NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detektif Salting

Hari kelima, jam 9 pagi.

Dewa duduk di warung kopi dekat kampus dengan mata sembab lebih parah dari biasanya. Sasha masih tidak menelepon, cincin masih tidak diakui. Dan sekarang, kecurigaan baru menggerogoti pikirannya: Bagaimana kalau paketnya tidak sampai? Bagaimana kalau hilang? Bagaimana kalau...

"Lo cek ke kantor pos, bro," kata Roby, menyelipkan nasi uduk ke mulutnya "Tanya langsung."

Dewa menggeleng pelan, "Malu, gimana kalau Sasha tahu?"

"Lebih malu kalau cincin lo diambil orang lain karena alamat salah."

Dewa membeku, wajahnya berubah horor . Alamat salah tiga kata yang tidak pernah terpikir, tinta luntur, hujan deras, payung bocor. Semua kemungkinan itu tiba-tiba menari-nari di kepalanya.

"Tidak mungkin," batinnya berbisik, tapi kemudian ia ingat: tangannya basah, formulir berantakan, tulisan yang mungkin—mungkin saja—tidak terbaca dengan jelas.

Dewa berdiri. "Ayo."

---

Jam 10 pagi, Kantor Pos kampus.

Dewa dan Roby berdiri dengan ekspresi yang berbeda: Dewa gugup seperti maling ayam ditangkap warga, sementara Roby santai antre beli gorengan.

Petugas di meja—masih nametag BUDI, pria 40-an dengan kacamata tebal—melirik mereka dengan kebosanan yang sudah terlatih.

"Ada paket yang belum sampai, Pak," kata Dewa, suaranya kecil dari yang diinginkan. "Dikirim tanggal 17, ke Apartemen Melati 4-12."

Budi mengklik komputer menunggu kemudian mengklik lagi.

"4-12? Apartemen Melati?"

"Iya, Pak."

Ia menggeleng pelan. "Tidak ada paket gagal kiriman ke sana. Semua paket tanggal 17 sudah diterima."

Dewa merasa dunia miring setengah. "Tapi... penerima bilang ia belum terima."

Budi menatapnya menilai seakan tidak percaya. "Cek nomor resi?"

Dewa mengeluarkan kertas kecil dari dompetnya, tangannya bergetar saat menyerahkan.

Pria itu mengecek, mengklik dan mengklik lagi. Ekspresinya berubah—dari kebosanan menjadi kebingungan.

"Aneh," gumamnya.

"Apa, Pak?"

"Paket ini... alamatnya A-12B. Bukan 4-12."

Dewa membeku. A-12B. Tiga karakter yang tidak masuk akal. Tiga karakter yang—ia ingat sekarang—mungkin terbentuk dari tinta luntur di tangan basahnya.

"Apartemen... Anggrek?" tanya Roby tiba-tiba berubah serius.

Ia mengangguk kecil. "A-12B. Sudah diterima. Tanggal 18."

Dewa merasakan darahnya melompat ke wajahnya, diterima, cincin bermata safir ke alamat yang salah, orang yang salah.

"Siapa... siapa penerimanya, Pak?" tanya Dewa, suaranya hampir tidak keluar.

Budi menatap layar menggeleng. "Ini privasi, Mas. Tidak bisa disebut."

"Tapi itu penting! Itu... itu cincin saya!"

Budi mengangkat tangan. "Maaf. Saya hanya bisa bilang: paket sudah diterima di A-12B. Tidak ada komplain dari penerima. Selesai."

Dewa ingin berteriak. Ingin membanting meja. Tapi Roby menarik lengannya, kuat, ke pintu.

"Bro. Bro! Keluar dulu. Nanti kita pikirkan."

---

Di luar, Dewa menatap langit kota Jakarta yang cerah rasa tidak percaya. Cincinnya, hasil tujuh hari kerja keras nyasar ke orang yang salah.

"By, gimana?"

Roby menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "A-12B... Apartemen Anggrek. Gue ingat... ada dosen yang tinggal situ."

Dewa menoleh kaget. "Siapa?"

"Gue gak tahu pasti. Tapi... katanya... seorang wanita sendirian jarang keluar."

Dewa merasakan sesuatu di perutnya ingin keluar, ketakutan aneh. Cincinnya—cincin murah, cincin pribadi—sekarang di tangan orang asing, wanita asing yang tidak tahu apa-apa cerita tentang dia."Kita harus ambil balik," katanya cepat .

"Gimana caranya ? Ketuk pintu? 'Maaf Bu, Maaf Mba, Permisi, cincin saya salah kirim, bisa dikembalikan?'"

Dewa terdiam, Roby benar tidak mungkin, dan tidak semudah itu.

Mereka berdiri di trotoar, bingung, sampai akhirnya laki laki bertubuh gemuk itu berkata, "Oke. Plan B. Kita cari tahu siapa penghuni A-12B. Diam-diam. Kalau memang cincin lo dipakai... baru kita pikirkan langkah selanjutnya."

Dewa mengangguk dalam, tidak punya pilihan lain.

---

Jam 3 sore, Fakultas Ekonomi.

Dewa menyelinap ke koridor dosen. Roby menunggu di luar—"Gue jaga, bro. Lo yang masuk. Gue kalau ketauan, DO. Lo masih punya alasan 'konsultasi'."

Dewa berjalan dengan hati berdebar. Tidak tahu apa yang dicari. Hanya tahu: A-12B, Apartemen Anggrek, dosen wanita.

Ia melihat plakat di dinding. Daftar dosen dengan alamat kampus. Tidak ada alamat rumah—tentu saja. Tapi kemudian, di sudut koridor, ia melihat papan pengumuman lama. Surat undangan rapat. Alamat pengiriman: beberapa nama, beberapa alamat.

Dian Wulandari, M.Si. — tidak ada alamat lengkap. Hanya: A-12B, Apartemen Anggrek.

Dewa membeku.

Ibu Dian, dosen Statistik Lanjut. Dosen Killer, Wanita galak, jomblo akut, ditakuti, dan tidak pernah tersenyum.Cincinnya di tangan perempuan itu .

Dewa oyong ingin lari atau menghilang dari muka bumi pindah ke bulan menjadi ibu peri

Tapi sesaat kemudian ia ingat: sarung tangan hitam panjang kemarin di kelas.

Tidak mungkin, pikirnya, tidak mungkin Ibu Dian pakai. Dia tidak tahu siapa pengirimnya. Dia... pasti simpan. Atau dibuang. Atau...

Tapi kenapa ada sarung tangan? Kenapa dia menyembunyikan tangan, tapi apa salahnya?

Dewa berjalan keluar dengan langkah goyah. Roby menangkap lengannya.

"Bro?"

"A-12B," katany a hampa. "Ibu Dian Wulandari, Dosen Killer."

Roby membeku sesaat lalu, dan tiba tiba tertawa terbahak bahak berguling-guling di koridor. "LO KIRIM CINCIN KE DOSEN KILLER?! HAHAHAHA—"

"Rob !"

"—HAHAHAHA! Bro! Ini... ini karya seni! Legenda!"

Dewa menutup mulutnya cepat "Diam kunyuk! Dia tidak tahu siapa gue. Tapi kalau tahu... gue bisa DO mati di mata kuliahnya. Gue..."

Roby berhenti tertawa melihat wajahnya benar-benar hancur seperti tomat giling.

"Oke. Oke. Kita pikirkan secara tenang dan diam-diam. Lo jangan deket-deket Ibu Dian dulu, cukup amati. Kalau ternyata memang dia pakai cincin itu.. baru kita putuskan."

Dewa mengangguk tidak mengerti.

----

Jam 8 malam, Apartemen A-12B.

Dian duduk di sofa dengan cincin di tangannya, mampir ke jari manis hampir, hampir masuk, begitu lah selalu ia lakukan, pasang, buka, lalu pasang lagi.

"Saya hanya ingin tahu pas atau tidak," katanya pada diri sendiri. "Verifikasi bukan untuk dipakai." Cincin meluncur masuk, pas sempurna.

Ia menatap kilauan biru yang—ia kira terlalu cerah untuk sintetis. Atau mungkin hanya imajinasi liarnya saja.

Dia melepaskannya cepat seperti terbakar, tapi hatinya berkata lain, sayang untuk dilepas. Tapi malam ini, sebelum tidur, dia ingin memakainya lagi hanya sebentar

Dan untuk pertama kalinya dalam umur 38 tahun, Dian Wulandari tersenyum sendiri di apartemennya yang steril.

"Siapa kamu?" bisiknya pada cincin. "Dan kenapa kamu bikin saya... begini?"

Tidak ada jawaban hanya kilauan batu biru yang—ia yakin—sedikit berkedip.

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!