NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:608
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Konfrontasi utama

Malam di Kota Sagara terasa lebih dingin dari biasanya ketika motor Raka berhenti di depan rumah keluarga Wijaya.

Rumah itu tampak sama seperti biasa, pagar besi yang sedikit berkarat, lampu teras yang redup, dan jendela ruang tamu yang selalu dibiarkan sedikit terbuka agar udara masuk. Namun sejak ayah menghilang, rumah itu terasa seperti tempat yang berbeda.

Sunyi.

Kosong.

Dan penuh kecemasan.

Aku turun dari motor dengan jantung masih berdebar setelah kejadian di gudang tua.

“Kita harus cepat,” kata Raka.

Aku mengangguk.

Kami masuk ke dalam rumah. Ibu sedang duduk di ruang tamu, tangannya menggenggam tasbih kecil yang terus diputar tanpa henti. Wajahnya pucat, tetapi matanya langsung menatap kami penuh harapan.

“Kalian menemukan sesuatu?” tanyanya pelan.

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya mengangguk.

“Ibu… Ayah masih hidup.”

Tasbih itu jatuh dari tangan ibu.

Air mata langsung mengalir di pipinya.

“Syukurlah… Ya Tuhan…”

Namun Raka segera menambahkan dengan suara serius, “Tapi dia dalam bahaya. Dan orang-orang yang menculiknya masih berkeliaran.”

Ibu mengangguk perlahan.

Ia sudah terlalu lama hidup dalam tekanan untuk terkejut lagi.

“Ayah meninggalkan pesan,” kataku sambil mengeluarkan kertas kecil dari dompet ayah.

Raka membacakannya sekali lagi.

“Cari kunci di tempat yang tidak pernah mereka pikirkan.”

Kami semua terdiam.

Lalu ibu perlahan berdiri.

“Ayahmu punya satu kebiasaan,” katanya.

“Kalau menyembunyikan sesuatu yang penting, dia tidak pernah memilih tempat yang rumit.”

“Di mana?” tanyaku.

Ibu menunjuk ke arah dapur.

“Kotak gula.”

Aku dan Raka saling berpandangan.

Kami hampir tertawa karena betapa sederhana tempat itu.

Namun justru karena itulah tempat itu aman.

Kami berjalan cepat ke dapur.

Di atas meja kayu kecil, kotak gula putih masih berada di tempatnya seperti biasa.

Aku membukanya.

Gula pasir memenuhi hampir seluruh kotak itu.

“Serius?” gumam Raka.

Aku merogoh tangan ke dalam gula.

Butiran halus itu menempel di kulitku.

Aku menggali lebih dalam.

Lalu jariku menyentuh sesuatu yang keras.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Aku menarik benda itu keluar.

Sebuah kunci kecil dari logam.

Dan sebuah flashdisk hitam.

Raka langsung mengambil flashdisk itu.

“Ini dia.”

Kami segera menuju laptop tua yang berada di meja ruang kerja ayah.

Tanganku sedikit gemetar saat menyalakan laptop itu.

Flashdisk dimasukkan.

Layar menyala.

Satu folder muncul.

Namanya sederhana.

Kebenaran.

Raka membukanya.

Di dalamnya ada beberapa file.

Dokumen.

Foto.

Dan satu rekaman video.

Kami membuka rekaman itu.

Layar memperlihatkan ruangan kantor mewah.

Beberapa pria duduk mengelilingi meja panjang.

Dan salah satu wajah di sana membuat napasku tercekat.

Nama besar itu.

Pengusaha paling berpengaruh di Kota Sagara.

Orang yang selama ini selalu berada di balik layar.

Di sebelahnya duduk seorang pria lain yang juga sangat dikenal.

Seorang politisi kuat yang menguasai banyak keputusan di kota ini.

Suara dalam video terdengar jelas.

“Fitnah itu sudah berjalan sesuai rencana,” kata salah satu pria.

“Orang-orang sudah percaya toko manisan itu menggunakan bahan berbahaya.”

Pria lain tertawa pelan.

“Bagus. Kalau bisnisnya runtuh, tanahnya bisa kita ambil.”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Tanah toko manisan.

Selama ini… itulah yang mereka incar.

“Dan orang tua itu?” tanya seseorang.

Suara pria besar itu menjawab dingin.

“Dia tahu terlalu banyak.”

“Kalau dia mulai bicara?”

“Dia tidak akan sempat.”

Video itu berhenti.

Ruangan menjadi sunyi.

Aku merasakan amarah yang selama ini tertahan kini meledak di dalam dada.

“Bajingan…” bisikku.

Raka menatap layar dengan rahang mengeras.

“Sekarang kita punya bukti.”

Namun sebelum aku sempat menjawab...

BRAK!

Pintu depan rumah tiba-tiba didobrak.

Kami semua terkejut.

Suara langkah kaki berat langsung memenuhi ruang tamu.

Raka berdiri.

“Ada yang datang.”

Dari ruang kerja, kami bisa mendengar suara pria.

“Kami tahu kalian ada di sini!”

Jantungku berdetak kencang.

Mereka sudah menemukan kami.

Pintu ruang kerja terbuka dengan keras.

Dua pria besar berdiri di sana.

Di belakang mereka, seorang pria lain melangkah masuk perlahan.

Dan ketika wajahnya terlihat di bawah cahaya lampu....

dadaku terasa seperti dipukul.

Itu dia.

Pria yang wajahnya baru saja kami lihat di video.

Pengusaha besar itu sendiri.

Ia menatap kami dengan senyum tipis.

“Anak-anak yang terlalu penasaran,” katanya tenang.

Matanya lalu jatuh pada laptop.

Pada video yang masih terbuka.

Senyumnya perlahan memudar.

“Jadi… kalian sudah melihatnya.”

Raka berdiri di depanku.

Melindungiku.

“Ayah kami di mana?” tanyanya tegas.

Pria itu menatap kami sejenak.

Lalu ia menghela napas panjang.

“Sejujurnya… aku sebenarnya berharap kalian cukup pintar untuk berhenti.”

Ia memberi isyarat kecil dengan tangannya.

Dua pria di belakangnya melangkah maju.

“Tapi sekarang…” lanjutnya dingin.

“Kalian tahu terlalu banyak.”

Jantungku berdetak keras.

Situasi ini berubah dalam sekejap.

Dari menemukan bukti

menjadi konfrontasi langsung dengan orang paling berbahaya di kota ini.

Dan dari cara pria itu menatap kami

aku tahu satu hal dengan pasti.

Jika kami membuat satu kesalahan saja malam ini

kami mungkin tidak akan pernah keluar dari rumah ini hidup-hidup.

Pikiran itu melintas di kepalaku seperti kilat yang menyambar. Cepat, tajam, dan menakutkan. Namun anehnya, setelah pikiran itu datang, rasa takut justru berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dingin.

Tekad.

Aku berdiri sedikit di belakang Raka, menatap pria yang berdiri di ambang pintu ruang kerja ayah. Lampu kuning dari langit-langit membuat bayangannya memanjang di lantai kayu.

Pria itu tersenyum tipis, seolah situasi ini hanyalah permainan kecil yang sudah ia menangkan.

“Tenang saja,” katanya santai. “Aku tidak datang untuk membuat keributan.”

Namun dua pria bertubuh besar di belakangnya jelas mengatakan hal yang berbeda.

Raka tetap berdiri tegak.

“Kalau begitu,” katanya tenang, “kembalilah. Kami sedang sibuk.”

Pria itu tertawa pelan.

“Berani juga kamu berbicara begitu padaku.”

Ia melangkah masuk ke dalam ruangan, matanya menyapu meja kerja ayah, lalu berhenti pada laptop yang masih menyala.

Video itu masih terbuka.

Bukti yang bisa menghancurkan mereka.

Tatapan pria itu berubah dingin.

“Jadi… kalian benar-benar sudah melihat semuanya.”

Tak ada gunanya menyangkal.

Aku melangkah maju.

“Di mana ayahku?”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Pria itu memandangku lama. Seolah menilai sesuatu di dalam diriku.

“Ah… anak pemilik toko manisan itu,” katanya pelan. “Bima, bukan?”

Aku tidak menjawab.

Ia tersenyum lagi.

“Harus kuakui, kamu cukup merepotkan. Aku kira setelah toko keluargamu hancur, kamu akan menyerah.”

Raka menyela.

“Kami tidak akan menyerah.”

Pria itu mengangkat alis.

“Ya. Aku sudah melihat itu.”

Ia berjalan mendekati meja kerja ayah, lalu menutup laptop dengan satu gerakan santai.

Klik.

Ruangan terasa semakin mencekam.

“Masalahnya,” lanjutnya, “kalian mulai masuk terlalu jauh ke dalam urusan yang bukan milik kalian.”

Aku mengepalkan tangan.

“Urusan yang menghancurkan hidup kami?” suaraku bergetar, tapi bukan karena takut.

Karena marah.

Matanya menatapku tajam.

“Bisnis,” katanya dingin. “Dalam bisnis, selalu ada yang kalah.”

“Dengan fitnah?” balasku.

Ia mengangkat bahu.

“Cara hanyalah detail kecil.”

Dua pria di belakangnya kini berdiri lebih dekat. Aku bisa melihat otot-otot di lengan mereka menegang.

Raka bergerak sedikit, posisinya kini benar-benar berada di antara mereka dan aku.

“Sekarang dengarkan baik-baik,” kata pria itu.

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi santai.

Kini dingin seperti baja.

“Flashdisk itu kalian serahkan.”

Tidak ada yang bergerak.

Ia menghela napas kecil.

“Aku sebenarnya berharap kita bisa menyelesaikan ini secara dewasa.”

Aku tertawa pendek.

“Dengan menculik ayahku?”

Matanya menyipit.

“Dia aman.”

“Di mana dia?” bentakku.

Pria itu tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia menatapku lama.

Lalu berkata pelan, “Tergantung.”

“Bergantung pada apa?”

“Bergantung pada apakah kamu cukup pintar untuk berhenti sekarang.”

Ruangan itu terasa semakin sempit.

Raka berkata pelan, “Jika sesuatu terjadi pada ayahnya, seluruh rekaman itu akan keluar.”

Pria itu tertawa.

Tertawa panjang.

“Rekaman?”

Ia menunjuk laptop.

“Kalian pikir hanya itu salinannya?”

Ia mendekat beberapa langkah lagi.

“Anak-anak… kalian masih terlalu naif untuk permainan seperti ini.”

Tiba-tiba...

Siren polisi terdengar dari kejauhan.

Wiiiiiuuuuu...

Semua orang di ruangan itu terdiam.

Pria itu menoleh sedikit ke arah jendela.

Lampu biru samar mulai terlihat memantul di kaca rumah.

Raka tersenyum tipis.

“Aku selalu menyiapkan cadangan.”

Dua pria besar itu langsung saling pandang.

Pria pengusaha itu menatap Raka lama.

Lalu ia tertawa kecil.

“Bagus.”

Ia melangkah mundur.

“Kalau begitu permainan ini menjadi lebih menarik.”

Ia memberi isyarat kecil.

Dua pria itu segera mundur menuju pintu.

Namun sebelum keluar, pria itu menatapku sekali lagi.

Tatapannya kali ini jauh lebih serius.

“Dengar baik-baik, Bima.”

Suasana terasa membeku.

“Ayahmu masih hidup karena aku ingin dia hidup.”

Darahku terasa mendidih.

“Tapi kalau kamu terus berjalan di jalan ini…”

Ia berhenti sejenak.

Lalu berkata pelan.

“Aku tidak bisa menjamin itu akan bertahan lama.”

Siren polisi semakin dekat.

Beberapa mobil berhenti di depan rumah.

Lampu biru berkedip di dinding ruang tamu.

Pria itu berbalik.

Namun sebelum keluar, ia menambahkan satu kalimat terakhir.

“Kalau ingin melihat ayahmu lagi… datanglah ke tempat di mana semuanya dimulai.”

Pintu depan terbuka.

Lalu tertutup kembali.

Suara mobil yang menjauh terdengar beberapa detik kemudian.

Beberapa saat setelah itu, polisi masuk ke rumah.

Namun mereka sudah terlambat.

Orang itu telah pergi.

Aku berdiri di ruang kerja ayah, napasku masih berat.

Raka menatapku.

“Dia ingin kamu datang.”

Aku mengangguk pelan.

“Pelabuhan lama.”

Raka menatapku serius.

“Tempat semuanya dimulai.”

Aku menatap ke arah jendela, ke arah kota yang malam itu terasa lebih gelap dari biasanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak ayah menghilang..

aku tahu persis ke mana langkah kami berikutnya.

Menuju tempat di mana konspirasi ini lahir.

Dan mungkin juga tempat di mana semuanya akan berakhir.

1
jstmne.
hadir Thor. kayaknya seru ni cerita
Reza Ashari: mkasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!