ada lagi arang," gumamnya.
Ia mengambil sebuah kotak cat minyak yang ia beli beberapa hari lalu. Ia membuka tutup warna biru dan kuning. Ia mengoleskan sedikit di ujung jarinya, lalu menorehkan garis kecil di dinding balkon.
Warna itu bersinar di kegelapan.
Perjalanan Kai dari seorang pria yang hanya bisa melihat abu-abu menuju seorang pria yang berani menghadapi spektrum warna yang penuh tantangan kini memasuki babak baru. Perjalanannya belum selesai. Dengan 39 bab tersisa, tantangan di ibu kota akan jauh lebih diplomatis, penuh dengan intrik korporat, namun kali ini Kai memiliki senjata yang paling kuat: kejujuran seorang seniman dan melodi dari seorang penyanyi yang telah menemukan kembali suaranya.
Esok pagi, mereka akan menaiki kereta yang sama. Namun kali ini, arahnya bukan menuju pelarian, melainkan menuju kemenangan.