Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Rutinitas Baru
...— ✦ —...
Dua minggu.
Kirana menyadarinya ketika sedang menyikat rambut Gwyneth di depan cermin kamar mandi — ritual pagi yang awalnya terasa asing dan kini sudah menjadi sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir. Dua minggu sejak ia membuka mata di ranjang ini. Dua minggu sejak pertama kali melihat mata ungu yang ketakutan itu di ambang pintu.
Dua minggu, dan rumah ini sudah tidak terasa seperti panggung tempat ia memainkan peran orang lain.
Itu sedikit menakutkan, kalau ia mau jujur pada dirinya sendiri.
Bukan karena buruk — justru sebaliknya. Menakutkan karena ia mulai berhenti merasa seperti Kirana Seo yang sedang pura-pura, dan mulai merasa seperti seseorang yang memang hidup di sini. Yang mengenal cara cahaya pagi masuk dari jendela timur. Yang tahu Amethysta selalu turun lima menit lebih awal dari yang dijadwalkan kalau ada sesuatu yang ia ingin ceritakan. Yang tahu Xavier lebih suka kopinya agak pahit di pagi hari tapi tidak akan pernah mengatakannya secara langsung.
Siapa yang sedang menjadi siapa, sekarang?
Ia meletakkan sisir dan menatap wajah di cermin. Wajah Gwyneth yang sudah mulai terasa seperti miliknya sendiri — bukan karena ia tidak ingat wajah Kirana Seo yang asli, tapi karena garis antara keduanya sudah tidak setajam dua minggu lalu.
*Berhenti berpikir tentang itu,* tegasnya dalam hati. *Hari ini ada hal yang lebih penting.*
...✦ ✦ ✦...
Hari ini adalah hari pertama Kirana ikut mengantar Amethysta ke sekolah.
Bukan Seren yang mengantar. Bukan supir yang menunggu di depan pintu gerbang. Kirana sendiri, dengan mobil yang dikendarai supir memang — ia belum cukup percaya diri mengemudikan kendaraan semewah itu di kota yang belum sepenuhnya ia hafal — tapi ia yang duduk di sebelah Amethysta di kursi belakang, dan ia yang turun bersama gadis kecil itu sampai ke depan gerbang sekolah.
Amethysta tidak berkomentar ketika Kirana bersiap ikut. Tapi Kirana melihat — di detik pertama ketika Seren memberitahu bahwa "Nyonya akan ikut mengantar hari ini" — bagaimana mata ungu itu berkedip sekali dengan cepat. Reaksi kecil yang bisa berarti banyak hal, tapi yang Kirana pilih artikan sebagai sesuatu yang mendekati senang.
Di mobil, Amethysta duduk dengan tas di pangkuan dan memandang keluar jendela. Kali ini tidak ada tulisan di embun kaca — langit terlalu cerah untuk embun. Tapi jarinya bergerak pelan di atas permukaan tasnya, seperti sedang menggambar sesuatu yang tidak terlihat.
"Temanmu," kata Kirana. "Ada yang dekat?"
Amethysta tidak langsung menjawab. "Dekat gimana?"
"Yang kamu mau cerita sesuatu padanya. Yang kamu ingat namanya waktu bangun pagi."
Gadis kecil itu berpikir sejenak dengan serius. "Ada satu. Naira. Dia suka buku juga." Jeda kecil. "Tapi kami tidak terlalu sering bicara."
"Kenapa?"
Bahu kecil itu terangkat sedikit. "Tidak tahu cara mulainya."
Kirana menatap profil gadis kecil itu. Tidak tahu cara memulai percakapan — tujuh tahun, dan sudah belajar bahwa lebih aman untuk diam daripada mencoba dan salah. Warisan yang tidak seharusnya ada.
"Coba tanya tentang bukunya," kata Kirana. "Orang suka kalau ada yang tertarik dengan hal yang mereka sukai."
Amethysta mempertimbangkan ini. "Semudah itu?"
"Tidak selalu. Tapi itu tempat yang baik untuk mulai."
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Amethysta mengambil tasnya, membuka pintu, lalu berhenti sebentar dengan satu kaki sudah di luar.
"Mama ikut sampai sini saja?" tanyanya, setengah pernyataan setengah pertanyaan.
"Kalau kamu mau."
Amethysta berpikir sebentar. Lalu ia membuka pintu lebih lebar. "Ikut sampai gerbang."
...✦ ✦ ✦...
Gerbang sekolah itu ramai dengan cara yang khas — anak-anak berlarian, orang tua bergerombol di pinggir sambil bicara, guru-guru berdiri di pos masing-masing. Kirana berdiri di sisi Amethysta dan merasakan pandangan yang datang dari beberapa arah.
Orang-orang mengenali Gwyneth Valerine.
Atau lebih tepatnya — orang-orang kaget melihat Gwyneth Valerine berdiri di depan gerbang sekolah, mengantar putrinya secara langsung, pada hari biasa yang tidak ada acara khusus.
Kirana mengabaikan pandangan itu dengan cara terbaik yang ia bisa — tidak menatap balik, tidak menunjukkan bahwa ia menyadarinya, hanya berdiri di sana dengan tenang sampai bel masuk berbunyi.
Amethysta sudah setengah berbalik untuk masuk ketika sesuatu terjadi.
Seorang anak perempuan — rambut keriting pendek, tas bergambar roket — berlari kecil dari arah yang berlawanan dan hampir menabrak Amethysta. Keduanya berhenti. Menatap satu sama lain.
"Amethysta!" kata anak itu. "Aku baru beli buku baru tentang luar angkasa. Ada bagian tentang lubang hitam. Mau pinjam?"
Amethysta berkedip. Melirik sekilas ke Kirana — bukan meminta izin, lebih seperti berbagi momen — lalu kembali ke anak di depannya.
"Mau," katanya. Singkat. Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Anak berambut keriting itu tersenyum lebar lalu berlari masuk duluan. Amethysta mengikutinya dengan langkah yang — Kirana perhatikan — tidak selambat biasanya.
Di ambang gerbang, Amethysta berhenti sekali lagi. Berbalik. Menatap Kirana dengan mata ungu yang memantulkan cahaya pagi.
"Nanti jemput juga?" tanyanya.
"Ya," jawab Kirana tanpa ragu.
Amethysta mengangguk sekali. Lalu masuk.
...✦ ✦ ✦...
Kirana kembali ke mobil dengan langkah yang lebih ringan dari saat ia turun tadi. Supir membuka pintu tanpa berkata apa-apa, dan Kirana duduk di kursi belakang dan menatap ke depan tanpa benar-benar melihat jalan yang mereka lewati.
Naira. Anak berambut keriting yang menawarkan buku tentang lubang hitam.
Dalam novelnya, Amethysta tidak punya teman. Ia menuliskannya dengan sengaja — isolasi sosial sebagai bagian dari dampak trauma, ketidakmampuan untuk membentuk koneksi karena tidak pernah belajar bahwa koneksi itu aman. Tapi dalam novelnya juga tidak ada momen di depan gerbang sekolah seperti tadi. Tidak ada teman yang datang berlari dan menawarkan buku tentang lubang hitam.
Alur sudah berubah lebih dari yang ia perhitungkan.
Dan untuk pertama kalinya, itu terasa bukan seperti sesuatu yang perlu ia kendalikan — melainkan sesuatu yang perlu ia percayai.
...✦ ✦ ✦...
Siang harinya, Xavier pulang makan siang.
Ini bukan kebiasaannya — kantor terlalu jauh untuk pulang di tengah hari — tapi ia masuk dengan jaket di tangan dan meletakkan sesuatu di meja ruang makan sebelum bahkan membuka dasinya.
Sebuah tanaman kecil dalam pot keramik biru. Kaktus mini dengan satu bunga merah kecil di pucuknya.
"Untuk meja kerja," katanya kepada Kirana yang berdiri di lorong. "Kamu bilang ruangan itu terlalu kosong."
Kirana tidak ingat pernah mengatakan itu. Tapi mungkin Gwyneth pernah, di suatu titik yang jauh sebelum ia masuk ke tubuh ini.
Atau mungkin Xavier hanya memperhatikan dengan caranya sendiri.
"Terima kasih," kata Kirana.
Xavier mengangguk, masuk ke dapur untuk bicara dengan Seren tentang makan siang, dan Kirana menatap kaktus kecil itu di meja — tanaman yang tidak butuh banyak perhatian, yang bisa bertahan di kondisi yang tidak ideal, yang tumbuh pelan tapi pasti dan pada saatnya mengeluarkan bunga yang tidak ada yang sangka akan ada.
Ia mengambil pot itu dan membawanya ke ruang kerja. Meletakkannya di sudut meja dekat jendela, di tempat cahaya sore akan menyentuhnya.
...✦ ✦ ✦...
Sore itu Kirana menjemput Amethysta sendiri.
Gadis kecil itu keluar dari gerbang dengan Naira di sisinya — keduanya sedang berdebat tentang sesuatu dengan serius, menggunakan tangan untuk memperjelas argumen masing-masing. Kirana berdiri di sisi mobil dan menunggu.
Ketika Amethysta melihatnya, ia menghentikan debatnya sejenak untuk berkata sesuatu pada Naira. Naira mengangguk, melambaikan tangan ke arah Kirana dengan cara anak-anak melambaikan tangan pada orang dewasa yang belum mereka kenal — bebas dan tanpa kalkulasi — lalu berlari ke arah mobilnya sendiri.
Amethysta berjalan ke arah Kirana.
"Debat tentang apa?" tanya Kirana.
"Apakah lubang hitam bisa jadi portal ke dimensi lain." Amethysta masuk ke mobil. "Naira bilang bisa. Aku bilang secara ilmiah belum terbukti."
"Dan kamu yang benar."
"Iya. Tapi ide Naira lebih menarik."
Kirana tersenyum — senyum kecil yang tulus, bukan yang ia pasang sebagai Gwyneth — dan masuk ke mobil.
Mereka berkendara pulang dalam percakapan yang mengalir tentang lubang hitam dan dimensi lain dan apakah bintang-bintang punya kesadaran, dan Kirana menjawab semampunya dan mengakui tidak tahu di bagian yang memang ia tidak tahu, dan Amethysta menerima jawaban-jawaban itu dengan serius dan menambahkan teorinya sendiri.
Di depan rumah, sebelum masuk, Amethysta berhenti di tangga teras dan berbalik.
"Mama," katanya.
"Hm?"
Gadis kecil itu menatapnya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa Kirana baca — serius, tapi ada sesuatu di baliknya yang rapuh dan penting.
"Besok ikut antar lagi?"
Kirana menatap gadis kecil itu — tujuh tahun, mata ungu, bahu yang sudah tidak setegak minggu lalu, dan pertanyaan yang terdengar sederhana tapi beratnya ada di semua yang tidak diucapkan di belakangnya. *Besok masih sama? Besok masih seperti hari ini? Besok kamu masih ada?*
"Ya," kata Kirana. "Besok ikut antar lagi."
Amethysta mengangguk. Masuk ke rumah.
Kirana berdiri di teras sebentar, menatap pintu yang sudah tertutup, dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan dalam versi hidupnya yang lama — di apartemen sempit dengan mi instan dan layar laptop dan cerita-cerita yang ia tulis sendirian sampai dini hari.
Sesuatu yang sederhana, yang tidak butuh nama besar untuk dirasakan.
Bahwa ada seseorang yang menunggu jawabannya. Dan jawabannya penting.
Ia masuk ke rumah, menutup pintu di belakangnya, dan sudah merencanakan sarapan apa yang akan mereka makan besok pagi.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...