*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 - Penyergapan di Palenwood
“Tahan posisi masing-masing! Jangan ada yang lari!” suaraku serak membelah kepanikan.
Tidak ada jalan lari. Gerobak terbalik itu kini dikelilingi oleh puluhan pasang mata hijau yang menyala dalam kabut.
"Astaga..." bisik pedagang gempal itu, wajahnya kembali pucat. "Kita harus buat pertahanan! Dinding batu!
"Jangan buat dinding!” teriakku, tajam dan memotong kepanikannya. ”Kita butuh ruang untuk bergerak! Gunakan gerobak itu sebagai pertahanan belakang! Buat setengah lingkaran menghadap keluar!"
Instruksi tegas kadang lebih efektif daripada memberikan ketenangan. Tanpa membantah, mereka bergerak mundur, menempelkan punggung ke sisi gerobak kayu yang kokoh.
Formasi terbentuk seadanya: Aku di tengah sebagai ujung tombak, Fiora di sisi kanan menjaga pedagang wanita yang gemetar, dan pedagang laki-laki muda di sisi kiri dengan baton terangkat kaku.
Gelombang kedua tidak memberi kami napas.
Serangan pertama datang dari arah kananku. Mata hijaunya berkilau sesaat. Seekor panter melesat rendah di atas tanah. Aku tidak menunggu. Aku memutar pinggang, menyabetkan baton sambil melepas cambuk air
CTARR!!
Makhluk itu goyah. Aku menggunakan momen itu, melangkah maju dalam jangkauannya. Batonku beradu dengan cakar-cakarnya dalam satu dentang keras, disusul dengan sodokan lutut. Panter itu terlempar mundur, mendesis marah, lalu menghilang kembali ke kabut.
"Sisi kiri!" seru Fiora.
Sekitar dua puluh meter darinya, panter kedua mencoba bergerak menyamping, mencari celah antara Fiora dan si pedagang laki-laki. Fiora tetap tenang.
"Petrocraft Tiga, Lontaran Tanah!"
Gumpalan tanah padat melesat, menghantam dahan pohon rendah tepat di atas jalur si panter. Dahan itu patah dan jatuh, memaksa panter itu melompat mundur.
Serangan serentak datang. Panter pertamaku kembali menerjang, sementara satu lagi menyerbu Fiora.
Aku sibuk menangkis cakar yang bertubi-tubi, menjaga kuda-kudaku tetap rendah agar tidak terguling. Di sebelahku, aku mendengar Fiora berteriak, "Sarung Tangan Tanah!"
Sekilas kulihat lengan Fiora terbungkus tanah kasar yang keras. Ia menangkis cakar panter itu dengan tangannya, lalu dengan gerakan berputar yang indah, ia melepaskan tendangan tinggi. Tumitnya menghantam telak rahang panter itu. Dibantu pukulan canggung pedagang muda, panter itu ambruk. Satu tumbang.
Melihat rekannya jatuh, panter yang sedang melawanku meraung lebih keras. Ia menerjang dengan seluruh kekuatannya. Aku mengelak, tapi cakarnya berhasil menyambar lenganku, merobek kain bajuku dan meninggalkan tiga goresan tumpul panjang yang terasa panas dan perih.
Tiba-tiba, dari arah gerobak, sebuah semburan air kecil—Sengat Air yang ditembakkan dengan panik oleh si pedagang gempal—menghantam sisi wajah si panter.
Serangan itu tidak berarti, tapi kejutan itu memberiku waktu yang kubutuhkan. Aku memutar tubuhku, menyalurkan sisa Daya ke dalam satu tusukan hydrocarft yang kuat dan telak ke lehernya. Ia jatuh terjerembap di kakiku. Dua tumbang.
ROOAARRR!!!
Sebuah auman menusuk terdengar dari sisi lain gerobak. Aku menoleh. Panter keempat, yang terbesar, telah berhasil menyelinap dan menyergap si pedagang pria. Cakar yang kuat melayang dari arah atas dan menghantam wajah pedagang pria itu. Ia mendarat dengan kepalanya menghujam ke tanah, si pedagang pria tak lagi bergerak.
Fiora, tanpa ragu, langsung berlari menghampiri, nalurinya sebagai penyembuh mengambil alih.
"Hei, Bertahanlah!" serunya pada pedagang pria sambil merogoh tas. Panter itu, bersiap untuk menerkam lagi, mengarah ke Fiora yang sedang berlutut.
"Jangan harap!" Aku berlari, mengabaikan rasa perih di lenganku, menempatkan diriku di antara panter dan Fiora. Dua panter yang tersisa kini memfokuskan perhatian mereka padaku, mengitariku perlahan dari jarak sekitar lima meter.
Aku menarik napas dalam-dalam. Daya-ku sudah menipis. Kedua panter itu menerjang bersamaan. Aku mengabaikan yang lebih kecil, fokus pada panter besar.
“Tenaga Terpusat... TEMBUS SEKARANG!"
Semburan air bertekanan tinggi yang berputar kencang melesat dari ujung batonku, menghantam dada panter terbesar itu dengan kekuatan penuh, melontarkannya jauh ke dalam kabut.
Namun punggungku terbuka.
Argh!
Panter kecil itu berhasil menghantam punggungku, rasanya tulang belikatku retak. Aku terhuyung jatuh. Panter itu bersiap menggigit tengkukku.
Plak!
Pedagang perempuan yang sejak tadi hanya diam ketakutan, dalam aksi heroiknya yang pertama dan terakhir, melemparkan batonnya sekuat tenaga ke arah panter itu.
Panter itu menoleh kaget. Detik itu adalah nyawaku. Aku berputar di tanah, dengan sisa tenaga terakhirku, berbalik dan menghantamkan batonku ke tengkoraknya.
KRAK!!
Hening.
Kabut perlahan menipis. Di sekeliling gerobak yang hancur, tergeletak empat ekor Mist Panther yang tak sadarkan diri. Fiora berlutut di samping pedagang pria yang pingsan dengan wajah lebam parah. Pedagang gempal terduduk lemas, sementara pedagang wanita masih gemetar mengatur napasnya.
Aku berdiri tertatih, menyandarkan punggung ke pohon. Lenganku berdenyut panas, napasku seperti menarik api. Kami selamat, dengan sedikit luka-luka.
Sesuatu tentang pertempuran tadi terasa mengganjal.
Mist Panther adalah hewan Kategori C, pikirku dalam hati, mencoba menyusun kepingan teka-teki di tengah kelelahan.
Mereka cenderung tidak akan menyerang manusia kecuali sangat terdesak atau kelaparan. Mereka lebih suka mencari mangsa yang mudah. Tapi barusan... mereka menyerang secara berkelompok dengan target sekelompok manusia. Mangsa yang jelas-jelas lebih sulit ditaklukkan. Ada yang tidak beres dengan semua ini.
Pikiranku terputus oleh suara gemerisik daun dari segala arah. Itu bukan suara hewan. Itu suara langkah kaki manusia. Banyak kaki.
Sebelum aku sempat berteriak memberi peringatan, mereka sudah keluar dari balik pepohonan. Sekelompok orang dengan pakaian compang-camping dan wajah yang keras mengepung kami. Senjata mereka adalah campuran dari apa saja—baton usang dan gada kayu kasar.
"Mien itu dulu!" teriak salah satu dari mereka, menunjuk lurus ke arahku.
Aku mencoba bangkit, mengangkat batonku yang terasa seberat bongkahan batu. Daya-ku nyaris kosong, setiap otot di tubuhku menjerit protes. Namun, mereka tidak memberiku kesempatan.
Dua musuh baru maju ke arah Fiora. Pedagang gempal yang mencoba berdiri langsung dipukul jatuh dengan gagang gada.
Sebelum aku sempat mencoba mengayunkan baton, sebuah pukulan keras mendarat di belakang kepalaku.
BUK!!
Pandanganku seketika meredup, suara-suara menjadi dengungan jauh, dan Hal terakhir yang kulihat adalah Fiora yang ditarik paksa, berteriak memanggil namaku, sebelum semuanya menjadi hitam pekat.
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu