Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
“Kau sudah pulang, Vier?” sapa Xander yang sedang duduk bersantai di ruang utama. Menyesap wine merah dengan angkuh, seolah-olah mansion ini adalah miliknya sendiri.
“Ck! Kau masih di sini?” balas Xavier ketus. Ia mempererat gendongannya pada Luna, seolah ingin menyembunyikan gadis itu dari pandangan predator kakaknya. Xavier pikir setelah drama pagi tadi, kakaknya sudah angkat kaki. Nyatanya, pria itu masih betah menempel.
“Sepertinya aku sangat betah berada di sini dan memutuskan tinggal untuk beberapa minggu atau mungkin bulan,” sahut Xander dengan santai. Ia ingin melihat bagaimana reaksi adiknya.
Malas berdebat dan tidak ingin energinya terkuras habis, Xavier melewati Xander begitu saja tanpa sepatah kata pun. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah lengan menghadangnya.
“Eits, tunggu!” Xander menatap tajam ke arah gadis di dekapan adiknya. “Siapa gadis yang ada di gendonganmu ini? Kabar bahwa kau tidak bisa bersentuhan dengan manusia sudah kudengar sejak bertahun-tahun lalu. Lalu kenapa sekarang kau bisa dengan leluasa menyentuh seorang gadis tanpa alergi sialanmu itu kambuh?”
“Bukan urusanmu!” sahut Xavier dingin. Ia paling tak suka jika ada seseorang yang mencoba mencampuri urusan pribadinya.
Tepat saat itu, Luna perlahan membuka matanya. Rasa pening di kepalanya akibat benturan tadi pagi mulai berkurang. Saat ia menoleh ke arah sumber suara, matanya yang biru jernih langsung beradu dengan mata Xander.
“Manusia tampan?” ceplos Luna tanpa beban.
Xander tertawa renyah. Ia memang memiliki garis wajah yang hampir mirip dengan Xavier, hanya saja pembawaannya lebih cair dan sedikit licik.
“Halo Manis, aku Xander. Calon kakak iparmu,” sapa Xander sembari mengedipkan sebelah mata dengan gaya playboy kelas kakap.
“Kakak ipar itu apa? Apa itu sejenis makanan enak?” tanya Luna polos sembari memiringkan kepalanya.
Sebelum Xander sempat menjawab dan melancarkan rayuan lebih jauh, Xavier sudah lebih dulu menarik Luna menjauh. Cengkeramannya di pinggang Luna mengeras secara tidak sadar.
“Aw, sakit Sapir!” bisik Luna dengan meringis, mencoba melepaskan diri dari dekapan Xavier yang mendadak jadi sangat posesif.
“Kau tidak lupa, bukan, dengan ucapanku tadi di mobil? Jangan menatap dan tersenyum pada manusia lain selain aku. Dan hanya aku pria paling tampan di dunia ini, mengerti?!” desis Xavier tepat di samping telinga Luna.
“Hah?” Luna mendongak menatap Xavier dengan wajah bingung yang menggemaskan.
“Tapi dia memang tampan. Mirip Sapir. Hanya saja, dia lebih banyak senyum, tidak galak seperti macan lapar.”
Tanpa berkata-kata lagi dan malas meladeni celotehan Luna, Xavier langsung membopong gadis itu menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Xander yang berdiri sendirian di ruang tamu.
“Gadis ini, kenapa aku merasa tidak asing dengannya? Bau hutannya, matanya, benar-benar seperti sweety-ku,” gumam Xander sembari menatap punggung adiknya dengan seringai misterius.
*
*
Di dalam kamar, Xavier mendudukkan Luna di sisi ranjang dengan kasar. Napasnya masih memburu. Ia kesal pada Gerry yang menyentuh Luna, ia kesal pada Catherine yang berani melukai kucingnya, dan ia sangat kesal saat Luna memuji Xander tampan.
Xavier mulai mengobrak-abrik lemari kecil di sudut kamar, mencari kotak obat. Barang-barang berserakan di lantai akibat gerakannya yang tidak sabaran.
“Sapir cari apa? Kenapa semua barang dibuang-buang? Luna tidak mau membantu membereskannya ya, capek!” ucap Luna sembari menyilangkan tangan di dada dan melengos ke samping dengan gaya merajuk.
Xavier masa bodoh. Setelah mendapatkan botol antiseptik dan kapas, ia mendekati Luna.
“Sapir, itu apa? Kenapa baunya seperti air kencing singa?” tanya Luna menutup hidungnya.
“Apa mulutmu bisa diam?!” bentak Xavier.
“Tidak bisa! Mulut Luna gunanya untuk bicara dan makan!” sahut Luna berani.
“Berikan tanganmu!” Xavier duduk di samping Luna, lalu meletakkan tangan mungil itu di atas pahanya yang kokoh. Ia mulai membersihkan luka di pergelangan tangan Luna dengan sangat hati-hati.
“Shh... pelan-pelan, sakit!” rengek Luna, tubuhnya menggeliat tidak nyaman. “Sapir, Luna bilang pelan-pelan! Uhhh... aaahh...”
Xavier membeku. Suara Luna yang merintih terdengar sangat ambigu di telinganya. “Tidak perlu mendesah seperti itu! Aku hanya sedang mengobati tanganmu, bukan sedang menyiksamu!”
Luna berkedip polos, menatap wajah Xavier yang memerah sampai telinga. “Mendesah itu apa? Apa itu nama lain dari bernapas karena sakit?”
Xavier menghela napas kasar, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan syarafnya yang mulai tegang. Ia lupa kalau gadis di depannya ini adalah makhluk paling bodoh yang pernah ia temui.
“Mendesah itu... lupakan! Intinya, kau harus diam saja!” gerutu Xavier. Ia beralih menatap dahi Luna yang memar. Dengan gerakan canggung, ia mulai mengompres luka itu.
“Sapir...” panggil Luna lirih.
“Apa lagi?”
“Kenapa Sapir jadi baik? Padahal tadi Sapir marah-marah terus. Apa Sapir punya kepribadian ganda seperti bunglon yang bisa ganti warna?”
Xavier tertegun. Ia menatap mata biru Luna yang jernih. Untuk pertama kalinya, sang mafia dingin itu merasa kalah telak.
Bruk!
“Ah, Sapir!” Luna reflek memekik saat di dorong begitu saja ke atas tempat tidur dengan kedua tangan di cengkeram kuat di sisi tubuhnya.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu