Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
"Berikutnya..." Profesor Valerius melihat gulungan terakhirnya dengan kening berkerut.
"Leon von Anhart!"
Seketika, tawa kecil dan bisikan ejekan pecah di antara kerumunan murid.
Leon mulai berjalan menuju lingkaran sihir di tengah tatapan meremehkan.
Adel mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Matanya tak lepas menatap punggung Leon yang tertutup jubah hitam berbulu yang berkibar tertiup angin. Tubuh Adel sedikit gemetar karena ketakutan yang mendalam.
Jika dia benar-benar sudah memakan buah iblis itu... kekuatannya tidak akan bisa dibayangkan, batin Adel cemas.
Mathias, yang menyadari perubahan sikap Adel, melirik gadis itu dari sudut matanya. Ia lalu mengikuti arah pandangan Adel menuju sosok Leon. Mathias merasa heran, kenapa Adel sampai terlihat begitu ketakutan hanya karena melihat pemuda itu? Ia hanya tahu sedikit tentang Leon, terutama reputasi buruknya sebagai bangsawan yang bermasalah.
Di sisi lain lapangan, para pilar bangsawan juga memberikan perhatian mereka.
"Dia mantan tunanganmu, kan?" ucap Kaizen dengan nada menyindir.
"Berhenti menyebut dia sebagai mantan tunanganku," sahut Calista dingin tanpa menoleh.
Kaizen terkekeh pelan. "Kenapa? Kau takut malu karena pernah bertunangan dengan orang yang akan kalah di level rendah?"
Calista hanya diam, namun rahangnya mengeras. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke depan, seolah-olah menganggap Leon tidak pernah ada.
Leon melangkah masuk ke dalam lingkaran sihir. Di dalam arena, para petinggi akademi sudah menunggu. Leon menundukkan kepalanya sedikit, memberi hormat yang sangat minimalis.
Di tribun, Profesor Seraphina membolak-balik lembaran data milik Leon.
"Anhart, ya? Apakah kualitas keluarga Anhart sudah sangat menurun sampai mereka membiarkan anak dengan Rank D ini lolos seleksi keluarga?" ucap Seraphina dengan nada sangsi.
"Kita tidak boleh menyimpulkan dia lemah hanya karena rank-nya. Rank bukanlah segalanya," sahut Grandmaster Alaric dengan tenang. "Anhart bukan keluarga yang bisa diremehkan. Duke Anhart adalah salah satu Rank S terkuat di benua. Bukan hal mustahil jika putranya dua kali lebih kuat dari Rank D pada umumnya."
"Kalau begitu, aku tidak sabar melihatnya mengubah pandangan kita tentang sebuah peringkat," balas Seraphina sambil menyandarkan punggungnya.
Leon berdiri di tengah arena. Detik itu juga, batu artefak di luar merespons dan menampilkan data identitasnya secara terang benderang di udara.
[ NAMA: LEON VON ANHART ]
[ RANK: D ]
[ CLASS: SWORDSMAN ]
Seketika, tawa terbahak-bahak pecah di lapangan luar. Murid-murid yang masuk dengan Rank paling rendah rata-rata adalah Rank C, namun kini mereka melihat seorang Rank D berdiri di depan mereka.
"Dasar sampah," gumam Calista dari kejauhan, membuang muka.
"Hahaha! Bangsawan jenis apa dia? Apakah dia sebenarnya rakyat jelata yang memalsukan nama?" ejek seorang murid bangsawan dengan keras.
Namun, ejekan itu membuat para peserta dari kalangan rakyat jelata menoleh tajam.
"Apa? Kalian ingin aku membakar kalian?" ancam murid bangsawan itu sambil merapal mantra. Api kecil menyala di tangannya, membuat suasana semakin panas.
"Cih, hanya karena dia bangsawan, dia merasa berhak merendahkan semua orang," bisik seorang rakyat jelata dengan kesal.
"Tapi serendah-rendahnya kita, kita tidak harus disamakan dengan orang yang peringkatnya lebih rendah dari kita semua," sahut murid rakyat jelata lainnya sambil menunjuk layar Leon.
"Aku bertaruh dia bahkan tidak bisa melewati tingkat dua," ucap salah seorang peserta di barisan belakang.
"Haha! Jangan kan tingkat dua, sampah sepertinya pasti akan kesusahan sejak tingkat satu!"
Di tengah keriuhan itu, Adel hanya bisa tertegun menatap layar. "D? Kenapa Rank-nya bisa serendah itu?" bisiknya penuh kebingungan.
Di ingatannya, Leon tidak seharusnya berada di posisi yang serendah ini jika ia sudah memulai rencananya.
Waktu simulasi mulai berdetak. Empat ekor Shadow Wolf muncul dari kegelapan, mengelilingi Leon dengan tatapan lapar dan geraman rendah.
Leon tidak bergerak. Matanya yang tenang berkilat sesaat saat ia mengaktifkan skill Appraisal Eye miliknya. Sebuah layar hologram tipis—yang hanya bisa dilihat olehnya—muncul di depan mata.
...[ MONSTER: SHADOW WOLF ]...
...[ TIPE: PETARUNG ]...
...[ KECEPATAN: 20 ]...
...[ KEKUATAN: 19 ]...
Melihat angka itu, Leon menarik sudut bibirnya tipis. Statistik monster ini berada di bawahnya. Rasa percaya diri mulai mengalir di nadinya.
"Baguslah, aku tidak perlu membuang poin di awal," gumam Leon pelan.
Keempat serigala itu melompat secara serentak dari arah yang berbeda. Namun, Leon melakukan sesuatu yang membuat semua orang di luar arena terbelalak. Ia tidak mencabut pedang. Ia bahkan tidak memegang gagang senjata apa pun.
Leon menghindar dengan gerakan minimalis namun sangat presisi. Serigala pertama menerjang angin, sementara serigala kedua hanya berhasil menggigit bayangannya.
Di luar arena, bisik-bisik keheranan mulai terdengar.
"Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia tidak membawa senjata?" tanya seorang murid dengan wajah bingung.
"Sepertinya dia sangat gugup sampai-sampai melupakan senjatanya!" sahut yang lain sambil tertawa mengejek.
Namun, tawa itu tidak bertahan lama.
Leon mengepalkan tangannya. Dengan Class Brawler miliknya yang sudah mencapai level 4, setiap otot di tubuhnya menyimpan daya ledak yang luar biasa. Kekuatan pukulannya kini berkali-kali lipat lebih kuat dari manusia biasa.
BUAK!
Satu pukulan mentah mendarat tepat di hidung serigala yang baru saja melompat ke arahnya. Hanya dengan satu serangan tanpa senjata itu, tubuh serigala bayangan tersebut hancur seketika menjadi partikel cahaya.
"Serangan fisik yang sangat kuat," ucap Grandmaster Alaric di tribun kehormatan. Ia memiringkan kepala, menopang dagu dengan tangannya, tampak mulai tertarik melihat pemuda Rank D tersebut.
Murid-murid di lapangan luar mendadak bungkam. Wajah mereka yang tadinya penuh tawa kini membeku.
"Apa-apaan itu?" bisik salah satu murid.