Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guling
Gita melihat foto pernikahan Nara dan Rama. Sampai-sampai harus diperbesar agar lebih jelas. Rama terlihat berbeda. Rahangnya tegas tanpa brewok tipis.
"Kenapa jadi ganteng gini?" gumamnya pelan.
Gita mengenal Rama pertama kali ketika di bengkel. Sama-sama service motor. Perawakan Rama yang tinggi dan berkulit bersih, membuat Gita terpesona. Apalagi Rama punya usaha yang lumayan menghasilkan.
Sebenarnya, bukan setahun pacaran. Karena ada pendekatan dulu, dan selebihnya merujuk hubungan tanpa status. Setelah itu memutuskan pacaran.
Akan tetapi, pacaran dengan Rama terkesan garing. Tidak ada kontak fisik seperti ciuman atau grepe-grepe. Hanya gandengan tangan saja.
Gita makin muak karena usaha Rama mengalami kebangkrutan. Mobil dijual untuk membayar hutang. Seorang Rama jadi tidak berharga di mata Gita.
Rama bekerja serabutan. Kadang driver ojol, kadang jadi tukang bangunan, kadang tukang antar paket.
Gita makin yakin meninggalkan Rama ketika mulai bisa mendapatkan Dewa. Malu punya kekasih yang kerjaannya tidak jelas. Sekarang dia bisa mendapatkan Dewa yang bekerja di bank swasta. Bagian customer service. Tidak apa-apa nanti bisa bertahap naik jabatan.
"Harusnya kamu nggak hamil duluan...."
Gita mendongak. Harmi sedang menaruh piring berisi irisan buah mangga di meja.
"Nanti Dewa dimarahi atasannya. Nggak dipecat tapi nama baiknya agak tercoreng. Bolak balik mengurus berkas nikah dengan Nara eh tahu-tahu batal." omel Harmi.
"Ibu juga harus salahi Mas Dewa. Kami berdua yang melakukan hubungan intim." sahut Gita marah.
"Aku menyukaimu, hanya saja tidak suka harus hamil duluan." Harmi membuang napas kasar.
"Tapi mau gimana lagi. Makan mangganya...."
Gita pikir, Harmi seratus persen menyukainya. Ternyata calon ibu mertuanya itu julid sekali. Terpaksa mengunyah mangga walaupun jengkel.
"Mudah-mudahan rencana pernikahan kalian lancar." kata Harmi.
"Ayo, Gita. Aku antar pulang." ucap Dewa, yang menyempatkan mandi.
Gita meletakkan garpu. "Aku pulang dulu, Bu," pamitnya pada Harmi.
"Iya, hati-hati."
Gita menggandeng lengan Dewa saat berjalan keluar rumah.
"Ibumu nggak suka aku, Mas."
"Suka, kok. Hanya kecewa karena kita melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan setelah sah menikah." sahut Dewa.
Dewa mengantar Gita. Ketika motor berhenti di depan rumah, Dewa melihat rumah sebelah. Nara sudah menikah dengan lelaki lain.
"Besok bisa ketemu nggak?" tanya Gita, turun dari boncengan. "Malam mungkin, kita harus membahas rencana pernikahan, bukan?"
"Besok aku kabari. Aku pergi dulu." Dewa melajukan motornya.
Gita memandangi calon suaminya, tersenyum sendiri.
***********
Kediaman Rahmat mulai sepi. Tenda pengantin sudah dibongkar. Kursi-kursi sudah diangkut. Sisa-sisa bunga pelaminan diambil ibu-ibu yang rewang.
Rama baru saja selesai mandi. Kamar mandi itu berada di bagian paling belakang rumah. Rambutnya yang basah dia gosok berkali-kali menggunakan handuk merah. Seraya memandangi sisa-sisa tungku kayu, jejak-jejak kaki, dan deretan pohon pisang di halaman. Juga tumpukan peralatan masak di atas dipan kayu.
"Mas Rama, ini ember khusus pakaian kotor." Yuda meletakkan ember hitam yang terlihat baru.
"Kalau jemur bisa di mana aja."
"Makasih, Yud." Rama menaruh celana panjangnya yang kotor ke dalam ember.
Yuda dan Rama sama-sama menoleh ke belakang, melihat Nara berjalan keluar dari kamar.
"Mau mandi?" tanya Risna yang baru saja selesai memanasi sayur cap cay dan oseng daging cabe hijau sisa prasmanan.
"Iya, Buk." Nara menyahut lirih, memandang sekilas pada Rama.
"Ibu angetin air dulu ya? Mau keramas, kan?" Risna mengambil panci besar.
"Nggak perlu, Bu." tolak Nara, didorongnya bahu Yuda yang menutup akses pintu belakang.
"Minggir, Yud."
"Siap, mbakku." Yuda nyengir.
Rama juga menggeser tubuhnya supaya Nara bisa lewat.
"Nggak ada water heater?"
"Nggak punya, Mas." sahut Yuda.
"Kalau butuh mandi air hangat ya masak air."
Rama mengerti. Keluarga Nara memang sederhana, Rahmat bekerja di toko roti yang berjarak cukup jauh. Sedangkan Risna ibu rumah tangga biasa, kadang menerima pesanan keripik singkong dan pisang.
Terdengar suara mesin gergaji dari luar. Rahmat tergopoh-gopoh keluar rumah diikuti Rama dan Yuda. Mereka melihat Mansyur menggergaji pohon mangga.
Tidak lama kemudian, pohon mangga ambruk mengenai dinding rumah Rahmat.
Mansyur mematikan mesin gergaji.
"Aku akan membangun pagar! Di tengah-tengah, sesuai dengan ukuran tanah."
"Silakan saja." sahut Rahmat.
"Kamu nggak punya uang buat bangun pagar. Makanya aku yang bikin pagar." ledek Mansyur. "Enak, kan?"
"Tentu saja enak. Silakan bangun sesuai ukuran tanah." Rahmat tersenyum sinis.
Selain pohon mangga, Mansyur juga menebang pohon rambutan dan pisang.
"Ayo, masuk. Ngapain nonton orang ngamuk." suruh Rahmat.
Rama menurut saja, begitu juga dengan Yuda. Keduanya seperti anak bebek yang mengikuti induknya.
"Makan dulu. Udah ibuk angetin." Risna menaruh dua mangkok berisi lauk. "Biarin aja mereka, Pak," lanjutnya.
"Ya, memang aku biarin aja. Yang salah siapa, kok merasa jadi korban." ujar Rahmat duduk di kursi meja makan.
Rama melihat Nara yang memasuki area dapur. Memakai piyama biru tua, handuk tersampir di leher. Wajahnya terlihat tidak berseri dan lesu.
"Suara brukk apa tadi, Pak? Kaget pas di dalam kamar mandi." tanya Nara.
"Mansyur mau bangun pagar pembatas, Nara. Pohon-pohon ditebang." jelas Rahmat.
"Rama, duduk. Nara buatkan teh atau kopi buat suamimu." perintah Risna.
"Nggak perlu, Nara." Rama mengambil gelas. Mengisi air putih dari dispenser. Lalu duduk di sebelah Yuda.
Nara duduk di sebelah Risna. Walaupun tidak berselera, Nara ikutan makan. Hanya sedikit nasi dan sayur cap cay.
"Pak, Buk, minta izin, besok Nara pindah ke rumah yang aku sewa." ucap Rama.
"Iya, mau diboyong ke antartika juga nggak apa-apa. Karena kamu suaminya." ucap Rahmat.
"Bapak ini. Ada-ada saja." cibir risna.
Seusai makan malam, Nara kembali mengurung diri di kamar. Sementara Rama bersama adik ipar dan bapak mertua, nonton pertandingan sepakbola di televisi. Risna tertidur di sofa panjang.
Rama senang, biasanya nonton sendirian di rumah kontrakan.
Risna terbangun, berjalan sempoyongan pindah ke kamar seraya mengomeli Yuda.
"Yud, belajar! Jangan tidur malem-malem. Besok sekolah."
"Iya, Buk. Nonton sepakbola dulu." sahut Yuda ngeyel.
Pertandingan sepakbola berakhir satu jam kemudian. Rahmat menyusul Risna masuk ke kamar karena besok kerja. Yuda masih mondar-mandir antara kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Tepat pukul sepuluh, Yuda tidak keluar kamar lagi.
Rama mematikan televisi. Ragu-ragu masuk ke kamar istrinya.
Nara belum tidur ia masih secroll sosial media untuk mencari hiburan. Rama berdiri di depan pintu yang tertutup, bingung mau tidur dimana. Haruskah di lantai?
"Mas Rama boleh tidur di sini." Nara menepuk kasur di sebelah kanannya. "Tapi jaga jarak ya, Mas."
Rama mengangguk. "Lampunya dimatikan?"
"Iya."
Setelah mematikan lampu, Rama merebahkan badannya di samping Nara. Di tengah-tengah mereka ada guling.
"Apa Mas Rama sebelumnya udah tahu kalau Gita selingkuh?"
"Enggak tahu, Ra," jawab Rama menyelipkan lengan kanan di bawah kepala.
"Mas Rama pasti kecewa berat."
"Enggak juga."
"Kata Gita, Mas Rama minta balikan terus."
"Aku ke rumah Gita, ngambil laptop yang dipinjam cukup lama. Bukan ingin balikan," jelas Rama.
"Mas Rama berapa saudara? Orang tua di mana?"
"Aku nggak punya keluarga, Nara."
"Oh."
Nara menghela napas pendek. Lalu memunggungi Rama. Ponsel diletakkan di meja kecil samping tempat tidur. Nara benci Dewa sekaligus masih ada perasaan. Lima tahun bersama, tidak mudah melepas kenangan. Tetapi, Nara yakin bisa melupakan Dewa suatu hari nanti.
Rama yang lelah dan mengantuk juga tidur miring. Pengantin baru itu tidur saling memunggungi.
...****************...
Nara terbangun karena mendengar suara Yuda dan ibunya yang bersahutan.
"Kaos kaki putih yang baru, Buk!"
"Coba cari di keranjang pakaian dekat meja setrika!!"
Nara mengeratkan pelukannya ke guling yang hangat. Perasaannya mulai membaik, tidak sesak.
"Buk!! Nggak ada!" Suara Yuda terdengar lagi.
Bugh
Bugh
Suara langkah kaki sangat jelas seiring omelan Risna, "Kalau ketemu, nanti sore pijat kaki ibuk!"
"Mereka berdua selalu ribut tiap pagi." gumam Nara pelan.
"Begitu ya...?"
Kedua kelopak mata Nara perlahan terbuka. Samar melihat rahang lelaki. Nara mengerjap-ngerjap, pandangannya makin jelas. Karena sinar mentari membias dari tirai dan ventilasi kecil, Nara bisa melihat tubuhnya berada di mana.
Kepala Nara di pundak Rama kaki kiri membelit kaki Rama. Tangan memeluk bagian perut. Sangat-sangat intim.
Rama tersenyum. Ia sudah bangun dari tadi, tetapi tidak ingin mengganggu istrinya.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬