NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : KITA SEMUA SAMA

Hari sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan memasuki musim kemarau ketika Lia menyelesaikan cucian pagiannya di rumah sakit. Udara pagi yang segar masih terasa sejuk dengan sedikit embun yang menempel pada daun pepohonan di halaman belakang. Dia menyimpan deterjen yang sudah hampir habis ke dalam wadah plastik yang kuat, kemudian mengambil tas kerja yang selalu dia bawa kemana-mana. Di dalam tas itu ada buku catatan kecil, sapu tangan bekas, dan sebuah bingkai foto kecil yang selalu membuat hatinya terasa hangat setiap kali dilihat.

“Lia, kamu sudah selesai kerja ya? Ada pesanan baru nih dari ruangan dokter anak-anak,” ucap Pak Joko dengan suara yang ramah, sambil membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Jangan lupa sore ini kita ada acara kecil di rumah sakit – kita akan menerima bantuan pakaian dan buku untuk anak-anak yang membutuhkan.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut. Dia menyimpan semua cucian yang sudah bersih ke dalam rak khusus yang sudah disiapkan, kemudian mengambil foto kecil yang selalu ada di mejanya. Wajah tiga bayi yang tertidur berdampingan di dalam bak mandi plastik selalu membuat hatinya terasa penuh dengan kenangan yang mendalam. Mal dengan lekukan di bibirnya yang mirip Lia, Rini dengan alis yang menyerupai ayahnya, dan Adit dengan bintik merah kecil di punggungnya yang tidak akan pernah dia lupakan.

“Saya akan pulang sebentar ya, Pak Joko,” ucap Lia sambil mengambil tasnya yang sudah siap. “Anak-anak pasti sudah menunggu saya di kontrakan.”

Saat berjalan menuju kontrakan milik Bu Warsih, Lia menyapa setiap orang yang mengenalnya. Di sudut jalan, pedagang sayur sedang membuka kiosnya dan memberikan senyum hangat. “Hai Lia, mau sayur yang segar tidak? Untuk anak-anak kamu ya.”

“Terima kasih banyak, Bu,” jawab Lia dengan rasa senang yang mendalam. Dia membeli beberapa ikat kangkung dan bayam yang masih segar, kemudian melanjutkan perjalanannya. Udara pagi sudah mulai terasa hangat dengan suara burung yang berkicau di atas pepohonan.

Ketika tiba di kontrakan, Lia melihat Mal dan Rini sudah bersiap di depan pintu. Kedua anaknya berdiri dengan rapi, tangan masing-masing memegang buku tulis yang sudah mereka isi dengan cerita tentang harapan untuk bertemu dengan kakaknya yang hilang.

“Bu sudah datang!” teriak Mal dengan suara ceria. Rini segera berlari ke arah ibunya dengan membawa segelas air putih hangat. “Bu sudah capek kerja ya? Minum dulu dong.”

Lia memeluk kedua anaknya dengan erat. “Kamu berdua sudah mandi dan siap sekolah ya? Nanti kita makan bersama sebelum berangkat ya.”

Setelah sarapan dengan bubur ayam yang sudah disediakan Bu Warsih, Lia mengantar anak-anaknya ke sekolah dasar dekat kontrakan. Jalan kaki yang hanya butuh waktu sepuluh menit selalu membuat mereka bisa menyapa banyak orang di sepanjang jalan – dari tukang parkir yang selalu memberikan senyum hangat hingga pedagang kecil yang selalu memberi mereka makanan tambahan.

Di sekolah, Lia menyapa guru kelas Mal dan Rini. “Anak-anak saya sudah siap belajar ya, Bu Guru. Mereka sangat senang bisa masuk sekolah ini.”

Guru tersebut mengangguk dengan senyum. “Keduanya anak yang cerdas dan rajin, Lia. Mereka pasti akan sukses kelak.”

Setelah mengantar anak-anak, Lia kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya. Di jalan pulang, dia melihat sekelompok anak kecil sedang bermain dengan tanah liat di sudut jalan. Salah seorang anak laki-laki dengan rambut pirang sedang membuat bentuk hati dari tanah liat – sama dengan bintik di punggung Adit yang selalu ada dalam ingatannya.

Anak itu melihat Lia dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Bu mau lihat bentuk hati yang saya buat?” tanya dia dengan suara lembut.

Lia meraih tanah liat yang sudah dibentuk dengan hati-hati. “Cantik sekali, nak. Kamu bisa membuatnya dengan baik ya.”

“Ya Bu, karena saya selalu mengingat bentuk hati kecil di punggung saya yang dulu dilihat ibu saya,” jawab anak itu dengan senyum. “Ayah saya bilang hati itu tempat menyimpan cinta untuk orang-orang tersayang.”

Lia merasa hati nya terasa hangat mendengar kata-kata anak itu. Dia mengingat kembali saat pertama kali melihat bintik merah di punggung Adit – sebuah tanda cinta yang tidak akan pernah hilang.

Saat bekerja di bagian cuci rumah sakit, Lia selalu memperhatikan setiap pakaian anak-anak yang dicucinya. Setiap kali menemukan baju dengan bentuk khusus atau catatan kecil yang tertulis, dia selalu mencatatnya di buku catatannya – berharap suatu hari bisa menemukan jejak yang tepat untuk Adit.

“Siang sudah, Lia. Kamu mau istirahat sebentar tidak?” tanya Bu Siti dari bagian makanan rumah sakit, membawa mangkuk berisi bubur untuk mereka yang bekerja di bagian cuci. “Kamu kerja terus tanpa istirahat ya, harus jaga kesehatan juga.”

“Terima kasih Bu Siti,” jawab Lia dengan senyum. Dia menyantap bubur dengan lahap sambil merenungkan hari-hari yang akan datang.

Di malam hari, setelah mengantar anak-anaknya tidur, Lia mengambil foto kecil itu lagi. Dia melihat wajah ketiga bayinya dengan penuh cinta, berdoa agar suatu hari nanti mereka bisa hidup bersama sebagai keluarga yang utuh kembali.

“Kita semua sama, punya hati yang ingin menyimpan cinta untuk orang lain,” ucap Lia pada dirinya sendiri sambil melihat ke langit yang sudah mulai penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!