" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Di lantai teratas sebuah hotel bintang lima yang menjulang tinggi, Kaito Kojima berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa, menatap hamparan gedung-gedung Jakarta yang berselimut polusi pagi.
Di belakangnya, Kenzi, asisten sekaligus orang kepercayaan yang telah bersamanya selama puluhan tahun, berdiri tegap.
"Tuan, Nona Haruna sudah berangkat bersama Abian," lapor Kenzi dengan suara rendah.
Kaito tidak berbalik. Tatapannya tetap lurus ke depan. "Dia terlihat sangat membenciku, Kenzi."
"Wajar jika Nona merasa begitu, Tuan. Luka yang dia simpan terlalu dalam," sahut Kenzi hati-hati.
"Mungkin ini saatnya Tuan menjelaskan yang sebenarnya kepada Nona Haruna. Tentang alasan mengapa Tuan harus pergi dulu. Dengan begitu, kemungkinan Nona memaafkan Tuan akan lebih besar."
Kaito menghela napas panjang, bahunya tampak sedikit merosot. "Itu tidak mudah, Kenzi,"
"Tapi membiarkan Nona salah paham juga bukan pilihan yang baik, Tuan."
"Lebih baik dia tidak tahu dan menjalani hidup dengan tenang sekarang," potong Kaito.
"Biarkan dia membenciku seumur hidupnya, asal dia tetap aman. Kebenaran hanya akan membawa bahaya baru baginya. Cukup pastikan saja Abian bisa menjaganya dengan benar."
"Bagaimana dengan Abian?" tanya Kenzi dengan nada menyelidik.
"Apakah kita bisa yakin dia adalah orang yang tepat untuk menjaga Nona Haruna? Dia pria yang ambisius dan cukup keras kepala."
Kaito terdiam sejenak, "Setidaknya untuk saat ini, dia adalah satu-satunya orang yang berani berdiri menantangku demi Haruna."
Kaito akhirnya berbalik, cahaya matahari dari balik jendela membuat siluetnya tampak begitu dominan di tengah ruangan mewah itu. Matanya menatap Kenzi.
"Pastikan dia berada di pihak kita dan tetap awasi," perintah Kaito tegas.
"Berikan dia dukungan yang dia butuhkan lewat jalur belakang agar perusahaannya semakin kuat, tapi jangan biarkan dia tahu itu berasal dariku. Dan Kenzi... jangan pernah lengah. Jika sedikit saja dia berkhianat atau menyakiti Haruna, aku sendiri yang akan menghancurkannya."
......................
Nana menarik napas panjang begitu rapat yang menguras energi itu berakhir. Dengan langkah gontai, ia pamit kepada timnya untuk menuju kamar mandi, sekadar ingin membasuh wajah agar rasa kantuk dan penatnya sedikit berkurang.
Kondisi kamar mandi kantor sedang sepi, hanya ada suara gemericik air dari salah satu wastafel. Namun, saat Nana sedang mengeringkan tangannya, seorang perempuan salah satu staf dari divisi pemasaran yang memang dikenal tidak menyukai Nana keluar dari bilik toilet sambil merapikan riasannya di depan cermin besar.
Perempuan itu melirik Nana melalui pantulan cermin dengan tatapan sinis.
"Kirain bakalan minggat beneran, nggak taunya malah balik lagi," sindir perempuan itu tajam.
"Drama resign nya niat banget ya, biar dicariin Pak Abian? Asisten rasa simpanan memang susah mau pergi."
Nana mengepalkan tangannya, menatap perempuan itu melalui cermin. "Maksud kamu apa ya?"
"Ya dipikir saja sendiri. Cewek nggak jelas asal-usulnya kayak kamu, tiba-tiba dapat posisi enak di samping Pak Abian. Palingan juga modal jual tampang atau... jual yang lain?" hina perempuan itu sambil tertawa sinis.
Nana menghentikan gerakannya, menatap balik perempuan itu dengan dingin. "Kalau saya balik lagi, itu urusan saya sama Pak Abian. Kenapa? Kamu iri karena nggak dicariin?"
"Iri? Sama kamu? Jangan mimpi! Semua orang di kantor ini juga tahu kamu itu cuma peliharaan Abian yang kebetulan dikasih meja kerja. Nggak usah sok suci, deh!"
Nana melangkah mendekat, menatapnya tanpa gentar. "Jaga mulut kamu ya. Kamu nggak tahu apa-apa soal hidup saya."
"Oh, saya tahu kok. Saya tahu cewek murahan kayak kamu itu pinter banget akting sedih biar dikasihani bos," balas perempuan itu semakin melunjak, bahkan berani menunjuk wajah Nana.
"Oh, bukannya kamu yang murahan ya?" tanya Nana dengan nada rendah.
"Nggak usah sok kaget. Seisi kantor juga tahu gimana cara kamu bisa gonta-ganti tas mewah tiap bulan dengan gaji staf biasa," balas Nana
"Semua orang tahu kamu itu jadi simpanan om-om, kan? Makanya, jangan bawa-bawa istilah peliharaan ke saya, karena itu spesialisasi kamu."
Perempuan itu mengangkat tangannya hendak menampar Nana, namun Nana dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
"Jangan coba-coba," desis Nana.
Nana menghempaskan tangan perempuan itu hingga ia terhuyung menabrak wastafel. Lalu berjalan keluar dengan langkah anggun, meninggalkan perempuan itu.
Nana masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar. Abian yang sedang duduk di kursi kebesarannya langsung mendongak, matanya menatap tajam ke arah jam dinding sebelum beralih ke Nana.
"Kemana saja kamu? Lama sekali," ucap Abian ketus tanpa basa-basi.
"Dari kamar mandi, Pak," jawabnya singkat sambil meletakkan beberapa berkas di meja.
"Di sini juga ada kamar mandi," sahutnya sambil menunjuk pintu kamar mandi privat yang terletak di sudut ruangannya.
Nana spontan menghentikan gerakannya dan menoleh dengan wajah tidak percaya.
"Ya itukan kamar mandi Bapak, gimana sih! Masa saya masuk ke situ, yang ada nanti saya dikira apa-apa lagi sama orang kantor," balas Nana tak kalah sewot.
"Lalu kenapa? Saya tidak keberatan," ucap Abian santai.
"Bapak nggak keberatan, tapi saya yang keberatan! Di luar saja saya sudah digosipin macam-macam, apalagi kalau saya keluar masuk kamar mandi Bapak," gerutu Nana pelan namun masih bisa didengar.
"Siapa yang menggosipkan kamu?" tanyanya.
Nana hanya memutar bola matanya, enggan memperpanjang masalah.
"Nggak ada, Pak. Nggak boleh terlalu urus sama urusan orang lain," jawab Nana ketus sambil membalikkan badan, hendak kembali ke mejanya sendiri.
"Permisi, Pak."
"Haruna, saya belum selesai bicara," panggil Abian.
"Saya banyak kerjaan, Pak. Bapak juga tadi bilang waktu adalah uang, kan? Jadi jangan buang-buang uang Bapak buat tanya hal nggak penting."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Nana melangkah keluar menuju mejanya, meninggalkan Abian yang hanya bisa mendengus kesal.
🤣😭
update nya jangan lama" dunk
apa yang dijodohkan sama Sofia temannya Abian🤔🤔🤔