NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Mika merasakan dadanya bergemuruh hebat saat tatapan Siti dan Asia seolah menguliti setiap inci tubuhnya. Ia tahu, satu kata yang salah bisa meruntuhkan seluruh benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah.

"Apaan sih lo berdua! Gue beneran neduh di rumah Bu Ratih. Tadi malam badainya gila banget, kalian kan tahu sendiri gue paling takut petir. Udah ah, gue mandi dulu!" Mika langsung melesat masuk ke kamar mandi sebelum Siti sempat menarik kerah jaketnya untuk inspeksi lebih lanjut.

Di balik pintu kamar mandi yang terbuat dari plastik biru, Mika menyandarkan tubuhnya. Napasnya memburu. Di luar, ia masih bisa mendengar bisik-bisik kedua temannya.

"Lo percaya, Sit?" bisik Asia penuh selidik. "Gue rasa ada yang nggak beres. Sejak kapan Bu Ratih punya parfum bau cowok mahal kayak gitu?"

Siti tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat provokatif di telinga Mika. "Atur seplenger mungkin ajalah, As. Kayak dulu lo sama Arga. Pura-pura berantem padahal malem-malem mojok di belakang balai desa. Hahaha!"

Mika mendengus kesal. Ia segera menyalakan keran air agar suara mereka tidak terdengar lagi. Di depan cermin kecil yang buram, ia menarik kerah kaosnya. Matanya membelalak melihat noda kemerahan di pangkal lehernya.

"Aduh, Alvaro bener-bener ya! Ini kalau ketemu ibu-ibu bisa habis gue jadi bahan gosip satu kecamatan!" umpatnya sambil menggosok lehernya dengan sabun berkali-kali, berharap noda itu hilang. Namun, alih-alih hilang, kulitnya justru semakin memerah karena iritasi.

Dengan cekatan, Mika mengeluarkan tas makeup-nya. Ia mengaplikasikan concealer tebal-tebal, menepuk-nepuknya dengan presisi sampai noda itu benar-benar tersamarkan oleh warna kulitnya. Setelah merasa aman, ia memakai kaos berkerah tinggi dan keluar dari posko dengan wajah sesegar mungkin, seolah ia baru saja bangun dari tidur delapan jam yang berkualitas.

Siti dan Asia ternyata sudah berangkat lebih dulu ke sungai untuk mengecek debit air pasca-badai. Posko terasa sepi, namun saat Mika melangkah ke teras, langkahnya terhenti seketika.

Di sana, bersandar pada pilar kayu dengan gaya yang sangat santai, berdiri Alvaro. Pria itu sudah rapi dengan kemeja flanel biru gelap yang lengannya digulung hingga siku. Begitu melihat Mika, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menyebalkan sekaligus mempesona.

"Kamu ngapain di sini sih?!" Mika setengah berbisik, matanya melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada warga yang sedang menyapu halaman.

"Nungguin kamu. Ayo," jawab Alvaro santai, suaranya terdengar jauh lebih lembut dan "aku-kamu" seperti saat mereka hanya berdua.

"Enggak! Kamu jalan duluan. Nggak usah bareng aku! Kita kan sudah sepakat semalam buat jaga jarak di depan orang-orang!" Mika mencoba mendorong Alvaro agar menjauh dari teras, namun pria itu justru menangkap pergelangan tangan Mika.

Di saat yang sama, Arga berjalan menuju posko. Ia berniat mencari Asia karena ada kunci loker alat yang terbawa di saku celananya. Namun, langkah kakinya terhenti saat ia melihat sosok motor Ninja hitam terparkir di depan posko.

Insting Arga sebagai orang yang sangat "kaku" dan teliti membuatnya tidak langsung muncul. Ia justru menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik pohon jati besar yang tumbuh di depan pagar posko. Matanya menyipit saat melihat Mika dan Alvaro terlibat percakapan yang sangat... tidak biasa untuk seorang mahasiswi dan Kepala Desa.

"Ayo, Mikayla. Jangan keras kepala. Jalanan ke sungai masih licin gara-gara badai semalam, aku nggak mau kamu kepeleset lagi," ucap Alvaro, suaranya terdengar sangat posesif di telinga Arga.

"Enggak, Al. Udah deh, jangan maksa!" Mika mencoba melepaskan tangannya, namun ia tidak benar-benar meronta. "Kamu berangkat duluan aja kenapa sih? Kalau ada warga lewat gimana? Kalau Siti sama Asia tiba-tiba balik gimana?"

"Mereka sudah di sungai. Aku tadi papasan sama mereka," Alvaro selangkah lebih maju, membuat Mika terpojok ke dinding teras. "Lagian, kenapa kamu takut banget? Aku cuma mau nemenin kamu jalan."

"Al, please..." Mika menatap Alvaro dengan pandangan memohon. "Kamu tahu sendiri Siti udah mulai curiga. Dia tadi pagi nanya soal parfum aku. Kalau kita barengan sekarang, tamat riwayat aku diinterogasi mereka seharian."

Arga yang mengintip dari balik pohon hampir saja menjatuhkan kunci yang ia pegang. Dadanya bergemuruh. Aku-kamu? Arga yang sangat kaku dalam protokol merasa dunianya sedikit berguncang. Ia tahu Mika dan Alvaro sering berdebat, tapi "Dajjal" dan "Fir'aun" yang sering diteriakkan Mika ternyata hanyalah kedok untuk hubungan sedalam ini?

Alvaro menghela napas, ia sedikit melonggarkan genggamannya tapi tidak melepasnya. "Yaudah, aku jalan duluan. Tapi kamu harus janji, nanti sore jangan telat ke balai desa. Ada yang mau aku kasih liat soal data sungai semalam."

"Iya, iya, janji! Sekarang pergi sana!" Mika mendorong bahu Alvaro.

"Nggak ada 'bayaran' buat aku karena sudah mau berangkat duluan?" goda Alvaro sambil mencondongkan wajahnya ke arah telinga Mika.

"Alvaro!" Mika mencubit lengan Alvaro dengan gemas. "Pergi atau aku panggil warga sekarang?!"

Alvaro tertawa rendah, suara tawanya yang dalam membuat bulu kuduk Mika meremang sekaligus membuatnya merasa sangat dicintai. "Oke, oke. Aku pergi. Hati-hati jalannya, Neng Mika."

Alvaro akhirnya melompat ke atas motornya dan melaju pergi. Mika masih berdiri di teras, memegangi dadanya yang berdegup kencang sambil menatap kepergian motor itu dengan senyuman yang tidak bisa disembunyikan.

Begitu motor Alvaro menghilang, Arga keluar dari balik pohon dengan wajah yang sangat datar—bahkan lebih kaku dari biasanya. Ia berjalan menuju teras seolah baru saja tiba.

"Mika," panggil Arga pendek.

Mika tersentak sampai hampir terjatuh dari tangga teras. "Astagfirullah! Arga! Lo... lo sejak kapan di situ?!"

"Baru sampai. Gue cari Asia," jawab Arga tanpa ekspresi. Matanya menatap Mika dengan pandangan yang sangat menusuk, seolah ia bisa melihat concealer yang menutupi leher Mika.

"Asia... Asia udah di sungai bareng Siti! Tadi mereka berangkat duluan!" Mika bicara dengan sangat cepat, tangannya sibuk merapikan tasnya padahal sudah rapi.

Arga diam sejenak, membuat suasana menjadi sangat canggung. "Tadi gue lihat motor Pak Kades di sini. Dia ngapain pagi-pagi ke posko?"

Mika menelan ludah. "Oh, itu! Dia... dia cuma mau nanyain soal laporan kerugian alat yang rusak kemarin! Iya, katanya ada data yang kurang!"

"Laporan itu kan sudah selesai kemarin sore di Balai Desa," sahut Arga dingin.

"I-itu... ada revisi! Biasalah, si Fir'aun itu kan perfeksionis banget! Udah ah, gue duluan ya, Ga! Bye!" Mika langsung lari terbirit-birit meninggalkan Arga yang masih berdiri di sana.

Arga menatap punggung Mika yang menjauh, lalu menoleh ke arah bekas ban motor Alvaro di tanah. Sebagai orang yang sangat rigid dan kaku, Arga merasa memiliki tanggung jawab moral, namun di sisi lain, ia melihat bagaimana Mika terlihat jauh lebih "hidup" saat bersama Alvaro.

"Gila... si robot bisa jatuh cinta juga ternyata," gumam Arga pelan, sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya menuju sungai, membawa rahasia besar yang baru saja ia saksikan secara tidak sengaja.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!