Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Cengkeraman di Balik Gelap
Sret!
Belum sempat Colette bereaksi, sebuah tangan besar yang kuat menarik lengan atasnya dengan sentakan yang tak terbantahkan, menyeretnya masuk ke dalam ruangan gelap tersebut.
Brak!
Pintu tertutup rapat, mengunci mereka dalam kegelapan total. Colette terkesiap, punggungnya menabrak rak-rak besi yang dingin, menimbulkan bunyi denting halus yang bergema. Ia hendak berteriak, namun sebuah telapak tangan yang hangat dan beraroma kayu cendana segera membekap mulutnya.
"Diam. Ini aku," bisik sebuah suara bariton yang rendah dan sangat familiar tepat di depan wajahnya.
Napas Colette memburu. Dalam kegelapan itu, ia hanya bisa melihat kilat dari sepasang mata tajam yang sedang mengurungnya. Caspian. Pria itu berdiri sangat dekat, memerangkap tubuh kecil Colette di antara rak besi dan tubuh tegapnya.
"T-Tuan... apa yang Anda lakukan?" bisik Colette setelah tangan Caspian terlepas dari mulutnya. Suaranya bergetar hebat.
Napas Colette memburu. Di tengah kegelapan, ia berusaha mencerna situasi. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana bisa pria ini ada di sini? Bagaimana dia bisa masuk ke gedung Sinclair Group selarut ini? Dia kan bukan siapa-siapa, hanya pria misterius yang tiba-tiba muncul di hidupku, batin Colette penuh kebingungan.
Baru saja Colette membuka mulut, hendak menanyakan bagaimana dia bisa masuk ke dalam perusahaan ini, pria itu seolah bisa membaca pikirannya.
"Kau pasti bingung kenapa aku bisa berkeliaran di sini," bisik Caspian, wajahnya semakin mendekat hingga Colette bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di telinga.
"Biarkan aku memperkenalkan diri secara resmi di rumahku sendiri, Colette. Aku adalah Caspian hawthorne Sinclair, CEO baru Sinclair Group yang baru saja mengambil alih posisi ini minggu lalu."
Colette membeku.
"Sejak kapan bagaimana bisa aku baru mengetahuinya." Batin Colette bertanya-tanya.
Caspian menyeringai tipis, matanya mengunci mata hazel Colette yang tampak ketakutan sekaligus terpesona.
"Kau cantik. Sangat cantik hingga rasanya aku ingin mengunci kau di ruangan ini selamanya agar tidak ada satu pun pria di luar sana—termasuk rekan kerjamu yang bermata binar itu—bisa melihatmu."
Colette menelan ludah, pipinya memanas hebat. "T-Tuan... Anda tidak apa-apa."
Caspian melepaskan kuncian tangannya di dinding, namun ia tidak menjauh. Ia justru berdiri santai dengan satu tangan masuk ke saku celana kainnya yang mahal, sementara tangan lainnya tetap berada di dekat bahu Colette. Senyum miring yang provokatif terukir di wajahnya, menghancurkan citra CEO yang kaku dan menggantinya dengan sosok pria yang penuh pesona.
"Sudah cukup terkejutnya?" tanya Caspian dengan nada rendah yang menggoda.
Colette masih berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang kacau. "Saya... saya hanya tidak menyangka Anda adalah pemilik tempat ini."
Caspian terkekeh pelan, suara tawanya terdengar renyah di ruangan sempit itu. Ia menatap Colette dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang menikmati pemandangan yang paling indah di gedung Sinclair malam ini.
"Karena kau sudah bekerja sangat keras untuk 'perusahaanku' hari ini," Caspian memiringkan kepalanya sedikit, "aku merasa punya tanggung jawab untuk memastikan asetku yang paling berharga sampai di rumah dengan selamat."
Ia melangkah mundur satu langkah, membuka pintu ruangan arsip itu lebar-lebar dan memberikan isyarat dengan kepalanya ke arah koridor lift.
"Jadi, bagaimana, Colette? Apakah kau ingin aku yang mengantarmu pulang malam ini? Anggap saja ini layanan khusus dari CEO untuk karyawannya yang paling cantik."
Colette menolak dan berucap "terimakasih" lalu pergi menjauh dari CEO itu. Ia segera menekan tombol lift berharap pria aneh itu tak dekat-dekat lagi dengan nya. Ia perlu mencerna semua yang terjadi hari ini. Dukun yang menolong nya adalah CEO di tempat nya bekerja. Benar-benar sebuah kebetulan yang sangat di sengaja.
Sementara dari kejauhan. Caspian yang melihat itu nampak sangat amat bersemangat melihat sifat acuh itu.
"Menarik." Seringai nya tipis.