NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Warisan

Tiga tahun kemudian.

Jakarta, bulan Agustus. Musim kemarau membawa panas yang menyengat, tapi di rumah Menteng, udara selalu terasa sejuk. Pohon beringin tua itu semakin rindang, dedaunannya lebat menaungi hampir setengah halaman belakang.

Pagi itu, Rara—kini berusia tujuh tahun—duduk di teras belakang dengan buku gambar di pangkuannya. Ia sedang melukis sesuatu dengan serius, krayon warna-warni berserakan di sekelilingnya.

"Rara, lagi gambar apa?" tanya Kalara yang muncul dengan segelas jus jeruk.

"Rumah kita," jawab Rara tanpa menoleh. "Bu Rara suruh gambar tempat favorit. Rara pilih rumah ini."

Kalara duduk di sampingnya, mengamati gambar itu. Rumah dengan atap cokelat, pohon besar di samping, dan banyak bunga-bunga di halaman. Di dalam rumah, ada figur-figur kecil—satu, dua, tiga, empat, lima, enam.

"Ini siapa saja?" tanya Kalara, menunjuk figur-figur itu.

Rara menjelaskan dengan semangat, "Ini Mama, ini Ayah, ini Om Arsya, ini Tante Nad, ini Rara, ini Adek Melati. Terus ini..." ia menunjuk dua figur tambahan di pojok, "ini Nenek dan Kakek yang di foto."

Kalara terharu. "Nenek dan Kakek ikut di gambar?"

"Iya. Mereka juga tinggal di sini, kan? Di hati Rara."

Kalara memeluk putrinya. "Iya, Sayang. Mereka tinggal di hati kita."

Melati, yang kini berusia tiga tahun, berlarian ke luar rumah dengan gaun pink kesayangannya. Rambut ikalnya bergerak-gerak lucu, ia tertawa riang sambil memegang boneka kelinci.

"Kak Rara! Kak Rara! Lihat!"

Rara menoleh. "Lihat apa, Adek?"

"Kelinciku bisa lompat!" Melati menunjukkan bonekanya yang memang bisa melompat-lompat karena pegas di kakinya.

"Cerdas, Adek."

Melati tersenyum bangga. Wajahnya mirip Nadia—mata bulat, senyum manis. Tapi rambut ikalnya dari Arsya, kata orang-orang.

Di dalam rumah, Arsya dan Nadia masih di kamar. Ini hari libur, jadi mereka tidak terburu-buru bangun. Tapi suara tawa anak-anak di halaman belakang membuat mereka tersenyum.

"Kita harus bangun," gumam Nadia malas. "Anak-anak udah rame."

"Sebentar lagi," bisik Arsya, menariknya kembali ke pelukan.

"Ars, nanti mereka masuk."

"Biarkan. Mereka tahu pintu."

Nadia tertawa. "Kamu ini."

Akhirnya mereka bangun juga. Turun ke bawah, menemukan Rara dan Melati sudah mandi dan berpakaian rapi—dengan bantuan Kalara, tentu saja.

"Om! Tante!" sapa Melati riang. "Melati udah mandi! Wangi!"

Arsya menggendongnya, mencium pipi gembulnya. "Wangi banget. Pakai sabun apa?"

"Sabun strawberry!"

"Wah, pasti enak dimakan."

"Enggak bisa dimakan, Om! Bodoh!"

Semua tertawa. Melati memang polos dan lucu.

Sarapan bersama seperti biasa. Meja makan penuh dengan nasi goreng, telur, dan buah-buahan. Raka yang paling sibuk—hari ini ada acara besar di kafenya, cabang ketiga yang baru dibuka bulan lalu.

"Aku duluan, ya," pamit Raka, mencium Kalara dan kedua putrinya. "Semoga acaranya lancar."

"Pasti, Sayang. Lo hebat."

Raka tersenyum. "Aku hebat karena punya lo."

"Yee, puitis amat."

Mereka tertawa. Raka pergi, meninggalkan kehangatan keluarga.

Usai sarapan, Kalara dan Nadia membereskan meja sementara Arsya menemani anak-anak bermain. Rara menunjukkan gambarnya pada Arsya.

"Ini bagus banget, Rara," puji Arsya. "Kamu benar-benar berbakat."

"Iya, Om. Bu Rara juga bilang gitu."

"Kamu mau jadi pelukis kalau besar?"

Rara berpikir. "Mau. Tapi Rara juga mau jadi arsitek kayak Om. Bisa dua, kan?"

"Bisa. Kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau."

"Om yakin?"

"Aku yakin. Asal rajin belajar."

Rara mengangguk semangat. "Rara rajin!"

Melati tiba-tiba ikut nimbrung. "Melati mau jadi apa?"

Arsya menggendongnya. "Kamu mau jadi apa?"

"Melati mau jadi putri duyung!"

Semua tertawa. Polosnya anak usia tiga tahun.

"Putri duyung? Di mana lautnya?" tanya Rara.

"Nanti Om bikin kolam renang. Terus Melati bisa jadi putri duyung di sana."

"Janji, Om?"

Arsya tersenyum. "Janji. Nanti Om bikin kolam."

Melati bertepuk tangan senang. "Yess! Om baik!"

Hari itu berjalan biasa. Kalara bekerja dari rumah, menyelesaikan proyek desain untuk sebuah kafe di Bandung. Nadia juga bekerja dari studionya di lantai bawah—proyek perumahan di BSD. Arsya menemani anak-anak, sesekali menggambar sketsa kolam renang yang dijanjikan pada Melati.

Sore harinya, saat matahari mulai condong, seorang tamu tak terduga datang.

Sebuah mobil tua berhenti di depan pagar. Seorang wanita paruh baya turun, berpakaian sederhana, membawa tas kain. Ia berdiri di depan pagar, menatap rumah Menteng dengan mata berkaca-kaca.

Kalara yang kebetulan di teras melihatnya. Ia mendekat.

"Ibu cari siapa?" tanyanya sopan.

Wanita itu menatap Kalara lama. Lalu tiba-tiba, ia menangis.

"Kamu... Kalara?"

Kalara terkejut. "Iya. Siapa Ibu?"

Wanita itu terisak. "Aku... aku bibimu. Adik kandung ibumu."

Dunia Kalara seperti berhenti.

Di ruang keluarga, wanita itu duduk dengan canggung. Arsya, Nadia, Kalara, dan Raka—yang kebetulan sudah pulang—mengelilinginya. Rara dan Melati disuruh main di kamar.

"Nama saya Lastri," wanita itu memperkenalkan diri. "Adik bungsu Rarasati. Waktu itu, waktu semua terjadi, saya masih delapan belas tahun."

Kalara dan Arsya diam, mencerna informasi ini.

"Kenapa baru sekarang Ibu datang?" tanya Arsya, suaranya hati-hati.

Lastri menghela napas. "Saya... saya malu. Saya tahu cerita kakak saya. Tahu bagaimana dia diperlakukan keluarga. Saya tidak berbuat apa-apa waktu itu. Saya terlalu takut."

Air matanya jatuh.

"Setelah kakak saya pergi, saya juga pergi dari rumah. Merantau ke Kalimantan. Menikah di sana. Punya anak. Tapi setiap tahun, setiap ulang tahun kakak, saya selalu ingat. Selalu menyesal."

"Lalu kenapa Ibu datang sekarang?" tanya Kalara, suaranya bergetar.

Lastri menatapnya. "Karena saya ingin minta maaf. Saya ingin kalian tahu bahwa tidak semua keluarga saya jahat. Saya sayang kakak saya. Saya... saya juga ingin mengenal kalian. Keponakan saya."

Suasana hening. Kalara dan Arsya bertukar pandang.

"Mama saya tidak pernah cerita tentang Ibu," kata Kalara. "Tentang adiknya."

"Mungkin karena luka terlalu dalam. Atau mungkin karena Mama angkatmu tidak tahu. Hanya sedikit orang yang tahu saya ada."

Arsya menghela napas. "Ini... ini berat. Kami perlu waktu."

"Tentu. Saya mengerti. Saya hanya ingin kalian tahu. Dan saya tidak akan memaksa." Lastri berdiri. "Saya di Jakarta seminggu. Ini alamat hotel saya." Ia meletakkan secarik kertas di meja. "Jika kalian ingin bicara lagi, hubungi saya."

Lastri pergi. Meninggalkan keheningan yang berat.

Malam itu, mereka makan malam dalam diam. Rara dan Melati merasakan suasana aneh, tapi tidak bertanya.

Setelah anak-anak tidur, mereka berkumpul di ruang keluarga.

"Gue bingung," kata Kalara. "Gue nggak tahu harus merasa apa."

"Aku juga," aku Arsya. "Tiba-tiba ada bibi yang tidak pernah kita kenal."

Nadia meraih tangan Arsya. "Bagaimana perasaan kalian?"

"Sedih," jawab Kalara. "Tapi juga... penasaran."

"Penasaran kenapa?"

"Penasaran tentang ibu. Tentang masa lalunya. Tentang keluarga yang tidak pernah cerita."

Arsya mengangguk. "Aku juga. Mungkin ini kesempatan untuk tahu lebih banyak."

"Tapi kita juga harus hati-hati," kata Raka. "Kita tidak tahu motif dia sebenarnya."

"Itu benar."

Mereka berdiskusi panjang. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bertemu Lastri lagi. Tapi tidak sendirian. Mereka akan ajak Mama Kalara dan Ayah Arsya juga.

"Biar ada yang lebih tua," kata Kalara. "Mereka mungkin tahu sesuatu."

Dua hari kemudian, mereka bertemu di sebuah kafe di Kemang.

Mama Kalara datang dengan wajah tegang. Ayah Arsya juga tampak serius. Mereka duduk bersama Lastri, Kalara, Arsya, Nadia, dan Raka.

Lastri mulai bercerita. Tentang masa kecilnya bersama Rarasati. Tentang bagaimana kakaknya selalu melindunginya. Tentang pertengkaran dengan orang tua saat Rarasati memilih menikah dengan Asmara. Tentang bagaimana ia diusir dari rumah karena membela kakaknya.

"Aku tidak tahu kakakku melahirkan," kata Lastri terisak. "Aku tidak tahu dia meninggal. Aku di Kalimantan, tidak ada kabar. Waktu aku kembali ke Solo, semuanya sudah selesai. Keluarga besarku tidak mau bicara tentang dia. Seperti... seperti dia tidak pernah ada."

Mama Kalara menangis. Ayah Arsya mengusap matanya.

"Lalu bagaimana kamu tahu tentang mereka?" tanya Mama Kalara.

"Beberapa bulan lalu, sepupuku—yang juga tidak setuju dengan perlakuan keluarga—memberi tahu. Katanya ada dua anak Rarasati yang selamat. Tinggal di Jakarta, di rumah Menteng. Aku putuskan untuk mencari."

Lastri menatap Kalara dan Arsya.

"Aku tidak minta kalian menerimaku sebagai keluarga. Aku hanya ingin minta maaf. Aku juga ingin kalian tahu, kalian punya bibi di Kalimantan. Kalau butuh apa-apa, aku ada."

Kalara menangis. Arsya memegang tangannya.

"Ini... ini terlalu banyak," bisik Kalara.

"Aku tahu, Nak. Aku tahu."

Mereka diam. Lalu perlahan, Kalara bangkit dan memeluk Lastri.

"Bibi," bisiknya. "Makasih sudah datang."

Lastri terisak dalam pelukannya. "Maafkan aku... maafkan aku yang tidak ada."

Arsya juga mendekat, meletakkan tangannya di pundak mereka.

"Kita tidak bisa mengubah masa lalu," katanya. "Tapi mungkin kita bisa memulai sesuatu yang baru."

Pertemuan itu berakhir dengan haru. Lastri pulang ke hotel dengan janji akan kembali besok, bertemu Rara dan Melati.

"Ibu mereka sudah tiada," kata Kalara. "Tapi mereka berhak tahu tentang neneknya. Tentang keluarganya."

Lastri mengangguk. "Aku akan cerita semua yang aku tahu."

Hari berikutnya, Lastri datang ke rumah Menteng.

Rara dan Melati awalnya malu-malu, tapi Lastri membawakan boneka tradisional dari Kalimantan, dan anak-anak langsung senang.

"Ini Dayak," jelas Lastri. "Suku asli Kalimantan."

"Cantik!" seru Rara. "Makasih, Tante..."

"Panggil saja Tante Lastri," kata Lastri tersenyum. "Apa boleh?"

Rara menatap Kalara, yang mengangguk. "Boleh, Tante."

Melati langsung merebut bonekanya, memeluk erat. "Melati suka!"

Lastri tertawa. Suasana hangat mulai terbangun.

Sore itu, Lastri duduk di beranda belakang bersama Kalara dan Arsya. Ia bercerita tentang masa kecil Rarasati—tentang bagaimana ia suka memanjat pohon, tentang bagaimana ia pandai memasak, tentang bagaimana ia selalu membela yang lemah.

"Ibumu itu baik hati," kata Lastri. "Terlalu baik untuk keluarga kita yang keras."

"Apakah Ibu... bahagia?" tanya Kalara pelan.

Lastri berpikir. "Aku rasa... iya. Di saat-saat terakhir sebelum pergi, dia bilang dia bahagia. Dia punya Asmara, dia punya kalian. Meskipun pendek, hidupnya penuh cinta."

Arsya tersenyum sedih. "Setidaknya itu menghibur."

"Iya. Dia ingin kalian tahu itu. Dia ingin kalian bahagia."

Malam harinya, Lastri pamit. Ia harus kembali ke Kalimantan besok. Tapi sebelum pergi, ia berjanji akan sering datang.

"Ini rumah kalian," katanya. "Tapi bolehkah aku berkunjung sekali-sekali?"

Kalara dan Arsya mengangguk. "Tentu, Tante. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk keluarga."

Lastri menangis lagi. Tapi kali ini, tangis bahagia.

Kehadiran Lastri membuka babak baru dalam hidup mereka. Bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang masa depan—tentang keluarga yang terus berkembang, tentang ikatan yang mungkin sempat terputus tapi bisa dijalin lagi.

Sepekan setelah kepulangan Lastri, sebuah kejutan datang.

Pak Willem menelepon Arsya, suaranya bersemangat.

"Arsya, saya punya sesuatu untuk kalian."

"Sesuatu apa, Pak?"

"Ini... ini warisan. Dari kakek kalian."

Arsya terkejut. "Kakek? Kakek yang mana?"

"Dari pihak ibu kalian. Kakek Haryanto, ayahnya Rarasati."

Arsya diam. Kakek Haryanto adalah sosok yang ia tahu dari cerita—lelaki keras yang mengusir anaknya karena menikah beda kasta. Lelaki yang tidak pernah peduli pada cucu-cucunya.

"Dia... dia masih hidup?"

"Tidak. Dia meninggal dua tahun lalu. Tapi sebelum meninggal, dia membuat surat wasiat. Untuk kalian berdua."

Arsya tidak tahu harus berkata apa.

"Bisa kalian ke notaris besok? Ada pembacaan wasiat."

"Iya, Pak. Saya kabari Kara."

Di ruang notaris, suasana tegang.

Kalara dan Arsya duduk di samping Pak Willem. Di seberang mereka, seorang pengacara membuka amplop cokelat.

"Surat wasiat almarhum Haryanto Pratama, dibuat tiga tahun sebelum beliau wafat."

Pengacara membacakan surat itu. Isinya mengejutkan.

Almarhum mewariskan sebidang tanah di Solo—tanah yang dulu menjadi tempat Rarasati dan Asmara pertama kali bertemu. Juga sebuah rumah di Yogyakarta yang selama ini disewakan. Dan yang paling mengejutkan: sebuah kotak berisi surat-surat lama dan foto-foto Rarasati kecil.

"Almarhum menulis pesan," lanjut pengacara. "Dia minta maaf. Dia sadar telah salah. Dia berharap warisan ini bisa menjadi penebus dosa."

Kalara menangis. Arsya memeluknya.

"Mengapa dia baru minta maaf sekarang?" bisik Kalara.

"Mungkin karena dia takut," jawab Pak Willem lembut. "Orang tua kadang keras karena takut kehilangan muka. Tapi di akhir hidupnya, dia sadar."

Arsya menghela napas. "Kami terima warisan ini. Tapi bukan karena kami butuh. Tapi karena ini bagian dari sejarah ibu kami."

Mereka menerima kotak itu. Di dalamnya, foto-foto Rarasati kecil tersenyum, bersama orang tuanya yang dulu tampak bahagia. Surat-surat cinta dari Asmara yang tidak pernah sampai. Dan sebuah gelang—sama seperti yang dimiliki Kalara, tapi satunya lagi.

"Pasangan gelang ibumu," bisik Pak Willem. "Satu dia pakai, satu disimpan orang tuanya."

Kalara memandangi gelang itu. Emas tua, ukiran bunga melati.

"Ini akan kuberi pada Melati," katanya. "Satu lagi untuk Rara."

Warisan itu bukan tentang harta. Tapi tentang rekonsiliasi. Tentang pengakuan bahwa cinta sejati tidak bisa dibendung oleh kasta atau aturan. Tentang maaf yang datang terlambat, tapi tetap berarti.

Malam harinya, setelah anak-anak tidur, mereka berkumpul di ruang keluarga.

Foto-foto Rarasati kecil dipajang di meja. Kalara dan Arsya menatapnya lama.

"Ibu cantik, ya," kata Kalara.

"Iya. Mirip kamu."

"Lo juga mirip dia. Matanya."

Mereka tersenyum. Luka lama terasa semakin sembuh.

Nadia meraih tangan Arsya. "Kalian hebat. Bisa memaafkan."

"Memaafkan bukan untuk dia," kata Arsya. "Tapi untuk kami. Agar kami bisa move on."

"Aku setuju," sahut Kalara. "Aku tidak tahu apakah kakek itu tulus. Tapi aku memilih untuk percaya. Karena aku tidak mau membawa dendam."

Raka memeluk Kalara. "Kamu luar biasa."

Mereka diam, menikmati kebersamaan. Di luar, bulan bersinar cerah. Di dalam, hati mereka hangat.

Dua minggu kemudian, mereka pergi ke Solo.

Mengunjungi tanah tempat Rarasati dan Asmara pertama kali bertemu. Sebuah lapangan kecil di pinggir desa, dengan pohon beringin tua—sama seperti di rumah Menteng.

"Ini tempatnya," kata Arsya, membaca catatan lama.

Mereka berdiri di bawah pohon itu. Kalara memejamkan mata, membayangkan ibunya dulu—masih muda, penuh mimpi, jatuh cinta pada pertama pandang.

"Aku bisa bayangkan," bisiknya. "Ibu di sini, tersenyum."

Rara dan Melati berlarian di lapangan, tidak mengerti arti tempat ini, tapi menikmati sore yang cerah.

"Kak," panggil Kalara.

"Hm?"

"Kita harus bangun sesuatu di sini."

"Maksud kamu?"

"Taman. Atau mungkin... perpustakaan umum. Untuk anak-anak desa. Biar ada yang positif. Biar nama Ibu dan Ayah dikenang dengan baik."

Arsya tersenyum. "Ide bagus. Aku setuju."

"Kita danai dari warisan kakek?"

"Iya. Biar warisan itu jadi berkah."

Mereka berpelukan. Keputusan besar diambil di bawah pohon beringin itu—tempat cinta orang tua mereka bermula.

Proyek pembangunan taman baca di desa Solo dimulai.

Arsya mendesain bangunannya—sederhana tapi indah, dengan banyak jendela dan taman kecil di sekeliling. Kalara mengurus interiornya, dengan rak-rak buku warna-warni dan pojok baca yang nyaman.

Lastri datang membantu. Ia kenal banyak orang di Solo, tahu cara mengurus perizinan. Dengan semangat, ia mengelola proyek itu.

"Ini cara terbaik menghormati kakakku," katanya. "Dengan berbagi pada orang lain."

Mama Kalara dan Ayah Arsya juga ikut menyumbang—buku-buku dari rumah, juga tenaga.

Rumah Menteng berubah jadi pusat koordinasi. Setiap malam, mereka diskusi tentang taman baca itu. Rara dan Melati ikut mewarnai gambar-gambar untuk dinding.

"Aku mau bantu!" seru Rara semangat.

"Melati juga mau!"

"Kalian bisa gambar pemandangan. Nanti ditempel di dinding."

Anak-anak itu bersemangat. Krayon dan kertas berserakan di ruang keluarga.

Pak Willem, yang kini sudah sangat tua, ikut menyumbang buku-buku koleksinya. "Biar anak-anak desa baca," katanya. "Membuka wawasan."

Setahun kemudian, taman baca "Rarasati Asmara" diresmikan.

Sebuah bangunan kecil yang indah, dengan taman bermain di sampingnya. Puluhan anak desa datang, mata mereka berbinar melihat buku-buku berwarna.

Arsya dan Kalara memotong pita bersama. Rara dan Melati melepas balon ke udara. Lastri menangis haru.

"Ini untuk Ibu," bisik Kalara. "Untuk Ayah. Untuk cinta mereka."

Di dinding utama, terpampang foto Rarasati dan Asmara—foto pernikahan mereka, satu-satunya foto yang tersisa. Di bawahnya, tulisan:

"Cinta sejati tidak pernah mati. Ia hidup dalam anak-anaknya, dalam kebaikan yang terus mengalir."

Malam harinya, mereka kembali ke Jakarta.

Di rumah Menteng, Rara dan Melati sudah tidur kelelahan. Kalara duduk di beranda belakang, ditemani Arsya.

"Kak," panggilnya.

"Hm?"

"Lo tahu nggak, dulu gue takut banget sama masa depan. Takut nggak bisa bahagia. Tapi sekarang..."

"Sekarang?"

"Sekarang gue punya semuanya. Suami, anak, kakak, keluarga besar. Dan yang paling penting... gue punya kedamaian."

Arsya mengangguk. "Aku juga. Dulu aku kira hidupku akan sepi. Ternyata Tuhan punya rencana lain."

Mereka menatap langit malam. Bintang-bintang bertaburan.

"Kak, lo percaya nggak, Ibu dan Ayah lihat kita dari sana?"

"Aku percaya. Mereka pasti tersenyum."

"Iya. Mereka pasti bangga."

Mereka diam. Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa wangi melati dari taman.

Seperti bisikan lembut dari mereka yang telah pergi.

"Kami bangga padamu, anak-anakku."

Dua tahun kemudian.

Rara berusia sembilan tahun, Melati lima tahun. Mereka bersekolah di sekolah yang sama—SD dan TK di dekat rumah.

Pagi itu, Rara bersiap untuk lomba melukis tingkat kota. Ia sudah berlatih berminggu-minggu. Temanya: "Keluargaku".

"Om, lihat!" Rara menunjukkan gambar terakhirnya. "Ini bagus, kan?"

Arsya mengamati gambar itu. Rumah Menteng, dengan pohon beringin besar. Di halaman, ada banyak orang—Mama, Ayah, Om Arsya, Tante Nad, Rara sendiri, Melati, dan dua figur tambahan yang duduk di bangku taman.

"Ini Nenek dan Kakek," jelas Rara. "Mereka lagi lihat kita."

Arsya terharu. "Ini bagus banget, Rara. Kamu pasti menang."

"Beneran, Om?"

"Beneran. Ini gambar penuh cinta."

Rara tersenyum lebar.

Lomba berlangsung di Balai Kota. Rara melukis dengan serius, tidak peduli dengan peserta lain yang lebih besar. Tangannya lincah memoles cat air, menciptakan rumah yang hangat, keluarga yang bahagia.

Saat pengumuman pemenang, Rara tidak menyangka namanya disebut sebagai juara pertama.

"Rarasati Asmara, dari SD Menteng!"

Rara melompat kegirangan. Ia naik ke panggung, menerima piala dan piagam. Kamera menyorotnya, ia tersenyum lebar.

Di antara penonton, seluruh keluarganya hadir. Kalara menangis, Raka memeluknya. Arsya bertepuk tangan paling keras. Nadia menggendong Melati yang berteriak, "Kak Rara! Kak Rara!"

Malam harinya, mereka merayakan di rumah. Pizza dan es krim, seperti biasa. Rara menunjukkan pialanya pada semua orang, termasuk pada foto Nenek dan Kakek di dinding.

"Nenek, Kakek, Rara juara!" teriaknya.

Semua tertawa. Di sudut ruangan, Arsya dan Kalara saling berpandangan.

"Mereka pasti bangga," bisik Kalara.

"Iya. Bangga sekali."

Malam semakin larut. Satu per satu masuk ke kamar. Arsya dan Nadia terakhir, memastikan semua pintu terkunci, lampu dimatikan.

Di balkon, Arsya berhenti sejenak. Menatap langit malam.

"Ibu, Ayah," bisiknya. "Lihat, cucu kalian hebat. Kami semua baik-baik saja. Terima kasih sudah menjaga kami."

Angin bertiup, membawa wangi melati.

Arsya tersenyum. Ia masuk ke kamar, memeluk Nadia dan Melati yang sudah terlelap.

Rumah Menteng sunyi.

Tapi tidak sepi.

Karena rumah ini bernyanyi.

Bernyanyi dengan suara cinta.

Bernyanyi dengan suara generasi baru.

Bernyanyi dengan suara harapan.

Selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!