Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lawan Sepadan
Grepp...
Lucky merangkul bahu Rachel dengan erat setelah dengan cepat berlari mendekati kekasihnya itu. Apalagi ada seseorang yang juga memanggil kekasihnya. Jiwa posesif dan cemburu dari Lucky tampaknya langsung keluar. Sikap waspada Lucky dengan banyaknya buaya yang mencoba mengincar Rachel, langsung menyala. Ia tak terima jika ada laki-laki lain yang mendekati Rachel.
Sedangkan orang yang tadi juga memanggil Rachel, dia adalah Arjuna. Penampilannya terlihat sederhana dengan rambut klimis, kacamata, dan kaos berkerah. Menurut Lucky, penampilan Arjuna itu hanya untuk tebar pesona di depan Rachel. Sosok laki-laki yang terlihat polos, tapi Lucky tahu itu hanya lah penyamaran belaka.
Plakkk...
"Bukan mahram," ucap Arjuna langsung menepis tangan Lucky yang berada di bahu Rachel dengan beraninya. Lucky sampai memelototkan matanya melihat keberanian Arjuna yang malah seperti ingin melawannya terang-terangan.
"Sepertinya benar kata Ronand. Ini bocah nggak bisa dilembekin," gumam Lucky sambil menghela nafasnya pelan. Dia salah strategi dalam mengusir nyamuk di sekitar Rachel.
"Ini kekasihku, jadi biar saja lah. Bukan urusanmu juga. Lagian nih kalau kamu jadi teman dekatnya Rachel, pasti mau kan merangkul bahu atau pegang tangannya?" ucap Lucky dengan ledekannya. Arjuna pun tampak diam mendengar ledekan itu.
"Udah tahu dianya punya kekasih, kok masih mau mendekati. Jangan harap ya," lanjutnya seakan ingin menekankan bahwa Rachel ini kekasihnya.
"Kak Lucky kenapa ke sini? Memangnya kerjaan sudah selesai?" tanya Rachel langsung mengalihkan pembicaraan agar tak lagi membahas tentang hubungan mereka. Rachel tahu bahwa Lucky tengah mengerjakan beberapa proyek bersama Ronand, jadi tak semudah itu bisa pergi-pergi.
"Anggap saja pekerjaanku sudah selesai. Abangmu itu memang menyebalkan. Sama sekali tidak memberikanku waktu untuk bertemu denganmu," rengek Lucky mengadukan sikap kembarannya pada Rachel.
"Maafkan Abang O..."
Ehemm...
Perbincangan hangat sepasang kekasih itu harus terjeda karena deheman seseorang. Arjuna, dia tampak iri dan cemburu melihat interaksi keduanya. Dia tak terima saat Rachel menyunggingkan senyum cerianya saat bersama Lucky. Apalagi alasan Rachel tersenyum ceria karena adanya sosok Lucky, bukan karenanya.
Susan hanya berdiri bersandar di tembok kelasnya. Ia menikmati drama cinta segitiga yang tersaji di depan matanya. Sangat lucu, laki-laki yang kemarin dibully dan ditolong oleh keduanya malah tertarik dengan Rachel. Ia sedikit beruntung karena laki-laki itu tidak tertarik padanya. Namun kasihan juga pada Rachel yang harus pusing menghadapi laki-laki aneh seperti Arjuna.
"Batuk? Dibaygin saja," ucap Lucky dengan polosnya.
"Baygin? Apaan tuh?" tanya Rachel dengan tatapan bingungnya.
"Itu lho, baby. Obat nyamuk," ucap Lucky membuat Rachel terkekeh pelan. Sebuah nama merk obat nyamuk yang diplesetkan oleh Lucky.
"Ada-ada aja sih, Kak Lucky ini."
"Oh ya... Kakak ada apa kok tadi panggil Rachel?" tanya Rachel pada Arjuna. Ia tampaknya juga tidak tahu siapa nama orang di depannya ini.
"Kenalkan aku Arjuna. Kakak tingkatmu kemarin yang dibully sama mahasiswa lain. Aku cuma..."
"Cuma mau bilang terimakasih karena sudah menolongku," sela Lucky yang tahu kejadian kemarin. Arjuna memelototkan matanya ke arah Lucky yang malah mendahului dan menyela ucapannya.
"Basi banget sih. Basa-basi busuk. Kalau dibully, lawan pembullynya. Atau enggak ya, lapor pihak kampus agar segera ditindak." lanjutnya dengan sindirannya.
"Padahal kemarin yang menolong kamu bukan cuma aku lho. Ada Susan juga tuh. Kok ngucapin terimakasihnya cuma sama aku doang?" tanya Rachel dengan raut wajah polosnya. Bahkan ia menunjuk ke arah Susan yang sedari tadi menahan senyumnya.
Modus itu,
Arjuna menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia lupa, fokusnya hanya pada Rachel saja. Ia malu karena basa-basinya diketahui. Bahkan ia bisa mengartikan ucapan Rachel itu adalah sebuah sindiran untuknya. Lucky semakin waspada dengan Arjuna yang ternyata memang benar menargetkan Rachel.
Mending sana pergi dari sini. Nggak tahu malu,
Modusnya kelihatan banget, Bro.
Aku cuma mau ngobrol sama Rachel, apa ada yang salah?
Salah karena kamu ngobrol sama kekasihku,
Mending pergi selagi aku masih baik denganmu. Jangan sampai aku mengusirmu dengan cara yang tak terduga,
Deg...
***
Sedangkan di kelas lain, Ronand begitu fokus dengan materi yang diajarkan oleh seorang dosen. Pak Orlando mengajar tentang dasar anatomi tubuh manusia begitu detail dalam menjelaskan. Hampir semua mahasiswa tertarik dengan cara menjelaskan materi itu. Apalagi wajah Pak Orlando itu sangat tampan dengan raut wajah seperti CEO muda.
"Minggu depan, kita akan langsung melihat bagaimana organ dalam tubuh manusia. Yang tidak kuat, mending menyerah saja." ucap Pak Orlando memberikan penutup di akhir materinya.
"Pak, maaf bertanya. Ini baru memakai tubuh tiruan kan? Bukan manusia asli," tanya seorang mahasiswa untuk memastikan sesuatu.
"Asli," jawab Pak Orlando dengan tatapan datarnya.
"Ya asli, teman-teman. Nanti kita bedah langsung itu tubuh Pak Orlando buat dijadikan bahan pembelajaran. Sepertinya seru," ucap Ronand dengan tatapan tajamnya mengarah pada dosennya. Bahkan Pak Orlando langsung terkejut mendengar ucapan Ronand.
Pak Orlando sendiri tentu saja awalnya hanya ingin menguji dan melihat langsung respons mahasiswa. Ia yakin ada beberapa mahasiswa yang mungkin saja masih takut atau belum kuat mental jika menghadapi hal seperti itu. Namun Ronand malah menantangnya seakan itu sudah hal biasa. Pak Orlando menatap tajam ke arah Ronand yang seperti menantangnya. Namun Ronand sama sekali tidak takut. Justru Ronand menampilkan senyum miringnya membuat Pak Orlando dan semua mahasiswa yang melihatnya tampak ngeri sendiri.
"Kita pakai manusia buatan, tidak asli." ucap Pak Orlando tanpa mempedulikan ocehan Ronand.
"Baik, Pak."
"Kita akhiri pembelajaran hari ini. Selamat siang," Pak Orlando berlalu dari meja dosen kemudian mendekati Ronand.
"Ada apa, Pak? Jadi mau badannya dijadikan contoh anatomi tubuh manusia?" tanya Ronand sambil terkekeh pelan.
"Jangan main-main kamu, Ronand. Sepertinya kamu itu terlalu berani sama dosen," ucap Pak Orlando yang tampak kesal dengan keberanian Ronand.
"Saya hanya tertantang dengan ucapan Bapak sendiri lho. Katanya robot dan manusia itu berbeda. Kesalahan sedikit pada manusia, nyawa bisa melayang. Nah... Kalau mau belajar langsung, tentu pakai manusia asli kan?" tanya Ronand dengan raut wajah tak bersalahnya.
Sialan...
Pak Orlando merasa kalah telak jika berdebat dengan Ronand. Padahal Ronand hanya menginginkan kalau praktikum itu belajar sesuai dengan keinginan Pak Orlando. Tidak menggunakan robot atau manusia tiruan. Walaupun untuk semester awal, biasanya memang menggunakan manusia tiruan terlebih dahulu. Lain hal jika nanti sudah pertengahan, ada penelitian menggunakan mayat manusia yang diawetkan.
Yang tahu pembelajaran ini adalah saya, nggak usah ngatur.
Dih... Langsung menggunakan kekuasaannya sebagai dosen,
Nggak asyik,
Padahal saya tertarik sekali lho ingin melihat organ dalam Pak Orlando,
Ronand...
Hahaha...
Dia adalah lawan yang sepadan,