Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Selasa, 21 Mei Pukul 10.45 WIB
Desa Linggarjati, Kaki Gunung Ciremai
Minibus berhenti di area parkir yang tanahnya udah ganti dari aspal ke tanah merah padat.
Mereka turun satu per satu. Carrier langsung dipasang, trekking pole dibuka, sepatu boot yang tiga hari lalu masih bau baru sekarang udah siap ngejejak tanah yang beda banget.
Zidan keluar terakhir, narik napas dalam-dalam.
Udara di sini beda jauh dari Bandung kota. Lebih dingin, lebih bersih, kelembabannya nggak bikin gerah malah terasa segar kayak udara yang belum pernah kena knalpot sama polusi. Di kejauhan, di atas kanopi pohon yang hijau tebal, puncak Ciremai nyembul malu-malu dari balik awan tipis.
“Itu puncaknya?” tanya Rehan, mendongak.
“Itu baru punggungnya,” jawab Yazid, udah pasang trekking pole-nya dengan gerakan cepet dan efisien. “Puncaknya di balik itu lagi.”
Rehan tatap lebih lama. Ada sesuatu di mukanya yang biasanya kalem berubah sedikit campur antara kagum dan mungkin agak gentar, meski Rehan nggak bakal ngaku pake kata itu.
“Oke,” katanya akhirnya. “Oke.”
Salsa udah ambil shot dari bawah ke atas kanopi pohon sama langit biru di celahnya, siluet lima orang pake carrier di punggung, matahari nerobos dari sudut kanan frame. Foto yang bakal jadi pembuka video, sebelum dia tahu apa yang bakal jadi penutupnya.
Pukul 11.00 WIB
Pos Pendaftaran Pendaki, Jalur Linggarjati
Pos pendaftaran cuma bangunan sederhana kantin kecil, papan info, dan meja panjang di bawah atap seng tempat dua petugas jaga. Di sekitar area pos, ada beberapa rombongan pendaki lain yang lagi urus izin atau mulai pemanasan.
Runa langsung urus administrasi di meja pendaftaran dengan cepet banget sampe petugasnya agak kaget. Dokumen keluar dari map plastik rapi yang udah dia siapin formulir yang udah diisi sebelumnya, fotokopi KTP masing-masing, surat pernyataan, nomor darurat yang udah dicatet. Prosesnya beres dalam tujuh menit.
“Lo fotokopi KTP gue kapan?” bisik Zidan ke Runa pas mereka keluar dari area pendaftaran.
“Minggu lalu. Lo kirim fotonya ke grup.”
“Gue lupa kirim.”
“Gue ambil dari foto profil WA lo.”
Zidan tatap dia. “Runa. Itu resolusi tiga ratus pixel.”
“Cukup buat fotokopi.”
Sementara itu, Yazid udah jalan ke papan info deket pintu masuk jalur. Baca dengan teliti kondisi jalur terkini yang diperbarui hari ini, catatan cuaca dari pos pemantau, dan pengumuman kecil yang ditempel pake selotip di sudut kiri bawah.
PEMBERITAHUAN: Tim SAR sedang melakukan operasi pencarian pendaki hilang di zona barat-laut. Pendaki diharap tidak meninggalkan jalur resmi. Laporkan segera ke pos jika menemukan tanda-tanda tidak biasa.
Yazid baca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Pendaki hilang.
Dia nggak bilang apa-apa soal ini ke yang lain. Belum. Tapi dia simpen info itu lipet rapi dan taruh di bagian pikirannya yang khusus buat hal-hal yang perlu diawasi.
“Yaz, kenapa?” Rehan muncul di sebelahnya, ikut liat arah pandang Yazid ke papan.
“Baca,” kata Yazid singkat.
Rehan baca. Dahi Rehan berkerut sedikit. “SAR lagi operasi.”
“Zona barat-laut. Kita jalur tengah. Nggak overlap.”
“Aman?”
“Buat sekarang.” Yazid lepas tatapannya dari papan, cek trekking pole-nya sekali lagi gerakan yang lebih kebiasaan daripada butuh. “Tapi kita tetap jaga formasi. Nggak ada yang boleh tertinggal lebih dari jarak pandang.”
Rehan angguk. Dia tahu cara Yazid ngomong yang disampein cuma setengahnya. Setengah lagi disimpen di dalam.
Mereka nggak ceritain pengumuman itu ke Zidan, Runa, sama Salsa. Keputusan yang nggak dibahas tapi langsung dipahami bareng: jangan tambah kecemasan sebelum langkah pertama diambil.
Pukul 11.30 WIB
Area Pemanasan, Sebelum Gerbang Masuk Jalur
Mereka pemanasan di area terbuka sebelum gerbang Yazid yang pimpin, gerakan sederhana dan fungsional, bukan karena mau keliatan pro tapi karena emang itu yang bener dilakukan sebelum nanjak.
Zidan, yang biasanya komentar apa aja, kali ini ikutin dengan serius. Regangin betis, muter sendi lutut, bungkuk raih ujung kaki.
“Lo beneran oke?” tanya Rehan pelan, berdiri di sebelahnya.
Zidan tegakkin badan. “Gue beneran oke, Han. Bukan oke-oke pura-pura kayak waktu itu.”
Rehan tatap dia. Mata Rehan yang biasanya baca orang kayak baca teks, kali ini butuh beberapa detik lebih lama.
“Kalau ada apa-apa”
“Gue bilang. Janji.” Zidan ulurin tangannya bukan buat ditumpuk kayak kebiasaan lama mereka, tapi cuma diulurin gitu. Genggam. Percaya.
Rehan genggam sebentar. Lalu lepas.
Di sebelah mereka, Salsa lagi komentar carrier Runa yang talinya terlalu ketat. Runa dengan sabar biarin Salsa atur ulang talinya, meski dari ekspresinya jelas dia udah tahu talinya udah bener dari tadi.
“Ini terlalu ketat di dada, Ru, lo bakal susah napas nantinya”
“Aku udah tes ini dua hari lalu di tangga apartemenmu.”
“Tangga apartemen beda sama tanjakan gunung”
“Secara fundamental prinsipnya sama”
“RU.”
“…oke bisa digeser sedikit.”
Yazid berdiri di tepi, mandang ke arah jalur yang udah kebuka di depan mereka. Pepohonan gede berjajar kayak pintu masuk ke dunia beda lebih tua, lebih diam, lebih dalam.
Zidan berdiri di sebelahnya.
Dua orang yang paling beda di kelompok ini berdiri diam bareng selama beberapa detik yang satu nyaris nggak pernah diam, yang satu nyaris nggak pernah bicara. Tapi dalam diam itu ada sesuatu yang nggak perlu diartikan.
“Yaz,” kata Zidan akhirnya, pelan.
“Hm.”
“Makasih.”
“Untuk?”
“Nggak bilang ke yang lain waktu lo tahu asma gue kambuh. Lo bisa aja bilang supaya trip-nya ditunda.”
Yazid diam sebentar. Angin tiup dari celah pohon, ngerakin daun-daun gede di atas kepala mereka.
“Gue bilang ke Rehan,” kata Yazid akhirnya.
Zidan nengok. “Hah?”
“Gue kasih tahu Rehan kondisi lo. Rehan yang beli inhaler cadangan bukan karena dia tiba-tiba ingat. Karena gue minta.”
Zidan buka mulutnya. Tapi nggak ada suara yang keluar selama dua detik.
“Kalian…” dia mulai, lalu berhenti.
“Kamu tetap ikut,” kata Yazid, masih tatap jalur di depan. “Itu yang penting. Tapi kita nggak bisa jaga kamu kalau kita nggak tahu kondisi kamu sebenarnya.”
Zidan telan ludah. Nunduk sebentar. Lalu dongak ke langit yang udah semakin biru, bebas dari awan.
“Gue nggak bisa marah sama lo karena lo bener.”
“Gue tahu.”
“Tapi gue akan pura-pura sedikit kesal selama sepuluh menit biar dramatisnya ada.”
Yazid akhirnya nengok. Sudut bibirnya naik sedikit. “Sepuluh menit terlalu lama.”
“Lima menit?”
“Tiga.”
“Deal.”
Pukul 11.47 WIB
Gerbang Masuk Jalur Linggarjati
Pak Ujang petugas pos yang udah lebih dari dua puluh tahun jaga jalur ini nstempel formulir terakhir mereka dan serahin ke Runa.
“Hati-hati ya, Neng. Cuacanya hari ini bagus pagi sampe siang. Tapi mulai sore, ada potensi kabut dari atas.” Pak Ujang bicara sambil liat langit sebentar, kayak orang yang baca langit sama kayak baca jam. “Usahain sampe camp sebelum jam empat. Jangan dipaksain naik kalau kabut udah keliatan dari bawah.”
“Siap, Pak. Makasih,” jawab Runa.
“Ada tim SAR lagi operasi di barat-laut,” tambah Pak Ujang, nada suaranya turun setengah oktaf. “Jangan keluar dari jalur resmi. Apapun yang kalian liat atau denger, lapor ke pos. Jangan diselidiki sendiri.”
Ada sesuatu dalam cara Pak Ujang ngomong kalimat terakhir itu bukan kayak instruksi standar yang diulang-ulang sampe hafal, tapi kayak kalimat yang bener-bener pengen didenger.
Salsa rekam papan nama jalur dari bawah ke atas: JALUR PENDAKIAN LINGGARJATI GUNUNG CIREMAI 3.078 mdpl.
Rehan berdiri di depan gerbang, tatap ke dalam jalur yang di depannya. Pepohonan merapatkan kanopi di atas, bikin terowongan hijau yang semakin dalam semakin gelap. Dari sini, awal jalurnya keliatan teduh, hampir asyik.
Hanya dari sini.
“Oke,” kata Rehan, balik badan ke arah empat sahabatnya. Matanya gerak ke masing-masing wajah Yazid yang tenang, Runa yang udah pegang notebook-nya, Salsa yang kameranya masih nyala, Zidan yang untuk pertama kalinya pagi ini mukanya nggak pasang ekspresi apa-apa selain sesuatu yang tulus.
“Kita masuk bareng.” Rehan ulurin tangannya ke tengah. Bukan instruksi undangan.
Empat tangan lain bertumpuk di atasnya.
Lima tangan. Lima orang. Satu gunung.
Mereka melangkah masuk ke dalam jalur bareng.
Di belakang mereka, Pak Ujang mandang punggung mereka sampe hilang ditelan tikungan pertama. Lalu dia balik ke mejanya, ambil handy talkie-nya.
“Pos dua, ini pos satu. Ada rombongan baru masuk. Lima orang. Jalur tengah. Catat.”
Di dalam handy talkie itu, di sela-sela sinyal yang berderik, suara Pak Rudi dari pos dua kedengeran singkat.
“Masih ada tim SAR di sektor barat-laut. Kondisi objek belum berubah.”
Pak Ujang tatap jalur yang udah kosong lagi.
“Iya. Gue tahu.”
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪