NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat senasib

Nana mulai membereskan rumah itu. Ia mengambil sapu, mencoba membersihkan sisa-sisa tanah dari alas kaki para pelayat yang tadi memenuhi ruangan. Namun, baru beberapa ayunan, gerakannya terhenti saat melihat sebuah sajadah yang terlipat rapi di sudut sofa sajadah yang biasa digunakan ibunya.

Seketika, pertahanannya runtuh. Nana tak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk sajadah itu erat-erat, menenggelamkan wajahnya di sana sambil terisak hebat. Bau khas ibunya masih tertinggal di sana, membuat rasa rindu itu semakin menghujam jantungnya.

"mama... Nana sendirian sekarang," bisiknya parau di tengah isakan

Setiap sudut rumah ini adalah kenangan. Setiap debu yang ia bersihkan seolah mengingatkannya pada masa-masa sulit saat ia dan ibunya hanya memiliki satu sama lain. Ia merapikan bantal-bantal di kursi kayu, menyusun buku-buku doa, dan setiap kali ia menyentuh barang milik ibunya, isaknya kembali pecah.

Tok!Tok!

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Nana tersentak, ia segera menyeka air matanya dengan ujung kaus, berusaha mengatur napas agar suaranya tidak terlalu parau.

"Siapa?" tanya Nana.

Tidak ada jawaban suara, hanya ketukan sekali lagi yang terdengar lebih lembut. Nana melangkah perlahan dan membuka pintu kayu tua itu. Matanya yang sembab membelalak saat melihat siapa yang berdiri di sana.

"Sophia?"

Ternyata Sophia berdiri di ambang pintu. Tanpa berkata-kata lagi, Nana langsung berhambur menangis ke dalam pelukan sahabatnya itu. Segala sesak yang ia tahan sejak tadi tumpah seketika. Sophia hanya diam, mendekap Nana erat.

Setelah tangisnya sedikit mereda, Nana melepaskan pelukan dan menatap Sophia dengan bingung.

"Kok kamu bisa tahu aku di sini?"

Sophia tersenyum tipis sambil menuntun Nana masuk ke dalam.

"Kamu lupa kalau Ibu panti tempat ibumu tinggal itu Bude aku?"

"Aku turut berdukacita ya, Na"

"aku ngga papa kok" balas Nana dengan senyuman.

Sophia mengangkat sebuah tas plastik yang ia bawa sejak tadi. "Aku datang bawa makanan untuk kita. Aku nggak mau dengar alasan apa pun, kamu harus makan. Aku tahu kamu belum makan sejak sampai di sini, kan?"

Nana hanya terdiam, terharu dengan perhatian sahabatnya. Sophia mulai mengeluarkan beberapa kotak nasi hangat dan lauk pauk.

"Makan ya, Na? Biar kamu punya tenaga" bujuk Sophia.

Sophia duduk di samping Nana, menyodorkan segelas air putih hangat sambil menatap sahabatnya yang masih terlihat begitu rapuh.

"Kamu sampai kapan di sini, Na?" tanya Sophia pelan.

"Nggak tahu deh, Sof. Aku pengen banget lebih lama di sini, tapi... rasanya sesak. Tiap sudut rumah ini isinya cuma bayangan mama. Makin lama aku di sini, makin aku nggak bisa berhenti nangis."

"Tenang aja, aku bakal temanin kamu di sini. Sampai kamu merasa lebih baik, sampai kamu siap buat balik ke Jakarta lagi."

Nana menoleh, menatap Sophia dengan tatapan tidak enak hati. "Emang nggak apa-apa? Kamu bentar lagi tunangan loh, Sof. Jangan sampai calon suami kamu marah"

Sophia tersenyum pahit. Senyum itu tidak sampai ke mata, malah ada kilat kesedihan yang ia coba sembunyikan.

"Aku nggak jadi tunangan, Na," ucap Sophia pelan.

Nana tersentak kaget. Ia sejenak melupakan rasa sedihnya sendiri karena terkejut dengan kabar itu. "Kenapa?! Bukannya semua persiapannya sudah beres?"

Sophia menunduk, memainkan jemarinya di atas meja. "Dia ham-ilin cewek lain."

Nana terdiam seribu bahasa, tidak menyangka bahwa di saat ia kehilangan ibunya, sahabatnya juga sedang menelan pil pahit pengkhianatan yang begitu besar.

"Sof..." Nana meraih tangan Sophia.

"Makanya," Sophia mendongak, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha tetap kuat.

"Aku lebih mending di sini sama kamu. Kita berdua lagi sama-sama hancur, Na. Biar kita saling nemenin dulu."

......................

"Juan!"

"Apa kamu sudah mengetahui ke mana Nana pergi? Sedikit saja petunjuk!"

Juan yang sedang merapikan berkas di meja asisten langsung berjengit kaget. Ia menggeleng cepat.

"Enggak tahu, Pak. Saya sudah tanya anak-anak divisi lain, tapi mereka juga nggak ada yang tahu. Coba tanya temannya, Pak, siapa tahu mereka tahu ke mana Nana."

Abian terdiam sejenak, lalu mendengus kesal. "Saya nggak tahu siapa teman dia."

Mendengar jawaban itu, Juan secara spontan menghentikan aktivitasnya. Ia menatap bosnya dengan tatapan tidak percaya sekaligus heran.

"Loh? Kan dia sudah hampir tiga tahun kerja sama Bapak," celetuk Juan tanpa sadar.

"Masa Bapak nggak tahu satu pun teman dekatnya?

"Saya... saya tidak pernah mencampuri urusan pribadinya," gumam Abian, mencoba membela diri meski hatinya merasa sangat bodoh.

"Tapi Bapak selalu protes kalau dia dekat sama laki-laki lain," batin Juan, meski ia tak berani mengucapkannya keras-keras.

Juan menatap Abian dengan ragu, ia membolak-balik tabletnya.

"Pak, maaf memotong," ucap Juan hati-hati, "tapi ada satu hal yang sangat penting. Di jadwal ini tertera nanti malam ada undangan makan malam bersama calon investor dari Jepang."

Abian langsung memijat pelipisnya. "Investor dari

Jepang?"

"Benar, Pak. Dan masalahnya, mereka secara spesifik meminta pertemuan ini dilakukan dengan suasana formal . Saya baru sadar kalau di jadwal Bapak tidak ada catatan mengenai siapa yang akan menjadi penerjemah atau yang mengurus protokol etikanya," lanjut Juan dengan wajah semakin pucat.

Abian menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Ia baru teringat bahwa proyek ini adalah salah satu ambisi terbesarnya tahun ini. Pertemuan malam ini sangat krusial untuk menentukan apakah investasi bernilai miliaran itu akan cair atau tidak.

"Kenapa jadwal sepenting ini baru dikonfirmasi sekarang?!" bentak Abian, frustrasi karena merasa persiapan timnya sangat kacau hari ini.

"Sepertinya ada miskomunikasi pak"

"Kamu bisa bahasa Inggris, kan?"

Juan menelan ludah dengan susah payah. "Bisa, Pak... sedikit," jawab Juan terbata-bata.

Namun, berbanding terbalik dengan ucapannya, batin Juan berteriak histeris, "Nggak bisa bahasa Inggris sama sekali, Ya Tuhan! Jangankan negosiasi, jawab How are you saja aku pasti gemetaran. Bisa mati berdiri aku nanti malam!"

Abian menyipitkan mata, merasa curiga dengan nada suara Juan yang tidak meyakinkan. "Sedikit itu sampai mana? Kamu tahu kan ini investor besar? Jangan sampai kamu memalukan saya di depan mereka dengan bahasa Inggris yang berantakan."

"I-iya, Pak. Saya usahakan semaksimal mungkin," ucap Juan lagi.

Dalam hati, Juan hanya bisa meratapi nasibnya. Ia merindukan Nana lebih dari siapa pun saat ini. Jika Nana ada di sini, masalah bahasa bukanlah kendala karena Nana menguasai segalanya dengan sempurna.

1
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Ani: jangan jangan investornya bapaknya Nana..🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!