Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 NAMA YANG TIDAK DICATAT
Usia tiga belas tahun datang tanpa perayaan.
Tidak ada jamuan.
Tidak ada hadiah.
Bagi Chen Long, usia hanyalah angka yang menentukan berapa jauh ia boleh dikirim dari benteng.
Zona abu-abu kini menjadi wilayah rutin. Kabut, darah, dan tanah beku bukan lagi ancaman asing. Ia bergerak bersama regu kecil dan terkadang tiga orang, bahkan kadang sendirian. Tidak ada bendera. Tidak ada laporan resmi dengan namanya tertulis.
Jika misi berhasil, wilayah aman.
Jika gagal, nama yang hilang bukan miliknya.
Para prajurit mulai mengenalnya dengan sebutan pelan.
“Anak Utara.”
“Yang tidak memakai Qi.”
“Yang selalu pulang.”
Chen Long mendengar semuanya.
Dan tetap diam.
Di usia empat belas tahun, tubuhnya mencapai titik aneh.
Ia masih belum membuka nadi.
Namun ia tidak lagi sepenuhnya tertutup.
Setiap kali selesai misi terutama setelah pertarungan dadanya akan terasa seperti retak halus. Bukan sakit tajam, melainkan tekanan berlapis, seolah jalur di dalam tubuhnya mulai mengalah, namun menolak memberi jalan.
Pada malam tertentu, ia bisa merasakan denyut itu berpindah.
Dari dada.
Ke bahu.
Ke punggung.
Bekas luka lama di punggungnya berkilau samar di bawah cahaya lentera.
Tabib tidak dipanggil.
Chen Hao hanya mengubah ritme latihan.
Lebih lambat.
Lebih berat.
Lebih sunyi.
“Jangan kejar apa yang ingin terbuka,” katanya suatu malam.
“Biarkan ia menyerah sendiri.”
Chen Long mengingat kalimat itu.
Misi musim dingin tahun itu menjadi titik balik.
Sebuah kelompok iblis pengintai membangun sarang sementara di lembah sempit. Tidak cukup kuat untuk memicu alarm besar, namun cukup berbahaya untuk dibiarkan.
Chen Long masuk sendirian.
Salju menelan jejak langkahnya. Nafasnya dikunci rendah. Setiap gerakan dihitung bukan oleh pikiran, melainkan oleh tubuh yang sudah menghafal ketakutan.
Pertarungan berlangsung singkat.
Pisau bergerak.
Darah mengalir.
Tidak ada teriakan.
Saat iblis terakhir jatuh, Chen Long berdiri terdiam lebih lama dari biasanya.
Dadanya bergetar hebat.
Krek.
Ia merasakannya dengan jelas.
Bukan suara.
Bukan sensasi fisik.
Melainkan retakan batin seperti dinding yang selama ini utuh akhirnya menunjukkan celah.
Ia berlutut, menekan tanah.
Udara di sekitarnya bergetar tipis.
Tidak ada Qi keluar.
Tidak ada cahaya.
Namun untuk pertama kalinya, jalur itu merespons, bukan menolak.
Chen Long menarik napas panjang, lalu berdiri.
Ia tidak melapor apa pun.
Reputasinya tumbuh tanpa sengaja.
Perwira mulai menugaskan misi dengan satu kalimat tambahan:
“Biarkan Anak Utara di depan.”
Tidak ada yang bertanya kenapa.
Ia tidak pernah menyombongkan diri. Tidak pernah mengambil pujian. Bahkan saat prajurit lain gugur, Chen Long tidak berkata apa-apa—ia hanya memastikan yang hidup bisa kembali.
Di antara para prajurit, ada yang mulai percaya takhayul.
“Selama dia ada,” kata mereka pelan,
“iblis tidak berani mendekat terlalu lama.”
Chen Long tidak tahu soal itu.
Namun iblis… tahu.
...****************...
Di kedalaman tanah terlarang, jauh di bawah altar tulang.
Sebuah singgasana hitam berdenyut pelan, seolah terbuat dari daging dan batu. Di atasnya duduk sosok bertanduk panjang, matanya tidak merah melainkan gelap seperti lubang tanpa dasar.
“Retakan pertama muncul,” lapor iblis pengintai sambil berlutut.
“Anomali itu… tidak membuka jalannya. Tapi jalannya mulai melemah.”
Sang penguasa iblis mengetukkan satu jari ke singgasana.
“Bagus,” katanya pelan.
“Lebih baik retak daripada terbuka.”
“Apakah kita menyerang sekarang?” tanya sang pengintai.
“Tidak.”
Senyum tipis muncul dengan dingin, dan sabar.
“Anomali dengan jalur setengah jadi adalah yang paling rapuh,” lanjutnya.
“Tekanan kecil… emosi… kehilangan… akan memaksanya memilih.”
Ia berdiri.
“Kirim perintah,” katanya.
“Jangan bunuh dia.”
Para iblis di sekeliling altar menegang.
“Buat dia membuka jalannya dengan caranya sendiri.”
Api hitam menyala lebih tinggi.
Di atas tanah, angin Utara bertiup lebih kencang.
Dan Chen Long, tanpa menyadarinya, baru saja melangkah ke fase di mana dunia fana dan iblis mulai menunggu keputusannya.
Usia lima belas tahun adalah usia ketika seseorang mulai percaya bahwa ia sudah memahami dunia.
Dan itulah usia ketika dunia mematahkan keyakinan itu.
Misi itu seharusnya sederhana.
Pengawalan logistik dari pos timur menuju Benteng Utara dengan jalur yang sudah dibersihkan berkali-kali. Chen Long memimpin barisan depan, Gu Shan berada di belakang. Salju turun tipis, angin tidak terlalu kencang.
Tidak ada tanda bahaya.
Dan justru karena itu—mereka lengah.
Serangan datang tanpa teriakan.
Tanah di sisi kiri runtuh. Bayangan meloncat dari celah batu. Iblis bertopeng tulang—bukan pengintai biasa. Pemburu.
“Formasi!” teriak Gu Shan.
Chen Long bergerak cepat, menebas satu bayangan sebelum ia sempat menyentuh kereta. Darah hitam menyembur. Tubuhnya berputar, pisau kedua terangkat dan...
Terlambat.
Teriakan pendek terdengar dari belakang.
Chen Long menoleh.
Seorang prajurit muda yang baru bergabung musim dingin lalu dia pun terjerembab dengan dada robek. Matanya terbuka lebar, napasnya terhenti di tengah kata.
Waktu seolah berhenti.
Tidak.
Chen Long melompat, menghantam iblis pemburu dengan bahunya. Tubuh makhluk itu terlempar, namun tidak mati. Topeng tulangnya retak, memperlihatkan mata kuning yang menatap Chen Long dengan kepastian.
“Anomali,” desisnya.
Amarah meledak.
Bukan marah yang panas melainkan dingin, padat, dan menekan dari dalam.
Chen Long menerjang.
Setiap tebasan lebih cepat dari sebelumnya. Setiap langkah terasa ringan bahkan terlalu ringan. Dunia di sekelilingnya meredup. Suara berubah jauh.
Di dadanya, retakan itu menganga.
Sekarang, bisik sesuatu di dalam dirinya.
Buka saja.
Tekanan menghantam dari dua sisi. Darah Yang melonjak liar. Resonansi Yin yang tertinggal mencoba menahan, namun goyah.
Krek.
Rasa sakit membutakan.
Chen Long berteriak kesakitan untuk pertama kalinya sejak kecil.
Udara di sekitarnya bergetar hebat. Tanah berderak. Iblis pemburu terpental, tubuhnya terbelah oleh gelombang tak terlihat.
Namun bersamaan dengan itu, Chen Long ambruk.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada jalur terbuka.
Hanya kerusakan.
Ia sadar dengan rasa dingin menusuk.
Langit kelabu. Salju menempel di bulu matanya. Nafasnya terengah, dadanya seperti diremas dari dalam. Setiap tarikan napas terasa salah—terlalu dangkal, terlalu berat.
Gu Shan berlutut di sisinya, wajahnya pucat oleh darah yang bukan miliknya.
“Jangan bergerak,” katanya parau.
“Kau… hampir menghancurkan dirimu sendiri.”
Chen Long mencoba bangkit. Gagal.
Di sekeliling mereka, misi berakhir dengan kerugian. Dua prajurit tewas. Logistik sebagian hancur. Iblis pemburu mundur bukan karena takut, melainkan karena tujuannya tercapai.
Saat mereka kembali ke benteng, tidak ada sorak kemenangan.
Hanya sunyi.
Malam itu, Chen Long terkurung di ruang batu.
Bukan hukuman resmi.
Bukan pula perawatan.
Isolasi.
Dadanya masih sakit. Retakan itu menutup kembali, namun meninggalkan rasa perih yang menetap seperti luka yang menolak sembuh.
Pintu batu terbuka.
Chen Hao masuk tanpa pengawal.
“Aku gagal,” kata Chen Long lebih dulu, suaranya serak.
Chen Hao tidak menjawab segera. Ia berdiri lama, menatap putranya bukan sebagai Raja, melainkan sebagai seseorang yang mengenali ambang kehancuran.
“Kau tidak gagal karena misi itu,” katanya akhirnya.
“Kau gagal karena hampir memaksa jalan yang belum waktunya.”
Chen Long menggertakkan gigi.
“Kalau aku membukanya—mereka tidak akan mati.”
“Dan kalau kau membukanya dengan cara itu,” potong Chen Hao,
“kau akan mati lebih dulu.”
Keheningan menekan.
“Ayah,” ujar Chen Long pelan,
“aku merasakannya. Jalurnya hampir benar”
“dan itulah yang paling berbahaya,” jawab Chen Hao.
“Ambang yang setengah terbuka akan memakan pemiliknya.”
Ia melangkah mendekat.
“Mulai hari ini,” katanya tegas,
“kau dilarang memicu apa pun lewat emosi. Jika aku merasakannya sekali lagi—aku yang akan menutup jalan itu dengan tanganku sendiri.”
Ancaman itu nyata.
Chen Long mengangguk.
...BERSAMBUNG...
...****************...