"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Seana sebenarnya tidak ingin bertemu dengan keluarga Sanzio. Memikirkan seperti apa watak ibu mertua kakaknya, Rita, Dewan merasa bahwa keluarga Sanzio akan sulit untuk bergaul secara umum. Namun, Seana juga tahu bahwa pernikahan antara dirinya dan Sanzio memang hanyalah sandiwara untuk dilihat keluarganya. Sama seperti didalam cerita novel dan drama, pewaris keluarga besar menganggap pernikahan sebagai hal yang sepele, tetapi keluarganya akan terus menerus mendesaknya untuk segera menikah. Seana tidak menyangka pria yang mengintimidasi seperti Sanzio juga akan memiliki keluarga seperti itu.
"Bisa di bilang begitu." Jawab Sanzio dengan santai.
Itu berarti mereka memang melakukan hal itu! Bersandiwara! Seana tidak melanjutkan percakapan dan dalam diam menyantap makanannya.
Seana sangat perfeksionis soal kebersihan, apalagi ketika makan. Ketika masih kecil, ibunya terkadang memberinya makanan yang belum habis dimakan kakaknya, dan dia merasa jijik dengan sisa makanan itu, tetapi anehnya Seana tidak merasa jijik dengan makanan yang diberikan Sanzio. Apakah karena masakan Sanzio enak?
"Kamu bisa masak apa?." Tanya Sanzio pada Seana ketika mereka hampir selesai makan. Baru saja, Seana hendak menjawab, tetapi dia berpikir bahwa dirinya tidak bisa membuat menu sarapan.
"Pasta."
"Apa lagi?."
"Saya bisa bikin mie instan, nasi goreng, pasta, keripik kentang, spageti sama linguine!"
Sebenarnya Seana tidak terlalu suka dengan makanan-makanan itu, tetapi karena itu yang paling cepat untuk ia masak di apartemen, maka Seana tidak punya pilihan lain. Terlebih lagi, dulu di tempat tinggal Seana hanya ada nasi dan mie instan. Sejak kecil, Seana paling sering masak mie instan dan nasi goreng, jadi dia hanya tahu cara memasak kedua makanan itu.
"Kalau gitu, mulai sekarang kamu harus buatin saya pasta buat sarapan." Kata Sanzio setelah berpikir sejenak.
Seana terdiam ketika memegang gelas minumnya, tetapi dia tetap mengangguk. "Baik, Pak."
Meskipun sudah bermalam di satu atap yang sama, Seana masih belum bisa menghilang rasa takutnya pada Sanzio.
Setelah selesai sarapan, mereka berdua bersiap dan pergi ke kantor pemerintahan untuk mendaftarkan pernikahan mereka.
Karena belum menandatangani perjanjian, Seana menatap Sanzio dengan cemas. "Pak, apa ngga sebaiknya kita buat perjanjian dulu, sebelum buat surat nikah?."
"Apa kamu takut saya akan memaksa kamu melayani saya?." Goda Sanzio dengan sengaja.
Sanzio merasa seolah-olah Seana jual malam semalam. Sanzio tak bisa menahan tawa ketika melihat betapa takutnya Seana karena wanita itu takut, Sanzio tidak akan menepati janjinya.
Seana memainkan jari-jarinya, tak berani menjawab.
Sanzio tidak mengatakan sepatah kata pun dan hanya menarik tangan Seana untuk mengambil akta nikah mereka, tanpa sekali pun menyebutkan perjanjian pernikahan tersebut. Jika Seana menyinggungnya, Sanzio mungkin akan merasa tidak dihargai sama sekali.
Seana berjalan keluar dari gedung pemerintahan sembari terus melihat sertifikat pernikahan miliknya nya. Seana tidak percaya bahwa dirinya sekarang sudah menikah, meskipun tidak ada acara pernikahan yang mewah dan megah seperti yang diimpikannya dulu. Dan menikah dengan pria yang didambakan setiap wanita dikota ini pula!
Sesaat kemudian, dokumen sertifikat itu direbut dari tangannya. Sanzio meletakkan sertifikat Seana diatas sertifikat miliknya sendiri. "Saya akan menyimpannya dengan aman."
Meskipun Seana adalah asisten Sanzio, dan selalu mengikutinya kemana pun dia pergi. Sanzio justru tidak mempercayakan dokumen itu lebih aman ditangan Seana.
Seana juga tidak berani membantah keputusannya, kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil dan langsung pergi ke kantor.
Ketika mereka hampir sampai, Seana menoleh kearah Sanzio. "Pak, kapan kita menandatangani surat perjanjiannya?."
Seana sudah setuju untuk menjalani pernikahan palsu dengan Sanzio, tetapi bukankah itu seharusnya dengan adanya surat perjanjian diantara mereka? Seana pikir, Sanzio sudah menyiapkannya, tetapi hingga hari ini dia belum melihat surat tersebut dan terus menanyakan karena dia ingin membaca untung ruginya menjadi istri Sanzio kedepannya.
"Mike nanti yang akan kasih tau kamu." Kata Sanzio dengan raut wajah datar.
Mendengar nada bicara Sanzio, Seana tahu bahwa pria itu sedang merasa kesal. Tetapi Seana tidak tahu apa penyebabnya. Ketika mereka akhirnya sampai di persimpangan didepan gedung perusahaan, Seana buru-buru berkata. "Pak, turunin saya di sini."
Sanzio menoleh, mengernyitkan dahinya. "Kenapa?."
Seana menghela napasnya. "Kita ngga bisa biarin para karyawan tau kalau kita datangnya barengan, kan. Pak?." Kata Seana.
Mereka menjalani pernikahan palsu, jika orang-orang ditempat kerja melihat Seana keluar dari mobil Sanzio, para karyawan wanita pasti akan kesal pada Seana, lalu membuat gosip yang bukan-bukan, menjelekkan nama Seana, dan itu akan berdampak pada kinerja Seana dikantor. Pada akhirnya Seana yang akan menjadi korban teledor.
Seana tidak ingin menimbulkan masalah.
"Ternyata kamu perhatian juga, ya." Cibir Sanzio.