Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Penonton yang Dingin
Pintu lift berdenting pelan, terbuka langsung ke lantai teratas yang hanya dihuni oleh ruangan luas sang CEO. Damian melangkah keluar, mengabaikan asistennya yang masih sibuk mengurus sisa-sisa kekacauan di lobi. Ia masuk ke ruangannya, menutup pintu kayu ek yang berat itu, dan langsung berjalan menuju jendela kaca raksasa yang menjulang dari lantai hingga langit-langit.
Dari ketinggian lantai 50, pemandangan di bawah sana terlihat seperti miniatur. Namun, mata tajam Damian—si serigala yang sedang bosan—langsung menangkap titik keributan yang berpindah ke area trotoar di depan lobi utama.
Wanita dan pria yang baru saja ia tonton di lobi kini melanjutkan drama mereka di ruang publik, disaksikan oleh kerumunan staf yang berkerumun di balik gerbang dan orang-orang yang melintas. Damian berdiri tegak, menyilangkan tangannya di depan dada dengan ekspresi yang benar-benar kosong. Tidak ada empati, tidak ada amarah, hanya kekosongan yang dingin.
Di bawah sana, pria yang karirnya baru saja dihancurkan oleh Damian itu tampak kehilangan akal sehatnya. Ia berteriak histeris, lalu dengan gerakan kasar, ia melayangkan tangan.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi wanita itu. Tidak berhenti di situ, pria itu kembali melayangkan tamparan berulang kali hingga wanita itu tersungkur di aspal. Kerumunan di bawah tampak ricuh, beberapa orang mencoba memisahkan, namun pria itu terlihat kesetanan.
Damian hanya diam mematung di balik kaca kedap suaranya. Cahaya matahari sore yang mulai meredup memantul di wajahnya yang kaku. Ia memperhatikan setiap gerakan tangan pria itu seolah sedang mempelajari anatomi kemarahan manusia.
"Bodoh," gumam Damian lirih, suaranya hampir tidak terdengar.
Bagi Damian, pria itu adalah sampah yang tidak bisa mengendalikan diri. Bukan karena ia membela wanita itu—ia sama sekali tidak peduli jika wanita itu terluka—namun karena menurutnya, kekerasan fisik yang dilakukan di tempat umum seperti itu adalah bentuk kelemahan yang memuakkan.
Ia adalah tipe manusia yang lebih suka menonton kehancuran orang lain dari kejauhan. Baginya, ikut campur dalam urusan remeh orang asing adalah pemborosan energi yang sia-sia. Dunianya terlalu sibuk dengan intrik bisnis dan obsesinya yang gelap pada Selene untuk dipusingkan oleh sepasang kekasih yang saling menghancurkan.
Damian mendecih sinis, sebuah tawa meremehkan lolos dari bibirnya yang kaku. Dari balik kaca jendela yang tebal, ia menyaksikan pria di bawah sana yang masih mengamuk, melampiaskan kegagalannya pada sosok yang lebih lemah.
"Bodoh," gumam Damian, suaranya berat dan penuh penghinaan. "Benar-benar pengecut."
Bagi Damian, pria itu bukan hanya sampah, tapi juga pecundang kelas teri. Baginya, ada garis tegas yang memisahkan antara kekejaman yang elegan dan kekasaran yang menjijikkan. Memukul wanita adalah bentuk pengakuan paling telanjang bahwa seorang pria telah kehilangan otoritas dan akal sehatnya.
Damian menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin, matanya tetap terpaku pada adegan di bawah seolah sedang menonton dokumenter tentang primata yang gagal berevolusi.
"Menggunakan fisik untuk menundukkan wanita?" Damian bergumam sendiri, rahangnya mengeras. "Itu bukan kekuatan. Itu adalah bukti bahwa kau tidak punya otak untuk mendominasi dengan cara yang lebih berkelas."
Bagi pria seperti Damian Nicholas, kekuatan sejati adalah saat kau bisa membuat seseorang bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan atau satu tarikan tanda tangan. Perbedaan kekuatan fisik antara pria dan wanita adalah fakta alamiah yang baginya tidak perlu dibuktikan dengan tamparan. Hanya pria lemah yang merasa perlu memamerkan ototnya pada mereka yang jelas-jelas tidak bisa membalas secara setara.
Ia teringat Selene. Gadis itu kecil, tampak rapuh jika dibandingkan dengan tubuh tegapnya. Namun, Selene punya keberanian untuk menatap matanya, menolaknya, bahkan menjentik dahinya. Dan Damian? Jangankan memukulnya, menyentuh kulitnya dengan kasar saja ia merasa enggan karena tidak ingin merusak "karya seni" yang begitu ia puja.
"Jika kau ingin menghancurkan seseorang, hancurkan jiwanya, hancurkan dunianya," desis Damian sambil meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras. "Bukan dengan tangan kotor yang gemetar karena emosi murahan."
Tiba-tiba, Damian menekan tombol interkom di mejanya. "Keamanan, seret pria di depan gerbang itu ke kantor polisi. Katakan pada mereka aku menuntutnya atas tindakan kekerasan di area pribadiku. Pastikan dia tidak mendapatkan jaminan keluar dalam waktu dekat."
Ia tidak melakukan ini karena kasihan pada si wanita. Ia melakukannya karena ia benci melihat sesuatu yang tidak efisien dan menjijikkan terjadi di depan matanya.